SESAL

SESAL
Extra Part


__ADS_3

Hana's Pov


Pernikahan tanpa diawali cinta itu sudah biasa. Dan dengan seiring berjalannya waktu rasa itu akan muncul. Aku mencoba menerima Mas Rasya dalam hidupku dan berharap kami akan hidup bahagia dan menjadi keluarga yang sakinah, Mawaddah, Warahmah.


Tapi apa daya setelah menerimanya sebagai pendamping hidup, harus di hadapkan jikalau sang suami mengidap kelainan seksual.


Tak dipungkiri sebagai wanita normal membutuhkan bukan hanya nafkah lahir tapi juga membutuhkan nafkah batin dari suaminya.


Setelah melalui malam pertama, aku berfikir bahwa mungkin suamiku hanya tak bisa melupakan mantan istrinya tapi kenyataannya malam-malam berikutnya hal itu terulang kembali.


Dan kami memutuskan untuk konsultasi ke dokter dan dokter pun mengatakan kalau Mas Rasya mengalami impoten.Tak seorang pun yang tahu tentang yang di alami oleh Mas Rasya selain aku istrinya.


Hati Mas Rasya hancur kala mengetahui hal itu dan dia hanya bisa termenung selama beberapa hari. Aku hanya bisa memberikan semangat karena menurut dokter dia bisa sembuh.


"Apa ini karma buatku karena aku pernah melakukan dosa?" Ucap Mas Rasya.


"Kamu dengar ucapan dokter kan Mas, kalau kamu bisa sembuh."


'Maaf Han, aku tak bisa menjadi suami yang sempurna buatmu." Lirih Mas Rasya.


Aku hanya bisa terdiam tanpa mengatakan apa pun, sejujurnya aku kasihan dengan keadaan suamiku saat ini.

__ADS_1


Hari terus berganti bahkan beberapa bulan berlalu. Dan Mas Rasya pun mengikuti saran dokter. Sedangkan aku masih terus berada di kotaku. Di samping tidak ada yang menemani ibuku alasan lain juga karena tugas dan tanggung jawabku sebagai guru.Tapi setiap Minggu Rasya akan datang menemuiku. Dan terkadang aku yang datang menemuinya.


Sejujurnya dalam hatiku ingin seperti wanita yang lainnya ingin memiliki anak. Apalagi umur yang tak muda lagi, aku berharap suamiku secepatnya sembuh. Terkadang juga rasa frustrasi muncul kenapa nasibku seperti ini, apakah benar kata mantan mertuaku kalau aku itu wanita pembawa sial.


Tak terasa delapan bulan setelah menjalani pengobatan, dan menjaga pola hidup sehat . Seiring kebersamaan kami rasa saling membutuhkan dan menyayangi itu muncul perlahan. Walaupun dalam seminggu kami hanya bisa bersama selama dua hari tapi kami memanfaatkan kebersamaan itu untuk saling mengenal satu sama lain. Kami sering jalan dan menikmati liburan walaupun singkat. Dalam pernikahan bukan hanya untuk masalah **** saja tapi bagaimana kita bisa menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangan.


Malam itu ketika kami sedang bersama.


"Han...makasih ya...kamu sudah menerima aku apa adanya."


"Kok makasih terus sih, Mas?" Ucapku .


"Ya...Seandainya wanita lain mungkin dia sudah ninggalin aku laki-laki yang tidak berguna."Ujarnya lirih.


Mas Rasya langsung menarikku dalam dekapannya dan mencium keningku. Kemudian mencium bibir dengan begitu lembut. Sejujurnya aku tak mau seperti ini yang buntut-buntutnya membuat aku tersiksa karena merasa di gantung. Karena dia tidak bisa melanjutkan di saat aku ingin menginginkan lebih.


Setelah kami menghentikan ciuman karena kekurangan oksigen. Aku berusaha menghindar. Bukannya tidak menyukai hal tersebut tapi baru ciuman saja sudah membuat bulu kuduk merinding. Ingin meminta lebih takut kecewa.


"Sebaiknya kita tidur ya, Mas?" Ucapku.


"Boleh kita coba?" Ujarnya lembut.

__ADS_1


Aku hanya bisa menatapnya tanpa mengatakan apapun.


Mas Rasya kemudian mengulangi kembali ciuman hot kami dan aku tak kuasa menahan gejolak yang ada.


Ketika dia mau melakukan penyatuan, tatapanku tak lepas melihat wajahnya. Apa Mas Rasya bisa melakukannya. Dan akhirnya pertanyaanku dalam hati terjawab sudah. Suamiku bisa melakukannya. Kami merasakan malam pertama kami menyatu walaupun pernikahan kami sudah lama. Kami berdua menikmati surga dunia yang tertunda.


...Visual...


Rayhan & Fani



Erwin & Tiara



Fira



Rasya

__ADS_1



__ADS_2