
Ini hari ketiga Rafa bersama Mas Rasya. Hari terasa lambat berganti. Meskipun sibuk mengurus si Kembar tapi terasa ada yang kurang karena Rafa sering membuatku tertawa karena kelucuan--nya. Meskipun umurnya masih sangat muda tapi dia sudah bisa di andalkan untuk menjaga ke dua adiknya.
Aku sedang di ruang keluarga bersama si Kembar. Mendengar celotehannya seakan rasa bosan di rumah tidak kurasakan.
Suara bel di luar berbunyi pertanda ada seseorang yang datang. Gegas aku membuka pintu.
"Ma--ma." Teriak Rafa langsung memelukku masih dengan seragam sekolahnya.
Dia datang bersama Mas Rasya. Aku merasa heran bukannya Mas Rasya akan bersamanya selama lima hari.
"Aku nggak di suruh masuk nih?" Ucap Mas Rasya yang masih berdiri di depan pintu.
"Ma--mari masuk, Mas." Ucapku terbata.
Aku mempersilahkan dia di ruang tamu, sedangkan Rafa langsung menemui Farha da Farhan.
"Rumah kamu bagus,Fan,"Ucapnya terus memperhatikan.
"Makasih, Mas." Ucapku canggung
" Lho, bukannya Mas mau bersama Rafa selama lima hari." Tanyaku penasaran.
"Rafa tadi malam nangis katanya kangen sama kamu dan adiknya " Ucapnya lagi.
Aku hanya membulatkan bibirku membentuk huruf O.
Rafa datang membawa kedua adiknya bergabung. Si kembar terus terkekeh karena sering di gelitik oleh Rafa.
Rafa membawa adiknya menghampiri Mas Rasya tapi mereka berlari memeluk-ku. Memang si Kembar kalau melihat orang baru pasti takut mendekat.
"Salim sama Om Rasya!" Pintaku pada mereka.
Tapi mereka hanya menenggelamkan wajahnya di pangkuanku.
Mas Rasya langsung menggendong Farha dan mencium pipi gembulnya.
Yang di cium malah mengusap pipinya sambil mengarahkan tangannya untuk diambil olehku
Aku langsung mengambil Farha dari gendongan Mas Rasya.
Setelah Anak-anak kembali masuk melanjutkan mainnya di ruang keluarga. Hanya aku dan Mas Rasya ada di ruang tamu. Rasa canggung menyelimuti kami berdua.
"Kabar ibu bagaimana, Mas, " tanyaku.
"Baik." Ucapnya singkat.
Dalam hatiku bertanya kenapa Mas Rasya nggak pamit pulang sih.
"Kamu beruntung Fan, sudah punya keluarga dan anak-anak yang lucu."
"Alhamdulillah, Mas." Jawabku singkat.
"Kamu bahagia, Fan?" Tanyanya lagi.
"Saaaangat bahagia." Ucapku semangat.
Terlihat dia menarik nafas panjang kemudian membuangnya perlahan.
"Seandainya aku dulu tidak melakukan kebodohan itu, mungkin akulah laki-laki yang paling berbahagia di dunia ini." Ucapnya sendu.
__ADS_1
"Tak perlu menyesali yang sudah terjadi, Mas." Itu tak akan mengubah keadaan. Mungkin ada yang lebih baik yang Tuhan siapkan buat kamu."
"Aamiin!!Aku pamit dulu ya Fan, besok aku jemput Rafa lagi." Ucapnya.
Setelah menemui Rafa sebentar dia pun bergegas pulang.
Terkadang kita harus merasakan sakit, kecewa sehingga kita bisa menikmati arti sebuah kebahagiaan.Terkadang kita harus kehilangan seseorang sehingga kita bisa mengerti betapa berharganya orang itu terhadap kita.
"Semoga kamu dapat meraih kebahagiaanmu,Mas." Doaku dalam hati.
Hari beranjak senja, suara tawa dan canda anak-anakku menjadi semangat dan pengusir rasa bosan berdiam di rumah.
Aku bergegas ke kamar karena sejak pulang dari kafe suamiku hanya di kamar saja. Setelah masuk di kamar aku tak menemukannya ternyata dia ada di kamar mandi. Setelah menyiapkan pakaian yang akan dia kenakan aku pun berlalu.
Waktu makan malam telah tiba, aku memanggilnya makan malam.
"Rasya datang kesini?" Tanyanya.
"Dia datang mengantar Rafa." Ucapku
"Alasan." Ucapnya singkat.
"Maksud kamu apa sih?" Tanyaku.
"Palingan dia kesini mau ketemu sama kamu." Ucapnya hingga meninggalkan aku di kamar.
"Dia kenapa?" bathinku.
Hingga di ruang makan suamiku yang biasanya banyak bicara kini lebih banyak diam.
Setelah makan malam dia langsung mengajak anak-anak bermain. Setelah aku bergabung dia seolah menghindar dan langsung ke kamar.
Dia bersandar di tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Aku bergegas naik ke tempat tidur dan sengaja menyandarkan kepalaku di dadanya.
"Kamu kenapa, Sayang?" Ucapku.
"Aku tidak suka kalau si Rese itu kesini." Ucapnya to the point.
Bahkan dia memanggilnya si Rese.
"Tapi dia cuma antar Rafa."
"Bukan hanya antar tapi cari kesempatan sama kamu "Ucapnya kesal.
"Ngapain juga dia nanya kamu bahagia atau tidak? Emangnya kalau nggak dia mau bahagiain kamu?" Ucapnya mengomel.
Sejujurnya aku ingin tertawa melihat gayanya mengomel seperti ibu-ibu tapi aku tahan, takut dia tambah marah, aku hanya menggelembungkan pipiku menahannya. Benar-benar suamiku ini umurnya saja yang jumlahnya banyak tapi kelakuannya seperti anak-anak.
"Jadi ini toh masalahnya kamu diamin aku? Kamu masih cemburu sama dia?" Ucapku mendongak kearahnya.
"Siapa bilang aku cemburu?" kilahnya.
"Syukurlah kalau kamu nggak cemburu, besok dia mau kesini lagi jemput Rafa, sekalian dia ngajak aku makan di luar." Ucapku berbohong.
Matanya membulat sempurna menatapku.
"Kamu mau selingkuh?" Ucapnya kesal.
"Bukan selingkuh, cuma makan di luar." Ucapku santai.
__ADS_1
"Kalaupun mau selingkuh ngapain aku bilang sama kamu." Ucapku menahan tawaku.
Dia langsung meraih ponselnya dan terlihat menghubungi seseorang.
"Hallo...Sayang." Ucap Rayhan.
Kini giliran aku yang membulatkan mataku menatapnya.
""Aku juga kangen kamu, besok kita ketemu di tempat biasa ya, Sayang!! Muaccchhhhh." Jawab Rayhan di telepon.
Aku langsung merampas ponselnya ingin melabrak orang tersebut. Tapi sayang sambungan sudah terputus.
Aku menatap tajam Rayhan, perselingkuhan Mas Rasya terbayang dalam ingatan ku. Apa aku harus mengalaminya lagi.Hingga mataku berkaca-kaca.
"Kamu selingkuh?" Tanyaku lirih.
Dia hanya terdiam.Dengan diamnya berarti benar.
"Ternyata aku begitu bodoh terlalu percaya sama kamu." Ucapku terisak.
Aku berbalik dan hendak turun dari tempat tidur. Tapi dia memelukku dari belakang. Aku hanya bisa terdiam dan menangis.
"Happy Anniversary, Sayang." Ucapnya mengecup pipiku.
Netraku membelalak sempurna mendengar ucapannya.
Kemudian dia memasangkan kalung berlian yang sangat cantik di leherku. Setelah kalung terpasang sempurna dia beralih ke hadapanku dengan senyum yang merekah.
"Happy Anniversary My Lovely Wife." Ucapnya mengecup keningku.
Kini air mata terus menetes di pipi tapi ini air mata kebahagiaan.
"Kok masih nangis, sih?" Ucapnya terkekeh sambil menghapus air mata di pipiku.
"Yang di telpon tadi siapa?" Ucapku masih terisak.
"Nggak ada." Ucapnya tertawa.
Aku mencubit gemas pinggangnya, niatnya aku yang mau ngerjain dia ternyata malah sebaliknya.
"Awwww...sakit...Sayang." Aku terus mencubit pinggangnya.
"Siapa suruh ngerjain aku." ucapku manja.
"Yang mulai kamu, "kan?" Ucapnya mencubit pipiku.
"Cukup kali ini bercandanya masalah begituan, jujur aku trauma." Ucapku.
"Aku bersumpah nggak akan menduakan kamu, karena hatiku sudah mentok di kamu, Sayang!! dan aku percaya seratus ...bahkan seribu persen sama kamu,!Ucapnya pasti.
"Makasih, I love you Sayang...Muachhhhh." menirukan gayanya saat dia menelpon tadi.
"I love you too." Mencium bibirku dengan lembut.
"Yuk kita rayain malam Anniversary kita, Sayang." Ucapku genit.
"Ahhhaiiiii ini yang aku tunggu, Sayang." Ucapnya semangat dan langsung membaringkan ku di tempat tidur.
Kini aku yang lebih agresif padanya, aku ingin malam Anniversary kami menjadi malam yang sangat indah dan berkesan buatnya.
__ADS_1