
Setelah memastikan anak-anakku sudah tertidur dengan lelap aku kembali ke kamar tidur . Aku beranjak naik ke tempat tidur menyusul suami yang masih asyik dengan ponselnya.
Karena masih penasaran aku menanyakan kembali tentang pak Erwin. Dan suamiku pun menjelaskan tentang pak Erwin yang melakukan unboxing malam pertamanya di ruangan dokter Tiara dan tepatnya di ranjang pasien.Ternyata kala itu ketika Rayhan datang menemui dokter Tiara karena resep yang di berikan oleh dokter Tiara entah tercecer di mana.Karena kecerobohan pasangan pengantin baru itu sehingga dia tidak mengunci ruangannya. Sehingga Rayhan langsung masuk ke ruangan . Saat dia masuk dia melihat pasangan itu sedang bergumul di ranjang pasien. Mereka tidak menyadari keberadaan Rayhan.
"Kamu nggak nonton mereka sampai selesai, kan?' Ucapku terkekeh.
"Cuma setengah episode, Sayang. soalnya aku nggak tahan... mau juga. heheh.'
Akhirnya Rayhan keluar dari ruangan itu dan menunggu di luar pintu sampai mereka selesai. Rayhan menunggu hampir satu jam.Itu yang membuatnya jengkel.
"Kamu kayak satpam dong, Sayang!" Ucapku terkekeh.
"Satpam merangkap obat nyamuk, mana aku juga pingin setelah melihat mereka. Lengkaplah sudah penderitaan-ku.' Ucap Rayhan juga ikut terkekeh.
Betul-betul Rayhan jadi satpam soalnya ada beberapa perawat yang mau masuk keruangan itu tapi dia langsung di cegah olehnya karena takutnya dia melihat pasangan itu lagi unboxing. Apalagi perawat tersebut masih sangat muda mungkin masih praktek. Tidak pantaslah mereka melihat hal-hal yang tidak pantas dia tonton.
Aku tertawa mendengar suamiku menceritakan tentang pasangan tersebut.
Jam sudah menunjukkan tengah malam akhirnya aku mengajaknya tidur.
"Lho...kok tidur sih, Sayang?"
"Emang mau ngapain? Ucapku pura-pura.
"Kita kan mau balapan, mungkin mereka udah star duluan,"
"Astaga!!Kamu serius? Ucapku membulatkan mataku.
"Ya...iyalah, aku yang nantang mereka , jadi aku harus menang, Rayhan gitu..lho."Ucapnya menaik turunkan alisnya.
"Are you ready, Sayang? Ucapnya langsung mengukung tubuhku.
" Tapi kali ini kamu kalah." Ucapku membelai wajahnya.
"Nggak ada kata kalah dalam kamusku kalau soal gituan." Ucapnya lagi.
Saat dia akan mencium bibirku aku langsung memalingkan wajah dan berbisik.
"Landasan becek, Sayang." Ucapku santai.
Dia langsung membelalak menatapku.
"Jangan bercanda, Sayang." Ucapnya.
"Buka aja." Ucapku ingin tertawa tapi aku tahan.
Dia kemudian melihat dan dia menemukan roti gabus di sana.
Dia hanya menepuk jidatnya. Dan akupun tak bisa menahan tawa melihat ekspresinya.
"Kenapa nggak bilang?" Tanyanya lagi.
"Aku kan udah bilang kalau nggak ngasi kamu jatah satu Minggu, kamunya aja yang nggak paham." Ucapku membela diri.
__ADS_1
Akhirnya kami pun tertidur tanpa melakukan balapan di ranjang. Otomatis satu peserta gugur. Entah dengan Ridho dan Pak Erwin.
Keesokan harinya, saat sarapan hanya Rayhan dan Pak Erwin di meja makan. Dokter Tiara sedang memandikan putrinya. Tak lama kemudian aku dan dokter Tiara datang bergabung.
Kami selesai sarapan sedangkan Ridho dan Fira tak menampakkan batang hidungnya. Mungkin masih tidur karena kelelahan atau apalah, padahal jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
Kami berempat ke taman belakang. Rayhan dan Pak Erwin membicarakan bisnis mereka. Sedangkan aku dan dokter Tiara berbincang masalah anak-anak dan lainnya.
Tak lama kemudian muncullah Ridho dan Fira. Ridho dengan rambut basahnya datang dengan senyuman yang mengambang. Sedangkan Fira kelihatan cemberut.
"Kamu kenapa, Fir." Tanya Rayhan.
"Nggak apa-apa, Kak." Jawab Fira langsung mendudukkan bokongnya di gazebo.
"Cie....cie...yang rambutnya basah." Ejek dokter Tiara.
Ridho hanya tersenyum malu-malu. Memang dia pria yang kalem berbanding terbalik dengan Fira yang centil, ceplas ceplos. Sungguh pasangan yang saling melengkapi.
Rayhan tidak mau mengungkit masalah taruhan mereka semalam.
"Berapa ronde, Dho." Tanya pak Erwin.
Ridho hanya senyum-senyum melirik ke arah istrinya.
Ridho tak menjawab pertanyaan pak Erwin.
"Kamu, Ray?" Tanya pak Erwin sambil melihat kearah Rayhan.
Aku cuma tersenyum sambil geleng kepala.
"Kalau pak Erwin, berapa?" Tanya Ridho kalem.
"Aku nggak ngitung tapi kayaknya lima ronde, deh " Ucap pak Erwin sombong.
Dokter Tiara seakan mau tertawa terbahak mendengar pengakuan suaminya.
"Dho...berapa ronde? Tanya Rayhan dan Pak Erwin bersamaan.
"Saat mau tidur dan pada saat bangun tadi pagi." Ucapnya jujur.
Fira hanya melongos mendengar pengakuan suaminya.
"Bukan dua ronde, Kak tapi tujuh." Tambah Fira tak mau kalah.
"Dua ronde aja kamu KO." Ucap Ridho pada istrinya.
"Jadi aku dong juaranya " Ucap pak Erwin.
"Juara apaan? Baru mau star aja Asyifah nangis." Ucap dokter Tiara terkekekh.
pak Erwin hanya garuk-garuk kepala memandang istrinya.
Hahahahah...kami spontan tertawa bersama.
__ADS_1
'Aku yang menang, kan Fir? Ucap Rayhan menepuk dadanya bangga.
"Tapi bo...ong, dia juga nggak gol tadi malam soalnya aku lagi dapat."Ucapku mengungkapkan kebohongannya.
"Yaelah ternyata tong kosong nyaring bunyinya." Ucap Fira mengejek.
Rayhan hanya tersenyum kecut mendengar aku membongkar kebohongannya.
"Kami pemenangnya,' kan?" Ucap Ridho semangat.
"Umur 20-an di lawan, hahaha."Ujar Fira.
"Seandainya dia nggak dapat tamu aku pasti pemenangnya. Kami bisa sampai tujuh ronde, iya kan, Sayang?" Ucap Rayhan sambil memberikan kode supaya aku mengiyakan.
"Iya...tujuh ronde dalam seminggu." Ucapku mengerjainya.
Hahahaha....kami tertawa bersama melihat kekesalan Rayhan.
Apalagi Fira dia sangat menikmati kekesalan Rayhan karena mereka memang selalu saling mengerjai.
"Lumayan nginap di hotel satu Minggu, di kamar Presiden suite ya, Kak?" Ucap Fira kepada Rayhan.
"Terserah kamu." Ucap Rayhan.
"Jangan lupa vitaminya, dok." Ucap Ridho senyum.
"Biarpun kalian nggak menang aku akan ngasi." Jawab dokter Tiara tersenyum.
"Dokter minum juga vitaminnya?"Pertanyaan Fira itu membuat dokter Tiara salah tingkah.
"Dia mah... biar nggak minum tetap hot di ranjang." Ucap pak Erwin merangkul istrinya.
Dokter Tiara tambah merona dan salah tingkah.
"Ada-ada saja mereka, batinku.
"Istriku juga...Wow...super hot hot deh." Ucap Rayhan tak mau kalah memujiku.
Aku hanya bisa mencubit lengan suamiku yang tidak bisa menjaga rahasia ranjang kami.
"Kak Fani minum juga?" Pertanyaan Fira beralih ke arahku.
Aku menggeleng karena memang tak pernah meminumnya.
"Dosisnya nggak tinggi kan, Dok? Jangan sampai partner aku encok .hehehe." Ujar Fira melirik suaminya.
"Aku masih kuat,, Sayang, nggak akan encok, lho" Ucap Ridho.
"Nggak kok ini bukan obat kuat tapi cuman vitamin biasa." Ujar dokter Tiara.
Setelah selesai membahas tentang vitamin dan lainnya tak terasa hari sudah siang dan kami pun buat acara bakar ikan, ayam, cumi, udang di taman belakang. Setelah itu kami makan bersama di gazebo. Walaupun menunya sederhana tapi terasa nikmat karena kebersamaan kami.
Kami semua memang sangat dekat seperti saudara. Kami sering menghabiskan waktu bersama kalau weekend. Walaupun pak Erwin terlihat dingin, kaku tapi kalau sudah akrab dia bisa humoris juga. Justru mereka kelihatan nyambung walaupun umur mereka terpaut beberapa tahun.Seolah pak Erwin kakak pertama kemudian Rayhan dan Ridho. Begitupun kami para istri, aku dan Fira serasa punya kakak karena dokter Tiara yang selalu memberikan nasehat dan masukan masalah apapun itu.
__ADS_1