SESAL

SESAL
Jawaban Fani


__ADS_3

Kulihat Rayhan menatapku, kemudian aku mengatakan apa yang kurasakan selama ini terhadapnya.


"Jujur aku merasa nyaman bersama Kakak," "Selalu berharap Kakak menghubungiku, "


"Aku tersiksa saat Kakak mengabaikanku,"


"Aku tak tau apakah ini cinta, atau hanya pengisi kesepian ku saja, tapi aku sungguh bahagia bila bersama Kakak." Kataku jujur.


Rayhan kemudian menoleh ke arahku, tatapannya begitu dalam seakan menembus relung hatiku.


"Mungkin hanya waktu yang dapat menyembuhkan hatimu yang terluka, Aku tak bisa menjanjikan apa-apa buatmu selain kesetiaan, dan rasa cinta untukmu.Aku akan berusaha selama nafasku masih di dalam raga aku akan selalu ada untuk menghapus air matamu dan selalu membuatmu tersenyum."


Kata Rayhan sambil terus menatapku.


"Jadi bagaimana keputusanmu, Fan?"


"Kok masih nanya sih Kak ?" kataku.


Karena dengan curhatku yang panjang lebar bisa di ambil kesimpulan kalau aku memberinya kesempatan alias menerimanya.


"Maksudnya," tanyanya lagi minta penjelasan lengkap.


Benar-benar bujang tak laku ini harus di kasi jawaban singkat, jelas dan padat. Kataku dalam hati.


Aku lalu mengangkat tanganku di depan mukanya yang memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manis ku.


Aku lihat dia tambah heran dengan tingkahku.


"Kenapa dengan tanganmu?" tanyanya lagi.


"Kakak Rayhan yang guanteng se Kalimantan.


Aku memakai cincin ini pertanda aku menerima Kakak, " ucapku memperjelas.


"Sungguh Fan" katanya tersenyum lebar.


Aku hanya mengangguk.


"Dasar nggak peka," kataku pelan tapi masih terdengar olehnya.


"Jadi kamu mau?" tanyanya lagi.


"Mau muntah" jawabku sambil tertawa.


Dia kemudian menarik dan ingin memeluk ku, tapi dengan cepat aku menghindar.


"Eitsss....belum halal Kak" kataku mengingatkan.

__ADS_1


Dia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil cengengesan.


"Maaf... saking senangnya. hehehe."


"Secepatnya aku akan melamarmu" katanya, kini dia mulai serius


"Secepat itu Kak?" tanyaku .


"Seusia kita bukan lagi untuk pacar-pacaran, aku ingin secepatnya menghalalkanmu, menjadikanmu makmumku,menjadikanmu ratuku.


Aku kembali merona mendengarkan pernyataannya.


Jiwa isengku muncul seketika. Entah kenapa aku suka ngerjain Rayhan, aku suka kalau melihat mukanya jutek.


" Tapi aku kan belum menerima jadi suami." ucapku memancing.


"Kamu mau buat aku gila yah?" katanya sedikit membentak .


Ahaiiiii, berhasil, wajahnya itu lho bikin aku ingin tertawa. Menurutku biarpun dia marah tapi raut mukanya tetap menggemaskan. Tidak ada sangar-sangarnya jadi laki-laki, batinku.


" Fan aku serius dengan ucapanku,"


" Sudah lama aku menantikan momen ini, jangan kau hancurkan kebahagiaan terbesarku ini dengan kata-kata penolakanmu ,"


Kulihat raut sedih di wajahnya, dia menatapku.


"Maaf" ucapku dengan tulus


Dia mendekat dan meraih tanganku.


" Aku tau di hatimu belum sepenuhnya untukku,


tapi yakinlah padaku, aku akan berusaha menjadi imam yang baik sampai kita menua bersama." katanya meyakinkan.


"Terimakasih Kak, Kamu mau menerimaku meskipun kau tau aku tak sempurna," ucapku tulus.


"Aku yang harusnya berterima kasih, karena kamu sudi memberiku kesempatan, memilihku,mempercayakan hatimu padaku, semampuku aku akan menjaga hati hanya untukmu." kata Rayhan begitu tulus.


Tanpa sadar aku menyandarkan kepalaku dipundaknya.


"Katanya belum halal," kata Rayhan terkekeh kecil melihat tingkahku.


Aku langsung menarik kepalaku dari pundaknya sambil tersenyum malu-malu.


Rayhan menertawakan ku, sambil mengatakan kalau aku itu jangan pling plang, harus konsisten.


Kemudian Rayhan mengajakku pulang karena katanya kangen sama Rafa.

__ADS_1


Karena sudah sore sehingga sudah ramai orang yang datang di pantai untuk melihat matahari terbenam, kami memutuskan untuk pulang. Rayhan menggandeng tanganku saat kami menyebrangi jalanan yang ramai dengan kendaraan.


Setelah menempuh beberapa menit perjalanan kami sampai di rumah.Rafa sedang bermain di depan televisi. Dia berlari dan langsung memeluk Rayhan ketika kami masuk di rumah.


Mereka bermain sebentar kemudian Rayhan pamit. Aku mengantarnya sampai pintu .


"Hati-hati di jalan Kak," ucapku.


"Kamu juga ya, bilang sama mantan suami kamu jangan sering-sering kesini," ucapnya memperingatkan.


Aku heran dia taunya dari mana kalau Mas Rasya sering kesini, pasti ada yang memberi tahu .


"Mas Rasya kan ketemunya sama Rafa , bukan aku Kak," jawabku beralasan.


" Modus" ucapnya lagi.


"Besok aku jemput," tambahnya lagi


Aku hanya mengangguk, karena memang mobilku tadi aku tinggal di kantor.


Sesudah mengucapkan salam dia melangkah menuju mobilnya, bergegas untuk pulang.


...********...


Rayhan"s Pov


Rasa bahagia tak terkira di hati ketika aku mendengar dari bibir tipisnya kalau dia menerimaku. Penantian ku yang sudah lama kini berujung kebahagiaan. Aku selalu memintanya dalam doa malam ku. Selama ini aku hanya mencintainya dalam diam, tak ku sangka hari ini dia telah menerimaku. Memberiku kesempatan untuk mengisi hatinya.


Sejak kecil aku mengaguminya, tapi aku tak tau kalau itu cinta. Aku selalu curi pandang ketika dia datang ke rumah menemui adikku Rania. Sikapnya yang manja, cerewet dan suka menangis menjadi daya tarik tersendiri buatku.


Seiring berjalannya waktu rasa itu semakin bertahta di hati. Meskipun aku tidak pernah bertemu secara langsung setelah kami sudah dewasa. Tapi aku sering melihat foto-fotonya di akun media sosialnya. Dia begitu cantik dengan hijab yang melekat menutupi kepalanya. Rasa cinta itu semakin besar menguasai hati.


Sikap manjanya dan senyum manisnya yang memperlihatkan lesung pipinya ketika dia menyapaku di waktu kecil selalu terbayang memenuhi pikiran dan hatiku.


Aku pernah datang hanya untuk menemuinya, tapi hanya kekecewaan yang aku dapatkan, dia ternyata sudah di miliki oleh orang lain. Aku mundur dan mencoba melupakannya .


Karena cinta tak harus memiliki, walaupun begitu berat merestui orang yang kita cintai bersama orang lain.


Hingga aku hanya bisa mencintainya dalam diam dan memeluknya dalam doaku.


Aku sempat menyalahkan diriku sendiri, kenapa aku terlambat menemuinya, setidaknya menghubunginya, padahal tidak sulit bagiku mendapatkan informasi tentang dirinya. Tapi aku sadar mungkin dia bukan jodohku. Tuhan tidak menakdirkan aku dengannya untuk bersama.


Aku kadang berfikir kenapa aku seperti ini, kenapa aku mencintainya begitu dalam, kenapa aku tidak tertarik dengan wanita lain. Kadang ibuku mengatakan aku bodoh, kolot, tidak normal. Menunggu seseorang wanita yang mustahil aku miliki.


Pernah mencoba membuka hati untuk wanita lain, tapi wanita itu perlu di cintai, diperhatikan, dimanja. Sedangkan di hatiku tak ada rasa itu. Buat apa dipertahankan kalau hanya membuat hati tersiksa.


Hingga pada suatu hari aku mendapatkan informasi kalau dia sudah bercerai dengan suaminya. Ada perasaan bahagia ketika mengetahuinya. Kadang aku merasa aku seperti orang yang sangat jahat karena berbahagia di atas penderitaan orang lain.

__ADS_1


Skenario Tuhan itu sangat indah . Akan ada banyak hal yang tidak sesuai dengan logika ketika mempertemukan kita dengan seseorang yang akan menjadi bagian terpenting bagi hidup kita.


__ADS_2