SESAL

SESAL
Kangen Pelukan Kamu


__ADS_3

Dua Minggu sudah Rayhan di rawat di Rumah sakit. Selama itu pula aku terus menemaninya meskipun tiap harinya aku pulang ke rumah untuk menemui anak-anakku.


Dokter sudah memperbolehkan pulang dan tetap harus ke dokter untuk melakukan terapi untuk pemulihan.


Untuk kehamilanku masih seperti sebelumnya, aku tak merasakan ngidam apa pun. Sehingga aku bisa merawat suamiku dengan baik.


Kami di jemput oleh Ridho dan orang tua Rayhan di Rumah Sakit.


Setelah sampai di rumah Ridho segera membantu Rayhan turun dari mobil dan mendudukkannya di kursi roda.


Rasa haru ketika dia bertemu dengan anak-anaknya. Farha dan Farhan langsung berlari memeluk papanya, begitu juga dengan Rafa.


Setelah melepas rindu dengan anak-anaknya aku membawanya ke kamar yang ada di lantai satu.


Ridho membantunya untuk berbaring di tempat tidur.


"Aku keluar dulu," pamitku padanya.


"Jangan lama-lama ya, Sayang." Ucapnya.


Aku hanya mengangguk tersenyum sambil berlalu meninggalkannya.


Saat aku keluar kamar ayah mertua memanggilku ke ruang tamu dan saat menemuinya aku melihat ada seseorang laki-laki sekitar empat puluh tahun yang bersama beliau.


"Kenalkan ini Erwin, dia yang akan membantu kamu untuk mengurus Rayhan."


"Ta--tapi, Pa." Ucapku heran kenapa mesti cari orang untuk mengurus suamiku.


"Jangan kuatir, Nak. Erwin ini orang kepercayaan--ku."


"Aku bisa mengurus suamiku sendiri, Pa"Ucapku protes.


"Aku mengerti, tapi kamu kan sedang hamil, kamu tidak boleh kerja yang berat-berat, Tepatnya Erwin ini akan menjadi tangan kanannya Rayhan dan jika kamu pingin apa-apa kamu bisa bilang sama dia." Ucap papa mertua menjelaskan.


Ya memang kalau cuma membantunya makan dan minum aku bisa tapi saat memindahkan suamiku dari kursi roda ke tempat tidur aku merasa kesusahan karena di samping badan suamiku besar aku juga hamil muda.


Walaupun sebenarnya aku merasa tak mau di bantu oleh seseorang mengurus suamiku akhirnya aku menyetujui kemauan papa mertua.


Setelah pembicaraan kami selesai aku kembali ke kamar menemui suamiku. Karena Farha dan Farhan sedang asyik bermain bersama Rafa dan mama mertua.


"Kenapa lama banget sih, Sayang?" Tanya suamiku


"Papa tadi manggil aku," jawabku.


Kemudian dia memanggilku berbaring di sampingnya. Aku hanya menurutinya. Entah kenapa semenjak setelah kecelakaan dia begitu manja, tak mau di tinggalkan lama-lama. Bahkan waktuku bersama anak-anak sudah sangat jarang. Untuk anak-anak seakan mengerti keadaan papanya. Mereka tidak rewel ataupun menangis mencari papa dan mamanya.


Dia mengelus perutku yang masih rata. Aku hanya bisa terdiam dan meraih tangannya untuk aku cium.


Lama kami terdiam tak ada suara. Kami hanyut dalam pemikiran kami masing-masing.

__ADS_1


"Aku takut." Ucapnya memecah keheningan.


Aku mendongak menatapnya.


"Kenapa harus takut, Sayang?" Ucapku lembut.


"Jika seandainya aku lumpuh selamanya, bagaimana dengan anak-anak kita?" Ucapnya sendu.


Ingin rasanya aku menangis tapi sekuat tenaga aku tahan, aku tak mau membuatnya semakin terpuruk dengan keadaannya.


"Kami past bisa seperti semula, Sayang." Ucapku.


"Maaf ...Pasti saat ngidam begini kamu pingin di manja, pingin ini itu, ya 'kan?" Ucapnya terus mengelus perutku.


"Nggak kok, Sayang. baby kita sangat pengertian, maunya cuma satu, pingin dekat sama papanya terus." Ucapku berbohong.


Padahal sekarang aku pingin banget makan pangsit langganan depan kantorku yang dulu.


Terdengar dia menarik nafas dan membuangnya perlahan.


Sedang romantis-romantisnya terdengar bunyi perutku yang minta di isi.


"Upss ..aku lapar...hehehe." Ucapku cengengesan.


"Sana makan," Ucapnya ikut tertawa.


Aku rindu tawa itu yang sudah dua Minggu aku tak melihatnya.


"Boleh...tapi suapin." Ucapnya seperti anak kecil.


Aku hanya tersenyum dan berlalu meninggalkannya.


"Apa dia lagi yang ngidam?" Bathinku.


Kalau bisa biarlah aku yang ngidam, jangan dia..cukuplah dia harus menghadapi cobaan ini yang membuatnya lumpuh entah kapan dia bisa berjalan lagi seperti semula.


Setelah keluar kamar aku langsung mengambil ponselku dan memesan pangsit yang di depan kantorku dulu karena memang bisa pesan lewat online.


Aku bergegas ke dapur dan mengambil makanan dan kemudian kembali ke kamar.


Karena perut sudah keroncongan akhirnya suapan pertama mendarat di mulutku. Dan kemudian aku menyuapi suamiku. Begitu seterusnya hingga makanan yang di piring habis tak tersisa.


Setelah selesai makan aku bergegas untuk keluar kamar. Tapi dia melarangku, dia malah menyuruhku memeluknya.


"Kenapa manja banget sih, Sayang?" Tanyaku bingung.


"Aku kangen." Ucapnya santai.


"Lho kan kita sama-sama terus?"

__ADS_1


"Kangen pelukan kamu, udah nggak usah banyak protes pokoknya sini peluk aku." Ucapnya memaksa.


Mau tak mau aku memeluknya bahkan aku mencium pipinya.


"Ada yang tegak, Sayang tapi bukan keadilan." Bisiknya.


Seketika mataku mengarah kebagian bawah dan itu membuat netraku membulat sempurna.


Aku tak habis pikir dengan keadaannya sekarang dia masih mesum seperti ini.


"Kenapa kaget begitu?" Tanyanya.


"Eh...a---anu ..kirain itunya nggak bisa tegak


lagi. hehehe." Ucapku cengengesan.


Setelah sadar dengan ucapanku. Aku mengumpat diriku sendiri kenapa jawaban itu yang keluar dari mulutku.


"Kamu pikir belalai aku lumpuh juga?" Ucapnya cepat.


"Hehe...nggak..." Ucapku menggeleng.


"Tenang saja, Sayang...pencetak gawang kamu masih aman." Ucapnya terkekeh.


"Kamu...bukannya mikirin kesehatan kamu malah mikirin yang itu.... Dasar mesum."


Ucapku beranjak dari tempat tidur karena ada seseorang mengetuk pintu.


Dia masih terkekeh melihatku mengomel.


Sebenarnya aku merasa bahagia melihatnya bisa bercanda kembali. Menurut dokter membuatnya selalu bahagia dan tersenyum itu merupakan salah satu obat yang mujarab karena biasanya orang yang mengalami kelumpuhan akan mengalami stres berat karena tidak menerima kenyataan yang tiba-tiba datang menimpanya. Maka disitulah di butuhkan keluarga atau orang terdekat yang mensupport--nya dan memberikan dukungan moril dan semangat supaya tidak larut dalam kesedihan.


Ternyata mie pangsit yang ku pesan sudah datang. Baru mencium aromanya saja aku sudah tak tahan. Aku langsung ke meja makan dan memakannya dengan lahap. Tak lupa aku menyimpan satu porsi untuk Rayhan.


Setelah menghabiskan pangsit satu porsi aku menemui anak-anakku yang lagi bermain dengan kakek neneknya.


Sedangkan Rayhan berada di dalam kamar bersama Pak Erwin. Mereka terlihat sangat akrab mungkin memang sudah lama kenal makanya ayah mertua berani merekomendasikan untuk membantu mengurus Rayhan.


Tak lama kemudian Rayhan keluar dari kamar di dorong oleh Pak Erwin bergabung bersama kami.


Melihat papanya datang, Farha langsung berdiri dan meminta ayahnya menggendongnya.


Rayhan hanya tersenyum kecut menatap anaknya.


"Sini Mama gendong, Nak."


Farha menggeleng dan tetap merengek di gendong sama papanya.


Akhirnya Rayhan menyuruhku menaikkannya di atas pangkuannya.

__ADS_1


Melihat Rayhan kesulitan menggendong Farha yang memang agak berat karena badannya sedikit montok akhirnya Erwin mengambil alih Farha untuk dia gendong.


Farha pun menurut saja dan tertawa karena Rayhan menggelitik kakinya karena posisinya pas berada di sampingnya.


__ADS_2