
"Alhamdulillah." Ucap Rayhan sambil menjatuhkan bobotnya di kursi yang ada di samping ranjang bersalin. Mukanya kelihatan tegang, keringat bercucuran di keningnya. Dia menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan.
Seorang perawat datang menghampirinya dan menanyakan keadaannya. Yang di tanya hanya menggeleng pelan. Setelah ke-dua bayi mungilku di bersihkan dan aku sudah di tangani oleh dokter. Seorang perawat memanggil keluargaku di luar. Sebenarnya cuma satu orang yang dipanggil tapi semuanya masuk.
Ibuku mengambil alih salah satu bayiku dari perawat.
"Azanin dulu anakmu, Nak Ray." Ucap ibuku.
Rayhan berdiri dan mengazani bayi mungilnya secara bergantian. Rasa haru dan bahagia ketika dia melantunkan adzan itu.
Kemudian kedua bayi mungilku itu di letakkan di dadaku secara bergantian.
"Terima Kasih, Sayang, ' Ucap Rayhan mengecup keningku.
Aku hanya tersenyum kepadanya. Karena melihat modelnya yang berantakan bajunya yang tak terkancing membuatku ingin tertawa tapi keadaanku yang masih sangat lemah.
Tak lama kemudian aku dipindahkan ke ruang perawatan. Aku merasakan ngantuk yang luar biasa.
"Kak Fani yang melahirkan kenapa Kak Ray yang berantakan begitu?" Samar kudengar Fira bertanya kepada Rayhan.
Yang ditanya malah nggak merespon mungkin masih tegang karena melihat proses melahirkan-ku tadi.
Setelah tertidur sekitar dua jam aku di bangunkan oleh ibuku karena bayi kembarku yang menangis kemungkinan mereka lapar.
Aku segera menyusuinya bergantian. Bayi laki-laki- ku yang paling kuat menyusu sedangkan yang bayi perempuan hanya sedikit kemudian tidur kembali
Sore harinya orang tua Rayhan sudah datang, Fira dan suaminya juga datang membawakan berbagai macam buah dan kue. Sedangkan ibuku tak pernah meninggalkanku. Karena khawatir aku kewalahan dengan ke-dua bayiku kalau mereka rewel.
"Cantiknya cucuku." Ucap ayah mertua membelai pipi bayi perempuanku.
Sedangkan bayi laki-lakiku di gendong sama ibu mertua
"Namanya siapa Ray?" Tanya ibu mertua.
"Farha Hanna Puspita dan Farhan Hanif Putra, Ma." Jawab Rayhan.
Memang nama itu sudah kami persiapkan sebelumnya karena kami sudah mengetahui jenis kelamin lewat USG.
Melihat banyak yang menjaga sikembar maka aku menyuruh Rayhan untuk pulang.
"Sebaiknya kamu pulang dulu, ganti baju dan mandi." Ucapku pada Rayhan.
"Nggak, Biar aku suruh Bi Rahmi yang bawakan."
"Baju kamu kenapa nggak di kancing?" Tanya ayah mertua.
__ADS_1
"Gara-gara si kembar ." Ucapnya asal sambil melirikku.
"Si kembar atau mamanya Si kembar?"Tanya ayahku tergelak.
"Itu mah biasa...masih mending kalau kancingnya yang lepas, dulu waktu mama kamu melahirkan kamu, mama kamu seperti macan, menggigit dan mencakar." Kata ayahku sambil tertawa.
"Ya...harus gitu dong, sakitnya di bagi... masa mau enaknya saja." Timpal mama mertua.
"Tau nggak, Om.. . tadi Kak Rayhan nangis." cerocos Fira.
Aku tak tau dari mana Fira tau kalau Rayhan menangis.
"Bohong..." Sangkal Rayhan
"Aku lihat sendiri kok, Kak." ejek Fira.
Semua yang ada di situ tertawa mendengar apa yang dikatakan Fira.
"Benar, 'kan,Kak? Tanyanya padaku.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.
Semua yang ada di ruangan itu tertawa.Hingga tak menyadari ada bayi yang sedang terlelap. Untung saja mereka tidak terbangun.
"Benar-benar ibu melahirkan itu sangat sakit lho, Fir. Aku aja yang lihat hampir pingsan." Ucapnya menakuti Fira.
Seketika wajah Fira berubah, mungkin rasa takut karena dia juga sedang mengandung dan akan melahirkan.
"Jangan dengarkan dia, Fir. Dianya aja yang lebay, masa aku yang melahirkan dia yang keringatan."
"Beneran, Kak?" Ucap Fira sendu.
"Iya, buktinya aku lahirin dua anak sekaligus, aku nggak apa-apa,'kan?" Ucapku meyakinkannya.
Benar-benar suamiku ini nggak ada akhlak masa orang hamil di takut-takuti. Bisa bahaya kalau Fira stress akan berdampak pada janinnya.
...****...
Keesokan harinya, aku sudah di izinkan pulang karena keadaanku dan si kembar baik-baik saja. Farhan di gendong oleh ibu sedangkan Farha di gendongan mama mertua. Setelah sampai di rumah aku langsung di bawa ke kamar. Begitu juga sikembar yang kerjaannya tidur melulu. Mereka terbangun kalau merasa lapar, bahkan kadang dibangunkan kalau terlalu lama tertidur. Rafa tak kalah hebohnya melihat ke-dua adiknya. Dia tak mau jauh dari Si kembar.
Setelah tinggal kami berempat di kamar, si kembar di box bayinya.
Karena ingin membersihkan diri Rayhan membuka bajunya pas di depanku. Dan tampaklah lengan dan dadanya banyak yang berwarna hitam agak keunguan bekas cengkraman-ku. Yang paling parah di dada sebelah kanannya.
"Astaga...itu kenapa?" Tanyaku.
__ADS_1
"Hasil karya mamanya si kembar," jawabnya terkekeh.
"Maaf...nggak sengaja..Hehehe.."
"Nggak apa-apa, Sayang, ini tak seberapa di banding perjuangan kamu melahirkan anak-anak kita." Ucapnya mengecup bibirku.
"I love you, Sayang." ucapnya mengelus bibirku.
"Love you too, My husband."
Kemudian dia berlalu ke kamar mandi.
Aku juga kembali beristirahat supaya cepat pemulihan pasca melahirkan. Sungguh aku tak pernah menyangka kalau akan di berikan anugrah anak kembar. Dan tak terasa aku sudah terlelap dalam mimpi indahku.
Aku terbangun tatkala Farhan menangis, aku mencoba bangun dari tempat tidur. Tapi Rayhan melarang bergegas mengambil Farhan dari box bayi dan membawanya ke pangkuanku dan akupun menyusuinya. Selang beberapa detik Farha juga menangis dan papanya menggendongnya tapi tak berhenti menangis. Perlahan aku melepaskan mulut Farhan dari sumber kehidupannya tapi dia malah menangis dengan kencangnya jadi aku kembali menyusuinya.
"Bawa kesini." panggilku pada Rayhan.
Aku kemudian menyuruh Rayhan duduk di sampingku dan mengarahkan Farha untuk menyusu di payudara yang satunya.
Saking lahapnya mereka menyusu kadang air susu menetes di mulutnya.
"Pelan-pelan dong sayang?" Kata Rayhan pada Si kembar.
"Tambah montok aja...jadi pengen juga." Ucapnya sambil menelan salivanya.
"Kamu puasa dulu!" tegasku.
"Mana tahan kalau tiap hari lihat begini, Sayang." Ucapnya lagi.
"Ya....harus tahanlah...."
"Aku nggak kuat, Sayang!! Lirihnya.
"Sana...kamu pake dot aja." Ucapku terkekeh.
"Sungguh teganya ....teganya...." Menyanyikan lagu kesukaan ayah mertua.
Ada - ada aja maunya. Baru dua hari tidak dapat jatah sudah kayak orang linglung. Apalagi kalau sampai empat puluh hari.Benar-benar suami mesum.
Setelah Farhan dan Farha tertidur kembali, Rayhan dengan pelan mengembalikannya di box bayi. Aku merasa lapar setelah menyusui ke--dua bayiku. Rayhan--pun segera turun mengambilkan makanan untukku.
"Betapa beruntungnya aku dapat suami baik, perhatian, setia seperti dia." Batinku.
Aku berharap semoga kami selalu bersama membesarkan anak-anak kami hingga kami menua. Walaupun dalam sebuah rumah tangga pasti ada rintangan atau kerikil yang akan menerjang tapi itu takkan berarti apa-apa dalam bahkan akan lebih mempererat hubungan kami.
__ADS_1