
Wina kian hari, kian membenci Rini.Kejadian hari ini adalah puncak dari segala amarahnya.Ia sudah bertekat untuk membalas semua sakit hatinya pada Rini.Seminggu setelah kejadian itu Wina nekat pergi keseorang dukun langgananya.Ia sudah dibutakan oleh keserakahan sehingga menghalalkan segala cara.
"Mbah aku ingin wanita ini, mati perlahan-lahan agar dia merasakan apa yang aku rasakan selama ini" ucap Rini pada sang dukun sambil memperlihatkan sebuah foto
"Kamu yakin mau melakukan ini? Ini resikonya sangat besar"
"Apapun resikonya akan aku tanggung" jawab Wina mantab"
"Baiklah, aku hanya sebagai perantara sementara semua resiko kau yang harus tanggung"
"Siap mbah"
"Mbah, akan kirimkan santet pada madumu, ia akan kesakitan setelah aku mengirimkan ini padanya"
"Sip, aku sudah nggak sabar melihat perempuan sombong itu sekarat"ucap Wina sambil menyeringai.
Beberapa hari setelahnya dikediaman Rini.Hari ini ia akan bertemu dengan Sita untuk memberikan laporan penjualan kosmetiknya.Hasilnya sangat luar biasa.Rini bangga dengan dirinya sendiri hingga bisa mandiri seperti ini.Dengan senyum terus mengembang dibibirnya ia menemui Sita dikafenya.
"Duduk Rin, ceria sekali kamu hari ini?" tanya Sita.
"Iyalah mbak, cuan udah didepan mata.Makasih ya mbak sudah bimbing aku sampai sejauh ini" ucap Rini.
"Santai aja, kaya sama siapa aja. Kamu happy begini, pasti bukan hanya masalah cuan, belakangan ini kamu nggak pernah mengeluh soal madu kamu itu, kamu udah nyerah atau bagaimana?," ucap Sita.
"Nggaka ada kamus nyerah mbak, kayaknya si pelakor itu udah nggak berkutik.Dia udah nggak ganggu-ganggu aku lagi" ucap Rini.
"Syukurlah kalau begitu aku ikut senang" ucap Sita tulus
"Mbak...aduh....kenapa perutku tiba-tiba sakit begini, sa..ki...tttt." tiba-tiba Rini merintih.
"Rin, kamu salah makan apa bagaimana?" Sita mulai panik melihat sita kesakitan.
"Aduh kepalaku rasanya seperti ditusuk-tusuk mbak,"
"Rin...Rin..." ucap Sita sembari mengoyangkan tubuh Rini.
Pandangan Rini mulai mengelap, semua pekat ia akhirnya tak sadarkan diri.Tak kuat menahan sakit kepala dan perut yang terus bergantian.
__ADS_1
"Tolong...tolong...ada yang pingsan" teriak Sita.Sontak semua yang ada disitu menoleh dan menolong Rini.Hingga beberapa saat Rini tersadar kemudian pingsan lagi.Sita melarikan Rini kerumah sakit kemudian ia menghubungi suami Rini mengabarkan keadaan Rini.
Sementara itu Boni yang mendengar kabar istrinya dibawa kerumah sakit langsung bergegas hendak menyusul.
"Mas,kok buru-buru amat,mau kemana?" tanya Wina yang sedang bersama Boni
"Rini tiba-tiba pingsan dan dilarikan kerumah sakit"
"Bagus!, hebat juga itu dukun.Nggak sia-sia aku bayar mahal" batin Wina
"Kasian sekali mbak Rini, mas apakah aku boleh ikut menjenguknya?"
"Aku rasa nggak usah, nanti malah memperburuk suasana.Kamu doakan saja semoga Rini baik-baik saja"
"Padahal aku ingin sekali lihat dia menderita, jangan buru-buru mampus dulu sebelum aku puas bermain-main" batin Wina sambil tersenyum
"Win, kamu kok malah senyum-senyum gitu,kamu senang mendengar Rini sakit?" tanya Boni
"Mas Boni ini, ada-ada saja nggak mungkinlah aku senang mbak Rini sakit.Meskipun dia jahat sama aku tapi aku sayang sama dia" kilah Wina
"Terus ngapain kamu senyum tadi?"
"Kamu jangan ngomong kaya gitu, nggak baik"
"Makanya buruan kesana, sampai sana setelah lihat kondisi mbak Rini kabari aku yah, biar aku tenang"
"Iya, aku pergi dulu ya" ucap Boni sambil mengecup kening Wina.
Boni segera menyambar sepeda motornya memaju dengan kecepatan tinggi.Hatinya sungguh tidak tenang, karena selama ini Rini jarang sakit.Sampai disana ia melihat Sita menunggu di depan ruangan dimana Rini sedang ditangani.
"Bagaimama keadaan istriku?"
"Belum tau, dokter juga belum keluar.Kita tunggu dulu sampai dokter keluar"
"Kenapa dia sampai pingsan?" tanya Boni penasaran.
"Nggak tau, tadi dia baik-baik aja terus tiba-tiba kepalanya sakit, perutnya sakit bergantian" ujar Sita
__ADS_1
"Ini semua pasti gara-gara kamu, kamu salah kasih makan atau gimana?"
"Kamu jangan asal tuduh, makanan yang dipesan Rini sama aku itu sama kalaupun Rini sakit pasti aku juga sakit"
"Hallah alasan aja kamu, jelas saja kamu baik-baik aja.Makanan yang kamu makan nggak diracuni, sedangkan Rini kamu racuni.Itu kan resto punya kamu jadi kamu bebas melakukan apapun"
"Kita lihat saja nanti, tunggu keterangan dari dokter.Sebagai orang yang berpendidikan harusnya kamu ngerti.Kalau menuduh tanpa bukti itu namanya fitnah, ingat hal ini dalam hukum namanya pencemaran nama baik.Kamu ngerti kan maksud aku?," ucapan Sita seketika membuat Boni tak berkutik.Ia tau Siapa suami sita dan keluarganya main-main dengan dia sama saja uji nyali dikantor polisi.
Tak lama kemudian dokter keluar dari ruangan Rini dirawat.Boni langsung bergegas menghampiri sang dokter.
"Setalah melakukan serangkain pemeriksaan Ibu Rini, tidak apa penyakit apapun yang serius"
"Tapi kenapa tadi tiba-tiba pingsan dan menjerit kesakitan begitu?" tanya Sita penasaran.
"Memang faktanya tidak ditemukan penyakit yang serius pada Ibu Rini, hal ini mungkin disebabkan oleh stres yang berlebihan atau kecapean,"
"Betul dong, mungkin istri saya stres karena tekanan kerja dari perempuan ini," ujar Boni masih saja menyalahkan Sita.
Sita menatap tajam kearah Boni tak mungkin ia membalas kata-kata Boni yang membuat telinga Sita memanas.Setelah dokter pergi Sita langsung berbicara.
"Kamu nggak ngaca? Selama ini siapa yang bikin Rini Stres?, oh aku lupa, saking terlalu sibuknya punya istri dua sampai lupa beli kaca.Tenang saja nanti aku kirimkan kaca yang gede buat kamu ngaca," ujar Sita.Lalu meninggalkan Boni begitu saja.Ia langsung masuk ke ruang perawatan Rini.
"Rin, gimana keadaan kamu?" tanya Sita cemas
"Aku nggak merasakan apa-apa lagi,bahkan aku merasa baik-baik saja.dokter saja mengijinkan aku pulang,"
"Syukurlah kalau begitu, aku ikut senang.Karena sekarang sudah ada suamimu yang nggak berguna ini, aku pulang sekarang ya"
"Makasih ya mbak untuk semuanya, maafkan aku yang selalu merepotkanmu"
"Jangan dipikirkan, jaga kesehatan kata dokter lamu hanya kelelahan dan stres aja. Dan suamimu yang paling baik seduania ini bilang akulah penyebab stresmu, sementara waktu jangan di prosir kerjaan dulu ya" ucap Sita sambil mengemgam tangan Rini.
Sesaat kemudian Sita benar-benar meninggalkan Rini dan Boni.Setelah kepergian Sita Rini langsung menatap tajam kearah suaminya.
"Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu dengan mbak Sita yanh selalu ada untukku yang harusnya itu tugasmu.Dasar manusia tidak tau diri, kalau kau ingin tau kenapa aku stres itu karena dirimu" ucap Rini sambil menatap tajam kearah Boni.
Saat Boni hendak berucap, tiba-tiba Rini merasakan kesakitan yang luar biasa pada kepalanya seperti di tusuk-tusuk, ia menjerit karena tidal tahan dengan sakit yang ia rasakan
__ADS_1
Tbc
Janggan lupa like, commen dan favoritenya biar author semangat meskipun nggak di bayar