SESAL

SESAL
Malam Yang Memprihatinkan


__ADS_3

Rasya"s POV (Lanjutan)


Ketika aku sampai di rumah Hana dia begitu kaget saat melihatku. Aku tak pernah mengatakannya kalau aku akan datang. Aku juga tak pernah menanyakan alamatnya. Aku hanya bermodalkan tempat mengajarnya. Aku bertanya pada seseorang yang tinggal tak jauh dari sekolah tempat mengajar Hana dan aku menemukan alamat rumahnya.


Tanpa mempersilahkan kami masuk, Hana langsung bertanya kenapa aku datang ke rumahnya.


"Bapak ngapain kesini?" Tanya nya dengan tatapan terkejut.


Aku tak bisa menjawab apa,apalagi dia panggil aku bapak, emang aku tua banget,batinku.Untung ibunya Hana datang dan aku langsung menyalami tangannya dan aku mengatakan kalau aku teman Erwin.


Dengan ramahnya ibunya Hana mempersilahkan kami masuk. Sedangkan Rafa duduk di teras melihat anak-anak seusianya bermain takrow.


Dengan raut wajah yang masih diliputi tanda tanya, Hana bertanya untuk apa aku datang ke rumahnya.


"Kebetulan aku ada urusan di sini jadi aku sekalian mampir." Ucapku berbohong.


Dalam hati sebenarnya tak ingin berbohong tapi aku tak tau aku harus memberikan alasan apa.


Tak ada perbincangan lagi antara kami, aku tak tau harus memulai dari mana. Hingga terdengar suara deru mobil di luar.


"Rafa?? Ngapain ke sini?Sama siapa?" Terdengar suara yang tak asing bagiku. Tak salah lagi itu suara Erwin.


"Sama papa, Om," terdengar jelas Rafa menjawab.


"Mati aku," Batinku.


Seketika keringat bercucuran di keningku. Rasa malu, kaget bercampur jadi satu.


Tak lama kemudian Erwin masuk dan aku hanya bisa tertunduk karena rasa malu.


"Lho, kamu ngapain ke sini?" Tanya Erwin yang langsung memberondongku pertanyaan.


"Nak Rasya katanya katanya ada urusan di sini jadi sekalian dia mampir." Ucap ibunya Hana.


Waduh ketahuan deh bohongnya.


Erwin langsung mencium tangan ibunya Hana. Dan masih tatapan terkejut juga melihatku ada di rumah sepupunya.


Ibunya Hana masuk dan hanya ada kami bertiga di ruang tamu.


Tatapan Erwin penuh selidik padaku. Tapi aku mencoba bersikap santai.

__ADS_1


"Kamu ngapain ke sini, Sya?" Tanya Erwin lagi merasa tak yakin kalau aku hanya mampir saja.


Ya... dari pada bohong terus lebih baik aku jujur padanya.


Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.


"Sebenarnya aku kesini pingin kenal lebih dekat dengan Hana." Ucapku melirik sekilas ke Hana.


Aku melihat ekspresi Hana yang terkejut mendengar pernyataan ku.


"Kamu sering ke sini?" Tanya Erwin lagi. Dia seperti papanya Hana mengintrogasi calon menantu.


"Baru kali ini, Kak." Ucap Hana cepat.


"Kalian sering jalan bersama?" tanya Erwin datar.


"Nggak, Kak, kenalnya waktu saya di rumah Kakak dulu." Ucap Hana pada kakak sepupunya.


"Aku tanya Rasya bukan kamu, Hana." Ucap Erwin.


Hana hanya tertunduk mendengar ucapan Erwin.


"Hmmm...kamu nekat juga, Sya." Ucap Erwin geleng-geleng kepala.


"Kamu serius mau dekat sama Hana?" Tanya Erwin lagi.


Aku hanya bisa menganggukkan kepala. Padahal dalam hatiku aku masih ragu apakah keputusan ini benar atau tidak. Syukur-syukur kalau Hana mau kalau tidak. Mana Erwin sudah tau juga.


"Itu terserah kalian, aku tak bisa terlalu ikut campur, kalian sudah dewasa, tapi asal kamu tau ya Sya...Hana ini seperti adik kandungku, jadi jangan macam-macam sama dia " Ucap Erwin memperingatkan lalu beranjak masuk ke dalam menemui ibunya Hana.


Mungkin juga memberi ruang aku dan Hana untuk saling mengobrol.


Terlihat Hana merasa tak nyaman karena hanya kami berdua di ruang tamu, meskipun aku masih mendengar Erwin berbincang dengan ibunya Hana di dalam . Ruang tamu dan ruang keluarga hanya ada sekat yang menghalangi.


"Maaf tadi aku bohong, tujuan aku memang ke sini menemui kamu?" Ucapku memulai obrolan.


" Kalau boleh aku ingin ta'aruf dengan kamu." Ucapku to the poin.


Aku tak tau apakah ini masuk kategori ta'aruf atau tidak yang jelas hanya itu yang terlintas dalam kepalaku. Aku bingung harus ngomong apa. Padahal dulunya aku jago membuat perempuan luluh dengan rayuan maut ku. Entahlah sekarang aku sudah lupa caranya.


Kami kenal hanya nama saja dan pekerjaan kami masing-masing, tak pernah mempertanyakan soal pribadi lewat pesan selama ini.

__ADS_1


"Apa alasan bapak ingin ta'aruf dengan saya?" Tanya Hana lagi.


"Saya berharap dengan ta'aruf ini kamu bisa menjadi istri saya." Ucapku mantap.


"Ha???" Mata Hana membulat karena aku langsung menyatakan keinginanku padanya. Ini seperti lamaran saja. Bukan mengajak ta'aruf.


"Sebaiknya kita kenal satu sama lain dulu, Pak." Ucapnya cepat.


Tak lama kemudian Ibu dan Erwin keluar bergabung.


Pasti mereka mendengar perbincangan kami.


"Sebaiknya memang begitu, Sya, saling mengenal dulu sekitar beberapa bulan kalau cocok ya baru kalian memutuskan." Ucap Erwin memberi saran.


"Bagaimana Han? Erwin beralih ke Hana.


"Tapi...aku ng...." belum sempat Hana menyelesaikan ucapannya, Erwin memotong dengan pertanyaan lagi.


"Tak ada salahnya kamu membuka hati buat yang lain Han, cobalah untuk mengenal Rasya," Ucap Erwin lagi.


"Benar kata Kakak sepupu kamu, Nak, Ibu sudah tua, ibu ingin sebelum ibu di panggil sama Tuhan melihat ada yang menjaga dan menemani kamu."Ucap ibunya Hana.


Terlihat mata Hana berkaca-kaca mendengar penuturan ibunya.


Hari terus berganti, kami pun saling berkirim pesan dan saling mengenal satu sama lain, terbuka masalah pribadi kami, tentang status dan lain sebagainya. Aku ceritakan semua masa laluku, alasan bercerai dengan mantan istriku, aku tak mau ada kebohongan.Karena satu kali kebohongan akan menciptakan kebohongan yang lain. Begitupun juga dengan Hana dia menceritakan masa lalunya yang di tinggalkan oleh suami dan anaknya akibat kecelakaan beberapa tahun yang lalu.


Beberapa bulan kemudian hanya dua kali aku berkunjung ke rumahnya hingga akhirnya kami memantapkan diri untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Apalagi Rafa menyetujuinya. Kunjungan ketiga adalah lamaran,aku hanya datang bersama ibuku. Dan dari pihak Hana ada ibunya, Erwin dan dokter Tiara.Karena kakak lelaki Hana sedang berada di luar pulau, nanti pada saat akad nikah dia akan datang.


Hari yang di nanti telah tiba. Akad nikah di laksanakan di rumah kediaman Hana. Hana sangat anggun dengan balutan baju pengantin dipadukan dengan jilbab yang senada. Acaranya sederhana sesuai dengan permintaan Hana.


Hari itu juga Hana sudah sah menjadi istriku. Ada rasa bahagia, haru akhirnya aku bisa menikah lagi setelah lama menduda. Jangan di tanya ibuku dia begitu senang, terharu hingga dia meneteskan air mata melihatku menikah lagi.


Rayhan dan Fani datang di pernikahan kami. Meskipun Fani sedang hamil tapi dia menyempatkan diri untuk datang di pernikahanku.


Aku berharap ini pernikahan terakhirku dan aku berjanji akan menjadi suami yang baik dan setia buat istriku.Apalagi Erwin sudah memberikan peringatan padaku untuk tidak menyakiti adik sepupunya.Meskipun aku tak tau apakah aku sudah jatuh cinta padanya atau tidak tapi ada perasaan nyaman saat bersamanya.


Saat sudah sah menjadi suami istri. Kami masih saling tak banyak bicara. Ada rasa canggung di antara kami. Begitupun saat kami berada dalam satu kamar. Kami saling diam. Tak seperti pengantin baru lainnya, yang langsung melakukan ritual malam pertama.


Apalagi malam itu masih banyak keluarga Hana yang menginap.Malam pertama bukannya menikmati malam yang panjang malah aku sibuk membalas pesan Erwin dan Rayhan yang lagi nginap di hotel.


Dasar Rayhan yang tidak berprikemanusiaan malah dia mengirimkan aku vidio-vidio vulgar. Mana Erwin yang menitip anaknya pada Hana karena dia ingin menginap di hotel. Sungguh malam yang sangat memprihatinkan bagiku.

__ADS_1


__ADS_2