
"Kamu!!"
Sungguh dunia ini sangat sempit. Kenapa harus bertemu dengannya lagi. Orang yang pernah menjadi orang ketiga dalam rumah tanggaku. Bahkan pernah mempermalukan aku di depan umum.
Terlihat senyum sinis menatapku. Bukannya dia minta maaf malah dia balik menyalahkanku.Padahal sebelum mengetahui kalau aku yang ditabraknya dia sempat mengatakan maaf. Banyak umpatan yang dia tujukan padaku tapi aku hanya diam saja.
"Makanya kalau jalan ya fokus, " Ucapnya sinis .
"Kamu yang nabrak malah menyalahkanku,." Ucapku.
"Malas meladeni kamu, buang waktuku yang berharga aja " Ucapnya sombong dan meninggalkan kami.
Aku ingin mengejarnya tapi dokter Tiara mencegahku.
"Tidak usah di kejar, Fan, orang kayak dia tidak usah diladeni, dari bahasanya saja dia terlihat tak berpendidikan, kayak dia orang penting aja " Ucap dokter Tiara.
"Sebenarnya dia siapa sih, Fan?" Tanya dokter Tiara setelah Lestari pergi.
"Mantan istri Mas Rasya " Ucapku.
Dokter Tiara hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum.
"Ada yang lucu, Dok?" Tanyaku heran.
"Rasya benar-benar bodoh ya? Mending kalau selingkuhannya cantik...lha ini...dipandang dari segi manapun cantikan kamu, Fan. Cuma....." Ucap dokter menggantung
"Cuma apanya, dok." Tanyaku heran.
"Kamu cuma kalah di bibir.....dia lipstiknya tiga senti. hahaha " Ucap dokter Tiara tertawa .
Akupun tertawa mendengar ucapan dokter Tiara.
Karena adzan Magrib sudah terdengar akhirnya kami kembali ke rumah penginapan kami.
Setelah shalat Magrib berjamaah kami akhirnya pergi makan malam ke restoran yang ada di Rayni Flower's. Restoran tak terlalu ramai karena terkadang pengunjung yang menginap lebih memilih diantarkan makanannya di kamar mereka masing-masing.
Para suami duluan masuk karena ingin ke lantai atas restoran yang berbentuk perahu itu. sedangkan kami para istri dan anak-anak masih betah di luar karena anak-anak melihat kolam ikan koi yang dikelilingi lampu warna warni. Satu persatu masuk kini hanya tinggal aku, Farha dan Farhan bersama mama mertua dan ibuku. Aku, Fadiyah dan Rafa yang masih betah melihat ikan koi.
Setelah puas melihatnya kami akhirnya masuk di restoran. Fadiyah yang tak mau di gendong berlari ke sana kemari hingga membuatku kewalahan mengejarnya Hingga Rafa yang mengejar adiknya. Sedangkan Fadiyah tambah di kejar tambah berlari sambil terkekeh. Aku melarang Rafa untuk mengejar adiknya takutnya Fadiyah tertumbuk di meja atau jatuh. Yang penting dia tak lepas dari pandanganku. Fadiyah berlari di dekat guci yang berisi bunga hias yang berada di sudut restoran. Mungkin karena Fadiyah menyenggolnya akhirnya pot bunga tersebut terjatuh dan pecah. Aku segera berlari ke arah anakku takutnya dia terkena pecahan guci tersebut.
Semua mata menatap ke arah Fadiyah. Dan sebelum aku sampai ada seseorang yang sudah menarik tangan Fadiyah hingga membuat Fadiyah menangis. Mungkin karena kaget atau takut sehingga dia menangis.
Fadiyah terus menangis kemudian memperlihatkan tangannya kepadaku yang memerah . Aku segera menggendong anakku dan menenangkannya. Tanpa memperhatikan perempuan tersebut. Tapi Fadiyah malah menunjuk orang tersebut dan mengatakan kata cubit. Walaupun bahasa anakku masih belum sempurna tapi aku bisa mengerti kalau dia mengatakan kata cubit.
"Kalau punya anak ya... di jaga, jangan matanya jelalatan saja " Ucap Lestari marah.
Emosiku seakan naik ke ubun-ubun, bukan karena kata-katanya tapi karena dia mencubit anakku. Aku langsung mendorongnya kuat sehingga dia terlonjak kebelakang.
__ADS_1
"Kamu apakan anakku?" Ucapku emosi.
Entah dari mana kekuatanku sehingga saat aku dorong dia langsung terjatuh. Padahal hanya satu tanganku yang mendorongnya karena aku juga menggendong Fadiyah.
Lestari berdiri dan berusaha melawanku. Aku berikan Fadiyah yang masih terisak pada Rafa.
"Pantasan anak ini liar ternyata dia anak kamu " Ucapnya menunjuk Fadhiyah kemudian beralih ke arahku.
Aku menamparnya sangat keras hingga pipinya memerah
"Berani-beraninya kamu menghina anakku!" Ucapku emosi.
Apapun aku bisa tahan tapi kalau ada yang menghina dan menyakiti anak-anakku aku tak akan terima..
Dia berusaha menamparku tapi seketika tangannya aku cekal. Dan aku mencubit tangannya yang sudah dia pakai mencubit anakku. Mungkin cubitanku itu membuat kulitnya ikut di kuku ku. Karena dia menjerit.
Aku masih memegang tangan Lestari. Dan menatapnya dengan tajam.
"Emang kamu siapa yang berani-beraninya melukai anakku? Aku saja ibunya tidak pernah kasar padanya." Ucapku masih emosi dan menghempaskan tangannya yang dari tadi aku cengkeram.
Sudah ada beberapa pelayan restoran yang mendekat dan Lestari berteriak.
"Bawa perempuan ini keluar " Teriak Lestari.
"Kamu yang keluar dari tempat ini, brengsek." Ucapku menunjuknya.
"Seret dia keluar." Perintah Lestari lagi.
"Panggil orang yang bertanggung jawab di restoran ini." Teriak Rayhan emosi.
Fadiyah sudah di gendong oleh papa mertua dan dia masih terisak dan memperlihatkan tangannya pada kakeknya dan selalu mengatakan "Ubit....itu..." Ucapnya menunjuk ke arah Lestari.
Tak lama kemudian seorang pria datang dengan nafas yang ngos-ngosan.
Lestari langsung menghampiri pria tersebut.
"Bapak panggil saya?" Tanya pria tersebut menunduk.
"Kamu saya pecat!" Ucap Rayhan masih emosi.
"Tapi salah saya apa, Pak?" Ucap pria tersebut.
"Mereka pegawaimu, kan?" ucapnya menunjuk ke arah dua pelayan dan Lestari.
"I-iya, Pak, dia istri saya" Jawab pria tersebut terbata dan melirik ke arah Lestari.
Netraku seketika membulat , pantasan Lestari sok berkuasa ternyata suaminya manager restoran ini. Inilah akibatnya kalau tidak mengenal karyawan. Cuma taunya keuntungan yang mengalir direkening saja.
__ADS_1
"Memangnya apa hakmu berani-beraninya membentak istri saya." Ucap Rayhan menunjuk Lestari.
Lestari seketika kaget dan membelalakkan matanya. Aku hanya tersenyum sinis melihatnya.
"Dia cubit adik Fadiyah, Pa." Timpal Rafa mengadu pada Ray.
Rayhan seketika menarik tangan Lestari.
"Kamu apakan anakku?" Ucap Rayhan dengan wajah memerah. Baru kali ini aku melihat kemarahan suamiku.
Lestari terlihat pucat pasih dan gemetaran melihat kemarahan suamiku.
Semua yang ada di situ seakan emosi melihat Lestari, ketika mengetahui kalau dia mencubit Fadiyah. Namanya juga anak-anak harus di nasehati kalau melakukan kesalahan bukan asal cubit saja. Suaminya juga terlihat geram dengan kelakuan istrinya.
"Mulai detik ini kamu aku pecat." Ucap Rayhan pada Lestari.
"Uhhh....makanya jangan sok kuasa." Ejek Fira.
"Aku minta maaf, Pak, tolong jangan pecat saya." Ucap suami Lestari.
"Kami minta maaf,Bu. Kami hanya melakukan perintah dari Bu Lestari." Ucap ke dua pelayan tadi sambil bersimpuh di depanku.
"Ehhh ...jangan begitu, pak, ayo berdiri." Ucapku pada ke dua pelayan tersebut. Sedangkan Lestari hanya tertunduk malu.
"Kalian berdua temui aku di ruangan." Ucap Rayhan.
"Maaf bapak-ibu atas ketidak nyamanan ini, silahkan lanjutkan kembali makan malamnya " Ucap Rayhan pada pengunjung.
Sebelum bubar sepertinya Fadiyah dendam pada Lestari, dia mencubit gemas paha Lestari kemudian menjulurkan lidahnya.
Setelah acara makan malam selesai, Rayhan mengajak aku ke ruangannya untuk menemui ke dua orang tersebut.
Sedangkan anak-anak dan yang lainnya sudah kembali ke penginapan.
Ketika aku dan Rayhan menuju keruangan Rayhan, Lestari dan suaminya sudah menunggu di depan pintu.
Setelah kami masuk, Rayhan masih dengan tatapan tajamnya menatap Lestari seolah akan menelannya hidup-hidup. Siapa-pun orang tua di dunia ini pasti tak terima kalau anaknya disakiti oleh orang lain meskipun anak kita salah kita tetap akan membelanya.
Rayhan langsung membuka laptop dan memperhatikan kembali kejadian si dalam restoran tadi.
"Aku tak membutuhkan pegawai yang tak tau etika dan adab." Ucap Rayhan memecah keheningan kami.
"Pada istriku saja selaku pemilik tempat ini kamu berani apalagi pada pengunjung yang lain." Tambah Rayhan lagi penuh penekanan.
"Baru kali ini saya melakukan ini, Pak, " Ucap Lestari membela diri.
"Apa karena kamu masih dendam dengan istri saya?" Tanya Rayhan. Memang suamiku tau nama saja tentang Lestari tapi baru kali ini dia melihatnya secara langsung.
__ADS_1
Kenapa juga Lestari harus kerja di sini. Mungkin takdirlah yang harus mempertemukan kami lagi dan lagi.
"