
Setelah dua Minggu berlalu. Hari yang dinantikan telah tiba. Dimana hari ini Rayhan akan mengucapkan ijab kabul atas namaku. Rasa bahagia, senang, terharu bercampur jadi satu. Meskipun pernikahan ini bukan yang pertama bagiku tapi rasa gugup masih tetap kurasakan.
Atas kesepakatan kedua keluarga akad nikah dilaksanakan di rumah orang tuaku dan keesokan harinya kami akan berangkat ke kota tempat tinggal Rayhan untuk acara resepsinya.
Setelah rombongan mempelai pria datang, Fani datang ke kamarku.
"Kak Rayhan dan keluarganya sudah datang, Kak, " ucap Fira.
Aku hanya mengangguk tanpa menjawab ucapan Fira.
Setelah beberapa saat kemudian terdengar suara Rayhan mengucapkan Ijab kabul dengan suara lantangnya.
" Saya terima nikah dan kawinnya Fani Rahayu binti Muhammad Rasyid dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
"Sah?"
"Sah!! Ucap para saksi
Dalam hati aku mengucap Alhamdulillah Ya Allah.
"Selamat ya, Kak, akhirnya kakak menikah lagi, hehe,' ucap Fira.
Setelah segala rangkaian akad nikah selesai, ibuku kemudian datang memanggilku untuk bergabung.
Kami keluar dari kamar menuju tempat di adakannya akad nikah tadi.
Semua mata tertuju menatapku, aku berjalan sambil menunduk. Hingga pada saat aku mengangkat wajahku, netraku tertuju pada pria yang sudah sah jadi suamiku, Rayhan. Dia tersenyum dan kulihat bibirnya mengatakan kata cantik.
Aku duduk tepat di dekat Rayhan. Kemudian dia memasangkan cincin pernikahan kami begitupun sebaliknya. Kemudian aku mencium tangannya dengan tahzim dan dia mengecup keningku.
Para tamu yang sebagian besar keluargaku dan keluarga Rayhan menikmati hidangan yang telah di sediakan. Setelah itu satu persatu kemudian berpamitan, termasuk orang tua Rayhan yang tak lain sekarang sudah menjadi mertuaku.
Kami masih asyik mengobrol sambil menikmati aneka kue yang tersaji, aku menoleh ke kursi dimana Rafa dari tadi terduduk. Tapi aku tidak melihatnya di sana.
" Kemana anak itu,"batinku.
Aku bertanya kepada Rayhan yang duduk di sampingku, tapi katanya dia tidak melihatnya.
Aku bergegas mencarinya ke pintu keluar, begitu juga Rayhan segera mencari Rafa.
Tak lama kemudian Rafa berlari dari arah samping dan berteriak memanggilku.
"Mama...." teriaknya
"Kamu dari mana?" tanyaku.
"Ketemu papa," jawabnya dengan gaya bahasa anak-anak.
Aku langsung melihat ke arah jalanan, tapi tidak kulihat sosok Mas Rasya.
Aku sedikit berlari ke arah samping, Mas Rasya tidak nampak juga.
"Kamu cari siapa?" Rayhan datang mengagetkanku.
Karena tidak mau mengganggu hari bahagia kami, akhirnya aku tidak mengatakan pada Rayhan.
__ADS_1
Kami kemudian bergabung kembali dengan yang lainnya yang masih asyik mengobrol.
Karena merasa gerah aku berpamitan ke kamar.
"Aku ganti baju dulu, Kak,. gerah," ucapku pada Rayhan.
Aku berlalu meninggalkan Rayhan yang masih mengobrol bersama Ridho.
Setelah masuk kamar bukannya ganti pakaian, aku malah mengingat ucapan Rafa tadi.
Banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku kenapa Mas Rasya ke sini, kalau mau ucapkan selamat kenapa nggak masuk, kataku dalam hati.
Tok.tok.tok
Ketika aku membuka pintu ternyata yang datang Rayhan.
"Lho, kenapa belum diganti bajunya?" tanyanya.
"Hehehe..lupa, Kak,' jawabku asal.
"Mau di bukain?" kata Rayhan dengan senyum yang sulit diartikan.
"Nggak, aku bisa sendiri kok, Kak" tolakku.
Aku segera ke kamar mandi untuk ganti pakaian.
Setelah membersihkan muka dan mengganti pakaian akupun keluar dari kamar mandi, Rayhan sudah tidak ada di kamar, hanya jasnya yang teronggok di atas tempat tidur.
Aku bergegas menemui Rafa di kamarnya. Dan di sana aku melihat Rayhan sedang bermain dengan Rafa. Aku trenyuh melihat keakraban mereka berdua, bahkan seperti ayah dan anak. Bahkan Rayhan mengajari Rafa memanggilnya ayah.
Sontak keduanya menoleh ke arah pintu yang memang terbuka lebar.
" Rafa mandi dulu, Nak!"
"Ok, mama"
Rafa kemudian dibantu Bi Rahmi ke kamar mandi.
" Sayang, yuk kita ke kamar," ucap Rayhan langsung menarik tanganku untuk keluar dari kamar Rafa.Tapi aku masih tidak bergerak dari tempatku.
Apa tadi katanya, dia memanggilku sayang, sontak aku memerah di panggil sayang olehnya.
"Lho, kok senyum-senyum,?
Aku semakin salah tingkah dibuatnya.
"Ehhh....nggak kok, Kak" jawabku gugup.
"Ayo....." ucapnya lagi.
Segera pikiranku melayang membayangkan dia ngajak ke kamar, ngapain juga ke kamar sore-sore begini.
"Dasar pikiran kotor," dalam hatiku merutuk pikiranku sendiri sambil geleng-geleng kepala.
"Kakak duluan aja, nanti aku nyusul."
__ADS_1
"Ok, aku tunggu ya, Sayang," ucapnya sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Hari beranjak malam, sang rembulan pun enggang menampakkan wajahnya. Hanya gerimis yang menambah dinginnya malam.
Setelah makan malam kami berbincang di ruangan keluarga. Fira dengan suara cemprengnya tertawa bermain dengan Rafa. Sedangkan Rayhan, ayah, dan Ridho masih asyik berbincang entah apa yang di bicarakan ketiga pria tersebut
Karena malam sudah mulai larut, akhirnya Rafa mulai mengantuk.
"Ma.... mau bobok," ucapnya padaku.
"Ayo ke kamar," aku beranjak ingin ke kamar, memang sejak aku bercerai dengan Mas Rasya aku tidur bersama anakku Rafa.
Ibu yang tepat berada di depanku langsung menatapku dan langsung menghampiri Rafa.
"Rafa sama nenek aja tidurnya, ya?' Ucap ibuku membujuk Rafa.
Tapi yang di bujuk nggak mau, dia bahkan memelukku sambil menggeleng tanda tidak setuju kepada ibuku.
Karena Rafa tetap bersikeras tidur denganku, mungkin karena sudah kebiasaan akhirnya aku membawa ke kamarku. Tak lama kemudian Rafa sudah terlelap dengan mimpi indahnya.
Karena merasa lelah akibat seharian nggak pernah istirahat, akhirnya aku membaringkan diri ikut berbaring disampingnya. Tapi belum juga terlelap, terdengar suara pintu terbuka.
Suara langkah kaki semakin mendekat ke arahku, mataku begitu berat tapi aku masih di alam sadarku.
"Kamu udah tidur?" ucap Rayhan berbisik di telingaku.
"Hmmmm" aku hanya melenguh karena saking ngantuknya.
Akupun terlelap mengarungi alam mimpi.
Tepat jam lima pagi, aku merasakan ada yang berat menimpa tubuhku. Aku coba membuka mata, kulihat sebuah tangan kekar melingkar di perutku. Aku cepat mengangkat tangan tersebut. Setelah betul-betul tersadar dari alam mimpi aku baru teringat kalau sekarang statusku sudah menjadi istri dari Rayhan.
Aku mencoba bangun tanpa mengganggu tidur Rafa dan Rayhan.
Baru saja aku akan beranjak, Rayhan langsung menarikku dan memelukku dengan erat, hingga membuatku sedikit sesak.
"Ayo bangun, Kak! Kita shalat subuh bareng,"
"Sepuluh menit lagi, Sayang,"
Dia terus memelukku dari belakang, terasa deru nafasnya memburu mengenai tengkuk ku.
Aku tahu Rayhan akan meminta lebih kalau aku masih berdiam seperti ini sedangkan situasi dan kondisi tidak memungkinkan.
"Kak, ayo bangun," ucapku.
Rayhan mengurai pelukannya dan terduduk di ranjang sambil menunjuk pipinya.
"Morning Kiss, Sayang." Ucapnya sambil tersenyum.
Aku hanya melongo menatapnya.
"Ayolah, cuma cium di sini doang, "sambil menunjuk pipinya.
"Atau mau disini?" sambil menunjuk bibirku.
__ADS_1
Karena waktu subuh makin mepet aku dengan cepat mencium pipinya dan langsung berlari ke kamar mandi dengan wajah yang memerah.