
Hendra di bawa kerumah orang yang sudah membeli rumah Sita.Disana nampak rumah megah lengkap dengan penjaganya.Hendra bergidik ngeri ntah apa yang akan terjadi padanya setelah ini, ia hanya bisa pasrah pada nasib.
"Boss, ini dia orang yang sudah menjual barang-barang punya boss"
Nampak laki-laki berperawakan tinggi besar menatap nanar pada Hendra.
"Ya Tuhan selamatkan hamba" batin Hendra ia terus saja berdoa dalam hati.
"Kamu tau apa kesalahan kamu!" bentak laki-laki itu.
"Ampun Tuan saya tidak tau" ucap Hendra.
"Kamu telah menjual barang-barangku tanpa sepengetahuanku" bentaknya
"Ampun Tuan, saya benar-benar tidak tau kalau istri saya sudah menjual rumah beserta isinya"
"Tidak mungkin!"
"Benar Tuan, kalau Tuan tidak percaya saya masih menyimpan surat dari istri saya kalau dia hanya pamit bekerja menjadi TKW, tanpa memberi tau kalau rumah iti sudah dijualnya" ucap Hendra jujur.
Bukanya kasian pada Hendra, laki-laki itu malah semakin geram ia menyuruh anak buahnya untuk memukuli Hendra hingga babak belur.
"Ampun boss, sepertinya dia memang benar nggak tau apa-apa, istrinya sengaja meninggalkan dia karena dia ini pemalas" ujar salah seorang anak buah laki-laki itu.
"Aku tidak peduli!"
"Tapi dia hampir mati boss"
"Buang dia ketempat yang jauh"
Anak buah Dept collector itu membuang Hendra ke sebuah hutan dan meninggalkan Hendra tergeletak.
Tubuh Hendra meringkuk ditengah hutan, bayangan kematian menari-nari dipelupuk matanya.Ia sudah pasrah seandainya ia dipanggil menghadap sang kholik.Keinginannya saat ini adalah bertemu dengan Sita untuk memohon ampun padanya.Tiba-tiba hendra merasakan pening dikepalanya, sakitnya luar biasa tak tertahankan penglihatanya mulai buram dan akhirnya ia mulai kehilangan kesadaran dirinya.
__ADS_1
"Aku dimana ini kenapa semua hitam dan gelap?" ucap Hendra.
Ia mencoba berjalan menuju sebuah cahaya yang sangat kecil, tanpa putus asa ia terus berjalan menyusuri lorong kecil itu.
Sementara itu di luar ruangan UGD Ibunya Hendra tak henti-hentinya menangisi sang putra dua hari yang lalu ia mendapat kabar kalau putranya ditemukan ditengah hutan dalam keadaan mengenaskan, warga yang kebetulan melintas melihat Hendra dan membawanya ke Rumah sakit, kebetulan ditemukan identitas Hendra di saku celananya.Ibunya Hendra sudah membuat laporan ke polisian tentang kejadian yang menimpa anaknya namun, karena minimnya saksi yang mengetetahui kejadian tersebut membuat polisi kesusahan menemukan pelakunya.
"Ibu jangan menangis terus, mas Hendra pasti baik-baik saja.Lihatlah mata Ibu sampai bengkak begitu" ucap Rini.
"Gimana Ibu bisa tenang, lihatlah kakakmu dari kemarin belum siuman.Ntah apa yang terjadi padanya,Apa ini ada hubunganya dengan keluarga baru Sita?" ucap Wiwik penuh kecurigaan
"Ibu jangan sembarangan ngomong, kita juga nggak ada bukti sama sekali mereka terlibat, bisa bahaya bu karena kita malah dapat tuduhan balik pencemaran nama baik" ucap Rini menasehati Ibunya.
"Tapi siapa lagi yang bisa kita salahin kalau bukan mereka, mana Ibu nggak punya uang untuk biaya rumah sakit ini lagi" gerutu Wiwik
"Kalau soal biaya rumah sakit, Ibu tidak usah pikirkan nanti Rini yang bayar dulu usaha mas Boni alhamdulillah lancar bu" ucap Rini menenangkan Ibunya.
"Terima kasih Rin, Ibu tidak tau kemana lagi harus cari pinjaman.Utang Ibu sudah numpuk dimana-mana Desy juga kabur ntah kemana"
"Kata Ibu Desy jadi TKW"
"Sudahlah Bu, kita doakan saja Mas Hendra segara pulih" ucap Rini.
Tak berapa lama kemudian dokter keluar dari IGD dan menemui keluarga Hendra, ia mengatakan kalau Hendra sudah siuman, dan boleh dijenguk namun tidak boleh terlalu banyak diajak bicara.Ibunya Hendra langsung ke UGD menenmui Hendra disana ia menumpahkan tangisnya.
"Kenapa kamu jadi begini nak?, apa suami Sita yang bikin kamu kaya gini?" tanya Ibunya Hendra.
Hendra mengeleng lemah sebagai pertanda kalau bukan kelurga Sita pelakunya.Wiwik tidak menanyakan lebih lanjut mengingat pesab dokter tadi.
Hari terus berlalu, Kini Hendra sudah diijinkan pulang.Rini membayar semua tagihan rumah sakit Hendra.
"Rin, kamu sekarang kan sudah kaya.Tolong kami! Untuk makan sehari-hari saja kami kesulitan" pinta Wiwik.
"Bu, kalau untuk menangung hidup Ibu dan mas Hendra sehari-hari Rini tidak bisa bu, karena Rini juga cuma Ibu Rumah tangga biasa.Yang cari duit itu Mas Boni, ini juga Rini udah kuras tabungan Rini untuk biaya rumah sakit, selebihnya Rini nggak bisa bantu.Ibu kan bisa masak, ya cobalah jualan makanan begitu atau apapun yang bisa dijadikan uang"
__ADS_1
"Ibu pernah jualan, tapi kalah sama warungnya Ibunya Sita" ucap Wiwik.
"Namanya juga usaha, harus telaten dan ulet modalnya bu"
"Kalau begitu Ibu pinjam modal dulu, nanti kalau sudah jalan Ibu kembalikan"
"Maaf bu, aku tidak berani kasih uang lagi ke Ibu.Mas Boni bisa marah besar"
"Kamu ini, sama Ibu sendiri perhitungan amat.Dulu waktu Hendra jaya masih jadi PNS semua kebutuhan Ibu dia yang tanggung dia memang anak yang berbakti" ucap Wiwik mulai membandingkan Rini dengan Hendra.
"Itu beda cerita bu, dulu yang cari uangkan Hendra.Ini Rini nggak cari uangloh bu, beda kasus sama Mas Hendra"
"Hallah sama saja, intinya kamu itu pelit sama Ibu sediri dan tega membuat Ibu dan Kakakmu kelaparan" cibir Wiwik
Pembicaraan mereka tak menemukan titik temu, karena Rini juga tidak berani meminta uang pada suaminya, ia sudah merogoh kocek sangat dalam untuk mrmbiayai rumah sakit Hendra tanpa sepengetahuan suaminya, kini Ibunya menuntut minta modal padanya.Rini pusing dibuatnya.Sumpah serapah Wiwik ucapkan pada anaknya sendiri karena tak mau memberinya modal.
"Anak Durhaka, Ibu doakan rumah tanggamu tidak bahagia"
"Istigfar bu, jangan bicara seperti itu" ucap Rini mendesah frustasi.Ia sangat faham watak Ibunya jika ia memberinya modal maka uang itu akan habis dalan waktu yang singkat untuk foya-foya.
"Kamu pulang sana!, Ibu sudah tidak membutuhkan kamu lagi, biarkan kami mati kelaparan sementara kamu sibuk foya-foya"
"Istigfar bu!"
"Aku akan coba bicara pada mas Boni, untuk meminjamkan uang pada Ibu tapi aku tidak menjamin boleh atau tidaknya,karena kalau Mas Boni tau aku sudah pakai uangnya begitu banyak untuk biaya rumah sakit tanpa sepengetahuan dia pasti ini akan jadi bencana"
"Hallah dasar suami kamu aja pelit, ancam dia kalau tidak mau kasih uang kamu minta cerai"
"Istigfar bu, jangan bicara seperti itu"
"Kamu ancam saja dia, kamu takut-takuti dia bukan cerai beneran!"
"Bu, pernikahan itu bukan mainan" ucap Rini ia mendesah frustasi tak tau dengan jalan pikiran Ibunya.
__ADS_1
Tbc
Jangan lupa, like,comment dan favorite ya men temen