Sita Istri Seorang PNS

Sita Istri Seorang PNS
Pengobatan


__ADS_3

Hari yang dinantikan Wina telah tiba, ia begitu gencar mengirim santet pada Rini, saat ini Rini sedang terbaring dirumah sakit badanya penuh dengan bisul.Segala obat telah diberikan namun hasilnya nol besar, Hendra sangat murka melihat kemalangan demi kemalangan yang dialami oleh adeknya.


"Kami akan bawa Rini pulang, aku tak membutuhkan persetujuanmu, lihatlah kondisi Rini semakin mengenaskan.Aku yakin penyakit yang diderita Rini bukan penyakit biasa, mengingat sebelumnya ia telah dikirim santet oleh orang yang tidak bertanggung jawab" ujar Hendra


"Saya tidak setuju Rini dibawa pulang,"


"Apa yang bisa kamu lakukan untuk melindungi Rini?, nggak ada kan, bahkan disituasi seperti ini saja kau masih kesana kemari mengurusi gundikmu,"


"Diam kamu Mas, kalau nggak ngerti apa-apa jangan asal bicara! Dan jangan pernah sebut Wina gundik dia juga istriku, dia juga berhak atas diriku sama seperti Rini" ucap Boni penuh emosi


"Luar biasa....sudah salah masih ngotot.Sekarang keputusan bukan diaku atau kamu, kita tanya Rini" tantang Hendra.Boni begitu percaya diri jika Rini akan terus bersamanya apapun yang akan terjadi.


"Rin, keadaan kamu sungguh memprihatinkan.Apakah kamu mau ikut pulang bersama Mas kerumah kita, disana ada Ibu dan aku yang akan menjagamu" ujar Hendra


Rini terdiam sesaat, ia tampak sedang memikirkan tawaran kakaknya, disatu sisi ia tak ingin anak-anaknya terpisah dari Boni satu Sisi ia tak ingin anaknya terlantar karena dia sedang sakit sementara Boni kesana kemari, karena dua istri.Boni sangat yakin bila Rini akan memilih tinggal bersamanya, karena selama ini Rini selalu bertahan meskipun berkali-kali disakitinya.


"Aku ikut Mas Hendra pulang," ucap Rini singkat.


Perkataan Rini sukses membuat mata Boni terbelalak, ia tak menyangka Rini akan meninggalkanya.


"Kamu sedang bercanda kan sayang?," ujar Boni menyakinkan bahwa Rini tidak serius dengan apa yang ia katakan


"Kamu ini budeg, apa bagaimana Bon?," maki Hendra


"Diamlah Mas, ini urusan rumah tanggaku.kamu orang luar," teriak Boni


"Orang luar katamu?, aku adalah kakak Rini.Aku tidak akan bertindak sejauh ini jika saja kau becus mengurus istri dan anakmu,"


"Cih...jangan belagu Mas, kamu mau bawa anak dan istriku.Untuk makan diri kamu sendiri saja senin, kamis jangan sok belagak menafkahi anak dan istri orang, ngaca sebelum berbicara," umpat Boni


"Mas, hargai keputusanku.Aku putuskan ikut dengan keluargaku karena anak-anakku tidak ada yang menjaga, sementara kau sebagai ayahnya sibuk dengan istri barumu,"


Boni terdiam, tak bicara apa-apa lagi memang kenyataanya selama Rini sakit ia lebih sering menghabiskan waktu di tempat Wina, yang selalu melayani kebutuhan lahir dan batinya.

__ADS_1


"Nggak bisa ngomong kan?, jangan sok jagoan untuk masalah materi istrimu telah mandiri scara financial.Jangan lupa itu!,"


Boni benar-benar tak bisa berkutik dengan perkataan Hendra.Setelah mengurus admisnistrasi Rini dibawa pulang Hendra, anak-anak Rini tentu saja ikut serta.Hal ini membuat Wina girang bukan kepalang tujuannya tercapai sudah, kini ia menjadi wanita satu-satunya Boni hanya statusnya saja sebagai istri kedua.Kedatangan Rini disambut tangis oleh Ibunya, melihat kondisi anaknya yang memprihatinkan hati Ibu mana yang tidak terluka.


"Bagaimana bisa begini keadaan kamu Rin?, ini sih pasti ulah madu kamu,"


"Ibu jangan suudzon kita tidak punya buktinya, nanti jatuhnya fitnah Bu," ucap Rini lemah.


Ibunya Rini menatap Rini menatap nanar putrinya yang kini kurus kering, tubuhnya penuh nanah.


"Ibu akan minta tolong pada dukun langanan Ibu, agar kau bisa sembuh,"


"Jangan main dukun bu, nanti jatuhnya musrik,"


"Hallah, kamu itu sedang sakit jangan ngeyel kalau dikasih tau orang tua," ucap Ibunya Rini.


Rini hanya diam saja percuma berdebat dengan Ibunya ia tak akan menang


"Hen, kamu kerumah mbah Surip sekarang ceritakan kondisi Rini, kasian adekmu harus segera mendapat pertolongan," titah Ibunya Hendra.


"Otakmu isinya cuma uang dan uang," ucap Ibunya Hendra sembari memberikan selembar uang berwarna biru.


Beberapa saat kemudian Hendra sudah kembali dengan dukun yang dimaksud Ibunya, Rini sebenarnya tidak mau tapi Ibunya terus memaksa.Kemudian dukun itu melakukan serangkaian upacara, namun di tengah ia merapalkan mantra ia langsung terpental sampai terbatuk-batuk.


"Aduh...uhuk...uhuk, aku tak sanggup sihirnya terlalu kuat.Aku tak bisa melawanya jika aku nekat maka nyawaku taruhanya, maaf aku menyerah mengobati putrimu" ucap sang dukun.


"Tolonglah mbah, sekali ini saja lihatlah keadaan putriku!, sangat mengenaskan begitu, kami akan menambah uang tapi tolonglah putriku," pinta Ibunya Rini memelas.


"Sekali lagi aku mohon maaf, aku tak bisa.Permisi aku pergi dulu," ucap sang dukun berpamitan.


Setelah dirumah Ibunya kondisi Rini semakin memburuk, bau anyir pada tubuhnya menyengat, wajahnya sampai tidak berbentuk Ibunya dan Hendra sudah mendatangkan puluhan dukun untuk mengobati Rini, hasilnya nihil tak ada tanda-tanda Rini akan sembuh, hingga suatu ketika Hendra ingat bahwa Rini pernah berobat kepada seorang ustdaz dan nyaris sembuh.Akhirnya ia meminta alamat sang kiai itu pada Sita.Hingga kemudian sang Ustadz datang kerumha Hendra untuk mengobati Rini.


"Ibu, Mas, ada yang ingin saya sampaikan pada kalian.Tubuh mbak Rini ini sangat lemah akibat serangan bertubi dari seorang dukun atas intruksi seseorang dan kondisi mbak Rini makin parah karena kalian juga mendatangkan dukun untuk menyembuhkan mbak Rini, para dukun ini malah mengunci jiwa mbak Rini, Saya akan usahakan bantu tapi saya berharap Mas dan Ibu bantu dengan doa, mohonkan ampun mbak Rini pada yang kuasa, agar semua penyakitnya diangkat,"

__ADS_1


"Iya pak ustadz, kami mengerti,"


"Baiklah kita mulai, tolong baringkan mbak Rini menghadap kiblat, selimuti dia,"


Hendra segera melakukan apa yang di perintahkan sang ustadz


"Masnya bisa baca ayat kursi?,"


"Enggak Pak,"


"Ibunya?,"


"Saya juga nggak bisa pak ustadz,"


"Surat-surat pendek?,"


Keduanya mengeleng.


"Fatihah?"


"Bisa pak ustadz"


"Kamu mas baca alfatihah 1000x dan untuk Ibu aminkan doa saya!,"


"Baik pak ustadz," ucap keduanya kompak


Kemudian ustadz tadi merapalkan serangkaian doa untuk menyembuhkan Rini, awalnya Rini bereaksi, dia berteriak-teriak dan memaki sang ustadz.Tapi ustadz tadi sama sekali tak bergeming ia terus saja merapalkan doa-doa, hingga Rini betul-betul merasa kesakitan dan berteriak kencang kemudian pingsan.Ibunya Hendra menangis histeris melihat kondisi putrinya.


"Pengobatan ini tidak selesai 1x, saya sarankan mbak Rini dibawa ke pondok saya agar saya bisa menyembuhkan total,"


"Iya pak kami ikut apa kata pak ustadz aja demi kebaikan Rini," ucap Hendra


Tbc

__ADS_1


Jangan lupa like, comment dan favorite


__ADS_2