Sita Istri Seorang PNS

Sita Istri Seorang PNS
Tragis


__ADS_3

"Pergilah Mas, dia lebih membutuhkanmu kamu tak perlu ijin dariku,bukanya biasanya juga begitu" Sindir Rini


Boni berdiri mematung kaku di dekat ranjang anak-anaknya.Masih terbayang olehnya bagaimana frustasinya Wina.Wanita yang menjadi istri keduanya tak henti-hentinya menjadi bulan-bulanan gunjingan tetangga, kalau Dia lepas tangan begitu rasanya ini tak adil buat wina, bagaimanapun juga Wina begini karena dia.Hal itu yang selalu dalam pikiran Boni.Terekam jelas di memori otaknya saat istrinya jatuh tak sadarkan diri kemarin siang ia mencoba meminta tolong pada tetangga.


Flash back on


"Tolong!, istri saya pingsan" teriak Boni


Sayang tak satupun tetangga yang menghiraukan teriakan Boni.


"Biarin saja, ini Karma buat mereka.Emang Enak dikucilkan di masyarakat.Salah sendiri Zina"


"Malaikat aja enggan mendekat, toh kalau mau nyabut nyawanya dipermainkan dulu biar jadi pelajaran" Seloroh yang lainya.


"Dimana hati kalian?, dia istriku,sekarang sedang sekarat.Bukanya bantuin malah kalian semakin menjadi menghujat dia.Asal kalian tau dia begini karena tekanan dari kalian.Emang kalian pikir kalian siapa? Manusia suci yang nggak punya dosa, atau kalian Tuhan yang berhak menghakimi kami" teriak Boni frustasi.


"Jangan bawa-bawa nama Tuhan!, kami saja jijik dengan kelakuan kalian"


Boni tak lagi mendengarkan ocehan tetangganya.Dengan susah payah ia membawa Wina masuk kedalam mobilnya.Ia berjalan membuka mobil jok belakang lalu membuka sandaran jok agar istrinya leluasa berbaring, kemudian ia berlari kembali masuk kedalam rumah membopong istrinya masuk kedalam mobil" Dengan perasaan yang tidak menentu ia melajukan mobilnya, ditengah perjalanan ponselnya berbunyi ia melirik sekilas ternyata Rini yang menghubunginya.Kemudian ia mengabaikan panggilan dari Rini.Ia berpikir paling Rini menayakan kapan ia akan pulang, setelah berkali-kali menghubunginya Rini mengirim sebuah pesan namun lagi-lagi, Boni tak membukanya ia khawatir dengan kondisi istri keduanya.Sampai dirumah sakit Wina segera mendapat penanganan oleh dokter, beberapa saat kemudia dia tersadar.Dokter menyarankan agar Wina tidak boleh kelelahan dan stres. Hal ini akan memicu istrinya darah tinggi kembali.Ia baru teringat jika Rini tadi menghubunginya berkali-kali dan sempat mengirim pesan ia membuka pesan itu.Seketika ia kaget luar biasa setelah membaca pesan istrinya jika Anak bungsunya jatuh kemudian Arka si sulung terlibat perkelahian.Saat ia hendak meninggalkan Wina, perempuan itu menangis sejadi-jadinya.


"Mas, jangan tinggalkan aku!, aku takut, hiks...hiks..hiks"


"Win, aku pulang sebentar Sila jatuh dan Arka berkelahi disekolahnya" ucap Boni mencoba memberi pengertian.


"Mas, kamu percaya aja itu paling tipu muslihat Rini, dia perempuan serakah dia hanya ingin menguasaimu.Nggak mungkinkan Sila jatuh terus Arka berkelahi disaat yang bersamaan.Itu mustahil mas masa kejadianya pas banget ketika kamu disini, lagian kamu tau sendiri kalau Arka, anaknya pendiem gitu mana mungkin berkelahi.Mbak Rini kalau ngarang cerita kurang cerdas"


Boni berpikir sejenak ia membenarkan ucapan Wina, tidak mungkin anak sulungnya ini berkelahi. Selama ini ia terkenal sebagai anak yang ramah dan supel,jadi rasanya mustahil.


"Mas, kamu jangan mau dibohongi perempuan itu.Sekarang jatahnya aku saat ini kondisiku seperti ini apa? kamu tega membiarkanku di sini sendirian, gimana kalau aku tambah stres, bukankan kata dokter aku tidak boleh stres" ucap Wina meyakinkan Boni untuk tetap menemani Wina.

__ADS_1


"Heeehhh" Boni mendesah pelan, ia akhirnya tidak jadi pergi untuk menengok kondisi anak-anaknya.Setelah kondisi Wina membaik Boni mencuri-curi waktu untuk pulang menemui Rini dan anak-anaknya"


Flashback off


Saat ini Boni menyadari kesalahanya yang membuat istrinya terluka, ia mengabaikan begitu saja pesan dan panggilan istrinya disaat membutuhkan dirinya.Ia juga sama sekali tak mengabari keberadaanya pada sang istri pertama takut membuat Rini semakin terluka.


"Rin, sekali ini saja aku mohon pengertian darimu, dia tidak punya siapa-siapa di kota ini" ucap Boni dengan lirih takut anak-anaknya terbangun.


Sakit, itulah yang dirasakan Rini, disaat ia dan anak-anak membutuhkanya justru suaminya berat sebelah pada istri mudanya.


"Pergilah, toh anak-anak juga sudah terbiasa dengan ketidak hadiranmu" Sarkas Rini tak ingin berdebat lagi.


"Maafkan aku" ucap itu.


"Segeralah pergi!,agarseluruh dunia tau kalau kalian sedang di mabuk cinta.Kami hanya sampah buat kalian"


"Keadaan Mas, yang membuatku seperti ini kau yang membuatku jadi begini.Selama ini kau hanya menuntutku untuk memahamimu tapi,pernahkah kau memikirkanku?"


"Hentikan omong kosongmu Rin, selama ini aku tak sekalipun lalai menafkahimu.Sekarang masalahnya waktuku sedikit terbagi dengan Wina itu aja nggak lebih.Semuanya masih sama seperti yang dulu bahkan perasaanku padamu"


"Cih...perasaan? Aku saja merasa bahwa perasaanku sudah mati.Aku tak lagi merasakan apapun bahkan saking terbiasanya rasa sakit itu sampai tak terasa"


"Kenapa kamu sekarang sekeras ini Rin" lagi-lagi Boni memprotes sikab Rini.


"Kamu masih bertanya kenapa Mas?, aku sedang menyembuhkan diriku sendiri yang entah kapan bisa sembuh, Aku dan anak-anak harus segera tidur untuk menyiapkan energi menghadapi kenyataan esuk, bahwa kami harus bisa berdikari tanpamu Mas"


"Apa maksudmu Rin?"


"Tak ada, selamat malam" ucap Rini lalu menutup pintu dan mengunci dari dalam.Sementara Boni masih mematung didepan kamar, ingin rasanya mengetuk pintu atau bahkan mendobraknya namun takut anak-anaknya terbangun.Ia mengurungkan niatnya, bersamaan dengan itu ponselnya berbunyi.Rini yang mendengar suara ponsel suaminya berbunyi ia menguping dari balik pintu.

__ADS_1


[Hallo Mas Boni ini Ita,] terdengar suara dari seberang sana.


Semenjak Kejadian itu, Boni memperkerjakan seorang assiten untuk Wina


[Iya ada apa?, malam-malam menghubungiku]


[Gawat Mas]


[Apanya yang gawat?, jangan betele-tele!]


[Mbak Wina mas]


[Iya, Wina kenapa?]


[Mbak Wina, berteriak-teriak histeris sepertinya ia sangat tertekan tadi dia nggak sengaja dengar lagi gunjingan tetangga]


[Kamu ini bagaimanasih?, aku bayar kamu untuk jaga dia.Kenapa kamu biarkan dia keluar saat ini sedang tidak kondusif]


[Iya, salah salah tapi yang penting Mas Boni segera pulang, ini Mbak Wina semakin histeris takutnya tetangga nanti terganggu dan menyerang kita]


[Aku segera kesana, tolong kunci semua pintunya tunggu aku!]


Dari dalam kamar Rini membekap mulutnya sendiri, dengan jelas ia mendengar apa yang dibicarakan Boni.


"Ya Tuhan, ternyata segitu sayangnya kamu sama dia Mas.Bahkan kau sampai dirumah tidak menanyakan kabar anak-anak yang baru saja terkena masalah.Tapi begitu kamu dengar kabar dari mainan barumu kamu langsung sigab.bahkan kau menyewa seoarang assiten untuknya, sedangkan untukku jangankan assisten saat aku kerepotan Sila jatuh disaat Arka juga sedang berantem kamu nggak peduli sama sekali" batin Rini terus bergejolak


Tbc


Jangan lupa like, comment dan favorite ya men temen

__ADS_1


__ADS_2