
Waktu begitu cepat berlalu, bahkan tahun berganti tahun. Tak terasa Rafa kini sudah menginjak remaja.
Setelah umur Fadiyah tiga tahun aku melahirkan lagi anak laki-laki yang aku beri nama Fadhil.
Mas Rasya masih betah dengan hidup menduda. Bahkan mantan ibu mertua pernah menghubungiku agar menyuruh membujuk Mas Rasya untuk menikah lagi. Aku juga tidak mau terlalu ikut campur dengan urusan pribadinya karena itu privasi Mas Rasya.
Tiap weekend Rafa selalu menginap di rumah papanya. Tidak ada yang salah dengan hal itu karena ayah dan anak itu memang dekat.
Tapi entah kenapa setelah Rafa pulang dari rumah papanya kali ini dia terlihat sering melamun dan menyendiri. Biasanya selesai makan malam dia akan bermain dengan adik-adiknya.
Tapi kali ini setelah makan malam, Rafa langsung bergegas ke kamar. Ketika Rayhan tanya dia hanya mengatakan kalau dia ingin belajar.
Sudah dua hari ini semenjak dia pulang dari menginap di rumah papanya dia terlihat mengurung diri. Aku ke kamarnya ingin menanyakan, jangan sampai dia ada masalah dengan teman di sekolahnya. Aku membuka pintu kamarnya dan terlihat dia terduduk sambil memandang foto yang di dalamnya ada aku, dia dan papanya.
"Mama boleh masuk, Nak?" Tanyaku padanya.
Dia hanya menghela nafas dan meletakkan bingkai foto di tempatnya semula.
"Kamu ada masalah?" Tanyaku ketika duduk di sampingnya.
"Nggak, Ma." Ucapnya tanpa menoleh ke arahku.
"Bilang sama Mama, karena sudah dua hari ini Mama lihat kamu di kamar terus, adik kamu pingin main sama kamu." Ucapku.
"Kenapa Mama ninggalin, Papa?" Tanyanya to the point dengan mata berkaca-kaca.
Deg..... jantungku seakan berdegup kencang dengan pertanyaan anakku itu.
Aku ingin menjelaskan tapi aku tak tau harus memulainya dari mana. Tapi bagiku saat ini bukan waktu yang tepat dia mengetahuinya. Pemikirannya masih labil.
"Kenapa, Ma?" Tanyanya lirih.
"Dengar Mama,Nak. Saatnya nanti kamu akan tau kalau kamu sudah besar ." Kataku pada anakku.
"Apa Mama ninggalin Papa karena Papa Ray?" Tanyanya lagi.
Mataku membulat sempurna mendengar pertanyaan putraku itu.
"Bukan karena papa Ray, Nak." Belaku.
"Tapi buktinya mama dengan papa Ray sedangkan papa sampai sekarang masih sendiri " Ucap Rafa lagi.
"Kamu tidak akan mengerti, Nak?" Aku tak tau harus menjelaskan apa.
"Aku kasihan sama Papa, dia kesepian bahkan foto mama masih ada di dompet papa." Ucapnya lirih.
__ADS_1
Aku sungguh tak menyangka kalau Mas Rasya masih menyimpan fotoku.
"Aku mau tinggal sama Papa, Ma." Ucapnya lagi.
Ada nyeri dalam hatiku mendengar pernyataan anakku. Katanya dia kasihan sama papanya karena dia hidup sendiri. Memang Mas Rasya terkadang tinggal sendiri karena ibunya terkadang ke rumah adik Mas Rasya yang sudah menikah.
"Apa kamu tak kasihan sama, Mama?" Ucapku padanya.
"Mama kan punya Papa Ray dan adik- adik." Ucapnya lagi.
"Mama tak bisa pisah sama kamu, Nak. Jadi Mama mohon kamu jangan ninggalin Mama ya, Sayang?" Ucapku dengan menghapus buliran air mata yang menetes di sudut mata.
Hatiku teriris karena anak yang ku besarkan dengan kasih sayang ingin meninggalkanku dan memilih ikut tinggal bersama papanya.Jangan sampai itu terjadi Ya Tuhan, membayangkannya saja aku tak sanggup.
Aku tak mau mengatakan alasan kami pisah dulu karena aku tak mau putraku tau tentang masa lalu papanya dulu yang berkhianat. Yang Rafa tau papanya adalah pria yang sempurna di matanya.
"Apa papa yang meminta Rafa untuk tinggal bersamanya?" Tanyaku
"Nggak, Ma. Ini kemauan Rafa sendiri." Jawabnya.
"Asal kamu tau, Nak! Mama punya alasan kenapa Mama pisah sama Papa kamu." Ucapku lagi.
"Aku sudah tau Ma, itu semua karena Papa Ray." Timpalnya lagi.
"Cukup, Rafa! Jangan menyalahkan Papa Ray terus." Ucapku sedikit keras.
Ada rasa bersalah dalam hati kenapa aku membentak anak-ku. Baru kali ini aku membentaknya.
Kuraih putraku yang beranjak remaja itu dan memeluknya.
"Maafkan Mama, Nak." Ucapku lirih.
Dia semakin terisak.Tanpa membalas pelukanku.
"Bukannya Mama tak mau mengatakan semua padamu tapi Mama nggak mau kamu kecewa."
"Kenapa, Ma?" Ucapnya terus.
Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan, apakah aku harus jujur padanya.
Kulerai pelukanku padanya. Ku-tatap wajahnya yang sangat mirip dengan papanya. Mungkin saatnya aku harus mengatakan semuanya.
"Tapi janji, setelah Mama mengatakan semuanya kamu jangan benci kami ataupun ninggalin, Mama." Ucapku padanya.
Dia hanya mengangguk.
__ADS_1
Kutarik nafas sebelum mengatakan sebenarnya. Aku merangkai kata yang bisa dia mengerti tanpa harus mengatakan secara detail.
"Mama nggak pernah ada niat ninggalin Papa kamu, tapi karena Mama tak bisa menerima penghianatan Papa jadi kami akhirnya berpisah." Ucapku padanya.
"Mama ketemu sama Papa Ray lama setelah Mama dan Papa-mu pisah." Ucapku menjelaskan.
"Tepatnya Papa kamu selingkuh, Rafa!" Ucap Fira masuk ke kamar kami.
Aku kaget kenapa Fira langsung datang dan masuk dan asal bicara.
Ku beri kode pada Fira supaya tak banyak bicara. Dasar Fira yang ceplas- ceplos langsung mengatakannya.
"Sudah saatnya Rafa tau karena dia kan sudah gede ya Raf?" Ucap Fira tak merasa bersalah.
Rafa langsung memeluk-ku dan menangis sejadi-jadinya.
"Maafin Rafa, Ma." Ucapnya terisak.
"Setiap manusia itu punya salah dan khilaf, jadi Mama minta kamu jangan marah sama Papa ya,Nak? Ucapku mengelus rambut pendeknya dan dia pun mengangguk. Aku tak tau apakah itu sesuai kata hatinya, entahlah...
"Masa cowok nangis, lebay ah." Ucap Fira sambil berlalu keluar dari kamar.
Setelah Rafa berhenti menangis aku mencairkan suasana.
"Kamu jelek kalau nangis " Ucapku terkekeh.
"Biarpun nangis Rafa tetap gagah kok, Ma." Ucapnya PD.
"Yuk ..main sama adik-adik kamu ." Ucapku.
"Aku mau kerja PR dulu, Ma." Ucapnya beralasan.
Aku keluar dan meninggalkan Rafa. Setelah tiba di ruangan keluarga kulihat Fira dan suami serta anak-anaknya.
"Tumben datang malam-malam " Tanyaku.
"Kami dari makan di luar, Kak dan anak-anak maksa pingin terus kesini." Ucap Fira
"Kalian nginap aja." Tawarku pada mereka.
Tapi Fira menolak alasannya pintu pagarnya nggak di gembok.
Fira menghampiriku dan menanyakan Rafa. Aku menceritakan padanya dan Fira mengatakan kalau memang waktunya Rafa harus tau supaya dia tak salah anggapan kalau akulah yang meninggalkan papanya karena adanya Rayhan.
Semoga sikapnya terhadap papa kandungnya tak berubah setelah tau yang sebenarnya. Aku juga tak mau dia membenci papanya.
__ADS_1
Rasa kecewa pasti ada dalam hati Rafa karena selama ini tak ada ada cela yang dia tau tentang papa kandungnya. Tapi aku yakin Rafa punya hati yang seluas samudra untuk memaafkan kekhilafan papanya. Meskipun Rafa cowok tapi mempunyai hati yang lembut dan baik yang bisa menerima kekhilafan papanya di masa lalu.