SESAL

SESAL
Hamil Lagi


__ADS_3

Menikah bukanlah semata-mata hanya mengejar sebuah kebahagiaan.Tapi menghadapi ujian bersama- sama agar terasa ringan.Melengkapi satu sama lain, saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing.


Setelah makan siang bersama, Mas Rasya pamit pulang, aku segera ke kamar menemui Rayhan. Aku langsung menghambur di pelukannya. Ada rasa haru bercampur bahagia karena memiliki imam yang sangat baik dan pengertian sepertinya. Meskipun terkadang juga dia punya sikap usil padaku.


Aku menangis di dada bidangnya.


"Lho...kok nangis sih, Sayang?" Tanyanya merasa heran.


Semakin kueratkan pelukanku dan masih terisak.


Dia mengurai pelukan dan menatapku dengan wajah yang masih penuh tanda tanya.


"Hei...kok nangis?" Tanyanya lagi.


"Makasih ya?" Ucapku masih terisak.


"Apa judul?" Tanyanya sambil terkekeh.


Aku memukul pelan pundaknya, aku serius terharu malah dia menanyakan judul kayak sinetron saja.


"Makasih karena sudah menjadi suami yang pengertian." Ucapku.


"Yaelah....dari dulu kan aku pengertian, masa baru sadar sekarang sih?" Ucapnya masih bercanda.


"Aish....aku serius." Ucapku manja.


"Aku juga." Tambahnya.


"Oh...mau ucapin makasih karena bisa berduaan sama si rese?" Ucapnya terkekeh.


"Bukan berduaan tapi bertiga." Ucapku meluruskan.


"Gimana rasanya, masih deg-degan?" Ucapnya mengejekku.


"Apa sih...nggak lucu." Ucapku mencubitnya.


" Awwww....jangan cubit dong."


Aku hanya mengerucutkan bibirku pura-pura kesal padanya.


"Jangan manyung gitu dong, minta di cium ya?" Ucapnya masih menggodaku.


"Dasar mesum...sudah tua nggak berubah." Ucapku.


"Mesum sama istri sendiri kan nggak masalah?"


Aku bergegas keluar kamar karena malas melayani candaannya tapi dia menarik tanganku dan menuntunku duduk di pangkuannya.


Memang umur kami tak lagi muda tapi rasa cinta kami semakin bertambah.


"Melihatmu tersenyum itu membuatku sangat bahagia, aku tak mau melihat air mata kesedihan di wajah cantikmu ini." Ucap suamiku mengecup kelopak mataku.


Jangan di tanya hatiku terasa berbunga-bunga, terharu dan itu membuat mataku berkaca-kaca kembali.


"Eitssss....jangan nangis lagi," ucapnya memperingatkan.


Aku hanya tersenyum sambil menyeka air bening yang terlanjur menetes dari sudut mata.


"Kamu nggak cemburu waktu aku sama Mas Rasya tadi?" Tanyaku.


"Nggak." Ucapnya menggeleng.


Padahal aku maunya dia mengatakan iya. Karena cemburu itu artinya cinta.

__ADS_1


"Cemburu itu pasti ada, tapi aku sangat percaya sama kamu." Ucap suamiku lagi.


Senyum merekah di bibirku. Gitu dong...kamu harus cemburu.


"Kamu aneh!" Ucap suamiku.


"Kalau aku cemburuan kamu pasti marah juga, kan?" Tambahnya lagi.


"Udah deh nggak usah di bahas." Ucapku ingin beranjak dari pangkuannya, tapi dia malah memeluk tak membiarkan aku turun dari pangkuannya.


"Oh iya tadi Erwin telpon ngundang kita ke acara peresmian Toserba-nya yang baru." Kata suamiku.


"Kapan?" Tanyaku.


"Hari Minggu." Jawabnya.


Aku beranjak ingin berdiri, lagi-lagi dia menahan ku dan mendaratkan ciuman lembut di bibirku. Lama-lama menjadi ciuman yang penuh hasrat.


"Aku pingin, Sayang." Ucapnya dengan suara parau.


"Sekarang?" Tanyaku sambil melirik jam dinding menunjukkan jam dua siang.


Tanpa jawaban dia langsung melancarkan aksinya.


Aku hanya pasrah membiarkan dia melakukan keinginannya. Ya... begitulah Rayhan gairahnya tak pernah kendor untuk melakukan hal yang satu itu.


Setelah puas menyalurkan hasratnya, kami masih terbaring sambil menjadikan lengannya sebagai bantal.


"Si Rese itu kok nggak nikah-nikah juga, ya? Tanya suamiku.


"Nggak tau juga sih." Jawabku.


"Nungguin kamu janda kayaknya." Ucap suamiku asal.


"Sorry...aku cuma bercanda, Sayang, jangan bersedih begitu, kita akan menua bersama melihat anak cucu kita kelak sampai ajal menjemput " Ucap Rayhan merasa bersalah.


Entah kenapa aku begitu sensitif dan mudah menangis.


Dia memeluk erat tubuh ini, aku masih terisak sambil menenggelamkan wajahku di dadanya.


Tak terasa kami-pun terlelap dalan indahnya mimpi di siang itu.


Tok...tok....tok.


Mama...Papa..... Mau ikut makan bakso nggak?"Teriak anak-anakku di luar


Kami segera terbangun dan aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Terlebih dahulu aku menyuruh Rayhan untuk menyampaikan ke anak-anak untuk menunggu sebentar.


Setelah membersihkan diri dan menunaikan shalat Ashar kami segera berangkat ke langganan bakso kesukaan anak-anakku.


Setelah sampai di tempat tujuan, baru saja aku mencium aroma bakso aku mendadak mual.


"Lho, Mama sakit?" Tanya Rafa.


"Mama hanya pusing, Nak." Ucapku padanya.


Kemudian Rafa memanggil Rayhan yang sedang sibuk memesan bakso untuk kami.


"Kalian makan aja, aku tunggu di mobil." Ucapku langsung mengambil kunci mobil di tangan suamiku.


"Lho....kamu kenapa?"


Aku tak memperdulikan pertanyaannya karena aku sungguh tak tahan mencium aroma baksonya, rasanya aku pingin muntah.

__ADS_1


Kubuka cepat pintu mobil dan masuk dan meminum air mineral untuk menghilangkan rasa mual yang membuncah.


Dalam hati aku bertanya ada apa denganku. "Apakah aku hamil lagi?" batinku. Tapi di kehamilan sebelumnya bakso adalah makanan pavoritku, tapi kenapa mencium baunya saja sekarang aku tidak kuat.


Aku menyandarkan kepala di kursi mobil,tiba-tiba Rayhan membuka pintu mobil dengan raut khawatir di wajahnya.


"Kamu sakit?" Tanyanya.


"Cuma mual saja." Ucapku malas.


"Aku bungkusin aja baksonya?" Ucapnya lagi.


Dengan cepat aku melarangnya. Kemudian aku menyuruhnya menemani anak-anak makan.


Tak lama kemudian Rayhan dan anak-anak selesai makan bakso dan acara jalan-jalannya batal dan kami langsung pulang saja.


"Singgah di apotik dulu." Ucapku pada Rayhan.


Tiba di depan apotik aku menyuruh suamiku turun dan membeli tespack. Aku ingin memastikan aku benar-benar hamil atau tidak. Dalam hatiku aku berharap semoga tidak. Sedangkan Rayhan hanya menurut saja tanpa bertanya padaku. Bukannya tak mensyukurinya tapi karena ini anak yang keenam dan usia juga tak muda lagi.


Dalam perjalanan hanya celotehan anak-anak yang protes karena tak jadi jalan-jalan di taman. Tapi setelah Rafa menjelaskan kalau aku sakit mereka akhirnya mengerti.


Sesampainya di rumah aku langsung ke kamar mandi dan menggunakan alat tespack tersebut . Rasa deg-degan dalam dada menunggu hasilnya. Kalau yang lalu aku berharap positif tapi kali ini aku berharap hasilnya negatif.Setelah menunggu beberapa menit akhirnya muncul garis dua yang berwarna merah, walaupun masih samar tapi aku pastikan hasilnya positif.


Aku menghela nafas panjang, mau tak mau aku harus menerimanya.Walaupun tadinya aku berharap hasilnya negatif.


Aku keluar dari kamar mandi dengan raut muka cemberut, terlihat Rayhan duduk di bibir ranjang menungguku.


"Masih mual?" Tanyanya.


"Mual....mual...ini semua ulah kamu!"Ucapku kesal.


Rayhan mengerutkan keningnya melihatku marah-marah tanpa sebab.


Aku langsung menyodorkan alat tespack tersebut.


Berbeda denganku menyambut calon bayi kami dengan wajah cemberut dia malah tersenyum sumringah melihat hasilnya.


"Kamu hamil, Sayang?" Tanyanya memastikan.


Aku mengomelinya karena selalu banyak alasannya kalau aku menyuruhnya pakai pengaman.


Dia malah memelukku erat dan membungkam mulutku yang mengoceh terus dengan ciuman di bibir.


Karena kesal aku menggigit bibirnya hingga dia mengeluh kesakitan.


Aku tersenyum puas melihat dia kesakitan.


"Kira- kira dong kalau gigit." Ucapnya protes.


"Aku mau bikin bibir kamu memble " ucapku ketus.


"Sungguh jahatnyaaaaa!" Rayhan menirukan sebuah lagu.


"Nanti orang pikir anak ini cucu kamu." Ucapku masih kesal padanya.


"Nggak bakalan, baby face begini di bilang punya cucu." Ucapnya sombong.


"Thanks ya, Sayang!" Ucapnya sangat lembut dan mengecup keningku.


"Aku takut." Ucapku padanya karena kehamilan diusia hampir empat puluhan itu beresiko apalagi ini kehamilan yang ke lima.


Rayhan meyakinkanku kalau kita harus menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan, ini adalah anugrah yang harus di syukuri.Karena masih banyak pasangan di luar sana yang menginginkan keturunan tapi tidak di berikan kepercayaan oleh Tuhan.

__ADS_1


__ADS_2