SESAL

SESAL
Akhirnya Ketahuan Juga


__ADS_3

Saat tiba di parkiran restoran, Fira mengambil alih kemudi, karena dokter Tiara sedang menerima telepon. Di tengah perjalanan kami masih asyik bercanda mengenai kejadian di restoran tadi.


Kami memutuskan ke salon yang ada di dekat pantai, kebetulan ada juga Mall yang baru di buka disana.


"Kayaknya mobil hitam itu ngikutin kita deh." Ucap dokter Tiara.


"Mungkin kebetulan tujuan kita sama." Ucapku.


"Kayaknya pas keluar dari restoran mobil itu ngikutin kita terus." Ujar Fira, mungkin dia baru sadar.


Fira lalu menancap gas dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


"Astaga Fir! Pelan-pelan dong!" Protesku.


"Iya, Fir! Sela dokter Tiara.


"Santai aja, ." Ucap Fira lagi.


"Please Fir!! Aku nggak mau mati muda, anak aku banyak dan masih kecil!" Ucapku panik.


Aku menoleh kebelakang mobil yang di belakang kami juga terus mengikuti kami.


Sedangkan dokter Tiara mulutnya hanya komat kamit, mungkin membaca doa keselamatan.


Saat tiba di tempat yang agak sepi, mobil tersebut langsung menyalip kami dan pas berhenti tepat di depan mobil kami.Otomatis Fira rem mendadak. Untung kepala kami tidak terbentur karena memakai sabuk pengaman.


Sedangkan dokter Tiara memegang erat pada belakang kursi yang aku duduki. Tak lepas ucapan istigfar dari mulutnya.


Saat mobil kami berhenti terlihat dua pria keluar dari mobil hitam tersebut.


"Mereka siapa sih? Tanyaku pada Fira.


"Nggak tau, Kak!Mana di sini sepi lagi." Ucap Fira menoleh ke belakang.


"Gimana kalau orang jahat?"Ucap dokter Tiara.


"Aku juga takut, dok!Gimana kalau mereka begal." Ucap Fira. Seberani-beraninya Fira tapi pas lihat ke dua orang tersebut terlihat juga rasa takut di wajahnya. Manusiawi lah kalau takut.


Dokter Tiara mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang. Sedangkan cincinnya dia lepas mungkin itu cincin nikahnya.


Kedua orang tersebut mengetuk jendela mobil menyuruh kami keluar. Jujur aku ketakutan setengah mati.


'Gimana ini?" Ucapku panik.


"Kita keluar sekarang, tapi jangan perlihatkan kalau kita takut, belum tentu juga mereka mau jahatin kita" Ucap Fira.


Kami-pun akhirnya keluar dari mobil. Baru saja keluar, seseorang wanita juga keluar dari mobil hitam tersebut, yang ternyata adalah Sinta. Fix mereka orang jahat, ucapku dalam hati.


Aku, Fira dan dokter Tiara saling berpandangan. Sinta langsung tersenyum sinis melihat kami.


"Kenapa? Takut?? Ucap Sinta dengan senyum sarkasnya.


"Urusanmu dengan saya, jangan libatkan mereka, Kamu mau uang ? Ini ambil." Ucap dokter Tiara menyodorkan uang kepada Sinta.

__ADS_1


Fira melotot ke arah dokter Tiara.


"Katanya tidak mau kasi aku satu rupiah pun."Ejek Sinta.


"Tapi sayang!!Aku nggak minat uang kamu lagi sekarang," Ucap Sinta lagi.


"Mau kamu apa sih?" Dokter Tiara mulai emosi.


"Kamu minta maaf sambil berlutut di kakiku." Teriak Sinta.


"Jangan mau, dok!" Teriak Fira.


Tanpa aba-aba Fira langsung menenndang pusaka salah satu pria yang ada di dekatnya. Ketika melihat pria tersebut meringis, aku mengambil kayu yang ada didekatku dan memukul pria tersebut. Pria yang satunya menyerang Fira dengan membabi buta. Fira berhasil menghindar dan melakukan serangan balik pada pria tersebut. Sedangkan dokter Tiara menjambak rambut Sinta. Aku terus memukul pria tersebut seperti memukul ular yang masuk ke rumah orang tuaku dulu.


Tapi sayang kayu tersebut agak lapuk dan akhirnya patah jadi dua. Tak berhenti di situ aku membuka sepatu yang aku pakai dan memukul pria tersebut. Mungkin karena pusakanya masih nyut-nyut jadi dia sempat melawanku. Sedangkan Fira masih terus menangkis pukulan pria tersebut. Pertarungan satu lawan satu seimbang. Dokter Tiara dan Sinta yang paling ribut. Mereka bergantian berteriak. Ternyata dokter Tiara tidak hanya jago ahli dalam membantu orang melahirkan tapi jago juga dalam jambak-jambakan. Satu julukan buat dia dokter Bar-Bar.Jilbab dokter Tiara sudah tak karuan begitu pula rambut Sinta mungkin sudah banyak yang rontok.


Sedangkan pria yang aku ajak duel sudah jatuh terduduk masih memegang pusakanya. Dia sudah tak bisa berdiri lagi. Mana kepalanya sudah benjol kena pukulan sepatuku. Sebenarnya Fira bisa melawan pria tersebut tapi saat Fira menangkis pukulan pria tersebut, Fira berjalan mundur dan naas-nya dia menginjak kayu yang aku pakai tadi. Hingga Fira jatuh. Pria tersebut akan melayangkan tinjunya ke arah Fira, aku memejamkan mata takut.


"Bugh...bugh...."


" Ya Allah tolong lindungi adikku. "Doaku dalam hati.


Aku segera membuka mataku dan netraku terbelalak sempurna ternyata Mas Rasya yang menghajar pria tersebut. Sedangkan Fira langsung menghampiri Sinta dan menampar pipinya dua kali.


"Dasar perempuan sialan, aku hampir bonyok gara-gara kamu!" Teriak Fira.


Sudah ada beberapa orang yang datang menghampiri kami.


Mas Rasya berhasil melumpuhkan lawannya.


"Makasih banyak, Mas." Ucapku menghampiri Mas Rasya.


Dia hanya tersenyum sambil menyeka keringatnya.


"Untung Kak Rasya datang tepat waktu, kalau nggak! Mungkin gigi aku sudah rontok." Ucap Fira ngeri.


"Mereka siapa,sih?" Tanya Mas Rasya penasaran.


"Mantan istri pak Erwin." Ucap Fira.


Dan entah siapa yang menghubungi, polisi-pun datang. "Gawat..urusannya semakin panjang kalau melibatkan polisi, " batinku.


Akhirnya kami-pun semua di bawa ke Kantor Polisi.


Sinta yang acak-acakan seperti Mak Lampir dengan wajah yang memerah bekas tamparan maut Fira meringis. Sedangkan ke dua pria tersebut sudah babak belur olehku dan Mas Rasya.


Mas Rasya juga ikut serta ke kantor polisi. Sesampainya di kantor polisi kami di suruh menghubungi keluarga masing-masing.


Kami berada dalam satu ruangan sambil menunggu keluarga. Ada seorang polisi tampan yang masuk ruang interogasi. Mata polisi tersebut langsung mengenali Fira.


"Fira?" Ucap polisi tersebut.


Mata Fira membulat sempurna melihat pria tersebut.

__ADS_1


"Aldi?" Teriak Fira heboh.


Sedangkan Sinta pias karena mungkin mengira Fira benar-benar istri Polisi.


Dokter Tiara menjelaskan kronologis kejadian mulai dari SMS Sinta sampai dengan perkelahian kami di jalan tadi.


Tak lama kemudian datanglah tiga pasukan Turbo yang tak lain Rayhan, Ridho dan Erwin.Wajah mereka kelihatan tegang dan panik.


"Kamu nggak apa-apa, Sayang?" Rayhan langsung memelukku dan mencium pucuk kepalaku.


Sedangkan Ridho menghampiri Fira yang asyik ngobrol dengan Aldi.


"Hai...bro!" Ucap Aldi.


Mereka berdua saling berjabat tangan.


Sedangkan pak Erwin langsung menatap istrinya dengan tatapan khawatir. Kemudian menatap ketiga bajingan yang menghadang kami. Wajah pak Erwin langsung memerah karena amarah ketika melihat Sinta dan pria yang duduk di dekatnya.


Pak Erwin mendekat ke arah pria tersebut dan langsung memberikan bogem mentah di pipinya kemudian beralih memberikan tamparan ke arah Sinta.


Kami semua terkejut dengan tindakan pak Erwin.


Polisi segera berlari memegang tangan pak Erwin.


"Jangan main hakim sendiri, Pak!Ini kantor polisi." Ucap polisi tersebut.


"Lepaskan aku, Pak!Biarkan aku memberikan pelajaran pada kedua manusia laknat ini." Teriak pak Erwin.


Dokter Tiara datang menghampiri suaminya dan menenangkannya.


Ternyata salah satu dari kedua pria tersebut adalah suami Sinta.


Kami semua akhirnya pulang karena kami disini sebagai korban. Walaupun nantinya akan dipanggil saat dibutuhkan keterangan.Sedangkan Sinta dan geng-nya masih terus di tahan di kantor polisi.


"Sekali lagi kami ucapkan terima kasih, Mas." Ucapku tulus pada Mas Rasya.


"Iya sama-sama, untung aku lewat tadi di sana." Ucap Mas Rasya tersenyum.


Aldi mengantar kami sampai di luar.


"Kamu tambah cantik aja, Fir." Ucap Aldi cengengesan.


"Dari dulu kan aku memang cantik." Jawab Fira PD.


"Hmmmmm ." Ridho sengaja berdehem panjang.


"Nggak usah cemburu, Bro." Ujar Aldi terkekeh.


Ridho hanya tersenyum paksa.


Akhirnya kami-pun pulang. Dan akuptak tau apa yang akan terjadi nanti di rumah. Apakah kami akan mendapatkan siraman rohani nantinya.


.

__ADS_1


__ADS_2