
Pov Sita
Jantungku terasa mau melompat saat mendengar mama kecelakaan, bagaimana mungkin, tadi pagi semua masih baik-baik saja.Tubuhku langsung lemas seketika
"Ya Allah selamatkan Mama" doa terus aku panjatkan untuk kebaikan Mama
Air mataku terus mengalir, aku langsung ijin pada sekertaris pada Pak Erwin kebetulan ia juga tidak masuk karena anaknya juga sedang sakit.
[Mbak aku sudah didepan] Doni mengirimiku pesan
[Mbak turun sekarang] balasku
Dengan perasaan kacau aku turun kebawah menemui Doni, berbagai pikiran buruk berkecamuk dalam kepalaku.Aku langsung naik mobil Doni, sepanjang perjalanan aku terus saja menangis.
"Don, bagaimana ceritanya Mama bisa kecelakaan" tanyaku
"Aku juga nggak tau mbak, tadi Bik Anik juga nggak jelas telephonenya, karena sambil nangis gitu" ucap Doni.
"Mama...hiks..hikss...hikss" aku terus saja menangis sepanjang jalan.
"Mbak tenangkan diri dulu, lebih baik kita berdoa untuk Mama, semoga Mama di beri keselamatan" bujuk Doni
"Gimana aku bisa tenang Don, aku belum lihat kondisi Mama.Ayo cepetan dikit jalanya" ucapku
"Ini macet Mbak, ini juga lagi usaha cari jalan alternative" ucap Doni nampak kesal.
Pikiranku tambah tidak karuan, perjalanan menuju rumah sakit sangat lama, sampai disana aku tidak melihat Bik Anik. Perasaanku tambah tidak karuan, aku tanya ke bagian adminstrasi, Bik Anik pingsan karena panik, Aku bergegas ke UGD.Hatiku rasanya sudah nggak sabar lihat Mama namun rupanya Mama masih diberi tindakan oleh dokter, menurut keterangan suster, ada laki-laki yang membawa Mama kesini dan mendonorkan darahnya, kata suster bila terlambat sedikit saja dia bilang Mama tidak dapat tertolong lagi.Hatiku rasanya seperti diiris, aku bertanya siapa yang menolong Mama suster bilang atas nama Rizal Dewangga putra, aku terkejut mendengar nama itu, berkali-kali ia melindungi kami dan kali ini dia menyelamatkan nyawa Mamaku. Ntah apa yang bisa aku lakukan untuk menebus semua kebaikanya.
Menunggu di depan ruang UGD sangat menegangkan, aku beringsut berdiri dan berjalan mondar mandir tanpa sengaja aku menabrak Rizal, ya aku menabrak dia.Andai ini bukan tempat umum pasti aku sudah memeluknya dan mengucapkan ribuan terima kasih.Doni yang melihat Rizal langsung berhambur memeluknya dan mengucapkan terima kasih yang tak terhingga pada pahlawan kami ini, Kulihat Rizal juga memeluk Doni dengan erat.
Aku mendekatinya dan mengucapkan terima kasih padanya, dia mengajakku duduk, dan menceritakan apa yang dialami Mama aku semakin sesengukan mendengar cerita Rizal, tak lama kemudian pintu ruang UGD dibuka, suster bilang Mama sudah siuman, aku masuk duluan melihat kondisi Mama, hatiku hancur saat melihat tubuh Mama penuh luka dan banyak perban.
"Mama jangan gerak dulu ini Sita, hiks...hikss...hikss"
"Syrarif ....mama takut." itulah kata yang diucapkan Mama pertama kali.
"Mama jangan banyak bicara dulu, Sekarang Mama istirahat, Sita keluar sebentar Doni pasti juga pengen lihat Mama" ujarku.
Aku bergegas keluar, namun disana sudah tidak ada Rizal hanya ada Doni disana.Doni sepertinya tau kalau aku mencari Rizal.
__ADS_1
"Kak Rizal pulang mbak, dia takut Mama nggak nyaman kalau lihat Kak Rizal"
"Rizal...kenapa kamu sampai segitunya" ucapku.
Doni langsung masuk kedalam menjenguk Mama, aku langsung mengirimi pesan pada Rizal.
[Zal kok langsung pulang] tanyaku
[Nggak apa-apa nanti kalau Mamamu sadar lihat aku pingsan lagi gimana? Canda]
[Ya, nggak gitu juga kali]
[Aku ada urusan keluar kota, mungkin sore ini langsung berangkat]
[Kok mendadak]
[Bukan mendadak, surat dinasnya sudah turun seminggu yang lalu, maklum abdi Negara harus sendiko dawuh]
[Berapa lama disana]
[Seminggu, mungkin lebih tergantung nanti gimana kondisi disana]
[Ya sudah, hati-hati dijalan]
Aku mendesahkan nafas keudara, semoga ada titik terang hubungan kami.Aku langsung menghubungi Amel, bungsu Mama yang super bawel itu, ia langsung datang kerumah sakit dan nangis heboh.
"Kok bisa gini sih, gimana ceritanya huaaa" Amel nangis kejer.
Bik Anik menceritakan kronologi kecelakaan yanh dimulai dari mereka menghindari Syarif dan Mamanya sita kesrempet mobil hingga datang pertolongan Rizal.
"Apa yang Amel bilang benar kan, Syaraf itu bawa musibah, hikss...hikss..hiks"
"Kamu tenang Mel, Mama sudah stabil kondisinya, ia sudah melewati masa kritisnya" ucapku
"Ya tetep aja, Amel jengkel. Coba saja Kita tidak mengenal Si Syaraf itu hidup kita nggak akan rumit, Sekarang dimana Mas Rizal Amel ingin berterima kasih padanya"
"Dia sudah pulang, dan akan dinas keluar kota"
"Apa jangan-jangan ini alasan mas Rizal aja biar nggak ketemu Mama, karena takut Mama nyolot"
__ADS_1
"Hushh...jangan ngawur kamu, dia memang benar ada urusan kok" kataku.
"Awas saja kalau Mama nggak restui kak Rizal" Amel malah mengancam.
sehari hari setelahnya Kondisi mama membaik dan dipindahkan ke ruanh perawatan.Dia selalu menanyakan Rizal dimana, setelah ia tau yang menyemalamatkan dia adalah Rizal, Mama ingin bertemu Rizal, namun Rizal memang sedang tidak ada dirumah ia sedang Dinas ke luar kota, Mama terlihat begitu sedih dan mengira Rizal marah padanya.
Pov Sita End
Setelah kondisinya membaik Wati dipindahkan keruang rawat, Anik memberitau kalau yang menolong Wati adalah Rizal, Doni dan Sita juga menceritakan bahwa Rizalah yang menyumbangkan darahnya untuk Wati.Perempuan paruh baya itu menangis, ia merasa sudah terlalu jahat pada Rizal karena tidak merestuinya dengan Sita, padahal laki-laki itu selalu tampil terdepan bila keluarga mereka sedang ada Masalah.
"Sudahlah Ma, Mama jangan nangis kaya gini" ucap Sita.
"Sita, tolong kamu hubungi Rizal suruh kesini Mama ingin bicara dengannya"
"Mama serius?" tanya Sita
"Iya"
Sita langsung menghubungi Rizal, namun Rizal meminta maaf karena tidak bisa datang dikarenakan ada urusan keluar kota.Mendengar hal itu Mamanya Sita merasa sangat sedih, ia semakin merasa bersalah.
"Sita, apa Nak Rizal marah sama Mama ya?"
"Mama kenap ngomong kaya gitu?"
"Buktinya dia tidak kemari"
"Kan Sita sudah bilang kalau Rizal lagi keluar kota, dia tidak marah sama Ibu cuma lagi sibuk aja" ucap Sita menghibur Mamanya.
Hari ini Mamanya Sita diijinkan pulang, setelah sekian lama melakukan perawatan dirumah sakit.Selama dirumah sakit Rizal sama sekali belum menjenguknya rasa bersalah semakin bersarang di hati Mamanya Sita.
"Mama harus banyak istirahat, jangan kerja dulu warung sudah ada yang jaga!" ucap Sita tak ingin Mamanya kecapean.
"Iya, Mama ngerti"
"Di depan rumah kita itu kaya mobil nak Rizal?" tanya Mamanya Sita.
"Iya itu memang mobil Rizal, dia baru kembali dari luar kota"
Sita dan Mamanya memasuki pelataran rumahnya, dilihatnya mobil Rizal sudah nangkring disana.
__ADS_1
Tbc
Jangan lupa like, comment dan favorite ya men temen