
Malam begitu cepat berlalu, terasa baru saja memejamkan mata harus terbangun lagi. Pagi yang indah dan matahari yang masih malu-malu memancarkan sinarnya..
Aku terbangun dan mengedarkan pandangan di sekeliling kamar. Aku mencari seseorang yang telah bergelar suamiku itu.
"Kemana dia?" kataku dalam hati. Karena telat bangun akhirnya aku gegas menuju kamar mandi dan berwudhu dan kemudian melaksanakan kewajibanku.
" Astaga....baru hari pertama di rumah mertua sudah kesiangan," ucapku pada diri sendiri.
Memang semalam tidur sangat larut karena aku dan Rania melepas rindu dan berbincang banyak, hingga aku tak tahu kapan dia meninggalkan kamar.
Setelah merapikkan tempat tidur, aku bergegas ke lantai dua untuk menemui Rafa, tapi dia masih terlelap dalam tidurnya, lanjut aku turun ke lantai bawah. Orang tuaku dan mertua sedang berbincang sambil minum teh di ruangan tengah. Aku mencari-cari keberadaan Rayhan tapi tak nampak batang hidungnya.
"Kamu nyariin Rayhan?" kata ibu mertua tiba-tiba.
Mungkin dia melihatku celingukan kiri kanan mencari seseorang.
" Dia di ruang kerjanya," ucapnya tanpa menunggu jawaban dariku.
"Sana panggil suamimu! kita sarapan bareng," tambah ibu mertua lagi.
"Iya, Tante," ucapku.
"Panggil mama dong, Sayang," ucap ibu mertuaku protes.
"Iya, Ma, aku ke atas dulu," jawabku terbata lalu berlalu menaiki anak tangga.
Sesampainya di depan pintu, aku ketuk pintu, tak ada yang membukanya, hingga ketukan ke dua, tetap sama nihil. Akhirnya aku membuka handle pintu dan masuk mencari keberadaan Rayhan.
"Kemana dia?" batinku terus bertanya.
Hingga netraku melihat sebuah pintu di sebelah rak buku. Aku mendekat dan tanpa mengetuk aku langsung membukanya.
"Kak... Kak....Kak Rayhan!" Panggilku.
Tidak ada yang menyahut, padahal aku lihat bajunya teronggok di tempat tidur.
Karena tidak menemukannya aku memutuskan keluar dari kamar tersebut, pikirku dia sudah kembali di kamar kami.
Ketika tanganku akan membuka handle pintu aku terkejut karena ada seseorang yang langsung memelukku dari belakang. Reflek aku berteriak.
" Ini aku," ucapnya.
"Ngagetin aja, Kak!" Ucapku ketus, jujur aku memang kaget sambil membalikkan badanku.
Astaga dia hanya memakai handuk, tubuhnya yang atletis membuat pikiranku melayang entah kemana , di tambah buliran air yang menetes di dadanya membuatku seketika menelan saliva.
"Kenapa? Terpesona!" ucapnya membuyarkan pikiran liarku.
__ADS_1
"Nggak! Di panggil ibu untuk sarapan." ucapku cepat.
Bukannya cepat bersiap dia malah menarik tubuhku dalam pelukannya sehingga tak ada jarak antara kami. Kurasakan ada sesuatu yang lain di bawah sana mengenai bagian perutku.
Tinggal wajah kami hanya berjarak beberapa senti saja. Kulihat tatapan matanya yang memuja, penuh gairah dengan deru nafas yang semakin cepat.
Dia perlahan mencium kening, mata, pipi kemudian turun di bibir. Dari cara menciumku di bibir aku tahu dia tidak berpengalaman dalam hal ciuman.
Tapi meskipun caranya yang amatiran membuat akal sehatku perlahan melayang, karena biar bagaimanapun aku pernah merasakan hal itu dan sudah lama aku tak melakukannya, seketika ada sesuatu yang mendorong untuk melakukan yang lebih. Aku membuka bibir perlahan untuk memberikannya akses untuk memperdalam ciumannya. Diapun seakan mengerti dengan apa yang aku lakukan. Dia melepaskan ciuman ketika aku kesulitan bernafas.
" Boleh?" ucapnya dengan suara parau.
Akal sehatku seakan mengatakan jangan tapi reaksi tubuhku meminta lebih, aku hanya terdiam dan itu pertanda iya baginya.
Dia segera menggendongku ala bride style menuju tempat tidur yang berukuran sedang.
Dia perlahan menurunkan tubuhku di tempat tidur. Matanya yang penuh gairah langsung mencium bibir, puas di bibir turun ke bagian leher, dia meninggalkan jejak kepemilikan di sana. Dia dengan cepatnya membuka kancing baju yang menutup tubuhku. Terpampang sudah kain berenda berwarna pink menutup kedua gunung kembar tersebut. Dia menatap sayu benda yang masih terbungkus itu. Kemudian dengan perlahan membenamkan kedua wajahnya disana . Satu ******* lolos dari mulutku yang dari tadi aku coba tahan tapi keluar juga di bawah alam sadarku.
"Derrttttt,"
Suara dering telpon Rayhan mengganggu aktifitas pemanasan kami. Aku reflek mendorong tubuh kekarnya. Kulihat rasa kesal di wajahnya saat gawainya berdering.
"Angkat, Kak! Siapa tau penting," ucapku dengan suara pelan.
Aku bangun dan mengancing bajuku kembali.
Rayhan bergegas turun dari ranjang dan mengambil gawainya yang ada di atas nakas.
Baru sadar ketika dia ingin melangkah, baru cepat-cepat menarik handuknya dan memasangnya kembali sambil melirikku.
" Iya.....Ma," ucapnya di telpon lalu menutup sambungan secara sepihak.
" Ngapain tutup mata?, nanti tiap hari kamu juga akan nidurin dia." ucapnya sambil menunjuk ke arah adiknya.
"Kamu harus tanggung jawab," ucapnya menarik tanganku .
"Nggak ah....lebih baik kita turun, Kak"
"Aku gimana?" sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Anggaplah ini tahap perkenalan, Kak" ucapku sambil tertawa meninggalkannya di kamar.
"Gagal teruuuuuuus," ucap Rayhan sambil mengacak rambutnya dan berlalu ke kamar mandi.
Sebelum turun aku ke kamar terlebih dahulu merapikan diri yang acak-acakan. Tak lupa memakai penutup kepala, karena yang kupakai tadi tertinggal di ruang kerja Rayhan.
Aku melangkah cepat ke lantai bawah dan langsung menuju ruang makan. Mereka semua sedang menikmati sarapan sambil sesekali berbicara. Aku langsung duduk di kursi yang kosong.
__ADS_1
" Rayhan mana?" tanya ibu mertua.
Belum juga aku jawab, Rayhan sudah datang dengan wajah yang sedikit di tekuk, dan langsung duduk di sampingku.
Melihat wajah putranya yang kurang semangat, ibu mertua bertanya.
"Kamu kenapa, Ray?"
"Pusing, Ma," ucapnya sambil melirikku.
"Nanti mama telpon dokter." ucap mama mertua khawatir.
"Nggak usah, Ma, ntar juga sembuh." ucap Rayhan santai.
"Bagaimana kalau tidak sembuh? Resepsinya kan sebentar malam?" kata ibu mertua.
Ayah, ibu, dan ayah mertua membenarkan ucapan mama mertua.
Aku melirik Rayhan, perasaan tadi nggak apa-apa, kenapa langsung bilang pusing.
Satu persatu meninggalkan meja makan, setelah tersisa hanya kami berdua aku bertanya padanya.
" Kakak pusing?"
" Pusing karena kamu! nggak tanggung jawab banget."
Aku langsung mengerti sumber pusingnya. Aku mencoba genit padanya. Nggak apa-apalah toh suamiku sendiri.
"Tenang, Kak, nanti bisa sepuasnya non stop ," kataku pelan, takut ada yang dengar.
Dia langsung senyum sumringah dan semangat empat lima.
"Janji?" ucapnya tak percaya.
Aku hanya mengangguk. Tak mungkinlah bisa non stop, karena menurut pengalamanku sebelumnya, pria itu palingan bisanya tiga ronde dalam satu malam, itupun lututnya udah gemetaran.
Terlihat senyum di wajahnya merekah bak bunga di pagi hari. Kami menyusul ke ruang keluarga. Di sana mama mertua sedang menelpon seseorang.
"Iya dok, sekarang juga kami tunggu.'
Aku dan Rayhan langsung saling menatap.
"Mama telpon dokter?" tanya Rayhan.
"Iya" jawab mama mertua singkat.
Rayhan langsung mengambil ponselnya di saku celana dan menelpon dokter untuk membatalkan datang memeriksanya.
__ADS_1
Semua yang ada disitu langsung melongo melihat tingkah Rayhan yang membingungkan.
"