Sita Istri Seorang PNS

Sita Istri Seorang PNS
Terbakar api cemburu


__ADS_3

"Mau apa Ibu?" tanya Sita ketakutan.Pasalnya dia hanya seorang diri, sedangkan Istrinya Erwin datang bersama dua orang bertubuh kekar.


"Kamu tanya aku mau apa?, sungguh ini adalah pertanyaan bodoh yang pernah aku dengar."


"Jangan sakiti saya bu, tolong kasihani saya" ucap Sita memelas


"Apa katamu, kasihan sama kamu lalu bagaimana denganku, siapa yang akan mengasihiku?"


"Maafkan saya bu, Saya beneran nggak ada hubungan apa-apa dengan pak Erwin, saya juga sudah punya suami bu" ucap Sita sambil mengigil ketakutan


"Apa peduliku?, aku hanya ingin bermain-main denganmu.Aku hanya ingin memberimu kehangatan, dua orang laki-laki ini akan mengahangatkanmu malam ini agar kau puas dan tidak mengoda suamiku lagi, setelah mereka berdua puas aku hanya ingin melukis diwajahmu dengan pisau ini, aku mau lihat setelah wajahmu cacat apa suamiku masih tertarik padamu" ucap Istrinya Erwin dengan tatapan nyalang.


"Ampun bu, Demi Tuhan saya tidak ada hubungan dengan Pak Erwin"


"Diam jangan banyak bacot!, kalian berdua bawa perempuan ini. Kalian bebas mau lakukan apapun pada dia. Malam ini dia milik kalian" ucap Istri Erwin disertai derai tawa yang mengerikan.


"Tolong, jangan mendekat!, Aku akan teriak" ucap Sita sambil gemetar.Namun bukanya mundur justru dua lelaki kekar itu malah semakin mendekat dengan senyum menyeringai.


"Tolong....tolong...tolong!" teriak Sita sekecang-kencangnya berharap ada yang mendengar dan menolongnya.


"Diam kamu!" ucap Salah satu laki-laki itu.Sementara laki-laki yang satunya segera menyeret Sita.


"Lepaskan!, tolong!" Sita berteriak lagi.


Sita tak kehabisan cara, ia mengigit lengan laki-laki yang menyeratnya tadi, hingga cengkaraman laki-laki itu terlepas. Sekuat tenaga Sita melarikan diri.


"Kejar dia!" ujar Istri Erwin.


Sita terus saja berlari mengunakan sisa-sisa tenaganya, dengan nafas yang tersengal-sengal ia terus berlari.Sekencang-kencangnya Sita berlari , namun tenaganya tak sebanding dengan kedua preman itu.Sita terjatuh dan tertangkap kembali.Laki-laki itu menjambak rambut Sita kasar.


"Au...sakiiii...t, lepaskan!" teriak Sita.


"Seret dia kemobil!, Aku jadi semakin penasaran sepertinya dia juga sangat liar" ucap Salah satu preman itu sambil menatap penuh nafsu pada Sita.


"Lepaskan dia!" Teriak Rizal yang kebetulan lewat daerah itu.

__ADS_1


"Kamu siapa?, jangan sok jadi pahlawan.Minggirlah sebelum kehabisanku habis dan kau akan masuk rumah sakit" ucap salah satu preman jumawa.


"Cepat kesini kakakmu dalam bahaya!, aku sudah share lock" Pesan yang dikirm Rizal pada Doni sebelum mendatangi preman tadi.


Tanpa babibu, Rizal langsung menyerang preman tadi. Rizal kini dikroyok dua preman, perkelahian tak dapat dihindarkan lagi. Rizal semakin terpojok Ia tersungkur ke tanah, darah segar mengalir dari bibirnya.


"Rizal..." teriak Sita sambil menangis melihat kondisi Rizal.


"Aku sudah memperingatkanmu tadi, inilah akibat kalau kau nekat, rasakan satu pukulan lagi agar kau tidak bisa bangun selamanya" ucap Salah satu preman itu ia hendak menginjak perut Rizal.


Mendadak Doni datang bersama sekelompok teman jalananya.Dalam hitungan menit kedua preman tadi bisa dilumpuhkan Doni dan teman-temanya.


"Mas, Rizal nggak apa-apa?"


"Aku nggak apa-apa Zal, urus kedua preman itu!, aku akan mengantar Sita pulang"


"Tapi Mas, udah aku nggak apa-apa, kamu tenang aja Sita aman bersamaku" ucap Rizal


"Makasih Mas, aku titip Mbak Sita. Biar kalian berdua di kawal teman-temanku"


"Kalau gitu, Biar Arif saja yang kawal Mas Rizal dan mbak Sita" ucap Doni pada akhirnya. Malam itu juga Doni dan kawan-kawan membawa dua orang preman tadi kekantor polisi. Sementara itu Sita diantar pulang oleh Rizal dan Arif.Sesampainya dirumah Sita dipapah oleh Arif karena kakinya cidera saat melarikan diri ia terjatuh dan kakinya menghantam aspal jalanan, belum lagi tindakan kasar kedua preman tadi saat Sita berusaha melarikan diri.


"Bugh" bogem mentah langsung dihadiahkan pada arif yang sedang memapah Sita.


"Bugh" Arif tidak terima langsung menyerang balik


"Dasar laki-laki nggak berguna, kalau Doni tidak mengingatkan kau suami kakaknya, sudah dari kemarin kami habisi kamu" tetiak Arif.


"Sudah-susah jangan bertengkar, dan kamu Hendra, belajarlah mengendalikan diri. Bertabayun dulu sebelum menyerang orang lain" ujar Rizal bijak


"Kamu enak banget ngomong, kamu nggak punya istri jadi nggak tau bagaimana rasanya istrimu di peluk orang lain" ujar Hendra yang dikuasai emosi.


"Ini bukan dipeluk Peak!, ini namanya di Papah, istri loe cidera" umpat Arif.


"Hallah omong kosong" Hendra masih saja Emosi.

__ADS_1


"Cukup Mas Hendra!, jangan samakan aku dengan dirimu. Kalau tidak ada mereka berdua mungkin aku hanya pulang tinggal nama saja" ucap Sita yang jengah dengan sikab suaminya yang selalu saja cemburu tidak tau tempat.


"Apa maksudmu?" tanya Hendra ia mulai panik.


"Lihat pakai mata loe, kaki istri loe kek gini, makanya apa-apa itu pakai otak! Jangan pakai otot" Maki Arif.


"Sudah Rif!, begini Hen Istrimu tadi hampir dilecehkan dua orang preman beruntung aku lewat dan aku langsung menghubungi Doni untuk meminta bantuan" ucap Rizal menjelaskan kejadian sebenarnya.


"Kok kebetulan banget ya, dulu pas ban kempes anda yang nolong.Kini, Sita mau dijahatin preman anda juga yang nolong, hebat ya anda!" ujar Hendra dengan tatapan Sinis


"Apa maksudmu mas?, kamu tidak mempercayaiku dan mengangap ini rekayasa?" Sita semakin kesal dengan suaminya.


"Bukan, aku percaya padamu tapi tidak dengan laki-laki ini. Mana ada kebetulan terus-terusan" ucap Hendra sambil menunjuk Rizal


"Dasar laki-laki otaknya Dangkal!, kalau tidak ada Mas Rizal entah bagaimana istri kamu. Hewan aja tau terima kasih tapi kamu manusia tidak tau diuntung" Arif meradang mendengar tuduhan Hendra pada Rizal


"Terserah kamu mau percaya atau tidak, tugasku mengantar Sita sudah selesai, Sita kami pulang dulu. Besuk sebaiknya kamu jangan berangkat dulu.Besuk polisi pasti minta keterangan dari korban, lagi pula kondisimu masih seperti ini" ucap Rizal kemudian ia berbalik dab menyeret Arif yang tanganya mengepal hendak memukul Hendra.


"Mas, biarkan aku menyekolahkan mulut sampah laki-laki ini sebentar" ucap Arif yang menolak ketika Rizal mengajaknya pergi.


"Nggak usah diladeni, anggap aja kamu bicara dengan orang gila" bisik Rizal.


Namun Arif tetapalah Arif, secapat kilat ia berbalik dan menghantam Hendra.


"Bugh" salam dari Doni yang kakaknya kau sakiti.


"Bugh" ini untuk mencuci mulut sampahmu.


Setelah dua kali memukul Hendra Arif meninggalkan rumah itu, masih dengan segala ocehanya.Rizal terus mencekal tangan Arif agar tidak melakukan kekerasan lagi.


"Dasar berandalan!, preman, tidak berpendidikan" umpat Hendra sembari menyeka bibirnya yang berdarah


Tbc


Jangan lupa likr comment dan favorite ya men temen

__ADS_1


__ADS_2