
Pagi menyapa bumi, mengantikan tugas sang malam yang sudah pari purna.Mentari begitu cerah menyinari kediaman Sita dan Hendra.
"Sit, aku ke kamar mandi bentar ya.Tiba-tiba perutku mules banget" ucap Hendra yang sedang sarapan bersama Sita.
"Kebiasaan setiap kali makan, langsung ke toilet" gerutu Sita.
Hendra langsung berlari ke toilet untuk menunaikan pangilan alam.Ponsel Hendra berdering Sita melirik sekilas dilihatnya Id pemanggilnya Zainal.Ia juga melihat beberapa pesan yang dikirim pagi ini oleh Zainal.
Sita langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Doni.
"Bentar kak, ini udah otw kesitu" jawab Hendra disebrang sana.
"Don, kasih tau kakak bagaimana cara membuka hp mas Hendra langsung tanpa laptop,dia pasti ngelak lagi tapi kalau dari hpnya ia tidak akan berkutik, ini hpnya disandi" ucap Sita. Doni langsung memberitau cara membuka hp yang sudah di sandi oleh Hendra.Sita mengikuti instruksi dari Doni, ia berhasil membuka hp Hendra. Lalu ia membaca pesan yang pagi ini Desy kirimkan.
Sebelum membaca pesan itu, Sita mengubah nama Zainal menjadi Desy lalu memforward pesanya ke ponselnya.Dengan gemetar ia mulai membaca pesan pagi ini yang dikirim oleh Desy.
[Mas, kamu udah janji loh pagi ini mau mampir]
[Aku sudah beli lingerine merah kesukaanmu]
Sita menutup mulutnya.ia tak sanggup lagi meneruskan membaca pesan yang dikirim oleh Desy.Air matanya tumpah, bersamaan dengan itu Hendra keluar dari toilet.
"Ah...lega" ucap Hendra.
Sita menatap Hendra dengan tatapan nyalang, Hendra belum menyadari kalau Sita memegang ponsel miliknya dan sudah membaca semuanya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Hendra tanpa dosa.
"Jelasin ini apa?"
"Deg...deg...deg" Detak jantung Hendra berpacu lebih cepat, jantungya rasanya ingin melompat dari tempatnya.
"Kenapa diam?"
"Ke...kenapa ponselku ada dikamu? Dan kenapa kau lancang membuka ponselku" ucap Hendra sedikit tergagap.
"Kenapa? Ada masalah?, kau bebas mengotak-atik ponselku. Kenapa aku tidak boleh"
__ADS_1
Hendra semakin pucat, Sita mendekat dan menatapnya dengan tatapan nyalang.
"Berapa lama kalian berhubungan?,"
"Itu...itu tidak seperti yang kau pikirkan" kilah Hendra.
"Bisa-bisanya kamu mengelak! Bukti sudah didepan mata, kamu masih saja mengelak.Kamu pikir kamu bisa selamanya menyimpan bangkai"
"Sita, ampuni aku!"
"Aku sudah bilang padamu, kesempatan hanya datang satu kali.Tapi apa yang kau lakukan? Kau malah bermain gila dengan perempuan itu lagi.Apa kurangnya diriku?, selama ini aku selalu bersabar dengan sikab keluargamu yang semena-mena terhadapku bahkan mereka juga sering menghina Mamaku, tapi semua aku tahan demi dirimu. Ini balasanmu mas?,hiks...hiks..hikss" Sita menangis histeris
Bayangan semua kejadian berputar-putar diotaknya,hinaan cacian selalu ia telan mentah-mentah demi keutuhan rumah tangga mereka namun dalam sekejab Hendra menghancurkanya.
"Sita maafkan aku!, aku dijebak" ucap Hendra membela diri
"Kamu bilang dijebak?, lihat chat kamu isinya menjijikan semua.Asal kamu tau aku tau bagaimana kelakuan kamu, aku masih sabar tapi kali ini maaf aku tidak bisa lagi memaafkanmu demi kewarsanku" ucap Sita mengebu
Hendra memeluk kaki Sita, ia bersujud meminta ampun pada istrinya.Sita sama sekali tidak bergeming.Tak lama setelah itu terdengar suara sepeda motor memassuki rumah mereka.
"Tak...tak..tak" terdengar langkah Doni memasuki rumah Sita.
"Mampus gue!" batin Hendra, tangan dan kakinya gemetar melihat kedatangan Doni.
Doni menatap Hendra dengan tatapan lasernya.Ia lalu mendekati Hendra dan menarik kerah laki-laki itu.
"Bugh...bugh...bugh" Doni menghajar Hendra.
Hendra mencoba melawan namun, ia sadar tenaganya tak sebanding dengan Doni.
"B********n!, bugh....harusnya gue habisin elu dari dulu" ucap Doni sambil memukul Hendra kembali.Doni bak kesetanan memukul Hendra hingga babak belur, Hendra terjatuh nyaris pingsan.
"Sudah Don!, dia bisa mati kamu akan kena masalah" ucap Sita sambil memegangi tangan Doni
"Sekali lagi mbak, bentar mbak" ucap Doni mengibas tangan Sita
"Bugh..." Satu pukulan mendarat di wajah Hendra.
__ADS_1
"Sudah cukup!, dia hampir mati. Ayo bawa dia kerumah sakit" teriak Sita.
"Biar saja dia mati, itu lebih baik. Hidup hanya menyengsarakan orang saja lebih baik mati" ucap Doni
Sita membentak Doni,ia menyuruh Doni membawa kerumah sakit terdekat.Sita mengekori dari belakang.Sesampainya dirumah sakit Hendra mendapat perawatan. Ia harus rawat inap disana.Sementara itu Sita terus saja menangis hatinya sangat terluka, namun ia juga tidak tega membiarkan Hendra sendirian di rumah sakit.
"Mbak pulang saja!, biar aku hubungi keluarganya"
"Mbak nggak mau kamu kena masalah Don" ucap Sita khawatir
"Mbak tenang saja, itu tidak akan terjadi" ucap Doni.
Ia mengambil ponsel Sita lalu menghungi Ibu dan Bapaknya Hendra. Tak lama setelah itu kedua orang tua Hendra datang.
"Kamu apakan anakku? brengsek!"
"Kecilkan suara anda!, atau anda akan saya permalukan disini karena kelakuan anak anda" ucap Doni tenang.
Bapaknya Hendra angkat bicara.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bapaknya Hendra.
Doni menceritakan semua yang dialami oleh Hendra dari perselingkuhanya hingga Doni menghajarnya.Bapaknya Hendra bisa memaklumi sikab Hendra namun sikan berbeda ditunjukkan oleh Ibunya Hendra.
"Dasar berandalan!, tidak tau etika, aku akan tuntut kamu biar kamu mendekam dipenjara" ucap Ibunya Hendra mengebu
"Silahkan Ibu laporkan saya ke yang berwajib, tapi ingat saya akan minta kakak saya melaporkan kasus penipuan yang anda lakukan pada keluarga kami, kemudian kakak saya juga akan melaporkan kasus perselingkuhan anak kesayangan anda ini, anda tau apa yang akan terjadi setelahnya, anda akan mendekam dipenjara sementara anak PNS anda yang anda bangga-bangakan itu akan di pecat karena tindakan asusilanya merusak rumah tangga orang lain, anda dan keluarga akan terkana sanksi sosial juga. Ayo sok cepetan laporkan saya" tantang Doni.
Wajah Ibunya Hendra memucat, ia sangat ketakutan bayangan hidup di balik jeruji besi berkeliaran diotaknya, belum lagi status PNS anaknya akan di copot. Ia tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya ia hanya bisa menangis.
"Gimana bu? Kenapa diam? Dimana nyali anda, mana Ibu Wiwik yang tadi teriak-teriak ingin memenjarakan saya?" cecar Doni.Lagi-lagi Ibunya Hendra kehabisan kata.
"Sialan aku salah lawan, anak ini benar-benar tidak bisa dianggap enteng" batin Ibunya Hendra.
"Ibu tau berapa gaji anak Ibu?, kenapa Ibu rampas semua? Harusnya gaji itu manjadi hak kakak saya tapi Ibu rampas begitu saja.Bahkan kakak saya harus banting tulang untuk mencukupi hidupnya sendiri dan hidup anak anda yang PNS itu" Doni kembali mencecar Ibunya Hendra.
Ibunya Hendra hanya bisa diam dan menunduk.
__ADS_1
Tbc
Jangan lupa like,comment dan favorite ya men temen