Sita Istri Seorang PNS

Sita Istri Seorang PNS
Tak terima


__ADS_3

Sita berjalan menuju mobil agak jauhan dari suaminya, takut suaminya tak nyaman karena bau sabun yang ia pakai.


"Kamu kenapa jalanya jauh-jauh gitu?" tanya Rizal


"Aku takut kamu nggak nyaman Mas" ucap Sita apa adanya.


Rizal mendekat dan mengendus bau tubuh Sita, Sita agak menjauh takut suaminya muntah lagi.


"Ini baunya enak aku suka"


Sita dan Mama Henny saling berpandangan dulu, Rizal sering protes ketika Mamanya memakai sabun itu, tapi kini semua serba terbalik.


"Kamu bawa apa?"


"Kresek" jawab Sita polos


"Buat apa?"


"Ya jaga-jaga kalau kamu muntah di mobil"


"Pfffftttt" Mama Henny menahan tawanya mendengar jawaban polos dari menantunya.


Setelah sampai dirumah sakit dokter meresepkan obat anti mual untuk Rizal, sedangkan Sita dibawa ke poli kandungan untuk melakukan USG dada Rizal membuncah melihat calon bayi yang ada di perut Sita, begitupun dengan Mama Henny kebahagiaan mereka lengkap sudah.Hari-hari penuh drama ngidam Rizal mewarnai kehidupan Sita. Apa yang dilakukan Sita selalu salah di mata Rizal, mulai dari parfum, sabun, pengharum ruangan semuanya ganti.Seperti hari ini ketika Sita kangen dengan Mamanya ia ingin berangkat sendiri tapi Rizal memaksanya mengantar kerumah Mama Wati.


"Sita udah belum, lama banget aku nanti bisa kesiangan ke kantor" ucap Rizal


"Bentar ini lagi ganti baju, tadi katanya suruh ganti karena kamu nggak suka warnanya" ucap Sita dari dalam kamar.


"Iya tapi jangan lama-lama, pake baju kembang-kembang aja aku suka"


"Iya..." ucap Sita


Kemudian perempuan itu keluar kamar dengan mengenakan baju seperti yang diinginkan suaminya.


"Nah gitu kan cantik, ayo berangkat!"

__ADS_1


"Cantik apaan kaya emak-emak begini dibilang cantik" batin Sita


Keduanya melangkah kearah mobil mereka.Sita langsung menuju kemudi mobil.


"Mau ngapain kamu?"


"Ya mengemudikan mobilah, ngapain lagi" ucap Sita agak jengkel karena sejak tadi tak ada yang benar menurut Rizal


"Biar aku yang kemudikan" ucap Rizal


"Kamu masih lemes begitu, biar akau aja nanti aku antar kamu sampai kantor" ucap Sita.


Rizal mengeleng, walau bagaimanapun juga ia tak mau Sita kelelahan meskipun sikabnya menjengkelkan, tapi ia tak ingin Sita kelelahan ia sangat menyayangi Sita, meskipun semenjak Sita hamil ia lebih sensitif.Sejurus kemudian mobil sampai di gang dekat rumah Sita.


"Mas, aku mau turun di indo april mau beli sesuatu, kamu langsung jalan aja toh sudah dekat ke rumah Mama" ucap Sita


"Ya sudah, kamu hati-hati mas jalan dulu, jangan pulang dulu sebelum mas jemput, atau kalau mau pulang duluan suruh antar Doni"


"Iya bawel" ucap Sita. Lalu meraih tangan suaminya untuk berpamitan,namun Rizal langsung meraih tengkuk istrinya dan meraup bibirnya.


"Aku hanya menghapus lipstikmu,aku tidak suka kau memakai lipstik itu" ucap Rizal.


Sita mengerutu kesal dengan sikab suaminya.Begitu turun dari mobil ia langsung menuju mini market yang ada dideket rumahnya.


"Sialan, kenapa harus ketemu dengan Ibunya Mas Hendra, pasti dia bakal bikin ribut lagi, sebaiknya aku nggak usah belanja disini atau nanti saja aku kesini lagi" batin Sita setelah melihat mantan mertuanya.


Sialnya begitu Sita keluar mantan mertuanya melihat ia dan langsung mendekatinya, ia tak terima hidup dia dan Hendra dalam kesusahan sedangkan dia hidup bergelimang harta.


"Hai perempuan licik mau kemana kau, jangan coba-coba kabur kamu!" ucapnya


Sita menulikan pendengeranya bergegas keluar mini market itu, Ibunya Hendra mengejarnya dan mencengkaram pergelangan tangan Sita.


"Hei perempuan Sialan, jangan berani-berani kau berkeliaran di daerah sini, karena aku tak akan mengjinkanmu mendekati putraku"


"Maaf, saya tidak tertarik dengan anak Ibu, saya sudah bersuami bahkan saya sedang hamil" ucap Sita, ia sengaja berkata seperti itu supaya mata Ibu mertuanya bisa terbuka.Selama ini ia selalu mengatakan kalau dia wanita mandul, nyatanya setelah bercerai dari anaknya ia menikah kembali dan langsung hamil.

__ADS_1


"Oh...mau pamer kamu karena kamu bunting, awalnya aku takut ketemu mertuamu karena aku meminjam uang untuk membebaskan Hendra, tapi setelah melihat kamu bunting begini aku jadi kepikiran tak perlu membayar utangku, anggap saja aku menjualmu dia terlalu senang punya menantu murahan sepertimu" ungkap Ibunya Hendra yang kesal dengan Sita.Mendengar ucapan mantan mertuanya itu Sita langsung menyentakkan tanganya, lalu ia mndorong Ibunya Hendra hingga tersungkur.


"Brengsek kamu!, berani kamu sama orang tua" umpat Ibunya Hendra.


"Maaf bu, sikabku selama ini yang selalu diam dan mengalah karena aku menghargai Ibu sebagai orang tua, tapi lama kelamaan Ibu semakin keterlaluan, semut saja bila diijak akan mengigit apalagi aku yang Ibu sakiti terus-terusan" ucap Sita yang diliputi emosi.


Bersamaan dengan itu Hendra yang hendak menjemput Ibunya, kaget melihat keberadaan Sita disitu, ia memperhatikan perut Sita yang mulai membuncit, ada rasa bersalah bersarang dalam dada Hendra, selama ini Sita selalu setia menemaninya tanpa tau dirinya punya kekurangan Ibunya selalu menyalahkan Sita, dan selalu mengatakan Sita wanita mandul nyatanya dialah yang bermasalah dengan kesuburan. air mata Hendra menetes dipipi tirusnya.


"Sita..." ucap Hendra serak


"Hendra, apa-apaan kamu.Lihat Ibu jatuh karena perempuan ini" ucap Ibunya tidak terima, Hendra menoleh pada Ibunya yang kelihatan kesusahan berdiri lalu ia menatap Sita.Ia sangat yakin Ibunya pasti telah membuat gara-gara dengan wanita sesabar Sita.


"Kamu...tidak apa-apa Sita?" tanya Hendra.


"Hendra, kamu ini gila apa buta?, Lihatlah Ibu yang jatuh dia yang mendorong Ibu tapi mengapa kamu malah mempedulikan wanita murahan itu" teriak Ibunya Hendra.


"Hendra...bawa Ibumu pergi, sebelum kesaabaranku habis" ucap Sita dingin.Ia tak lagi mengunakan kata Mas lagi seperti dulu.Ada rasa nyeri diulu hati Hendra mendengar ucapan Sita apalagu melihat tatapan mata Sita yang dingin padanya, tak ada lagi tatapan penuh memuja seperti dulu kala


"Maafkan aku Sita" ucap Hendra lemah.kemudian ia berjalan menghampiri Ibunya.Dan membantu Ibunya berdiri.


"Ibu Ayo kita pulang, jangan bikin keributan disini malu jadi tontonan orang"


"Dia yang mulai, jangan salahin Ibu dong" ucap Ibunya tidak terima.


"Sudahlah bu, aku tau Ibu seperti apa lebih baik kita pulang" ucap Hendra lembut.


"Lihatlah perempuan murahan kau telah meracuni pikiran anakku sehingga ia berkata seperti itu" teriak Ibunya Hendra.


"Mbak Sita lebih baik pulang saja dari pada meladeni perempuan tidak waras ini," ucap salah satu pengunjung.


"Iya, saya juga sudah mau pulang tapi Ibu Wiwik yang terhormat ini menahan saya" ucap Sita


Tbc


Jangan lupa, like, comment dan favorite ya men temen

__ADS_1


__ADS_2