
Hari berganti hari, Minggu berganti Minggu, Bulan berganti Bulan, bahkan tahun berganti tahun. Tak terasa waktu terus berlalu. Ke empat anakku tumbuh dengan sehat dan saling menyayangi. Rafa yang tumbuh menjadi anak yang penyayang dan bertanggung jawab dengan adik-adiknya. Farha yang kalem tapi manja, Farhan yang santai tidak neko-neko, sedangkan Fadiyah yang usil, manja, centil, sering gangguin kakak-kakaknya membuat rumah tak pernah sepi oleh keributan mereka.
"Mama......"teriak Farha dan Farhan bersamaan karena ulah Fadiyah yang mengganggu-nya.
Aku segera menghampiri mereka, bukan hanya mengganggu kakaknya tapi Fadiyah juga melemparkan semua crayon.
"Astaga Fadiyah...jangan ganggu kakak dong, Sayang?"Ucapku.
Tapi Fadiyah langsung tertawa memperlihatkan deretan giginya.
Demi menghindari keributan terus berlanjut akhirnya aku membawa Fadiyah ke depan televisi dan mengambil remote dan menggantinya dengan kartun.
"Lho...kok di ganti sih Sayang?" Tanya suamiku yang sedang asyik menonton berita.
"Kamu pindah ke kamar aja nontonnya." Ucapku pada suamiku.
"Nggak ah...sepi di kamar." Ucapnya lagi
Fadiyah asyik nonton kartun tapi cuma sebentar, melihat Rafa yang sedang membuat tugas praktek kincir angin dari kertas dia langsung mendekat dan merampas kincir angin tersebut
Lagi-lagi Rafa yang berteriak memanggilku.
"Astaga ... Fadiyah.!! Ucapku dengan berteriak.
Fadiyah malah berlari dan langsung memeluk papanya.
Ingin rasanya mencubit anak tersebut, aku emosi lihat tingkahnya, tapi aku tahan terpaksa yang jadi sasaran suamiku.
"Awwww....." jerit suamiku.
Fadiyah terkekeh melihat papa-nya meringis.
Rayhan menggelitik Fadiyah. Fadiyah tertawa diatas kekesalan Rafa dan si Kembar.
Ya...itulah Fadiyah tiap hari tidak pernah absen membuat ulah.
Hari ini aku mengadakan acara ulang tahun buat Rafa dan si Kembar, kebetulan mereka lahirnya di bulan yang sama. Acaranya sederhana hanya mengundang tetangga, dan keluarga dekat saja.
Ridho dan Fira juga datang membawa Riyan putra mereka, Pak Erwin dan dokter Tiara juga membawa putri mereka yang berusia satu tahun.
Mas Rasya juga datang mungkin di undang oleh Rafa. Sampai saat ini Mas Rasya belum menikah lagi, dan dia sekarang sudah di pindah tugaskan di kota ini. Kehidupannya semakin baik dan dia juga sudah merenovasi rumah ibunya. Dan dia juga membuatkan tabungan pendidikan untuk Rafa.
Acara berlangsung dengan tiup lilin dan potong kue. Ketika anak-anak sedang asyik menikmati pesta. Aku terduduk di salah satu kursi melihat keceriaan anak-anak.
Mas Rasya menghampiriku sambil memperlihatkan senyum manisnya, dia duduk tak jauh dariku diantarai satu kursi.
"Tak terasa ya...Rafa sudah besar." Ucapnya memulai
"Iya, Mas." Ucapku singkat.
Ada rasa canggung berbicara dengannya, apalagi tadi sempat aku lihat Rayhan menoleh ke arahku.
"Aku mau ngomong sesuatu tapi kamu jangan marah ya, Fan?" Ucapnya serius.
"Ngomong aja, Mas."
"Boleh.....Rafa ikut tinggal sama aku?" Ucap Mas Rasya.
__ADS_1
Karena ruangan gaduh karena nyanyian lagu anak-anak sehingga aku tidak terlalu mendengarkan apa yang di katakan Mas Rasya.
"Kan dari dulu aku bilang Mas boleh kapanpun menemui Rafa."
"Maksudku Rafa tinggal sama aku, Fan.' Ucapnya sambil tertunduk.
Aku membulatkan mata menatapnya. Sungguh aku tak rela kalau Rafa tinggal bersamanya.
"Nggak, Mas...aku nggak bisa pisah dengan Rafa."Ucapku menggeleng.
"Aku mohon, Fan!Biarkan Rafa tinggal bersamaku.Apalagi......" Ucapnya menggantung.
"Apalagi apa, Mas.?"
"Kamu kan punya beberapa anak, kamu nggak akan kesepian kalau Rafa ikut aku." Ucapnya tanpa perasaan.
Aku merasa harga diriku seorang ibu tak ada harganya. Meskipun aku punya banyak anak aku tak rela kalau salah satu anakku terpisah denganku.
"Walaupun aku punya banyak anak, aku tak rela kalau aku pisah sama Rafa." Ucapku tegas.
"Kalau mau punya anak ya.. nikah lagi dong, Mas? Jangan ambil anakku.' Ucapku ketus.
"Dia kan anakku juga." Ucapnya tak mau kalah.
"Aku ibunya, aku yang melahirkan dia, aku yang membesarkan dia, setelah dia besar kamu seenaknya mau ambil dia? Aku nggak setuju!" Ucapku pelan tapi pasti, takutnya ada yang dengar.
Mas Rasya hanya menghela nafas karena penolaka ku. Ibu mana yang rela berpisah dengan anaknya yang dari kecil bersamanya dan kini sudah besar tinggal mau ambil saja. Benar-benar Mas Rasya tidak punya perasaan.
"Ya..sudah kalau kamu nggak setuju, aku bisa apa." Ucapnya sendu.
Ada rasa iba muncul dalam hati tapi aku juga tidak bisa menurutinya.
Mas Rasya hanya terdiam memperhatikan anak-anak yang sedang bermain bersama.
"Kenapa nggak ngajak ibu?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Sakit pinggangnya kambuh, dia titip salam ke kamu." Ucapnya terus memperhatikan anak-anak.
Kami terus berbincang masalah Rafa dan yang lainnya. Cerita kami mengalir saja, rasa canggung tidak terasa lagi, kami layaknya seperti teman.
"Kenapa Mas nggak menikah lagi?" Tanyaku.
"Belum dapat yang kayak mantan aku." Ucapnya tersenyum.
"Yaelah mulai lagi" batinku.
"Aku mau fokus sama Rafa saja." Ucapnya menambahkan.
"Sebaiknya fokus cari pendamping dulu, Mas."
"Kamu aja yang cari'in." Ucapnya lagi
"Yang mau nikah siapa yang nyariin siapa." Kataku ketus.
"Kalau kamu yang nyariin aku yakin dia akan jadi ibu yang baik buat Rafa."
"Serius, Mas?' Tanyaku semangat.
__ADS_1
Dia mengangguk dan tersenyum ke arahku.
"Sama Bi Rahmi aja, Mas." Ucapku terkekeh.
Mas Rasya menepuk jidatnya tak percaya dengan apa yang aku katakan.
"Nggak ada yang lebih muda dikit, Fan?
"Lho...kan tadi kamu bilang."
"Tapi nggak gitu juga, 'kan? Mana bisa buat adiknya Rafa kalau aku nikahnya sama perempuan expired." Ucapnya terkekeh.
"Maksudnya." Tanyaku bingung.
"Ya ...monopouse." Ucapnya tertawa, akupun ikut tertawa.
"Dosa ghiba-in orang." Suara Rayhan sontak membuat aku dan Rasya menghentikan tawa.
Rayhan duduk pas di kursi yang jadi perantara kami, dia langsung melingkarkan tangannya di bahuku.
"Mas Rasya minta di cariin calon." Ucapku pada Rayhan, takut dia salah paham.
"Mau yang bahenol, kerempeng, gendut, virgin atau second?" Ujar Rayhan menatap Mas Rasya.
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan suamiku.
"Apa aja yang penting cantik, seksi, lembut, penyayang, virgin, dan yang utama bisa jadi ibu yang baik kayak mamanya Rafa." Ucap Mas Rasya tak mau kalah.
Dasar Mas Rasya kalau bicara dia nggak mau kalah, ya..dia memang jagonya apalagi soal ngegombal dia ahlinya
"Bini gue buaaaaaanget." Ucap suamiku melirik ku sambil menggenggam tanganku.
Mas Rasya hanya senyum terpaksa, kulihat dia tidak merasa nyaman karena melihat kemesraan kami.
"Yang kamu cari itu Pak Rasya...sayangnya Limited Edition." Ucap suamiku lagi.
"Makanya aku nggak menikah." Jawab Mas Rasya.
Karena nggak merasa nyaman akhirnya aku meninggalkan mereka berdua.
Aku bergabung dengan Fira dan dokter Tiara yang terus memangku putrinya yang bernama Asyifa.
Aku mencoba mengambil Asyifa tapi dia terus memeluk mamanya.
"Yuk main sama Tante." Ucapku lagi.
Dia hanya menggeleng.
Fadiyah dan Farhan datang menghampiri kami.
"Adee...." Panggil Fadiyah ke Asyifa.
Asyifa menoleh dan memperhatikan Fadiyah. Dan akhirnya Asyifah mau bermain dengan Fadiyah dan Farhan. Tapi jangan panggil Fadiyah kalau nggak usil. Dia mengambil bando Asyifa dan memakainya dan itu membuat Asyifa menangis sekencang-kencangnya.
Tangis Asyifa memekik telinga. Membuat Pak Erwin segera menghampiri anaknya. Dia mengira anaknya jatuh.
Setelah mengetahui pelakunya Fadiyah, dia langsung menggendongnya, dan menciumnya. Fadhiyah terkekeh geli karena tertusuk kumis tipis pak Erwin.
__ADS_1
"Kamu yah...dari mau brojol sampai sekarang sukanya ngerjain Om." Ucapnya terkekeh.
Memang anak bungsuku itu dekat dengan Pak Erwin sejak kecil.