
Fajar menyingsing pertanda pagi telah datang. Kucoba membuka mata yang begitu berat karena kelelahan akibat perbuatan Rayhan. Tapi ya kalau dipikir-pikir sih aku juga menikmatinya. Saat melakukannya membuat diri serasa melayang ke nirwana tapi setelahnya buat badan remuk redam di tambah lagi aku sedang hamil.
Kulihat suamiku dengan pakaian yang sudah rapi sedang berdiri di depan cermin. Rencananya setelah shalat subuh kami akan pulang supaya tidak terjebak macet tapi kenyataannya dia mengulanginya lagi saat subuh.
"Tidur saja kalau masih ngantuk, Sayang." Ucap Rayhan.
Kutarik selimut dan melanjutkan tidur kembali, apalagi gerimis di luar sana yang mendukung untuk melanjutkan mimpi indah-ku.
Jam dinding di kamar hotel menunjukkan pukul sembilan pagi, aku terjaga dan tubuhku sudah merasa segar kembali. Apalagi perut juga sudah mulai tidak bisa di ajak kompromi, mungkin adik babynya juga sudah kelaparan. Gegas ke kamar mandi membersihkan diri. Setelah berpakaian rapi aku melihat sarapan pagi yang sudah tersaji di atas meja. Terlihat dua porsi jumbo bubur ayam masih mengepul yang menggugah selera. Satu porsi sudah di dalam mangkok yang satunya masih dalam kemasan, mungkin suamiku baru saja membelinya.
Aku langsung makan bubur itu karena suamiku entah kemana, mungkin bersama Erwin, palingan dia sudah sarapan karena dari tadi dia sudah bangun.
Mangkuk pertama sudah ludes tak tersisa rasanya masih mau nambah akhirnya aku menuang bungkusan ke dua bubur ayam di mangkok. Rasanya memang sangat mantap jadi aku menghabiskan langsung dua porsi.
Setelah menghabiskan dua porsi bubur ayam suamiku baru datang dengan senyum manisnya.
"Yuk kita sarapan." Ucapnya.
"Sudah." Jawabku.
"Okelah...aku juga mau sarapan sebelum kita pulang.'Jawabnya sambil duduk di meja.
Rayhan duduk di atas kursi dan akan mengambil bubur ayam.
"Hehehe...buburnya aku makan semua." Ucapku cengengesan.
Dia hanya menatapku tersenyum mungkin dalam pikirannya biasa-bisanya aku makan dua porsi jumbo bubur ayam. Tapi biasalah ibu hamil kan dua orang yang makan.
"Nggak apa-apa, Sayang, nanti saya makan sarapan yang di siapkan hotel." Ucapnya.
Setelah Rayhan sarapan kami akhirnya pulang karena dokter Tiara juga sudah dari tadi pulang ke rumah Hana.
Dalam perjalanan tak henti-hentinya kami bercanda bersama. Tak lupa kami singgah membelikan oleh-oleh khas yang ada di daerah tersebut.
Sesampainya di rumah, anak-anak sedang bermain bersama Opa dan Omanya.
"Mama kok lama banget sih?" Ujar Fadiyah cemberut.
"Mama capek banget Sayang, jadi Mama dan Papa terpaksa nginap." Ucapku memberi alasan.
Lalu Fadiyah menanyakan Rafa, memang Rafa menginap juga dan pagi ini dia baru pulang bersama nenek dan adik Mas Rasya.
__ADS_1
Baru saja sampai di rumah Rayhan bergegas keluar katanya dia akan ke hotel. Katanya ada masalah sedikit di sana.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Tapi dia belum pulang juga. Ku coba menghubunginya tapi tak diangkat juga.
Rasa khawatir dalam hati membuat diri tak bisa tenang. Pesan tak di balas dan telepon pun tidak di angkat.
Papa dan Mama mertua terlihat santai saja. Mereka menyuruhku istirahat tapi mana bisa mata terpejam kalau suami belum pulang.
Satu jam berlalu yang ku tunggu akhirnya memberi kabar.
Dia belum mengatakan apa-apa aku langsung memberondongnya banyak pertanyaan.
"Kamu di mana, sih?" Tanyaku dengan rasa khawatir.
"Kantor polisi " jawabnya.
"Ngapain di sana?" Teriakku di telepon
"Tunggu di rumah saja, Sayang. Aku baru OTW ini." Jawabnya kemudian memutuskan sambungan telepon.
Setelah menunggu setengah jam, akhirnya diapun datang.
"Ngapain di kantor polisi?" Ucapku masih merasa penasaran.
Aku kemudian mengambilkannya air minum. Setelah meneguk habis satu gelas air putih, dia kemudian duduk di meja makan.
Dan menjelaskan kalau orang kepercayaan-nya yang mengelola hotel membuat masalah. Dia membawa selingkuhannya ke hotel dan di ketahui oleh istri sahnya.
Tak segan-segan istrinya dan ke dua anak perempuannya datang melabrak dan menganiaya perempuan tersebut.Dan akhirnya melibatkan polisi.
Aku tak menyangka orang kepercayaan suamiku itu melakukan penghianatan itu pada istrinya. Padahal anak-anaknya sudah pada remaja. Dan kelihatannya mereka sangat harmonis.
Polisi memanggil Rayhan selaku pemilik hotel.
Apalagi sudah beberapa kali orang kepercayaannya itu membawa selingkuhannya di hotel untuk menginap.
"Aku dukung istrinya, kalau aku sih aku cabein itu pelakor." Ucap mama mertua berapi-api, yang datang mengambil air putih.
"Kalau aku sih nggak salahkan pelakornya saja, suaminya juga nggak bisa jaga hati,"Ucapku bijak.
"Emang kamu dulu cabein selingkuhan si Rese?" Tanya suamiku antusias.
__ADS_1
Aku hanya menggeleng. Karena dalam kasus seperti ini jangan hanya menyalahkan satu pihak saja. Tidak mungkin tamu akan masuk kalau tuan rumah tak memberikan izin.
"Jadi sekarang mereka masih di kantor polisi?" Tanyaku.
"Mereka sudah menyelesaikannya dengan baik-baik. Dan sekarang selingkuhannya ada di rumah sakit karena dia sempat pingsan setelah di aniaya oleh istri dan anak Pak Handi"
Padahal yang aku tau Pak Handi itu sangat baik, pekerja keras. Begitu juga istrinya yang selalu menemaninya dari nol. Dia sudah bekerja di hotel sejak sepuluh tahun yang lalu. Dia prestasinya bagus dan jujur hingga bisa dia angkat menjadi manager hotel.
Benar kata orang wanita akan di uji ketika suaminya tidak memiliki apa-apa sedangkan laki-laki akan di uji kalau dia memiliki segalanya.
"Mulai besok aku yang akan mengelola langsung hotel kita, Sayang." Ujar suamiku.
"Kamu pecat Pak Handi?" Tanyaku.
"Ternyata banyak penyelewengan yang dia lakukan satu tahun terakhir ini." Ujar suamiku.
Ternyata pak Handi memanjakan selingkuhannya dengan uang hasil korupsi karena memberikan barang branded dan limited edition.
"Kafe bagaimana?" Tanyaku padanya.
"Untuk sementara aku yang handle semua, karena jaman sekarang susah dapat orang yang benar-benar jujur." Ucap suamiku.
Begitulah manusia tidak ada rasa puasnya. Sudah mendapatkan keluarga yang harmonis, hidup mapan tapi masih merasa tidak cukup.
Terkadang pria akan hancur karena wanita .Kejujuran pria akan hilang karena seorang wanita. Begitulah dengan pak Handi, karena selingkuh dengan wanita lain dia kehilangan keluarga dan pekerjaannya.
"Gimana kalau Ridho aja yang kelola kafe, Sayang?" Tanyaku pada suamiku.
"Aku sudah bicara sama dia, katanya dia nggak bisa meninggalkan pekerjaannya." Ucap suamiku.
"Biar aku yang handle, Sayang. Nanti kalau Rafa sudah bisa, nanti kita serahkan sama dia, sekalian dia juga belajar."Ujar suamiku lagi.
"Tapi dia kan masih sangat muda." Ucapku lagi
"Aku sudah kelola kafe sejak kelas satu SMA." Ujar suamiku lagi.
"Tapi nanti sekolah dia bagaimana?" Ujarku lagi.
"Buktinya aku bisa jadi sarjana, ngurus kafe juga." Timpal suamiku lagi.
"Aku lapar, dari tadi kamu ajak ngobrol terus." Ujar suamiku.
__ADS_1
Aku memang lupa menyiapkan makan malam buatnya.
Aku langsung menyiapkan makan malam . Setelah itu kami akhirnya ke kamar untuk beristirahat.