
Pada saat Hendak menyebur kejembatan Hendra langsung ditarik kasar oleh seseorang.
"Woi mau mati?"
"Sini gue timpuk pala loe pake palu ini.Kalau elu mau nyebur ke jurang itu, iya kalau Elu mati, kalau kagak bagaimana? Elu bakal cacat seumur hidup.Hidup segan mati tak mau" Sinis laki-laki rupanya tukang bangunan yang baru aja lewat disitu.
"Peduli apa Elu sama hidup gue, tau apa tentang hidup gue. Jadi stop jangan cegah gue buat terjun kebawah" maki Hendra.
"Elu cuma mau mati kan?, gue panggilin alat berat buat nggiles loe disini sekarang kalau pingin mati.Tapi sebelum elu gue giles minta ampun dulu dengan kedua orang tuamu dan orang-orang terdekatmu, Ini hp gue, sekarang elu hubungi keluarga elu dan bilang kalau elu mau dilindes pakai alat berat di depan mereka"
"Gue nggak segila itu. Gue nggak akan bikin Ibu gue sedih"
"Loe, pikir kalau elu masuk jurang terus nggak mati, Ibu Loe nggak sakit hati"
Hendra tertegun dengan perkataan orang iru tadi.Seketika ia teringat dengan Ibunya walau bagaimanapun juga kalau dia terluka pasti orang yang paling sakit itu Ibunya.Dengan lemas ia menyender di pembatas jembatan.
Berkali-kali ia menarik nafas panjang.Hampir saja ia melakukan hal konyol andai tak ada laki-laki disampingnya ini.Meskipun ia tak pernah tau siapa laki-laki itu.
"Jika kamu sudah merasa tenang biar aku antar pulang, motormu sepertinya rusak parah"
Hendra mengangguk, ia sedikit menyesali perbuatan bodohnya.Kenapa ia menjadi senekat ini.Ia sendiri juga tidak tau.
"Ayo lekas naik, aku tau masa kecilmu kurang bahagia sepertinya hingga main hujan-hujanan seperti ini" ledek laki-laki yang barusan menolong Hendra.
Tak sabar menunggu reaksi Hendra yang diam saja, Laki-laki itu langsung menyeret tangan Hendra menuju mobilnya.
"Dimana rumahmu?"
Hening tak ada jawaban Dari Hendra.
"Kamu nggak tulikan?"
Lagi-lagi Hendra diam
"Sepertinya aku tau dimana tempatmu, tak usah khawatir disana banyak teman-teman yang menunggumu"
Motor melaju menembus derasnya hujan,Perlahan pria tadi berhenti di sebuah Rumah yang sangat besar tepatnya seperti klinik.Hendra mendongak ia membaca Papan Nama Rumah sakit jiwa, Hendra tersentak seketika.
__ADS_1
"Kenapa kau membawaku kesini? Aku tidak gila" protes Hendra.
"Aku tadi, sudah mananyaimu berkali-kali tak ada respon darimu, sepertinya ini rumahmu.Ayo segera turun" perintah orang itu.
"Aku tidak gila!" terial Hendra.
"Terus apa namanya kalau orang bengong,ditanya nggak jawab tatapanya kosong?" tanya Orang itu.
"Antarkan aku kerumahku, dijalan garuda no.26"
"Baiklah!"
"Tunggu-tunggu!, jalan garuda no.26?" tanya orang itu lagi.
"Iya, cepatan aku sudah kedinginan"
"Tadi katanya, pingin mati tapi baru kedinginan aja ngeluh, Lemah!," ucap Laki-laki itu sambil memperhatikan wajah Hendra lekat-lekat.
"Kamu Hendra bukan sih?"
"Iya aku Hendra" ucap Hendra
"Astaga!, jadi beneran kamu Hendra"
"Iya, kamu mengenalku"
"Aku Farid, teman SMA kamu, kamu bener-bener berubah.Dulu kamu kalem anteng dan ganteng hingga semua cewek histeris bila melihatmu.Lalu bagaimana dengan Sita, pasti sekarang sudah menjadi istrimu.Semua orang pasti iri padamu"
"Ya waktu semua orang memang iri padaku.Dengan bangganya aku bisa mempersunting Sita.Bahkan dia adalah wanita yang paling sabar yang pernah aku temui, namun sayang nasi sudah menjadi bubur kini dia telah menjadi milik orang lain.Aku baru merasakan sakitnya sekarang" ujar Hendra
Dalam perjalanan pulang Hendra menceritakan perjalanan hidupnya.Farid merasa sangat prihatin dengan apa yang menimpa Hendra.
Sementara itu.Rini melalukan rutinitas seperti biasanya ia mengabaikan luka hatinya yang terus mengangga.Sepulang dari mengantar anak sekolah ia tidak ada kegiatan lain karena tempat kursus jahitnya sedang libur.Ia mempunyai Ide untuk mengajak ketemuan dengan Sita.Ia butuh teman cerita yang mengerti posisinya saat ini.Dia berpikir Sitalah orangnya,Sita mengajak ketemuan di kafe Mama Henny karena kebetulan dia di sana.Jika ada Mama Henny Sita yakin Rizal tidak akan berpikir macam-macam tentang dirinya.
Sejurus kemudian Rini sudah bertemu dengan Sita.Ia sangat takjud dengan desain interior kafe punya mama Henny.
"Ahh...betapa beruntungnya mbak Sita" batin Rini.
__ADS_1
"Rin mau minum apa?, anak-anak apa kabar aku merindukan mereka"
"Alhamdulillah mbak mereka baik-baik aja"ucap Rini.
"Rin, aku perhatiin kamu kucel banget sekarang, sebesar apapun masalahmu jangan abaikan untuk merawat dirimu sendiri.kamu kaya perempuan umur 45th"
"Masa sih mb?, biar sajalah buat apa aku dandan toh suami juga selingkuh,aku dandan juga rasanya percuma semua tak akan merubah keadaan" ujar Rini
"Rin,Penampilan cantik dan menarik itu hal yang wajib bagi seorang perempuan.Gimana Si Boni nggak tidur dirumah istrimudanya kalau dia lihat yang dirumah kucel begini"
"Hallah dasarnya laki-laki aja, lihat Mas Hendra punya istri cantik dan semenarik mbak malah kepincut sama pelakor juga.Aku sudah tidak percaya lagi dengan yang namanya laki-laki.Aku benci mbak"
"Kalau kamu nggak mau ngelakuin ini semua buat suamimu, setidaknya lakukan untuk dirimu sendiri.Kamu kurus banget mana kucel lagi.Rin perbaiki penampilan kamu, buat suamimu nyesel udah memilih pelakor itu"
"Tapi bagaimana caranya mbak?"
"Kamu ubah penampilanmu dari sekarang, kamu olah raga dirumah biar nggak kerempeng begini.Terus kamu perawatan" nasehat Sita
"Perawatan?, duit dari mana mbak.Sekarang aja jatahku harus dibagi dengan perempuan gila itu"
"Kamu bisa menjadi reseller dari produk-produk kosmetik yang mbak jual.Kamu bisa pakai krimnya juga plus dapat uang tambahan kamu nggak bakalan rugi tampil cantik.Percaya sama mbak"
"Mbak aku nggak bisa masarin, lagian mana ada yang mau beli cream dariku wajahku aja burik begini"
"Itu gampang, kamu tinggal share aja di gruop sekolah anakmu,tempat kamu kursus,lingkungan RT kamu.Ya kamu pake mbak jadi model kamu.Tenang gratis"
"Benarkah mbak?, aku senang sekali" ujar Rini
"Tapi ada satu hal yang harus kamu lakukan.Kamu jangan mau dibodohi suamimu kaya mbak dulu, Sekarang jangan mau, jatahmu sama dengan madumu diakan belum punya anak, sedangkan kamu anaknya tiga,kalau jatahnya sama itu namanya nggak adil"
"Bener juga ya mbak, aku malah nggak kepikirian aku nerima aja jatah dari dia dibagi dua dengan perempuan itu"
"Enak saja, kamu yang berjuang dari nol sama suami kamu dia yang nikmati" ujar Sita.
"Mbak Sita benar, aku harus bicara sama Mas Boni soal ini"
"Good!" ujar Sita seraya mengacungkan jempolnya
__ADS_1
Tbc
Jangan lupa like komen fan favorite ya men temen