
Hendra melangkah mendekati Boni dan Wina, saat ia ingin menonjok muka Boni ia menjadi berfikir ulang.
"Kalau gue tonjok, yang ada gue bakal dilaporin dan masuk penjara lagi.Ihhh ogah, ahaaa...aku punya ide.Aku akan jatuhkan mental istrinya, aku kan provokasi orang-orang di mall ini.Dia pasti akan tertekan seperti Desy pada saat orang-orang menekan dia" mendadak sebuah Ide buruk terlintas dalam benak Hendra.Dengan senyum mengembang ia mendekati pasangan inj.
"Wah...wah, hebat sekali kamu Boni.Istri kamu dirumah lagi ngirit biar anak kamu bisa jajan.Sementara kamu disini sedang menghabiskan uangmu untuk gundikmu ini" Ucapan Hendra membuat orang-orang di mall itu langsung menoleh kearah mereka.
"Yes, berhasil!, Rin aku tak akan membiarkanmu tekanan batin sendirian akan aku buat madumu merasakan hal yang sama" batin Hendra.
"Diam kamu!, jangan campuri urusan rumah tanggaku.Lihatlah dirimu sekarang sungguh mengenaskan ditinggal dua orang istrimu"
"Kita beda kasus bro, aku menikah lagi setelah aku bercerai dari istri pertamaku.Apakah itu suatu kesalahan?" Hendra benar-benar pintar menyudutkan Boni
"Tutup mulut sampahmu!" bentak Wina geram melihat suaminya dipermalukan seperti ini.
"Owh...pelakor ini mulai beraksi.Lihatlah Ibu-Ibu wanita ini adalah pelakor dia merebut suami adekku.Dan dia laki-laki sialan yang meninggalkan anak dan istrinya demi mengurusi gundiknya" ujar Hendra sembari menunjuk Boni.
Seketika pengunjung langsung menatap horor kearah Boni dan Wina terutama Wina.Sebagaimana kita tau dinegeri Wakanda ini begitu dengar ada pelakor langsung serentak membela korban dari pelakor.
"Oh...rupaya dia pelakor,to?"
"Benar sekali Ibu-Ibu, kalian tentunya masih ingat Video viral beberapa waktu yang lalu diparkiran sebuah tempat kursus. Perempuan ini mendatangi adek saya yang nota bene adalah istri sah.Ia menyuruh adek saya mundur dari pernikahanya,Adek saya tidak meladeni lalu perempuan ini menjambak rambut adek saya" Hendra kembali menyalakan api provokasi.
Semua orang memandang pasangan Boni dan Wina dengan tatapan menghakimi.Tak sedikit yang melontarkan makian pada Boni dan Wina terutama Wina, Perempuan cantik ini mulai tidak nyaman dan tertekan.Melihat kondisi istrinya Boni langsung membawa istrinya keluar dari mall itu, sebelum pergi ia mengancam Hendra terlebih dahulu.
"Ingat urusan kita belum selesai, kalau sampai terjadi apa-apa sama Wina, kamulah orang yang patut disalahkan"
"Lihatlah laki-laki malah mengancamku, jika nanti terjadi sesuatu padaku.Berarti dia orangnya"
"Tenang aja Mas, kami akan bersaksi bila terjadi apa-apa sama Mas.Biar laki-laki nggak berguna ini membusuk dipenjara"
"Hendra benar-benar sialan!," Batin Boni langsung mengandeng Wina keluar, Istrinya tampak sangat kacau.Air matanya tak henti-hentinya mengalir dari pipi mulusnya.Didalam Mobil Wina masih tampak shock, ia menangis sejadi-jadinya
__ADS_1
"Sudah sayang, semua akan baik-baik saja.Percayakan semua padaku"
"Kenapa mas, kenapa hanya aku yang menanggung semua ini.Semua orang menghujatku, apa salahku? Kita pacaran di paksa menikah setelah menikah kita masih dihujat terutama aku, kenapa Mas, kenapa?"
"Aku akan beri pelajaran pada Hendra, biar dia tidak usah ikut campur masalah keluargaku"
"Andaikan Rini istri pertamamu, legowo menerimaku semua ini tidak akan terjadi.Apa salahnya berbagi suami denganku? Kamu juga masih utuh, dia juga masih jadi istrimu aku nggak nyuruh kamu nyerein dia.Kenapa dia serakah sekali tidak mau berbagi denganku.Padahal aku sama-sama istrimu mas, wajar kalau aku minta hak yang sama.Salah sendiri anaknya tiga, makanya dia merasa jatahnya kurang padahal jatahku sama dia sama besarnya.Dasar perempuan serakah"
"Sudahlah Win, ini tidak ada hubunganya dengan Rini.Memang benar harusnya jatah uang Rini lebih sedikit karena ada anak kami, artinya uang dia untuk hidup empat orang sedangkan kamu sendiri" ucap Boni memberi pengertian.
"Ya nggak gitu dong Mas, namanya adil itu kalau 50% : 50%, aku nggak punya anak ya terserah uang itu untuk apa.Salah sendiri dia anaknya banyak.Suruh kerja kalau mau uang banyak" Rini semakin sewot.
"Sudahlah Win, tolong mengertilah keadaan.Kepalaku rasanya mau meledak" ucap Boni.
Mobil terus melaju menuju rumah Wina pemberian Boni.Setelah sampai dikediam Wina ia tidak turun, kepalanya rasanya mau pecah masalah dengan Hendra belum selesai ditambah lagi serentetan tuntutan dari istri mudanya membuat kepalanya serasa meledak Ia melajukan mobilnya tujuanya satu pulang kerumah Rini untuk mencari kedamaian disana.Sampai dikediaman Rini ia dikejutkan dengan keberadaan Hendra disana.
"Ngapain kamu dirumahku, mau cari tumpangan makan gratis?" Sindir Boni.
"Sayangnya aku tidak suka keberadaanmu disini" ucap Boni.
"Sayangnya aku juga tidak peduli, ini rumah rumah adekku terserah aku mau kesini kapan saja.Oh ya ada hal yang harus kamu tau anak-anakmu sangat menginginkanku disini karena apa?, karena mereka merindukan kasih sayang seorang ayah yang tak pernah mereka dapatkan.Karena Ayahnya terlalu sibuk dengan mainan barunya"
"Bedebah, tutup mulutmu! Aku minta keluar dari rumahku sekarang juga" bentak Boni.
"Ini rumah Rini, apa kau lupa bahwa sertifikat rumah ini atas nama Rini.Rumah ini kado pernikahan dari mertuanya" ucap Hendra
"Bugh..." Boni yang geram langsung melayangkan bogem mentah pada Hendra.
"Bugh...bugh..." kembali ia memukuli Hendra seperti kesetanan.
Rini yang baru saja pulang dari tempat kursus terkejut melihat Hendra dipukuli Boni.
__ADS_1
"Stop!, hentikan Mas!" teriak Rini
Hendra dan Boni sama-sama terkejut dengan kedatangan Rini.Mereka menoleh bersamaan.
"Sayang, kamu dari mana aja?, kenapa cecunguk ini dirumah kita?" tanya Boni
"Aku dari mana, itu tidak penting buat kamu kan Mas,giliran aku yang bertanya sekarang kenapa kau pukuli Mas Hendra"
"Sayang kok ngomongnya kaya gitu aku suamimuloh?"
"Bagus Rin, toh suamimu ini nggak penting juga" ucap Hendra.
"Diam!, berhenti mengurusi rumah tanggaku"
"Kamu yang harusnya diam Mas, kenapa kamu nggak jawab pertanyaanku tapi malah sibuk mengalihkan perhatian" Rini jengah juga dengan kelakuam suaminya.
"Rini!"
"Aku mau urus kakakku dulu, setelah itu aku ingin bicara padamu" ucap Rini.
"Biarkan saja bedebah itu mati.Menyusahkan saja" umpat Boni.Namun Rini sama sekali tak menghuraukan ia mengandeng tangan kakaknya lalu mengompre luka lebam di wajah kakaknya setelah selesai mengobati ia berbicara pada sang Kakak.
"Mas, aku tidak bermaksud mengusirmu tapi, tolong untuk saat ini kamu pulang dulu biarkan aku menyelesaikan urusan rumah tanggaku dengan caraku sendiri"
"Rin,Mas nggak rela kamu diperlakukan seperti ini.Hidup menderita lahir dan batin.Asal kamu tau barusan laki-laki brengsek itu ke mall bersama gundiknya untuk memanjakanya sedangkan kamu"
"Cukup Mas!" ucap Rini sambil memejamkan mata.Meskipun ia tau Boni selama ini berat sebelah tetap saja mendengar ucapan Hendra membuat luka hatinya semakin mengangga
Tbc
Makasih para pembaca yang budiman yang masih setia membaca kisah receh ini.Makasih yang udah kasih hadiah buat author lope-lope sekebon buat kalian
__ADS_1
Jangan lupa like, comment dan favorite