SESAL

SESAL
Rumah Baru


__ADS_3

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Hari itu hari libur Rayhan akan mengajak jalan-jalan bersama Rafa. Setelah sarapan kami-pun segera berangkat.


Sekitar empat puluh menit mengendarai mobil, kami sampai di sebuah rumah mewah berlantai dua dengan konsep minimalis.


Aku terkagum dengan desain rumah tersebut. "Rumah impianku," batinku.


"Turun, yuk? ucapnya.


"Ini rumah siapa?" tanyaku penasaran.


Dia tak menjawab pertanyaanku, dia langsung menggendong Rafa turun dari mobil.


Setelah membunyikan bel seorang ibu berkisaran lima puluh tahun datang membukakan pintu.


Kami masuk ke dalam rumah tersebut. Sungguh rumah yang sangat mewah dipadukan dengan interior yang klasik.Ditambah furniture dengan sentuhan kaca sebagai penambah kesan mewah.


Tak lama kemudian ibu mertua datang dari arah belakang.


"Yang ditunggu-tunggu sudah datang."Ucapnya langsung memelukku, dan menyapa calon cucunya yang masih meringkuk di dalam perutku.


Ibu mertua mengajakku ke ruangan keluarga yang lumayan luas. Sedangkan Rayhan membawa Rafa ke taman belakang menemui papanya.


"Kapan datang,Ma?" tanyaku.


"Kemari malam, Sayang? Jawabnya.


"Kenapa nggak kasi kabar kalau mama datang." Tanyaku.


"Surprise" jawabnya terkekeh.


"Oh iya, Sayang? Besok kita adain tujuh


bulanan kandungan kamu sekalian syukuran rumah kalian ini."


"Maksud Ma---ma?" Tanyaku heran.


"Ya...ini rumah kamu dan Rayhan." Mama mertua menjelaskan.


"Tapi, kami nggak bisa menerima pemberian mama, ini terlalu mewah, Ma." Ucapku merasa tidak enak.


"Bukan Mama yang kasi, Sayang!! Ini memang rumah yang di bangun Rayhan dari duitnya sendiri." Jelas Mama mertua.


"Haa...!! Ucapku heran.


Jujur aku kaget karena suamiku itu tidak pernah mengatakan kalau dia punya rumah di kota ini.


"Mendingan sekarang kamu lihat-lihat rumah kamu ini,Mama telpon ibu kamu dulu, Ya?"


"Tapi, Ma... kami belum ada persiapan untuk acara besok."


"Jangan kuatir, Sayang ...biar mama yang urus, kamu tinggal terima beresnya saja." Ucap mama mertua sambil berlalu ke kamarnya menghubungi orang tuaku.

__ADS_1


Aku langsung mencari keberadaan Rayhan untuk menanyakan kenapa tidak memberi tahuku kalau dia punya rumah sebagus ini.


Setelah berjalan ke arah belakang ternyata halaman di belakang rumah itu begitu luas, ada taman dan kolam renang, di samping kolam renang ada sebuah bangunan lagi yang berhadapan langsung dengan kolam renang. Bangunan tersebut sebagian besar berdinding. kaca. Jadi nampak jelas kalau itu ruangan gym.


Aku melihat Rayhan ada di dalam ruangan tersebut sedangkan Rafa sedang bermain bersama papa mertua.


Aku segera menemui Rayhan di ruangan gym. Dia sedang membuka dos beberapa alat olahraga yang masih baru.


"Kamu nggak bilang kalau beli rumah baru?" Tanyaku.


"Siapa bilang kalau ini rumah baru?" Dia malah balik bertanya.


"Kenapa nggak bilang?" Tanyaku sedikit memaksa.


'Rumah ini sudah lama aku beli, bahkan jauh sebelum kita menikah, cuma ada bagian tertentu yang di renovasi." Ucapnya sambil terus membuka plastik alat olahraganya.


"Kita mau pindah di sini?" Tanyaku.


"Ya...harus!!Ucapnya lagi.


"Tapi..."


Belum sampai ucapanku dia langsung memotong.


"Nggak suka?" atau nggak seperti rumah impian kamu, Sayang?"


Dia kemudian menghampiriku dan memperlihatkan ponselnya ke padaku. Disitu ada gambar rumah yang pernah kuperlihatkan padanya. Padahal waktu itu kan cuma iseng saja. Karena rumah tersebut sangat menarik perhatianku. Cuma rumah di foto tersebut berlantai satu.


"Hampir sama, 'kan? Meskipun cuma bagian depannya yang sama sih." Ucapnya terus melihat gambar di ponselnya.


"Nggak usah!, ini sudah sangat bagus buatku." Ucapku sambil menggelengkan kepalaku.


"Serius?" Ucapnya menatapku.


"Makasih banyak, Sayang?"Ucapku mencium pipinya sekilas.


"Jangan mancing-mancing, Sayang!! nanti ada yang berontak.


"Lalu mau bilang kalau baby--nya di jenguk di ruang olahraga, anak kita akan jadi olahragawan?" Ucapku sambil mengejeknya.


"Kok tahu, Sayang?" Tanyanya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Alasan ba ... si." ucapku tertawa terbahak.


Aku berlalu meninggalkan suamiku yang juga terkekeh karena aku sudah mengetahui maksud mesumnya itu.


Keesokan harinya acara syukuran-pun diadakan dengan pengajian yang di hadiri oleh keluarga, ibu-ibu majelis taklim dan anak-anak panti asuhan yang berada tak jauh dari rumah kami. Semuanya di urus oleh mertuaku. Mulai dari menu makanan hingga pakaian yang aku kenakan dengan Rayhan di acara itu semua dia yang menyiapkan.Orang tuaku, Fira dan suaminya juga hadir.


Aku mengenakan gamis berwarna putih di padukan jilbab besar berwarna pink, sedangkan Rayhan mengenakan baju Koko berwarna putih dan celana hitam dipadukan dengan peci berwarna hitam. Begitupun dengan Rafa mengenakan setelan Koko.


Suasana begitu syahdu dengan lantunan ayat suci yang di bacakan oleh ibu-ibu majelis taklim.

__ADS_1


Setelah acara selesai para tamu undangan bergegas pulang, tak lupa mama mertua memberikan bingkisan kepada ibu-ibu pengajian, sedangkan untuk anak panti di berikan bingkisan dan amplop.


Para tamu undangan sudah meninggalkan rumah. Kami duduk di ruang keluarga. Aku tak pernah berhenti mencicipi semua jenis makanan yang tersedia. Hingga Fira datang menghampiriku.


"Kok makan terus sih, Kak?" Tanyanya.


Fira sekarang baru hamil dua bulan, dia ngidam berat, tak bisa makan apapun. Bawaaanya mual dan muntah terus kalau makan.


"Bawaan baby." Ucapku sambil terus mengunyah makanan.


"Pinginnya sih kayak kakak, bisa makan apapun." Ucapnya lirih.


"Tiap ibu hamil itu beda,Fira." Ucapku memberinya pengertian


"Kakak enak, Kak Rayhan yang ngidam, makan enak terus, Sedangkan aku...complete deh...ngidamnya, hingga badanku kayak kurus begini... suamiku saja yang doyan makan terus." Ucapnya sambil menunjuk Ridho yang lagi makan.


"Itu namanya iri, Bos! Ucap Rayhan yang tiba-tiba nyerocos saja. Ternyata dia mendengar percakapan aku dan Fira.


"Makanya kamu berguru sama aku"! Kata Rayhan lagi.


"Serius, Kak?" Tanya Fira antusias.


"Ya...elah... buktinya kakak kamu nggak ngidam, 'kan?" Ucap Rayhan meyakinkan.


Menganggap Rayhan serius Fira langsung memanggil suaminya bergabung.


"Tuh belajar sama kak Rayhan!" Ucap Fira.


Ridho kelihatan bingung dengan ucapan istrinya.


Rayhan menahan tawanya melihat Fira yang terus memaksa Ridho untuk berguru kepadanya.


"Bukan Ridho tapi kamu Fir!" Ucap Rayhan lagi.


"Sini Fir, aku bisikin caranya."Kata Rayhan menahan tawanya.


Kemudian Rayhan membisikkan sesuatu kepada Fira hingga mata Fira membulat sempurna sambil menelan salivanya.


"Kak Ray ngerjain aku?" teriak Fira.


'Ya ... terserah percaya atau nggak." jawab Rayhan mengedikkan ke dua bahunya.


"Mending aku begini daripada harus lakuin itu." Ucap Fira menggerutu dan berlalu pergi karena merasa di kerjain oleh Rayhan.


Setelah kepergian Fira, Rayhan tertawa terbahak hingga mengeluarkan air mata.


"Emang kamu bilang apa ke Fira?" Tanyaku penasaran.


"Aku bilang kalau mau Ridho yang ngidam, dia harus posisinya on the top kalau lagi ***....***." Ucapnya tertawa.


"Astaga...betul-betul kamu itu ngerjain Fira."Ucapku memukul lengannya.

__ADS_1


Sedangkan Ridho hanya tersenyum mendengar kejahilan Rayhan pada istrinya. Itu tak membuatnya marah atau jengkel karena mereka memang selalu begitu. Kalau bukan Rayhan yang ngerjain Fira, ya sebaliknya.


Kalaupun Fira mau lakukan itu berarti keuntungan besar buat Ridho, karena selama hamil Fira nggak mau dekat-dekat padanya alasannya nggak kuat dengan baunya. Ya...setiap ibu hamil memang beda.


__ADS_2