
Setelah kepulangan Dewi dan putrinya aku kembali ke ruangan keluarga bersama anak-anakku. Kalau bersama mereka tak terasa begitu cepat berlalu. Mendengarkan celotehan mereka. Bahkan sesekali.mereka saling usil.
Siang berganti malam. Setelah makan malam anak-anakku kembali ke kamarnya masing-masing. Setelah memastikan mereka tertidur aku kembali ke kamar.
Setelah melaksanakan kewajiban shalat Isya, aku membaringkan diri di tempat tidur. Kucoba menghubungi Rayhan tapi tidak tersambung. Tidak biasanya ponselnya tidak aktif, batinku. Karena belum ngantuk aku membuka sosial mediaku dan melihat postingan teman-teman Facebook kadang postingan lucu, foto keluarga dan masih banyak lagi. Aku tersenyum sendiri membaca postingan lucu teman sosial mediaku.
Aku ingin buat status tapi otakku buntu mau nulis apa. Akhirnya aku buat cerita dengan menulis kata "Kangen" di Facebook kemudian memberikan musik lagu India "Muskurane".
Kata itu mewakili perasaan hatiku yang memang sangat rindu dengan suamiku. Aku tak bisa jauh darinya. Tapi karena tak mungkin juga aku ikut meninggalkan anak-anakku, ya terpaksa harus berpisah selama tiga hari.
Kubuka galeri ponselku dan melihat foto-foto kami yang memenuhi galeriku. Walaupun sudah berumur empat puluh tahun lebih tapi dia masih terlihat gagah.
Puas memandang foto di galeri ponselku akhirnya rasa ngantuk menyerang. Kusimpan ponsel di atas nakas dan mencoba memejamkan mata. Tak butuh lama aku terlelap dalam mimpi indah-ku. Yang di dalamnya Rayhan membawaku ke sebuah taman yang sangat indah dan di taman yang di kelilingi bunga yang bermekaran dia memakaikan aku kalung yang sangat indah. Sungguh sangat cantik. Setelah memakaikannya dia mencium keningku.
"Hadiah terindah buat bidadari surgaku." bisiknya.
Kemudian dan membawaku ke sebuah ruangan yang agak remang hanya diterangi dengan lilin. Di dalam ruangan tersebut terdapat tempat tidur king size dengan di penuhi dengan taburan bunga berwarna merah berbentuk hati.
Dia membawaku ke tempat tidur dan memulai mencium dan mencumbuku.
Aku membuka mata karena ada sesuatu yang terasa berat menimpaku.
"Aaaaaaaaa." Teriakku karena ada seseorang di atasku.
Spontan aku mendorong tubuh itu, hingga dia terjungkal ke belakang.
"Awww...." Ringis orang tersebut
Suaranya tak asing bagiku, itu suara suamiku.
"Apa aku masih bermimpi?" Kucubit tanganku dan sakit. Berarti bukan mimpi.
__ADS_1
"Kalau mendorong nggak usah pakai tenaga kayak Xena." Ucap suamiku.
Aku segera menyalakan lampu dan
Aku baru tersadar kalau itu benar-benar Rayhan di depanku.
"Kamu?" Tanyaku masih tak percaya.
"Ya... siapa lagi." Ucapnya.
"Kamu sih datangnya ngagetin " Ucapku.
"Kamu sejak kapan datangnya?" Tanyaku lagi.
"Sejak kamu senyum-senyum dalam mimpimu." Ucap suamiku.
"Pasti boong.' Ujarku.
"Makanya aku langsung mau nyambung mimpimu dengan yang nyata." Ujar suamiku.
"Bukannya besok baru pulang?' Tanyaku mengalihkan.
"Udah nggak kuat sayang, rindu berat sama kamu.' Ujarnya langsung memeluk tubuhku.
Kami saling berpelukan melepaskan rasa rindu kami.
Aku melirik jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.
Benar-benar ini suamiku kayak tidak ada hari esok saja.
"Mau makan?" Tanyaku.
__ADS_1
"Makan kamu." Ujarnya lagi.
"Ishh...aku serius."
"Aku juga "
"Kamu lapar nggak?" Tanyaku serius.
Biasanya kalau dia pulang makan dia akan langsung minta makan.
"Aku sudah makan tadi di bawah " Ujarnya lagi.
Ternyata dari tadi dia sudah datang.
Dia membaringkan tubuhnya dan menarikku dalam dekapannya.
"Besok-besok kalau aku ke Kalimantan, kamu ikut ya, Sayang?" Ucapnya.
"Kan biasanya kamu ke sana sendiri ."
"Percuma juga kalau aku ke sana aku juga nggak konsen kerjanya " Ujar Rayhan.
"Kok bisa?"
"Tidak ada kamu." Ujarnya lagi.
"Dasar gombal." Aku mencubit gemas dadanya.
Dia mengecup keningku dengan lembut. Sejujurnya aku juga sangat merindukannya. Entah kenapa dia hanya mengecup kening dan rambutku saja. Padahal dari tadi aku ingin lebih. Entahlah ada apa denganku mungkin karena efek mimpi tadi aku ingin melanjutkannya dalam dunia nyata.
Aku mendongak menatap bibirnya yang begitu menggoda. Akupun langsung mendaratkan ciuman di bibirnya.
__ADS_1
Dia pun dengan senangnya menyambut keagresifan ku.
"Ini yang aku suka dari kamu, Sayang." Ucapnya lagi dan melanjutkan ciuman dengan yang lebih panas. Malam itu aku menyambut ke datangannya dengan memanjakannya di tempat tidur.