SESAL

SESAL
Cemburu


__ADS_3

Setelah sampai di klinik dokter Tiara dan menunggu beberapa menit, namaku akhirnya di panggil oleh perawat. Aku dan Rayhan bergegas masuk ke ruangan dokter Tiara.


"Bagaimana Bu Fani? ada keluhan?" tanya dokter Tiara.


"Nggak ada, Dok," jawabku.


Untuk mengetahui perkembangan janinku aku kembali di USG.


Mata Rayhan fokus pada layar monitor. Sementara dokter mengerak-gerakkan alat tersebut yang di tempelkan di perutku. Lama dia menggeser alat tersebut.


"Subhanallah ... janinnya ada dua." ucap dokter Tiara semangat.


"Apa??" aku dan Rayhan serempak menjawab.


"Iya ... Pak, Bu. Bisa di lihat ... ini janin pertama dan ini kembarannya."


"Subhanallah, Alhamdulillah Ya Allah." ucap Rayhan sambil menciumku di depan dokter.


Dokter hanya menggelengkan kepala sambil senyum-senyum melihat kami, sedangkan perawat yang masih muda tersebut langsung mengalihkan pandangannya menatap ke arah lain


Aku juga tak kalah senangnya mengetahui kalau di rahimku ada dua janin. Pantasan aku makannya banyak banget.


"Tunggu sebentar ya, Pak?Kami bersihkan dulu gelnya." Ucap dokter Tiara menghentikan aksi Rayhan yang terus memeluk dan menciumku.


"Hehe...maaf, Dok," ucapnya malu.


Setelah kami kembali ke tempat duduk semula dan dokter memberikan penjelasan bahwa memang kadang janin kembar itu kadang baru bisa terlihat jelas pada usia kehamilan delapan sampai tiga belas minggu.


Setelah menebus obat di apotik kamipun bergegas pulang. Padahal rencananya aku mau jalan-jalan tapi Rayhan tidak mengizinkan alasannya takut aku capeklah, harus banyak istirahatlah dan banyak lagi alasannya. Apalagi mengetahui aku hamil anak kembar dia semakin posesif saja. Beberapa kali aku men jelaskan apalagi ini bukan kehamilanku yang pertama dia tetap melarangku.


Hari terus berganti, tak terasa kehamilanku sudah berjalan enam bulan. Perut juga semakin membesar. Badanku seperti karung beras ditambah pipi yang semakin tembem. Rayhan juga sudah tidak mengalami mual dan muntah di pagi hari. Dia akhir-akhir sibuk dan kadang pulang menjelang petang. Aku lebih banyak tinggal di rumah bersama Rafa. Terkadang kalau hari libur kami jalan-jalan ke pantai atau ke Mall terdekat.


Nomor Mas Rasya juga sudah Rayhan dapatkan. Tapi aku tak menghubunginya karena sejauh ini Rafa juga tak pernah menanyakannya lagi. Jika memang dia merindukan anaknya dia pasti akan menghubungiku.


Pagi itu karena merasa bosan dan suntuk di rumah, Rafa juga nginap di rumah orang tuaku,aku memutuskan ikut dengan Rayhan ke kafe.


Tanpa memberitahukannya aku sudah bersiap-siap dengan memakai gamis yang agak longgar dan jilbab yang agak panjang menutupi bagian perutku. Di tambah sedikit bedak dan lipstik berwarna pink.


Kulihat tampilanku di cermin ."Lumayan cantik, batinku.


Setelah keluar dari kamar mandi Rayhan mengerutkan keningnya melihatku sudah rapi.


"Mau kemana, Sayang?" Tanyanya.


"Ikut ke kafe." jawabku.


"Untuk apa?" tanyanya lagi.


"Emang salah kalau aku ikut?" tiba-tiba moodku seketika jengkel dengan ucapannya.


"Kenapa sih aku nggak boleh ikut? Malu ya... karena model aku gendut begini?" ucapku emosi.


'Kamu kenapa marah-marah nggak jelas begini?" ucapnya menghampiriku.


Aku menghentakkan kakiku menuju sofa dan menjatuhkan pantatku di sana.


"Pelan-pelan dong jalannya." ucapnya sedikit keras.


Aku membuka kasar jilbab yang sudah terpasang rapi menutup kepalaku.


Dia berjalan ke arahku dan berjongkok tepat di depanku.

__ADS_1


"Jangan ngambek dong, Sayang?" Ucapnya lembut.


Dia mengambil jilbab di tanganku dan memakaikan kembali di kepalaku.


"Orang hamil itu nggak boleh marah-marah, nanti baby-nya rewel juga." Ucapnya mengelus perutku.


"Mitos,"ucapku singkat.


"Kamu boleh ikut kok!" Ucapnya mengelus pipi tembemku.


Senyum mengemban di wajahku, dia begitu sabar menghadapiku. Beruntungnya dapat suami sepertinya. Ucapku dalam hati dan tersenyum menatapnya berlalu dari hadapanku.


Sesampainya di kafe, kami bergandengan masuk. Semua pegawai yang berpapasan dengan kami menyapa kami dengan ramah. Aku hanya tersenyum membalas mereka walaupun tidak mengenalnya karena ini kali pertama aku menginjakkan kaki di tempat ini. Lumayan bagus juga kafenya, suasananya yang nyaman di tambah lokasinya yang strategis membuat selalu ramai pengunjung. Karena masih pukul sembilan pagi jadi masih sedikit pengunjung yang datang.


Rayhan langsung membawaku ke ruangan kerjanya yang ada di lantai dua bangunan itu. Pada bagian depan berdinding kaca sehingga mata langsung tertuju dengan jalanan raya . Kemudian di dalam ruangan itu ada sebuah kamar untuk istirahat.


"Kalau mau istirahat, kamu masuk aja di kamar."Ucapnya menunjuk pintu kamar.


Aku lebih memilih duduk di sofa dan memandang kendaraan yang lalu lalang. Bosan melihat jalanan yang tidak ada menariknya aku memainkan ponselku. Beberapa lama sibuk dengan ponselku, terdengar ada yang mengetok pintu.


Tok ... tok ....tok.


Setelah dipersilahkan masuk pria tersebut berjalan ke arah Rayhan.


"Maaf pak Rayhan, Bu Alisya ingin bertemu dengan Bapak." ucap pria tersebut.


"Ada perlu apa, ya?" ucap Rayhan.


"Katanya dia akan menyewa kafe ini, Pak."


"Lho ... kan bisa bicara sama kamu?" Timpal Rayhan.


"Tapi dia ngotot pingin ketemu, Bapak." kata pria tersebut yang bernama Aldy.


"Ok ... suruh tunggu sebentar! Kata Rayhan.


Kemudian pria tersebut bergegas keluar.


"Aku keluar sebentar ya ... Sayang? Atau kamu mau ikut?" ucap Rayhan.


"Aku tunggu disini," tolak-ku.


Setelah kepergian Rayhan, aku masuk ke kamar niatnya untuk istirahat. " Untuk apa juga aku ikut kalau cuma datang istirahat. Mendingan aku tinggal di rumah." Kataku dalam hati.


Hingga aku memutuskan keluar menyusul suamiku. Aku bergegas keluar dan mencari keberadaan Rayhan. Setelah beberapa menit mencari akhirnya mataku tertuju di sebuah meja yang berada di pojok kafe. Di situ aku melihat suamiku sedang berbicara serius dengan seorang wanita yang kira-kira seumuran denganku. Kulitnya putih dan rambut sebahu. Dalam hatiku aku memuji kecantikannya.


"Seandainya aku tau yang ditemui suamiku secantik ini, dari tadi aku ikut dengannya."


Kataku dalam hati.


Aku segera mendekat ke arah mereka. Pada saat Rayhan melihatku dia langsung berdiri dan menyambut kedatanganku sambil tersenyum. Dia langsung menarik kursi untukku.


"Ayo duduk, Sayang." Ucapnya mesra.


"Oh iya, ini istri saya," ucap Rayhan memperkenalkan aku.


Aku melihat perubahan raut muka perempuan itu setelah kedatanganku. Sepertinya aku ini sebagai pengganggu saja.


"Bau - bau pelakor," batinku.


Aku mengulurkan tanganku kepadanya.

__ADS_1


"Hai... aku Fani," ucapku sok ramah.


'Alisya," ucapnya singkat membalas uluran tanganku.


"Anak papa mau minum apa, Sayang?" Ucapnya Rayhan mengelus perutku.


Dalam hatiku bertanya-tanya "Apakah Rayhan sengaja memperlihatkan kemesraan kami di depan perempuan ini?"


Nggak apa-apalah, kalaupun misalnya suamiku ini tidak ada niat aku yang akan melakukannya. Toh dia milikku bebas dong mesra-mesra-an dengannya.


"Iya nih, Sayang ... si kembar pingin minum hot chocolate." ucapku tak kalah mesranya sambil membelai pipi suamiku.


Ingin rasanya aku tertawa terbahak-bahak ketika melihat raut muka Alisya jengah dan hanya mengaduk minuman yang ada di depannya.


Tak ada lagi pembicaraan antara Rayhan dan Alisya setelah kehadiranku. Itu membuatnya agak tidak nyaman berlama-lama tinggal bersama kami.


"Maaf...pak Rayhan, aku permisi dulu. Nanti aku akan hubungi bapak kembali.' Ucap Alisya.


"Hubungi saja pak Aldi, " timpal Rayhan.


Setelah kepergian Alisya, akupun menikmati Hot Chocolate dan cemilan yang lain yang ada di atas meja.


"Perempuan tadi siapa?" Tanyaku.


"Kan kamu tadi udah kenalan!" jawab Rayhan.


"Dia sering ke sini?" Tanyaku menginterogasinya.


"Dia langganan kafe ini, dia sering mengadakan acara di sini." jawab Rayhan.


" Sudah punya suami?" Tanyaku lagi.


"Ya ... mana aku tau!! Kamu cemburu, ya??" Tanya Rayhan.


"Siapa juga yang cemburu!! " kilahku.


"Yeeee.... bilang aja kalau cemburu." ucap Rayhan terus menggodaku.


"Nggak!!!"


"Tapi kamu datang di waktu yang tepat, Sayang!" Ucapnya lagi.


"Maksudnya?" tanyaku.


"Dia itu banyak maunya, mau adain pesta Ultah nya di kafe ini, masa aku mau di jadiin tamu spesialnya, katanya sih dia mau di jodohin oleh orang tuanya dan dia minta tolong supaya aku mau pura-pura jadi pacarnya" Kata Rayhan panjang lebar.


"Kenapa harus kamu sih?" Ucapku sedikit emosi.


"Aku juga nggak tau, aku udah bilang sama Aldy saja, tapi dianya nggak mau."


"Aldi siapa?" Tanyaku lagi.


"Manager kafe, kebetulan dia jomblo."


"Yuk...kita ke atas, kita senang-senang di kamar." Bisik Rayhan di telingaku.


"Apa sih??"Ucapku tersipu.


"Siapa tau kalau si kembar di jenguk di kantor besarnya nanti jadi pengusaha sukses, bisiknya lagi.


"Modusssss ... dasar mesum." Ucapku mencubit pinggangnya.

__ADS_1


Kamipun bergegas kembali ke ruangan kerja, untuk bersenang-senang sesuai kemauan sang suami perkasa.


__ADS_2