
Kehadiran seseorang dalam hidup yang membawa cinta yang tak terhingga, memberikan sejuta kebahagiaan dengan ketulusan itu impian semua wanita di dunia ini.
Tak dipungkiri bahwa wanita itu butuh di manja, di perhatikan walaupun hanya perhatian kecil dari pasangannya.
Tak terasa pernikahan kami sudah berusia dua bulan. Aku seperti biasa berangkat kerja dan di jemput oleh Rayhan. Dia melarang untuk membawa sendiri kendaraan dengan alasan tempat kerjaku jaraknya tidak terlalu jauh dengan kafe yang dia kelola sekarang. Ya ... dia mengelola sendiri kafe yang baru di buka sekitar satu bulan yang lalu. Dan Alhamdulillah kafe tersebut sangat ramai tiap harinya. Semua penghasilan dari kafe dan tempat wisata yang ada di luar kota mendarat cantik di rekeningku.
Sungguh berbanding terbalik dengan pernikahan dengan mantan suamiku dulu. Selain sebagai tulang rusuk merangkap juga jadi tulang punggung. Meskipun gaji mas Rasya ada tapi dia harus menanggung biaya hidup ibu dan adiknya yang masih kuliah.
"Astagfirullah," aku beristigfar terbesit dalam hati membandingkan mantan dan suamiku.
Semakin hari kami semakin menunjukkan rasa cinta kami, memupuk dan menyiraminya dengan kasih sayang dan kesetiaan.Aku tak tahu kenapa akhir-akhir ini semakin manja dan ingin selalu bersama dengannya bahkan tanpa segan dan rasa malu aku meminta duluan ketika kami berada di peraduan.Aku juga heran dengan keinginanku yang selalu menggebu. Tentu saja itu di sambut dengan suka ria olehnya.
"Kamu semakin hari semakin membuatku
bergairah,Sayang?" Ucapnya ketika kami selesai menikmati surga dunia.
Aku hanya diam karena kelelahan dengan permainannya yang membuatku serasa melayang ke nirwana.
Tapi ada yang aneh dengan suami perkasaku selama dua hari ini, mukanya pucat, seperti tidak bergairah.
Ketika kami di peraduan,tiba-tiba keinginanku untuk di buai olehnya menggebu. Aku mencoba mengeratkan pelukanku. Tapi sepertinya dia tidak meresponku. Biasanya baru aku menyentuhnya libidonya akan otomatis "ON".
"Ada apa dengannya?" Batinku.
"Sayang??" Ucapku berbisik seksi di telinganya.
"Hmmm....'
Perasaan malu hilang di dominasi oleh keinginan yang menggebu mengharapkan sentuhannya.
Aku berusaha membangkitkan gairahnya. Tubuh dan akal sehatku bersimpangan, akal sehatku seakan malu memintanya duluan sebagai seorang wanita sedangkan tubuhku bergejolak untuk dicumbu olehnya.
"Apa yang terjadi dengan diriku akhir-akhir ini?"batinku.Ternyata akal sehatku di kalahkan oleh gejolak yang ada.
Akhirnya sentuhanku membuat gairahnya memuncak dan apa yang aku inginkan darinya berhasil aku dapatkan meskipun aku yang memimpin permainan kami.
Kecupan mendarat di kening sebelum aku tertidur di alam mimpi.
Pagi-pagi aku mengerjapkan mata karena ingin menjalankan dua raka'at, Suamiku yang biasanya bangun lebih awal kini masih meringkuk di balik selimut.
Aku ke kamar mandi membersihkan diri kemudian kembali membangunkannya. Karena tidak di pedulikan akhirnya aku shalat duluan. Setelah shalat dia tak kunjung bangun, akupun memaksanya bangun untuk shalat. Walaupun susah akhirnya dia terbangun dan langsung ke kamar mandi dan kemudian shalat.
Dia kembali ke tempat tidur melanjutkan tidurnya kembali. Karena hari libur, akupun ikut terbaring di sampingnya. Membaringkan kepala di dadanya merupakan tempat yang ternyaman saat ini. Tapi dia malah memiringkan tubuhnya membelakangiku.
__ADS_1
Entah kenapa hatiku merasa sakit dan akhirnya aku terisak sambil memalingkan tubuhku membelakanginya.
Mendengar tangisanku dia kemudian bangun dan membalikan tubuhku menghadapnya
"Kamu kenapa?" tanyanya heran.
Bukannya menjawab aku semakin menangis.
"Eh ..eh...kamu kenapa,Sayang?" tanyanya lembut.
"Kamu udah bosan ya sama aku?" ucapku terus menangis
"Astaga!!kamu kok ngomong gitu?"
"Buktinya kamu berubah cuek sama aku!" ucapku.
"Itu cuma perasaan kamu, Sayang."
"Aku mohon jangan tinggalkan aku." Ucapku semakin tersedu.
Rayhan heran dengan sikapku seperti anak-anak yang merengek ke ayahnya.
Dia memeluk dan mencium pucuk kepalaku.
"Udah ya??, kita tidur lagi, " ucapnya.
Tumben tidur lagi pagi-pagi begini. Aku membiarkannya melanjutkan tidurnya. Entah kenapa dengan dia. "Apa dia sakit?" batinku.
Aku membiarkan dia tertidur dan aku bergegas ke dapur membantu Bi Rahmi menyiapkan sarapan pagi. Aku memikirkan tentang suamiku, selama kami menikah aku tak pernah melihatnya malas-malasan seperti sekarang.Apa dia benar-benar sakit? batinku.
Setelah mencium aroma nasi goreng Bi Rahmi rasa lapar tiba-tiba muncul dan ingin rasanya mencicipinya. Aku langsung makan satu piring tanpa menunggu Rayhan dan Rafa.
Bi Rahmi juga keheranan melihatku makan dengan lahapnya.
Setelah makan aku kembali sibuk dengan pikiranku. Terbesit dalam hati "Apakah aku hamil?" Tapi itu nggak mungkin, Beberapa hari yang lalu aku menstruasi meskipun tidak banyak hanya berupa bercak yang menempel di pakaian dalamku. Waktu hamil Rafa juga aku sering pusing, mual dan nggak bisa makan. Ini makannya saja satu piring penuh.
Kutepis pikiran itu karena gejalanya tidak ada seperti hamil sebelumnya.Dari dalam hatiku yang paling dalam berharap juga aku hamil tapi aku tak berharap lebih takutnya aku akan kecewa nantinya.
Setelah Rafa bergabung di meja makan aku bergegas ke kamar memanggil Rayhan. Tapi dia masih terbaring di tempat tidur.
" Sayang?? Kamu sakit?" tanyaku sambil menempelkan tanganku di keningnya.
"Perasaanku nggak enak aja, Sayang ... mungkin masuk angin."
__ADS_1
"Yuk kita sarapan,"ajak--ku.
Kemudian kami bergegas ke meja makan. Aku mengambilkan nasi goreng ke piring Rayhan, kemudian mengambilkan untuk Rafa.
Baru saja Rayhan makan suapan pertama dia langsung berdiri dan berlari ke kamar mandi.
Aku mengikutinya, dia sudah muntah di sana. Keringat bercucuran di dahinya.
"Astaga ... " ucapku panik.
Aku memijit tengkuknya pelan. Tak lama kemudian Bi Rahmi datang membawakan minyak kayu putih. Kemudian aku membawanya duduk di sofa.
Bi Rahmi membawakan teh hangat.
"Sebaiknya kita ke dokter." Ucapku.
Awalnya dia menolak, tapi aku bergegas ganti baju dan mengambil kunci mobil dan membawanya ke klinik.
Ketika sampai di klinik dokter memeriksa Rayhan. Tapi hasilnya baik-baik saja. Dokter juga menanyakan riwayat penyakit yang pernah dideritanya, Rayhan menjawab tidak ada palingan dia sakit flu saja.
Karena tidak ada masalah dengan kesehatannya dokter menyarankan ke dokter kandungan.
"Karena hasil pemeriksaan semuanya baik-baik saja, sebaiknya ibu ke ahli kandungan" kata dokter Mira.
"Suami saya yang sakit, Dok, bukan saya." ucapku bingung.
"Begini ya, Bu, karena hasil pemerikasaan bapak ini nggak ada masalah, dugaan sementara saya, ibu kemungkinan hamil.
"Ha--- hamil dokter?" ucap Rayhan tergagap.
Senyum terukir indah di bibirnya, wajahnya yang pucat bersinar kembali.
"Kasus ini biasa di katakan kehamilan simpatik. Ini baru dugaan saya, Pak , Bu.Tapi untuk lebih jelasnya, sebaiknya Bapak dan Ibu ke ahli kandungan."
Dokter hanya meresepkan vitamin untuk Rayhan dan kamipun langsung ke dokter kandungan sesuai saran dokter Mira.
Rayhan tak henti-hentinya mencium tanganku, dia bahkan yang mengemudikan mobil padahal waktu berangkat tadi dia hanya bersandar di kursi kemudi.
Raut bahagia terlukis di wajahnya.
" Masa aku hamil? Perasaan beberapa hari yang lalu aku menstruasi." batinku.
"Apakah Rayhan akan kecewa kalau nantinya hasilnya negatif? Kenapa juga dokter tadi bilang aku hamil?" Tanyaku dalam hati.
__ADS_1