SESAL

SESAL
Pura - Pura


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, aku, Fira, Rayhan dan Ridho dalam satu mobil, sedangkan pak Erwin dan dokter Tiara di mobil yang lain. Tak ada pembicaraan selama kami dalam perjalanan. Aku dan Fira hanya terdiam sambil saling melirik.


"Kak...kami tadi....."Ucap Fira.


"Diam!! bentak Rayhan.


"Jangan bentak-bentak dong, untung ada Fira kalau nggak kami bisa babak belur." Ucapku membela Fira.


Tak ada jawaban dari suamiku, apalagi Ridho dia seperti patung nggak ada komentar.


Tak lama kemudian mobil kami sampai di garasi rumah dan kemudian disusul oleh mobil dokter Tiara.


Kami semua masuk dan di sambut oleh bocah-bocah kami. Karena kehausan habis bertarung akhirnya kami bertiga masuk ke dapur minum syrup. Aku sengaja menghindari pertanyaan dari Rayhan.Jadi aku berlama-lama di dapur.


Tak lama kemudian Rafa datang memanggil kami.


Kamipun keluar menemui mereka.


Kami seperti anak sekolahan yang akan di sidang oleh guru BK karena ketahuan membolos.


Aku menatap suamiku yang memasang wajah jutek, Ridho dengan tatapan sulit diartikan, pak Erwin dengan tatapan dinginnya.


"Alamak....mimpi aku semalam." batinku.


"Hmm...aku minta maaf karena aku mereka hampir celaka." Ucap dokter Tiara membuka pembicaraan.


Sungguh dia seperti kakak yang berani dan membela kami.


"Kamu juga kenapa tidak bilang tentang wanita laknat itu" Ucap pak Erwin.


"Aku takut......"


"Takut aku kembali sama dia?" Ujar pak Erwin dengan PD nya.


"Aku percaya kamu! Tapi aku takut kamu emosi saat ketemu dia." Ucap Tiara sendu.


"Astaga..Ra!! Tapi tidak dengan cara seperti ini, bahaya tau nggak."Ucap pak Erwin frustasi.


"Kami tidak tau kalau akan seperti ini."Ucap dokter Tiara sendu.


"Don't worry pak Erwin ...istri bapak jago jambak-jambakan," Ceplos Fira


Ridho langsung melotot seakan akan menguliti Fira.Seketika Fira nyengir melihat tatapan suaminya.


"Kamu juga, Fan! Bukannya urusin anak dan suami, ikut-ikutan bar-bar juga." Ucap Rayhan.


Oalah..dia tidak panggil sayang padaku, apa dia marah ya.


"Sekali-kali kan aku mau refreshing." Alasanku.


Refreshing apanya?malahan cari masalah." Ucap Rayhan lagi.


"Bukan kami yang cari masalah tapi Mak Lampir itu." Ucapku ketus.


"Makanya jadi istri itu jangan suka nyembunyiin masalah dari suami, inilah akibatnya." Ujar pak Erwin.


"Bagi istri itu, ridho Allah ada pada ridho suami." Tambah Rayhan menasehati.


"Ridho itu suamiku , Kak." Ucap Fira cengengesan.


Aku dan dokter Tiara ingin tertawa tapi kami tahan jadi hanya menggelembungkan pipi kami.

__ADS_1


"Bisa nggak kamu serius, Fir?Jangan ngeyel." Ucap Ridho.


"Lha dari tadi aku serius." Bantah Fira pada suaminya.


"Kalau kalian di panggil polisi kalian urus sendiri, kami tak mau terlibat, siapa suruh cari masalah." Ucap Rayhan panjang kali lebar.


"Tenang aja Kak Ray, di sana ada Aldi teman aku ...dia akan bantu kami." Ucap Fira merasa bangga.


Muka ridho terlihat memerah mendengar nama Aldi.Mungkin dia cemburu.


"Fira hampir saja kena tonjok tadi untung ada Mas Rasya yang nolongin kami.' Ucapku semangat seolah Mas Rasya pahlawan kami.


" Iya Kak, kalau nggak ada dia pasti gigi depan aku pada copot semua." Tambah Fira.


"Terus aku harus bilang WOW....gitu??" Ucap suamiku kesal.


"Ya ...memang hebat, sekali tinju lawannya langsung ambruk." Ucap Fira semangat.


Saking kesalnya Ridho pada istrinya dia langsung mengusap wajahnya kasar.


"Kamu itu kapan sih bisa bersikap dewasa?" Tanya Ridho kesal.


"Jangankan bersikap dewasa adegan dewasa aja aku bisa." Ucap Fira santai.


"Hahahaha." sontak aku terbahak mendengar ucapan Fira.


Semua mata tertuju padaku dan akupun menghentikan tawaku dengan menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


"Maaf." Ucapku tak enak.


Pak Erwin langsung berdiri hendak meninggalkan ruang tamu.


"Bisa-bisa darah tinggi aku kumat kalau disini terus bersama kalian." Ucap pak Erwin sambil berlalu dan kemudian disusul oleh dokter Tiara.


Fira kemudian hendak berdiri karena ingin pipis. Pas akan berdiri dia memegang pahanya dan menjerit.


"Awwwww." ringis Fira.


Ridho langsung beranjak duduk di samping istrinya. Raut muka yang tadinya kesal kini berubah jadi khawatir.


"Perasaan tadi waktu Fira melawan pria itu nggak pernah kena pukulan, atau aku yang nggak lihat ya?" Batinku.


"Kamu kenapa, Fir?" Tanya Fira Ridho khawatir.


"Paha aku sakit banget." Ucap Fira mengeluh kesakitan.


"Awwwww." Ringisnya lagi.


Aku sempat panik melihat Fira.


"Bawa ke kamar aja, Dho." Ucapku pada Ridho.


Ridho kemudian menggendongnya dan Fira pun mengedipkan sebelah matanya padaku.


"Astaga Fira pura-pura akting di depan suaminya." Batinku.


Kini hanya tinggal aku dan Rayhan.


"Nggak usah pura-pura kayak Fira." Ucapnya melirikku.


"Kok tau kalau dia cuma akting." Tanyaku.

__ADS_1


Nggak ada jawaban dari suamiku.


"Maaf ya,..Sayang.aku janji nggak akan kayak tadi." Ucapku tulus.


"Makanya jangan ikut-ikutan! Fira itu bisa jaga dirinya sendiri, sedangkan kamu lihat darah aja sampai nangis." Ucapnya.


"Tapi tadi kami satu lawan satu, ya...walaupun aku cuma pukulin karena dia sudah nggak bisa ngelawan sih." Ucapku merasa bangga.


"Bagaiman seandainya kalau dia yang mukul kamu?" Tanya suamiku lagi.


"Nggak usah mengandai-andai... intinya aku nggak apa-apa, kan?" Ucapku.


"Kamu harus dapat hukuman karena beraninya bohong sama aku." Ucapnya lagi.


"Aku nggak bohong...kami memang mau ke Mall," Ucapku membela diri.


"Iya...tapi ada tujuan terselubung." Ucapnya ketus.


Dia kemudian menarik tanganku menuju kamar.


"Kita ngapain ke kamar." Tanyaku curiga.


"Mau kasih kamu hukuman." Ujarnya santai.


"Jangan sekarang, tunda dulu ya sampai malam?" Pintaku karena aku yakin dia menghukumnya pasti mintanya adegan dewasa.


Dia kemudian mengetok jidatku dengan telunjuknya.


"Dasar otak mesum!" Ucapnya lagi.


"Terus....?" Tanyaku


Dia mengambil pinset dan menyuruhku mencabut ubannya.


"Kamu udah punya uban?" Tanyaku penasaran, karena selama ini aku tidak pernah melihat ada rambut putih di kepalanya.


"Cari aja sampai dapat." Ucapnya sambil duduk membelakangiku.


Sudah berapa kali aku mencari rambut putih itu ternyata aku tidak menemukan satupun.


"Nggak ada." Ucapku kesal.


"Pijit aja, kepalaku pusing dengan kelakuan kamu hari ini." Ucapnya lagi.


"Astaga....kenapa bukannya dari tadi minta di pijit."Bikin capek aja." Omelku.


"Mau pijit kepala yang diatas atau kepala yang dibawah." Ujarnya lagi membuatku spontan mengetok kepalanya.


"Kamu ya....mulai berani, mentang-mentang sudah merasa jago ' Ujarnya menggigit pelan pahaku.


"Iya....iya...aku pijitin, kayak macan aja menggigit." Ucapku lagi.


Setelah setengah jam memijit kepalanya aku merasa lapar.


"Udah ya? Aku lapar."


Tak ada jawaban dari suamiku, kepalanya menumpu di pahaku.


Ternyata dia tertidur mungkin saking enaknya di pijit.


Aku membangunkannya dengan pelan hingga dia terbangun.

__ADS_1


Setelah dia mencuci muka kamipun keluar kamar dan aku langsung ke meja makan karena memang aku belum makan siang. Di restoran tadi kami tidak sempat memakan pesanan kami.


__ADS_2