
"Bangun Rin!, kamu jangan kek gini" ucap Sita sambil berusaha menarik tangan Rini agar bangun, namun ia tampak kesusahan karena perutnya sudah membesar.
"Enggak Mbak,sebelum mbak Sita maafin aku, Aku akan terus begini"
"Mbak udah maafin kamu, jauh-jauh hari sebelum kamu minta maaf.Ayo bangun mbak kesusahan ini bangunin kamu"
"Maaf mbak," ucap Rini ia beranjak vangun dari duduk bersimpuhnya dan langsung memeluk Rini dan menangis sesengukan.
"Udah jangan nangis lagi, yang lalu biarlah berlalu.Mari kita bikin kenangan masa depan yang baik dengan tetap menjalin silahturahmi" ucap Sita bijak.
"Mbak memang benar-benar berhati malaikat.Mbak pantas bahagia, hiks...hiks" Rini masih saja menangis saat Sita melepaskan pelukanya.
"Siapa namamu?" tanya Mama Henny
"Rini Nyonya"
"Jangan panggil nyonya panggil tante saja, awalnya aku takut dengan kedatangan kamu kesini, takutnya kamu bikin ulah seperti kakakmu kemarin.Tapi melihat ketulusan kamu meminta maaf pada Sita, tante yakin kamu sudah berubah sedikit banyak tante tau tentang kamu dan keluarga kamu"
"Iya, Tante maafkan kami tante, saya juga tidak tau kalau mas Hendra kemarin kesini dan membuat keributan.Atas nama mas Hendra dan keluarga besar saya minta maaf yang sebesar-besarnya tante" ucap Rini sungguh-sungguh.
Setelah basa-basi dan ngobrol lama dengan Sita, Rini merasa lega karena tidak ada lagi beban perasaan bersalah pada Sita.Nyatanya perempuan sebaik Sita memaafkanya dengan tulus bahkan, masih mengangapnya saudara meskipun sekarang mereka tidak da hubungan apa-apa lagi.Rini merasa sangat bersyukur.Ia langsung berpamitan pulang Sita meminta Rini untuk saling bertukar nomor ponsel agar tetap saling berkominikasi.Setelah dari rumah Sita.Rini langsung menjemput anak-anaknya.Ia menjemput nila dan sila di paud tempat mereka belajar baru kemudian ke sekolah Arka.
"Kok sepi banget, dimana Arka?" guman Rini mulai panik saat tak menemukan putra sulungnya.Ia kemudian menuju ke ruang guru untuk menanyakan keberadaan Arka, dari guru yang mengajar Arka mengatakan kalau Arka sudah dijemput Papanya dan seorang wanita muda.Hati Rini mendadak tersentil rasanya sakit sekali membayangkan anak dan suaminya bersama wanita lain.Ia langsung menghubungi suaminya agar segera membawa Arka pulang.Hingga sore hari Arka belum dibawa pulang oleh suaminya.Rini mondar-mandir diteras rumahnya.
"Ah...akhirnya pulang juga dia" guman Rini.
"Mas, aku mau bicara. Kakak main sama adek-adek dulu ya, Mama mau bicara sebentar sama papa" ucap Rini
"Iya Ma" ucap Arka patuh.Anak itu langsung ke kamar bersama adek-adeknya.
"Apa kabar Mas?, aku lihat kau nampak senang dan bahagia selama aku kerumah Ibuk" sindir Rini
"Rin, jangan mulai deh.Aku baru saja pulang harusnya kamu menyambutku dengan senyuman, bukan dengan tatapan sinis begini" ujar Boni
__ADS_1
"Sekarang aku tanya sama kamu Mas, bagaimana jika kau menjadi aku.Apakah kau masih baik-baik saja bila kamu pulang tak menemukan anakmu dan malah diajak bertemu dengan wanita asing"
"Rin, dia bukan wanita asing.Dia istriku suka tidak suka itulah kenyataanya.Berdamailah dengan keadaan terima Wina sebagai adek madu kamu"
"Mudah sekali kamu meminta hal itu padaku, bagaimana jika aku memintamu untuk meninggalkanya demi kami,apakah kau sanggup?"
Boni terdiam sesaat lamanya.
"Nggak bisa jawabkan Mas, jadi stop buat kamu minta aku terus ngertiin kamu dan bersikab seolah-olah tidak terjadi apa-apa dengan kita" sinis Rini.
"Inilah sikabmu yang membuat aku nekat menikahi Wina"
"Bulshit....ingat mas kamu menikahi dia karena kepergok berzina lebih tepatnya di grebek lalu dikawinkan.Kamu menikmati peranmu Mas.Andai aku berubah apakah kamu mau meninggalkan perempuan itu? Jawabnya tentu saja tidak! Karena kamu menikmati ini semua, punya istri muda yang bisa melayanimu diranjang hingga kau melupakan kami" ujar Rini sambil memperlihatkan foto suaminya tengah bermesraan dengan madunya.
Boni membeliak, ia tak menyangka kalau Wina akan mengirim foto saat kebersamaan mereka bahkan saat sehabis bercinta pada Rini.ia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Rini saat ini.Dalam benaknya bertanya-tanya kapan Wina menfoto mereka.
"Rin, maafkan aku!"
Boni meraih tubuh Rini dan memeluk perempuan yang sudah lima tahun menemaninya dalam suka dan duka, perempuan yang dulu sangat arogan dan ingin menang sendiri kini telah menjelma menjadi wanita yang rapuh.Rasa sesal kian menumpuk dalam dada andai waktu bisa diulang ia tak ingin menyelingkuhi Rini.Keesokan harinya Boni mendapati Arka sang putra sulung nampak menangis dan tidak mau sekolah, ia melihat Rini tengah membujuk anaknya.
"Anak Mama kenapa murung sekali?, Ayo siap-siap kesekolah ini sudah siang nanti kamu terlambat loh sayang" ujar Rini membujuk sang putra.
"Ma, bolehkan Arka tidak sekolah?"
"Kenapa sayang?, bolehkah Mama tau alasanya?" tanya Rini lembut.
"Arka malu Ma, disekolah Arka diledek teman-teman karena Arka punya Mama dua"
"Deg" Hati Rini berdenyut nyeri mendengar penuturan putranya.
"Nanti Mama, akan bilang sama Ms.disekolah, agar mereka tidak mengejek Arka lagi.Arka mau ya sekolah!" Rini kembali membujuk anaknya.
"Ma, kata teman-teman Arka nanti Papa akan meninggalkan kita demi Mama yang lain seperti Vero Ma" ucap Arka sendu.
__ADS_1
Hati Rini bak dipukul godam yang sangat besar mendengar penuturan putranya, nyatanya putranya harus mendapat perundungan disekolahnya.Boni mendekati sang putra ia semakin merasa bersalah melihat kondisi putranya.
"Arka sayang, apapun yang akan terjadi Papa janji Papa nggak akan ningalin kalian"
"Papa beneran janji?, Papa nggak boong kan?" tanya bocah itu.
"Iya, Papa janji.Sekarang Arka siap-siap dulu nanti Papa yang akan antar kamu kesekolah" ujar Boni
"Papa harus janji juga kalau nanti Papa pulang lagi kesini"
Boni menganguk, Arka kembali bersemangat untuk bersekolah.Sejurus kemudian Arka sudah diantar Papanya kesekolah sedangkan Rini mengurusi kedua adik Arka dan mengantar mereka ke Paud setelah itu barulah ia ke tempat kursus.Selang beberapa saat Ia mendapat pangilan dari guru paud Sila ia mengatakan kalau Sila terjatuh.Ia langsung bergegas kesekolah Sila.Hatinya tidak tenang mendengar kabar kalau putrinya terjatuh.Ia tak mengabari suamianya.
"Mama Hua.aaaa.., kak Ila Ingcan, hua...aaa" Tangis bungsu Rini pecah ketika Rini datang.
"Bagaimana keadaan anak saya Ms.?"
"Sila sudah siuman, tadi jatuh terus pingsan" ucap guru Sila.
"Ijinkan saya bertemu dengan Sila"
"Mari Bu, silahkan!" ucap Ms.Hilda guru Sila.
Rini langsung berhambur memeluk anak keduanya, ponsel dalam tasnya terus berbunyi dari tadi ia tak menghiraukanya karena sibuk dengan Sila.
"Bu, itu ponselnya bunyi terus.Coba diangkat siapa tau itu penting" ucap Ms.Hilda.
"Maaf Ms.jadi nggak ngeh, terlalu fokus sama Sila" ucap Rini.Ia kemudian mengambil ponsel dari dalam tasnya lalu memencet tombol hijau.
"Ya Hallo, Apa?" ucap Rini kaget.
Tbc.
Ada ada dengan Rini ya? Kira-kira siapa yang telephone dan kenapa Rini sepertinya kaget gitu? Jangan lupa komen,like dan fav biar author semangat meskipun tidak di bayar hehehhe
__ADS_1