
Hidup adalah sebuah perjalanan . Ia tak pernah lepas dari dua kondisi, apakah angin sedang berpihak kepada kita atau angin sedang berpihak kepada orang lain. Roda nasib selalu berputar, tidak ada yang selalu di atas dan tiada pula yang selalu dibawah.Terkadang datang kebahagiaan menyapa kita terkadang pula kesedihan dalam hidup kita.Bersedih itu wajar tatkala kita mendapatkan musibah tapi kita tak boleh larut dalam kesedihan itu karena diluar sana masih banyak orang yang musibahnya lebih besar dari kita.
Aku melangkahkan kakiku keluar dari ruangan dokter Ibnu. Ucapan dokter terus terngiang. "Bagaimana reaksi suamiku kalau mengetahui kalau dia lumpuh." batinku..
Hari ini di saat berita bahagia kudapatkan dengan kehamilanku tapi kebahagiaan itu beriringan dengan datangnya sebuah musibah yang menimpa suamiku.
Aku bergegas ke ruang perawatan suamiku Aku langsung mendekat ke arah Rayhan yang sedang tertidur, mungkin efek obat yang di berikan oleh dokter.
"Kamu pasti sembuh." Gumanku.
Aku bersyukur tidak ada masalah serius di bagian kepalanya. Walaupun dokter mengatakan kalau kemungkinan terburuk dia akan mengalami kelumpuhan. Aku memutuskan tidak memberi tahukan suamiku apa yang di sampaikan oleh dokter.
Ayah dan ibu masih setia menjaga Rayhan, sedangkan Ridho sudah kembali.
Ibu menyodorkan nasi kotak supaya aku memakannya. Walaupun susah aku memaksakan diri untuk memakannya walaupun sedikit demi janin yang ada dalam perutku.
" Apa yang di katakan olek dokter?"Tanya ibuku di saat aku menyendokan nasi di mulutku.
"Tidak ada masalah yang serius, Bu." jawabku berbohong.
"Sebaiknya kamu pulang dulu lihat anak-anakmu, nanti ibu dan ayah yang menjaga suamimu."
"Aku sudah menelpon Bi Rahmi, Bu. Katanya Farha dan Farhan tidak rewel." jawabku.
Aku mencoba membaringkan tubuhku di sofa. Karena merasa kelelahan akhirnya aku tertidur.
Menjelang magrib aku terbangun karena mendengar suara. Setelah mengerjapkan mata ternyata ayah dan mama mertua sudah datang.
Mama mertua langsung memelukku sambil menangis.
"Rayhan nggak apa-apa, Ma." Ucapku mencoba menenangkannya.
Aku mencoba menahan tangis tapi nyatanya buliran itu terus menetes.
Karena mungkin mendengar kami ribut atau efek obat sudah berangsur hilang akhirnya Rayhan terbangun. Kulihat wajahnya menyiratkan sakit tapi dia masih berusaha tersenyum kepada kami.
"Sa--sayang...." Ucapnya pelan.
Aku dan mama mertua mendekat dan menggenggam tangannya.
"Kamu istirahat dulu, jangan banyak bicara." Ucapku menasehatinya.
Dia hanya menurut saja dan memejamkan matanya kembali.
Malam telah tiba, aku memutuskan menemani Rayhan di Rumah Sakit, meskipun ibu dan mama mertua menyuruhku pulang tapi aku kekeuh menemani suamiku. Akhirnya Ibuku yang pulang ke rumah untuk membantu Bi Rahmi menjaga si Kembar.
__ADS_1
Keesokan harinya, keadaan Rayhan sudah lebih baik. Dia sudah bisa diajak bicara meskipun masih terlihat sangat lemah.
"Kamu benar-benar hamil?" Tanyanya pelan.
Aku hanya bisa mengangguk. Terlihat senyum di wajahnya.
Aku menggenggam tangannya dan menciumnya.
"Kamu cepat sembuh, ya?" Ucapku berusaha tegar di depannya.
Hanya senyum yang bisa dia berikan padaku.
Tok...tok
Ternyata dokter Ibnu yang datang memeriksa. Perban di kepala Rayhan sudah di buka karena lukanya sudah mengering di hari ke empat di opname di Rumah Sakit.
"Sudah tidak pusing lagi pak Rayhan?" Tanya dokter Ibnu.
" Tidak, Dok."
Dokter kemudian memeriksa di bagian kaki. Aku melihat dia menekan dan mencubit bagian kaki suamiku.
'Apa yang anda rasakan, pak Rayhan?"
"Tidak ada, Dok." jawab Rayhan.
"Kenapa saya tidak bisa menggerakkan kaki saya, Dok?" Tanya Rayhan terlihat khawatir.
Dokter menyuruhnya menggerakkan kembali kakinya tapi hasilnya tetap sama.
"Dok...tolong katakan kenapa dengan kaki saya?" Tanya Rayhan mulai frustasi.
Aku hanya bisa terus mengelus pundak suamiku mencoba menenangkannya. Aku sudah bisa menebaknya karena memang sudah di sampaikan oleh dokter tentang keadaannya.
"Maaf, Pak Rayhan...sepertinya anda mengalami kelumpuhan."
Deg... jantungku terasa mau meloncat keluar, tatapan Rayhan langsung melihat ke arahku.
Hatiku terasa pilu melihat netranya yang berkaca-kaca. Raut wajahnya sangat sedih mendengar kenyataan kalau dia mengalami kelumpuhan.
Orang tua Rayhan pun yang baru datang tak kalah sedihnya saat mendengar apa yang dikatakan oleh dokter.
"A--apa anak saya masih bisa sembuh, Dok?" Tanya ayah mertua.
Sedangkan ibu Rayhan tak bisa mengatakan apa-apa saking shock nya mendengar anak laki-laki satu-satunya mengalami kelumpuhan bahkan makanan yang ditangannya langsung terjatuh di lantai.
__ADS_1
"Kami akan berusaha, Pak." Ucap dokter Ibnu.
Setelah memeriksa dan memberikan penjelasan akhirnya dokter Ibnu keluar.
Mama mertua langsung mendekati anaknya dan memeluknya. Tangis pilu ibu dan anak itu terdengar sangat menyayat hati. Aku tak kuasa menahan air mata yang terus menetes di pipi. Aku merasakan sakit yang di rasakan oleh suamiku. Aku tak bisa melihatnya terpukul begini. Sakitnya adalah sakitku, lukanya adalah lukaku.
"Aku tidak berguna lagi, aku lumpuh, Ma!"Ucapnya terisak di pelukan mamanya.
Hatiku semakin teriris bagai disayat silet mendengar ucapannya.
"Siapa bilang kamu tidak berguna?" Ucapku di sela tangisku.
Dia melepaskan pelukan mamanya dan meraih tanganku.
"Aku lumpuh, Fan." Ucapnya.
"Kamu pasti sembuh, " Ucapku memberi semangat.
"Bagaimana kalau tidak? Kamu tidak akan meninggalkan aku 'kan?" Ucapnya menatapku.
"Aku nggak akan pernah ninggalin kamu kecuali maut yang memisahkan kita,"Ucapku lagi.
"Tapi aku lumpuh." Kalimat itu yang selalu keluar dari mulutnya.
"Aku akan setia mendampingi kamu walaupun kamu tak bisa berjalan, aku akan menjadi tongkat bagimu, bagiku apapun dirimu aku akan selalu bersamamu, karena aku mencintai kamu bukan karena fisikmu tapi karena hatimu." Ucapku memeluknya.
Aku melerai pelukan dan menghapus air matanya dengan ibu jariku.
"Kamu jelek kalau nangis." Ucapku.
"Maaf kan papa, Nak.. disaat kamu hadir di sini papa tidak bisa memanjakan kamu." ucapnya mengelus perutku yang masih rata.
Mama dan papa mertua mendengarnya langsung menoleh ke arahku.
"Kamu hamil, Sayang?" Tanya mama mertua.
"Iya, Ma." Ucapku.
"Alhamdulillah Ya Allah." Ucap Papa dan Mama mertua bersamaan.
"Kamu makan dulu, kasihan calon baby kita." Ucap Rayhan tersenyum.
"Kamu juga makan supaya cepat sembuh, supaya bisa jenguk baby kita " Ucapku berbisik takut si dengar mertua.
Aku sengaja mengatakan itu supaya dia semangat untuk sembuh , aku akan berusaha membuatnya selalu tersenyum supaya dia melupakan apa yang menimpanya.
__ADS_1
Kami makan bersama dengan piring yang sama, aku menyuapinya dan menyuapi diriku sendiri.
Perlu pembuktian dengan tindakan dan sikap yang nyata untuk menguji sebuah kesetiaan. Hal tersebut tentunya sebagai penguat ucapan agar tak hanya manis di bibir belaka. Mungkin Tuhan menguji cinta dan kesetiaan kami dengan memberikan musibah ini. Karena sejatinya kesetiaan adalah pondasi utama untuk menguatkan sebuah cinta.