
Senja berjalan santai meninggalkan sore, camar mengepak jelas menuju peraduannya.
Adzan menggema memanggil setiap kaum muslimin yang terhanyut dalam aktifitas duniawi untuk berhenti sejenak dan bersegera menyambut panggilanNya dalam ibadah shalat.
Aku bergegas melaksanakan kewajiban tiga rakaat ku. Ku tutup shalatku dengan doa, semoga selalu di berikan kesehatan dan juga kesabaran yang tidak pernah bertepi.
Ku lipat alat shalat yang telah ku gunakan, kemudian bersiap-siap menemani Rayhan makan malam.
Ku buka lemari pakaian, aku mengambil tunik warna merah muda dipadukan dengan celana warna putih dan pashmina senada dengan tunik.
Tak lupa aku memoleskan sedikit bedak dan lipstik warna pink di bibir. Ku lihat pantulan wajahku di cermin.
"Masih cantik," batinku memuji diri sambil senyum-senyum sendiri.
Kata teman- teman sih, penampilanku kelihatan masih seperti cewek, padahal sudah pernah menikah dan sudah turun mesin satu kali😀.
Tak lama kemudian suara bel berbunyi, itu pasti Rayhan yang datang. Aku segera ke luar dari kamar dan menemuinya.
Pintu aku buka dan tampaklah sosok yang kutunggu berdiri di depan pintu.
Malam ini Rayhan memakai kemeja lengan pendek warna maroon dipadukan dengan celana jeans berwarna hitam.
"Keren" batinku.
"Yuk kita jalan" ajaknya.
"Nggak masuk dulu Kak?' ucapku.
"Nggak usah," balasnya.
Aku ke dalam berpamitan sama Bi Rahmi dan kemudian menyusul Rayhan ke mobil. Dia membukakan pintu mobil.
"Tumben,,' tanyaku sambil tersenyum.
'Anggaplah kita mau kencan,' jawabnya.
" Kayak ABG saja, ingat umur," ucapku sambil tertawa.
" Iyya juga sih, kalau seumuran saya ini bagusnya langsung lamaran kali yah," katanya menambahkan.
"Kakak mau lamaran?, Alhamdulillah akhirnya status BTL berubah," kataku terus tertawa.
Kami masih melanjutkan perbincangan kami di dalam mobil. Kami kadang saling mengejek, hingga tertawa bersama.
Karena malam Minggu jadi lalu lintas agak ramai jadi kami menempuh perjalanan agak lama. Setelah 20 menit perjalanan kami sampai di salah satu restoran terbesar di kotaku. Kami memilih duduk di tempat yang langsung berhadapan dengan taman. Kilauan lampu-lampu di taman membuat suasana malam yang sangat syahdu. Banyak pasangan yang menghabiskan malam bersama pasangannya, entah makan malam atau hanya duduk saja di taman.
Tak lama kemudian waiter datang membawakan daftar menu. Kami memesan makanan yang sama.
Karena melihat Rayhan yang biasanya banyak bicara, tapi kulihat dia diam saja, jadi aku memulai perbincangan kami.
" Kakak berapa lama di sini?" .
"Tergantung kamu," jawabnya.
__ADS_1
"Kok aku lagi sih Kak?"
Waiters datang membawakan pesanan kami jadi pertanyaanku dia gantung.
Kami mengucapkan terima kasih setelah sang waiter. menghidangkan makanan di depan kami.
Kami makan dalam diam , tidak ada yang memulai perbincangan.
Jujur aku merasa ada yang berbeda, kenapa Rayhan tidak banyak bicara. Aku berpikir mungkin dia ada sesuatu atau apalah. Hanya dia dan Tuhan yang tahu.
Setelah menikmati makan malam, Rayhan mengajakku ke taman, kami duduk di sebuah bangku yang ada di taman.
Sebenarnya sih aku agak risih, karena kami tak sepantasnya berada di tempat itu. Seperti pasangan kekasih atau pasangan suami istri.
" Aku....
"Kakak...
Kami bersamaan ingin mengucapkan sesuatu.
Kami berpandangan kemudian tertawa bersama.
"Kakak duluan aja," pintaku
" Ladies first," jawabnya.
"Cuma mau nanya kenapa Kakak lebih banyak diam, tidak seperti biasanya," tanyaku.
"Boleh aku jujur,? katanya menoleh ke arahku.
Aku hanya mengangguk.
" Aku ingin mengatakan dimanapun aku berada aku sellau memikirkanmu,, dan waktu yang kita lalui bersama adalah waktu yang paling membahagiakan buatku."
"Fan, aku sayang kamu dari dulu, sekarang dan selamanya,"
Mataku membelalak sempurna mendengar pengakuannya. Sungguh sangat di luar dugaan ku.
"Mungkin ini terlalu cepat buat kamu tapi bagiku ini sudah terlalu lama, selama ini aku hanya bisa mencintaimu dalam diam, memelukmu dalam setiap doaku."
Aku terus mendengarkan setiap kata-katanya yang tanpa bisa mengatakan apa- apa, hanya bisa terdiam.
"Bertahun-tahun aku memendam perasaan ini, bahkan aku pernah menguburnya dalam- dalam, karena memilikimu adalah sesuatu yang mustahil bagiku tapi mungkin ini jalan Tuhan sehingga kita di pertemukan."
"Asal kamu tahu Fan, hanya namamu yang ada di hatiku, dan tak akan tergantikan oleh siapapun."
" Aku pernah mencoba membuka hati untuk wanita lain, tapi nama kamu sudah bertahta indah didalam sini,"
Mataku berkaca-kaca ketika dia memegang tanganku dan meletakkannya di dadanya.Sungguh membuatku terharu dengan setiap kalimat yang keluar dari bibirnya.
Netraku menatap dalam kedalam matanya melihat apakah ada kebohongan di dalam sana, tapi yang kudapatkan sebuah ketulusan di sana.
"Tapi Kak, aku tak pantas buat Kakak?" kataku sambil menunduk.
__ADS_1
"Apa karena status kamu?" tanyanya.
Aku hanya mengangguk.
"Bagiku, kamu tetap Fani ku yang dulu, yang menjadi cinta pertama dan dan terakhirku.
Itupun kalau kamu berkenan menerimaku."
"Tapi Kak,"
" Kamu tak perlu jawab sekarang," katanya lagi.
Kemudian Rayhan mengeluarkan sebuah kotak merah dari dalam sakunya dan menyodorkannya padaku. Tanpa membukanya pun sudah terlihat sebuah cincin bertahtakan berlian yang sangat indah.
Aku hanya menatap kotak tersebut tanpa menyambutnya.
" Ini hadiah buat kamu, tapi jangan jadikan ini sebagai beban atau paksaan supaya kamu menerimaku."
"Ambillah," ucapnya sambil terus menyodorkan kotak tersebut dan meletakkannya di tanganku.
" Besok aku akan kembali ke Kalimantan, aku berharap kamu memikirkan permintaanku, kalaupun nantinya kamu menolak ku, setidaknya hatiku lega karena aku sudah menyatakan perasaanku yang bertahun-tahun ku pendam.
"Tapi Kak, aku nggak bisa menerima ini," kataku sambil menyerahkan kembali kotak tersebut.
" Barang yang sudah aku niatkan untuk kuberikan padamu, takkan akan kuambil lagi, kalau kamu tidak berkenan silahkan berikan pada orang lain atau kamu buang saja." katanya sambil meletakkan kembali di tanganku.
Terlihat raut kecewa di matanya.
Aneh .. masa barang semahal ini mau di buang. pikirku.
Malam semakin larut sehingga Rayhan mengantarkan ku pulang. Perasaan canggung muncul di antara kami. Tidak ada perbincangan selama dalam perjalanan. Kami larut dalam pemikiran kami masing-masing.
Aku bingung harus menjawab apa. Apakah aku menerimanya atau tidak. Di satu sisi aku mulai nyaman jika bersama dengannya, bahagia ketika dia menghubungiku meskipun itu hanya lewat telepon. Hari-hari ku habiskan bersamanya, jujur membuat diriku bahagia.
Tapi di sisi lain terkadang ketakutan itu muncul, dengan kegagalan seperti pernikahanku yang pertama.
Apakah kata-kata Rayhan bisa dipercaya. Bukan hanya karena ada maunya.
Karena dulu juga Mas Rasya menjanjikan yang indah - indah, akan setia sampai kami menua. Baginya biarpun beribu wanita cantik yang datang menggodanya dia tidak akan berpaling . Tapi kenyataannya perempuan sekelas Lestari saja dia bisa berpaling.
Mobil terus melaju, memecah keheningan malam yang terasa dingin. Perjalanan terasa lama karena hanya deru mesin dan kadang suara klakson yang terdengar memekik di telinga. Hingga kamipun sampai di pekarangan rumah. Aku bergegas untuk membuka pintu mobil, tapi masih terkunci.
"Fan, aku tunggu jawaban kapanpun kamu siap," katanya.
Aku hanya menoleh sebentar.
Ku buka kembali pintu mobil dan segera turun.
"Hati-hati di jalan ," kataku sambil tersenyum.
Dia hanya mengangguk dan kemudian
melajukan mobilnya sampai tak terlihat dari pandanganku.
__ADS_1