SESAL

SESAL
Terima Kasih


__ADS_3

Hari terus berganti kini akupun sudah melahirkan bayi mungil yang sangat cantik. Aku katakan demikian karena semua bagian tubuh yang terbaik dari aku dan Rayhan ada pada putri mungilku itu. Hidung mancung, alis yang tebal, mata yang indah dengan mulu mata yang lentik, lesung pipi dikedua pipinya.Dia seperti boneka hidup saking cantiknya.Bukan hanya aku yang mengatakan demikian bahkan orang-orang yang melihatnya mengatakan demikian.Bahkan dokter Tiara dan Fira memanggilnya Barbie. Putri cantik tersebut kami beri nama Fadhilah.


Dia adalah anak bungsuku karena aku sudah tutup kandungan karena itu juga atas saran dokter Tiara.


Syukur tak terkira karena sudah mempunyai enam orang anak.Tiga anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Sudah bisa satu tim bola volley menurut suamiku. Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang sehat dan saling menyayangi walaupun terkadang ada pertikaian tapi itu semakin mempererat tali kasih mereka bersaudara.


Terkadang kalau kami berjalan bersama satu rombongan, orang yang baru melihatku tidak percaya kalau mereka semua anak-anakku.


Menurut anggapan mereka aku masih umur tiga puluhan padahal sudah menginjak umur empat puluh tahun.Kalau ada yang tanya resep awet muda ya aku jawab asal saja karena terlalu sering melahirkan.Itu sih menurut aku.Bahkan terkadang kalau aku berjalan bersama Rafa orang-orang pikir dia adikku. Karena Rafa bodynya tinggi bahkan aku kalah tinggi darinya.


Intinya kalau hati bahagia,senang gembira dan tidak banyak pikiran itu membuat kita awet muda. Ini tergantung juga dari suami. Kalau dapat suami yang baik, setia, membuat kita bahagia setiap harinya. Walaupun tak di pungkiri setiap keluarga kadang punya masalah.


Dan yang paling utama adalah rasa syukur dengan apa yang kita miliki. Itu merupakan kunci kebahagiaan.


Kini Rafa sudah mengelola kafe. Meskipun masih dalam pantauan dan bimbingan Rayhan.


Rayhan semakin sibuk karena papanya juga sudah menyerahkan perusahaan kepadanya. Hingga sekali sebulan harus ke Kalimantan.


Papa dan Mama mertua ingin menikmati masa tuanya dengan tidak dibebani dengan urusan pekerjaan.


Siang itu sepulang sekolah Rafa memberikan undangan dari sekolahnya. Setelah aku buka ternyata undangan kelulusan dan di harapkan orang tua yang datang. Rafa memang masuk dalam kelas akselerasi jadi dia hanya mengenyam pendidikan SMU hanya dua tahun saja. Begitu juga waktu dia di jenjang SMP.


"Mama dan Papa Ray datang ya?" Ucap Rafa.


"Tapi Papa Ray nanti sore ke Kalimantan, Nak." Ucapku.


"Kamu sama Papa Rasya dan Ibu Hana aja ya?"Ujarku.


Seketika raut kecewa di wajah putraku itu. Dia berlalu ke kamarnya meninggalkanku.


Aku segera menyusulnya ke kamar .


"Nanti Mama dan Papa Rasya yang akan datang , Nak." Ujarku.


"Papa nggak bisa datang, dia lagi pergi berobat." Ucap Rafa masih dengan mode cueknya.


"Papa kamu sakit apa?" Tanyaku.


Rafa hanya mengedikkan bahunya tanda tak tau.


"Boleh nggak Mama aja yang datang?'


Rafa langsung menoleh kearah ku sambil tersenyum.


"Iya, Ma," ucapnya.

__ADS_1


Setelah keluar dari kamar Rafa, aku bertanya-tanya dalam hati Mas Rasya sebenarnya sakit apa.Beberapa hari yang lalu sempat ketemu tapi kelihatannya dia sehat-sehat saja.


Setelah menemui Rafa di kamarnya aku segera ke kamar untuk menyiapkan pakaian yang akan di bawa Rayhan ke Kalimantan.


"Ini undangan apa?" Tanya Rayhan padaku membawa undangan yang di berikan Rafa tadi.


"Oh itu undangan untuk orang tua siswa." Ucapku masih terus menyiapkan pakaian suamiku.


"Jadi kamu dan si Rese yang mewakilinya?" Tanyanya lagi.


"Cuma aku yang datang kata Rafa, papanya lagi pergi berobat."Kataku menjelaskan.


"Emang dia sakit?" Tanyanya lagi


"Nggak tahu juga."jawabku.


"Kalau gitu aku temani kamu ya, Sayang?" Ujarnya lagi.


"Lho kamu kan mau berangkat nanti sore." aku mengingatkan padanya.


"Itu mah bisa di tunda, kalau ini Rafa cuma satu kali lulus SMU."Ujarnya.


Rasa haru dan bahagia dalam hati karena dia rela menunda kepergiannya demi Rafa yang bukan anak kandung ya sendiri.


"Emangnya apa yang aku lakukan?" Ujarnya lagi.


"Pokoknya terima kasih untuk semuanya." Ujarku karena tak bisa lagi mengatakan apa-apa saking terharunya.


"Apa yang aku lakukan tidak sebanding dengan apa yang kamu berikan padaku, Sayang." Ucapnya lagi.


Aku hanya mengkerutkan keningku karena merasa aku tak pernah memberikan apa-apa padanya. Melayaninya memang sudah kodrat aku sebagai istrinya.


"Walaupun aku memberikan isi dunia ini padamu itu sebanding perjuanganmu melahirkan anak-anak kita." Ucapnya memelukku dari belakang.


"Itu kan memang sudah kodrat sebagai wanita." Ucapku mengelus tangannya yang melingkar di perutku.


"Tapi kamu memang beda, di luar sana banyak wanita yang hanya mau melahirkan satu atau dua anak saja tapi kamu. Seandainya mungkin tidak beresiko mungkin kamu bisa buat jadi kesebelasan, heheh." Ucapnya terkekeh.


'Bukan aku yang buat tapi kamu." Ucapku mencubit pelan tangannya.


"Iya juga sih, intinya kita berdua yang buat." Ucapnya lagi sambil mencium pipiku.


"Kamu tau nggak, Sayang... kamu itu tambah hari bagaikan candu buatku, aku makin bergairah denganmu." Ucapnya merayuku.


Pasti ada maunya nih si pejantang tangguh. Memang dia kadang tidak tau sikon, kapan pun dia mau aku akan melayaninya dengan ikhlas.

__ADS_1


Memang aku merawat diri untuk menyenangkan suamiku. Karena laki-laki tidak hanya urusan perut yang harus di penuhi tapi urusan di kasur juga harus servisnya ekslusif.


Apalagi aku sering konsultasi dengan dokter Tiara mengenai trik-trik dan vitamin yang aman di konsumsi untuk masalah urusan suami istri. Jadinya suami akan puas dan bergairah. Walaupun usiaku kian bertambah. Tapi harus tetap melayani suami seperti masih pengantin baru.


Setelah pergulatan panas di siang hari selesai.


"Jadi penerbangannya di tunda sampai besok sore?" Tanyaku serius.


"Nggak di tunda, Sayang .. kan baru aja kita lakukan penerbangan berdua." Ucapnya cengengesan."


"Aku serius," Ucapku pura-pura kesal.


"Kan memang kita berdua melayang - layang sampai-sampai kamu mendesah seksi." Ucapnya mengolokku.


Walaupun sudah lama menikah tapi rasa malu itu terkadang muncul kalau dia mengatakan masalah itu. Aku hanya menenggelamkan wajahku di dadanya saking malunya.


Atau semua wanita begitu yah? terkadang betapapun kita berusaha menahan agar tak mengeluarkan suara saat melakukan hubungan intim tapi terkadang suara itu lolos juga tanpa sadar.


"Masih betah ngumpet di situ? Jangan lama-lama nanti aku mau penerbangan ke dua." Ujarnya karena aku masih menenggelamkan wajahku di dadanya.


Seketika aku mendongak menatapnya dan netraku menatapnya yang sedang tersenyum jahilnya sambil menaik turunkan alisnya.


Ya ampun suamiku ini benar - benar tak ada puas-puasnya kalau masalah yang satu ini.


Aku segera beranjak dari tempat tidur dan menarik selimut yang kami pakai berdua hingga akhirnya dia tak memakai sehelai benang-pun.


Alhasil aku melihat penampakan di sana yang masih tegak berdiri. Aku langsung membalikkan badan dan masuk ke kamar mandi takutnya penerbangan kedua kembali terjadi.


Sedang asyik-asyiknya berendam di bathtup sambil berdendang Rayhan masuk tanpa permisi dan langsung masuk juga di bathtup.


"Astaga ... kamu bikin kaget aja." Ujarku.


"Gitu aja kaget...nggak mungkinlah orang lain masuk." Ujarnya.


"Setidaknya kamu ketuk pintu kek." Ujarku.


"Buat apa di ketuk kalau nggak di kunci, atau sengaja ya?penerbangan keduanya di sini."Ujarnya masih tak lepas bahas masalah penerbangan.


"Kan udah." Ujarku.


"Aku mau puasin kamu, besok aku berangkat selama tiga hari jadi hari ini aku dobel-dobel kasih kamu jatah." Alasannya sambil terkekeh.Aku hanya bisa menggeleng mendengarnya.


Aku yang di jadikan alasan tapi kenyataannya dia yang mau dikasih jatah. Dasar suami mesum


Tanpa kata persetujuan dia pun akhirnya melakukan apa yang dia inginkan.

__ADS_1


__ADS_2