
"Mel, sibuk banget tumben kamu mau didapur?, ngapain kamu?"
"Aku mbak," ucap Amel sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Emang disini ada orang lain?" ucap Sita
"Ini lagi nyuci!, lagian mbak Sita aneh-aneh aja di dapur kok ngapain?, ya jelas masak lah"
"Gaya loe, emang bisa masak?" ejek Sita
"Heheheh, masak mie intans" ucap Amel sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal
"Mbak mau?" tanyanya
"Nggak ah"
"Oh, iya lupa. Mbak kan dulu keseringan makan mie instan jadi sekarang wajar bosan, eh dulu aku mikir mbak Sita kok udah nikah masih aja diet, ehh...ternyata mbak Sita diet khusus"
"Maksud loe?"
"Makan hati, hahahah pantesan kurua kering"
"Sialan loe Mel!" ucap Sita sambil melempar sendok kearah Amel
"Mbak, Mas Rizal ganteng ya?" tiba-tiba Amel nyeletuk.
Sita hanya diam saja tak menangapi perkataan Amel.
"Mbak,"
"Mbak"
"Hello...mbak kok diem sih?"
"Terus aku harus teriak sambil guling-guling gitu?"
"Hahah..hahahah" tawa Amel meledak
"Kalian lagi ngomongin apa?, kelihatanya serius sekali?" tanya Mama Sita yang tiba-tiba muncul di dapur.
"Biasa, Amel kumat banyolanya" ucap Sita.
"Sita, Mama ingin bicara sama kamu"
"Pasti soal pernikahan lagi" batin Sita
"Mama tidak memaksa kamu untuk menerima lamaran, Yoga, Erwin ataupun ustadz yang ingin taaruf dengan kamu, tapi kemarin Mama ketemu temen lama Mama. Dia ingin kau berkenalan dengan putranya. Besuk tolong kau temui dia" ujar Mamanya Sita.
Sita melirik Amel, dan Amel mengangkat bahunya.
__ADS_1
"Kalau kamu keberatan bertemu dia kamu temui dia bersama Amel" ujar Mamanya Sita yang tau sepertinya Sita keberatan.
"Satu lagi yang ingin Mama katakan, kemarin nak Rizal menemuni Mama dia ingin serius sama kamu, tapi Mama sudah katakan sama dia bukanya Mama nggak suka sama Nak Rizal tapi, Mama masih trauma punya menantu PNS, dan Mama juga sudah minta dia untuk jaga jarak dengan kamu, dan soal kafe yang kalian bangun bersama kamu nggak harus kesana tiap hari, kamu cukup minta laporanya aja. Mama nggak mau kamu terlalu dekat dengan dia, Mama harap kamu mengerti"ucap Mamanya Sita.
"Tapi Ma" ucap Sita.
"Nggak ada tapi-tapian ini demi kebaikan kamu, Mama sudah kapok punya menantu PNS" ucap Mamanya Sita tak terbantahkan.
Hari minggu seperti yang dijanjikan Mamanya ia akan dikenalkan dengan seorang laki-laki anak Teman Mamanya.Sebenarnya Sita malas untuk menemuinya tapi ia hanya tak ingin membantah keinginan Mamanya.Dengan didampingi Amrl adeknya Sita menuju kafe yang dimaksud Mamanya, Ia dan Sita celingukan seperti nyari seseorang.
"Mbak, itu meja nomor 104 bukan, tapi siapa yang duduk disitu?"
"Mungkin itu yang namanya syarif, yang mau dikenalin aku" bisik Sita.
"Wadidaw, nggak salah bu? Kenapa penampilanya kebanting sama Mas Rizal gini, habis lihat mas Rizal terus lihat ini kaya habis makan coklat terus suruh makan gula jawa yang sudah jatuh ditanah dikerubutin semut, iyuhhh" bisik Amel.
"Sudahlah kita kesana dulu, yang penting ketemu dulu biar Mama senang. Soal yang lain pikir nanti" ucap Sita sambil mengandeng Amel.
"Permisi!, dengan Mas Syarif" Sapa Sita ramah.
"Pffttftftt" Amel berusaha menahan tawa melihat penampilan laki-laki didepanya ini.
"Sita Ya?" tanya Laki-laki itu.
"Iya"
Laki-laki itu menilisik penampilan dua wanita dihadapanya.
"Apaan ini?, baru pertama kali bertemu langsung ceramah gini, lihat dia sendiri pakaianya nggak jelas konsepnya apa, atas merah bawah kuning sepatu hijau, Ya Tuhan, Mama nemu dimana manusia aneh seperti ini" batin Sita.
"Jadi apa maksud kedatangan kamu kesini" pria itu malah menanyai Sita.
"Loh, bukanya dari pihak Bapak ya yang minta untuk ketemuan?" tanya Sita.
"Oh, jadi kamu yang berniat jadi pendampingku?"
"What apa dia bilang?" batin Sita.
"Sepertinya ada yang harus diluruskan, saya kesini atas permintaan Mama untuk menemui anda" ucap Sita pada akhirnya
"Waw, selain janda ternyata kau galak juga ya" ucapnya.
Melihat pemandangan didepanya Amel jadi ikut geram, dia mulai angkat bicara.
"Begini ya pak Syaraf, jadi intinya Mama kami menyuruh Kakak saya ini berkenalan dengan Pak Syaraf, bukan mau melamar Pak Syaraf" ucap Amel sewot.
"Syarif bukan Syaraf" ucap pria itu.
"Hallah sama aja"
__ADS_1
"Amazing aku suka gayamu"
Syarif lalu menelisik Amel dari atas sampai bawah, dan tersenyum miring.
"Syarat menjadi istri seorang Syarif itu sangat banyak, aku tak yakin Kakakmu ini memenuhi kreteriaku"
"Ini orang benar-benar syaraf, siapa juga yang mau sama dia, apalagi mengajukan diri sebagai istrinya.Mimpi apa aku semalam ketemu makluk seperti ini" batin Sita.
"Gaya banget, pake syarat segala emangnya apa syaratnya?" tanya Amel sewot.
"Seorang yang ingin menjadi istriku haruslah jelas, bibit, bobot, dan bebetnya, kamu faham nggak?"
"Nggak!" jawab Sita ingin segara mengakhiri pembicaraan unfaedah ini
"Ya Tuhan, bagaimana bisa Mama menolak Rizal dan bermasud menjodohkanku dengan manusia aneh ini"batin Sita
"Aduh, gitu aja nggak mudeng, skill kamu terlalu rendah"
Sita dan Amel melotot bersamaan mendengar ucapan laki-laki aneh didepanya ini.
"Asal kau tau aku ini seorang ketua RT, aku tau kau seorang janda tapi kamu jangan obral murah kaya gini" ucapnya tanpa Filter.
"Brakkk," Sita mengebrak meja mendengar ucapan laki-laki didepanya ini ia sangat tersingung.Syarif mengigil ketakutan karena gebrakan meja didepanya.
"Kamu bar-bar sekali, kamu sama sekali nggak pantas jadi pendampingku" ucap Syarif
"Kak sebaiknya kita tinggalkan laki-laki syaraf ini, mulutnya nggak pernah disekolahin" ujar Amel.
"Dengar ya, Aku sama sekali tidak berminat padamu. Aku juga sudah punya tambatan hati sendiri seorang PNS" ucap Sita penuh penekanan.
Sita langsung menarik tangan Amel untuk meninggalkan tempat itu.
"Sita dengarkan Aku, kamu jangan berkecil hati karena aku tolak.Aku harap setelah ini kamu tidak bunuh diri" ucap Syarif penuh percaya diri.
Amel yang mendengar ucapan Syarif berbalik badan dan langsung menyiram muka Syarif dengan minuman yang sudah dipesanya tapi belum sempat diminum.
"Byurr...., bangun dari mimpimu!" umpat Amel
"Amazing, gadis kecil I Love You" ucap Syarif pada Amel.
Amel bergidik ngeri melihat ucapan Syarif.
"Bener-bener syaraf, lebih baik kita langsung cabut mbak agar kita tetap waras" umpat Amel.
Sepanjang perjalanan pulang Amel, marah-marah sepanjang jalan.
"Bisa-bisanya Mama menukar Mas Rizal yang bak Dewa Yunani dengan kurcaci macam itu, Heran Mama itu nemu manusia jadi-jadian itu dimana sih Mbak"
Bukanya marah, Sita justru terpingkal-pingkal melihat Amel sejak tadi marah-marah dan sesekali bergidik mengingat Syarif.
__ADS_1
Tbc
Jangan lupa, like comment dan favorite ya men temen