SESAL

SESAL
Percakapan Absurd


__ADS_3

"Serius, Kak? Benar-benar Kak Ray tokcare banget" Teriak Fira ketika aku mengatakannya di acara peresmian Toserba Pak Erwin dan dokter Tiara.


"Hush...jangan ribut, malu." Ucapku melotot padanya.


"Habis ini Kakak tutup kandungan deh, kalau nggak bisa-bisa melahirkan terus kayak kucing." Ejeknya.


"Dari pada kamu mau nambah lagi tapi nggak bisa." Ucap suamiku pada Fira.


Fira hanya cengengesan karena dia tak melihat Rayhan yang ada di belakangnya.


"Dua anak cukup, Kak " Ucap Fira tak mau kalah.


"Hmmmm, Rafa mau dapat adik lagi ya?" Ujar Mas Rasya yang bergabung dengan kami, ternyata dia hadir juga di acara tersebut.


"Kok tau?" Tanya suamiku.


"Tuh Fira teriak kayak Toa." Ucap Mas Rasya terkekeh.


Aku menyesal mengatakan pada Fira, jadinya semua orang tau kalau aku hamil.


Untung acara tersebut tak terlalu ramai hanya keluarga dan teman dekat pak Erwin dan dokter Tiara yang datang.


Kemudian seorang wanita berjilbab datang dan memanggil kami untuk bergabung dengan yang punya acara.


Aku baru melihat wanita tersebut, dia ramah dan senyumnya selalu tersungging kalau kami bertemu pandang. Mungkin dia salah satu teman atau keluarga dari dokter Tiara atau pak Erwin.


Setelah acaranya selesai, para tamu sebagian sudah pulang kami-pun mengobrol bersama.Termasuk Mas Rasya juga belum pulang karena masih asyik mengobrol dengan Ridho. Wanita tersebut datang membawakan minuman.


"Bawa kesini kuenya, Han." Kata Pak Erwin.


Aku menyenggol dokter Tiara dan memberi kode menanyakan siapa perempuan tersebut.


Dokter Tiara langsung paham maksudku dan langsung memperkenalkan wanita tersebut.


"Oh iya...ini kenalkan ... sepupu Erwin, namanya Hana." Ucap dokter Tiara.


Aku langsung mengulurkan tanganku padanya saling memperkenalkan diri.Begitu juga Fira. Pada saat Mas Rasya mengulurkan tangannya, Hana hanya mengatupkan tangannya di dada. Karena tangan Mas Rasya menggantung, Lagi-lagi Fira yang menjabat tangan Mas Rasya dan mengatakan "Saya Fira, Mas." Dengan suara yang manja.


Untuk mengurangi kekecewaan akhirnya Mas Rasya membalas candaan Fira.


"Saya Rasya, dek Fira." Ucapnya tersenyum sambil melirik Hana. Tapi hanya aku yang menyadari itu.


Kami spontan tertawa melihat kekonyolan mereka. Memang Fira dan Mas Rasya hampir memiliki kesamaan yaitu suka bercanda.


"Sini Han, gabung dengan kami." Tawarku pada Hana.


"Aku ambil kuenya dulu, Bu." Ucapnya tersenyum.


Tak lama kemudian Hana datang dengan membawa beberapa jenis kue dan meletakkannya di meja. Kemudian dia duduk di dekatku.


"Kapan datang, Han?" Tanyaku basa basi padanya.


"Sudah satu Minggu, kebetulan saya ada pelatihan di kota ini jadi sekalian datang ke acaranya Kak Erwin." Ujarnya lagi.


"Kapan baliknya." Tanyaku sok akrab.


"Mungkin hari Minggu, Bu! " Ucapnya lagi.


"Nggak usah panggil ibu, kesannya aku tua banget, Panggil Fani aja." Protesku karena merasa nggak nyaman dipanggil ibu.


"Kamu tambah libur saja, Han, mumpun kamu di sini." Ucap dokter Tiara.


"Kasihan anak-anak, Kak...yang biasa gantiin saya ngajar lagi sakit?" Jelas Hana.

__ADS_1


Aku baru teringat kalau dokter Tiara pernah mau jodohin Hana dan Mas Rasya tapi gagal karena masa lalu Mas Rasya yang pernah selingkuh. Pasti Hana ini sudah menikah karena usianya mungkin sama dengan Fira atau bahkan lebih.


Karena penasaran aku whatsApp dokter Tiara, takutnya kalau aku tanyakan langsung Hana dengar.


Aku mengetikkan pesan pada dokter Tiara.


Me : Hana sudah punya suami


atau belum?"


dr Tiara : Janda


Dokter Tiara kemudian pamit ke belakang entah apa yang akan di ambil. Aku juga segera menyusulnya. Karena ingin menanyakan lebih lanjut masalah Hana.


Melihatku masuk juga dokter Tiara senyum-senyum melihatku.


"Kenapa, dok?" Tanyaku.


"Penasaran tentang Hana?" Tanyanya tersenyum.


Ya begitulah otak cerdas langsung bisa menebak.


Aku hanya tersenyum dan mengangguk.


"Dia itu yang mau aku jodohkan dulu sama Rasya, tapi takutnya Rasya selingkuh lagi " Ucapnya mengingatkanku


"Dia cerai, dok?" Tanyaku lagi.


"Suaminya meninggal karena kecelakaan."


"Punya anak?" Tanyaku.


"Anaknya juga meninggal dalam kecelakaan itu " Ujar dokter Tiara sedih.


"Innalillahi Wainna Ilaihi Raji'un "


Kami-pun akhirnya bergabung kembali dengan yang lainnya. Terlihat Mas Rasya sekali-kali bertanya pada Hana dan Hana hanya menjawab seadanya sambil tersenyum.


Mungkin karena merasa asing di situ Hana akhirnya pamit untuk ke belakang.


Kami kembali melanjutkan obrolan. Kadang kami tertawa dan saling mengejek. Apalagi Mas Rasya yang selalu menjadi sasaran karena dia yang tidak punya pasangan.


Sejak Mas Rasya menolong kami dulu dari suruhan mantan istri pak Erwin, mereka dekat apalagi Toserba yang di bangun oleh pak Erwin ternyata Mas Rasya adalah kontraktornya.


Selama obrolan berlangsung aku juga tak berhenti mengunyah, aku mencicipi semua kue yang ada di meja.


Rayhan sesekali menyodorkan kue yang agak jauh dari jangkauanku


"Mau yang coklat itu." Ucapku pada suamiku.


Dia kemudian menyodorkan padaku.


"Bumil ini kuat banget makannya." Ucap Fira.


"Bagus dong biar janinnya sehat." Timpal Ridho.


"Nggak ngidam , Fan? Atau Rayhan yang ngidam lagi?" Tanya dokter Tiara.


"Nggak, dok " jawabku.


"Itu artinya aku pintar, istriku nggak ngidam macam-macam. Rayhan gitu ..lho." Ucap suamiku merasa hebat


" Pantasan kamu produksi terus." Ucap pak Erwin

__ADS_1


"Ya harus dong ..mumpun masih muda tancap teruusss." Kata suamiku lagi.


"Tancap ... tancap....aku yang bunting terus " Ucapku padanya.


"Sudah berapa tahun nggak tancap -tancap, Rasya?" Tanya Pak Erwin mengalihkan pertanyaan pada Mas Rasya.


Yang ditanya hanya tersenyum kecut sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bisa juga ya kamu tahan?" Ucap Ridho lagi.


Kini giliran Mas Rasya jadi sasaran para suami tersebut


"Siapa tau Kak Rasya sering tancap di luar " Timpal Fira.


Dengan cepat Mas Rasya menyangkal.


"Nggak ah ..sumpah!!" Ucapnya sambil menaikkan dua jarinya.


"Masa sih? Nggak percaya." Ucapku tanpa menoleh karena asyik makan kue coklat.


"Udah tobat." Ucapnya.


"Nggak karatan tuh barang?" Tanya suamiku.


"Aman...masih kinclon." Jawab Mas Rasya meladeni pertanyaan absurd mereka.


"Di pakein skin care toh?" Ujar dokter Tiara.


Kami semua tak bisa menahan tawa dengan obrolan yang tau masuk akal itu.


"Emang nggak ada niat mau nikah lagi?" Tanya dokter Tiara memancing.


"Niat sih... tapi sampai sekarang nggak ada yang cocok." Ucapnya santai.


"Mau aku cariin?" Tanya dokter Tiara lagi


"Boleh, kalau cocok bungkuuuus." Cerocos Rayhan.


Aku melotot pada suamiku.


"Maksudnya si Rese, Sayang?" Ucap suamiku mengangkat ke dua tangannya tanda menyerah.


"Enak aja ganti nama orang." Guman Mas Rasya.


Waduh Rayhan kenapa keceplosan nyebut nama panggilannya untuk Mas Rasya. Buat nggak enak hati saja.


"Emangnya kriteria kamu yang bagaimana sih?" Tanya dokter Tiara serius.


Bahkan pak Erwin yang bertanya padanya tak di hiraukan karena saking seriusnya.


"Kayak bumil ini." Ucap Mas Rasya melirikku.


"Istriku itu Limited Edition." Timpal suamiku.


"Siapa tau masih ada satu yang tersisa." Ucap Mas Rasya tak mau kalah.


"Nggak mau yang cerewet kayak sayangku, cintaku Fira?" Ucap Ridho terkekeh.


"Nggak masalah yang penting setia." Ucap Mas Rasya serius.


"Pasang di FB aja dengan caption Seorang duren mencari calon istri, Bagi yang berminat hubungi Fira, terus pasang foto Kak Rasya," Ucap Fira seolah membuat pengumuman.


Mas Rasya langsung memperingatkan Fira supaya jangan melakukan hal itu. Karena bagi Fira itu bisa saja dia lakukan.

__ADS_1


Sedangkan dokter Tiara terlihat senyum-senyum, semoga dia ingin menjodohkan Mas Rasya dengan Hana karena dalam pikiranku juga begitu. Siapa tau saja mereka jodoh. Cukuplah Mas Rasya merasakan kesendirian selama bertahun-tahun. Dia butuh pendamping dalam hidupnya yang akan menemani dalam mengarungi bahtera rumah tangga.


"


__ADS_2