SESAL

SESAL
Rayhan Kecelakaan


__ADS_3

Hari terus berganti dengan begitu cepatnya. Aku menjalankan kehidupanku sebagai istri dan ibu bagi anak-anakku. Tawa canda tak lepas dari hari-hariku.


Seperti biasa sebelum berangkat ke kafe Rayhan akan mengantar Rafa dulu ke sekolah.


"Aku berangkat ya...Sayang." Ucap Rayhan mencium keningku saat dia akan berangkat.


Kemudian dia mencium Farha dan Farhan. Entah kenapa Farha saat di gendongan papanya dia tak mau melepaskan pelukannya.Seakan dia melarang papanya pergi. Aku berusaha mengambilnya tapi pelukannya makin erat. Setelah di janjikan mainan dia baru melepaskan pelukannya.


"Hati-hati." Ucapku seraya melambaikan tanganku ketika dia perlahan melajukan mobilnya.


Setelah kepergiannya aku kembali ke dalam rumah bersama si Kembar. Farha dan Farhan kembali menonton televisi bersama Bi Rahmi. Aku bergegas ke kamar untuk menggunakan tes pack yang sudah aku persiapkan sebelumnya. Karena aku sudah telat tidak kedatangan tamu bulanan. Aku tidak memberitahukan Rayhan karena belum terlalu yakin apakah aku hamil atau tidak. Karena jadwal menstruasi--ku tidak tentu kadang lebih awal kadang juga telat.


Setelah sampai di kamar gegas ke kamar mandi dan menggunakan tes pack tersebut. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya muncul garis dua meskipun samar tapi itu sudah menunjukkan kalau aku positif hamil. Senyum terukir dari bibirku. Aku menyimpan baik-baik tes pack tersebut niatnya setelah suamiku pulang aku akan memberikan sebuah kejutan padanya.Dengan senyum yang merekah aku kembali keruang keluarga menemani si Kembar bermain.


"Drrrrrt." Ponsel di tanganku berbunyi.


Terlihat di layar ponsel suamiku yang menelpon.


"Baru aja pergi udah nelpon." bathinku.


Sambil tersenyum dan mengangkat ponsel ku.


"Assalamu Alaikum, Sayang." Ucapku memulainya.


"Waalaikum Salam, Benar ini keluarga pak Rayhan?" Ucap seorang laki-laki di seberang sana yang aku tahu pasti itu bukan suara suamiku.


"I--iya Pak, sa--saya istrinya." Ucapku gugup.


"Begini ya... Bu, kami menyampaikan kalau pak Rayhan mengalami kecelakaan di Jalan Pemuda." Ucap orang tersebut.


Deg...jantungku terasa berhenti berdetak, bumi seakan runtuh tepat di kepalaku.Hanya bisa berdiri mematung dan tak terasa ponsel di tanganku terjatuh.Niatnya aku akan memberikan kejutan pada suamiku tapi akulah yang mendapatkan kejutan darinya.


Karena telepon masih tersambung sehingga Bi Rahmi yang mengambil alih ponsel tersebut.


Setelah berbicara dengan orang tersebut, yang ternyata seorang polisi, Bi Rahmi menenangkan-ku dan mengatakan kalau suamiku sekarang sudah di bawa ke Rumah Sakit Medika.


Tak tau bagaimana keadaannya sekarang, aku hanya berdoa semoga dia baik-baik saja. "Tolong jagain si Kembar, Bi." Ucapku pada Bi Rahmi dan bergegas mengambil kunci mobil hendak ke Rumah sakit.

__ADS_1


Kulajukan mobilku dengan kecepatan tinggi menuju Rumah Sakit. Tak kuhiraukan suara klakson pengendara yang lain yang merasa kesal denganku karena seolah jalanan milikku saja .Yang ada di pikiranku sekarang hanya pada suamiku. "Semoga dia baik-baik saja, batinku .


Hanya butuh waktu lima belas menit aku sampai di Rumah Sakit. Aku berlari ke arah perawat dan menanyakan keberadaan pasien atas nama Rayhan yang baru mengalami kecelakaan. Perawat mengatakan kalau dia sedang di tangani oleh dokter di ruang IGD.


Aku segera menuju ruangan IGD aku tak di biarkan masuk. Aku segera menelpon keluargaku begitu juga keluarga Rayhan.


Tak lama kemudian keluar seorang perawat dari ruangan tersebut. Aku segera menghampirinya dan menanyakan keadaan suamiku dan dia hanya mengatakan kalau sekarang dia sedang di tangani oleh dokter.


Aku hanya bisa tertunduk lesu dan menangis.


"Ya Allah aku mohon jangan ambil suamiku!" Pintaku dalam hati dan terus menangis sendiri di depan ruang IGD.


Tak lama kemudian ayah, ibu dan Ridho datang. Aku langsung memeluk ibu dan menangis tanpa bisa mengatakan apapun.


"Kamu yang sabar, Nak! InsyaAllah suamimu baik-baik saja."


"Bagaimana kalau sebaliknya, Bu? Aku belum sanggup tanpa dia, Bu." Ucapku sambil terisak.


"Kamu berdoa, Nak, semoga suamimu baik-baik saja." Ucap ibu sambil menghapus air mataku.


Setelah beberapa lama menunggu akhirnya dokter keluar dari ruangan IGD.


"Jujur lukanya cukup parah bagian kakinya mungkin karena terjepit saat kecelakaan dan bagian kepalanya juga ada beberapa luka tapi itu tak terlalu parah. Tapi kami akan melakukan CT Scan kepala untuk memastikannya Pak." Ucap dokter.


"Ku mohon lakukan yang terbaik buat suami saya, Dok." Ucapku menghampiri sang dokter.


"Pasti, Bu! Itu sudah kewajiban kami." Ucap dokter tersebut.


Setelah meminta ijin sama dokter akupun masuk menemui Rayhan. Hatiku bagai tersayat melihat keadaanya. Ada perban di kepalanya.


"Kenapa bisa seperti ini?" lirihku.


"Aku mohon bangunlah! Jangan buat aku ketakutan begini."Ucapku di sela tangisku.


Karena masih dalam ruangan IGD perawat menyuruhku untuk keluar.


Aku berjalan gontai keluar. Terlihat keluargaku masih setia menunggu. Terlihat rasa khawatir di wajah mereka.

__ADS_1


Sudah empat jam setelah kecelakaan Rayhan belum sadar juga. Aku semakin takut seandainya hal buruk terjadi padanya. Badanku terasa lemas dan kurang tenaga. Beberapa kali ibu menyuruhku untuk makan tapi aku menolaknya.


Aku kembali masuk ke ruangan Rayhan setelah membujuk perawat.


"Bangunlah,Ray!!Aku mohon!!Calon baby kita mau menyapa kamu." Ucapku sendu.


Karena perutku sudah terasa sangat lapar aku segera beranjak. Aku harus makan demi janin di dalam kandunganku.


Pas akan berdiri aku lihat tangan Rayhan bergerak. Aku segera memanggil perawat yang ada tak jauh dariku. Diapun langsung memanggil dokter.


Rayhan perlahan membuka matanya, walaupun susah dia berusaha tersenyum ketika melihatku.


"Alhamdulillah Ya Allah." Ucapku.


Tak lama kemudian dokter datang dan memeriksa keadaannya.


'Bagaimana keadaannya, Dok?" Tanyaku.


"Kita bicara di ruangan saya ya, Bu." Ucap dokter yang bernama Ibnu tersebut.


Setelah di periksa oleh dokter dan dokter menyatakan kalau suamiku sudah bisa di pindahkan ke ruangan perawatan hatiku sudah merasa lebih lega. Walaupun dalam hati merasa was-was karena dokter menyuruhku menemui di ruangannya.Mungkinkah ada sesuatu yang parah dengan kondisi suamiku. Aku segera menemui dokter Ibnu di ruangannya.


Setelah di persilahkan masuk aku kemudian menanyakan kondisi suamiku.


"Berdasarkan hasil CT Scan kepala suami ibu Alhamdulillah tidak ada masalah, tapi... berdasarkan hasil foto bagian kakinya kemungkinan Pak Rayhan akan mengalami cacat atau bisa saja mengalami kelumpuhan."


Duarrr......bagai petir menyambar di terik matahari.


"Lu--lumpuh, Dok?" Tanyaku memastikan.


" Itu kemungkinan terburuknya ya, Bu!


"Apa tidak ada jalan lain supaya dia bisa kembali normal,Dok?"


"Bisa saja,tapi butuh waktu." Ucap dokter Ibnu.


"Berapa lama, Dok?"

__ADS_1


"Bisa kurang satu tahun, dua tahun bahkan lumpuh selamanya. Kita kembalikan lagi pada yang Maha Kuasa."


"Lakukan yang terbaik buat suami saya, Dok." Ucapku memohon.


__ADS_2