
"Mas, aku rasa sebaiknya kamu pulang sekarang!.Lukamu juga sudah mendingan"
"Kamu mengusirku Rin?,bukanya aku tak mau pulang, tapi meninggalkanmu disini bersama laki-laki brengsek itu juga bukan pilihan"
"Mas, tolong pahami kondisiku.Percayalah padaku,aku bisa mengatasi masalahku sendiri"
Hendra menatap Rini, ia sebenarnya tak tega membiarkan adeknya bersama laki-laki yang tidak bertanggung jawab seperti Boni.
"Baiklah aku pulang, Mas percaya padamu.Ikuti kata hatimu, buka mata dan pikiran kamu.Diam tak selamanya emas" Ujar Hendra sebelum meninggalkan kediaman Rini.
Setelah kepulangan Hendra Rini.Berusaha bersikab biasa saja pada Boni meskipun hatinya getir.Ia mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan Boni.Semua sudah ia pikirkan masak-masak.
"Mau kemana kamu Rin?,"Tanya Boni
"Mau jemput anak-anak" ucap Rini
"Biar aku yang jemput, kamu dirumah aja" ucap Boni ia merasa sedikit bersalah pada Rini.Selama ini ia mengabaikanya.
Rini menganguk tanda ia setuju.Ia telah berdamai dengan hatinya walau bagaimanapun juga saat ini Boni masih suaminya.Selepas pulang menjemput anak-anak, Boni mengajak Rini dan anak-anaknya berbenja.Sementara anak-anak bermain di area bermain di pusat perbelajaan tersebut.Tanpa Boni sadari Wina juga ada di mall yang sama dengan mereka.
"Oh, rupanya kamu disini Mas! Pantas saja aku hubungi kamu nggak bisa.Rupanya wanita serakah ini sedang bersamamu" umpat Wina yang kesal karena merasa diabaikan.
Boni menatap tajam kearah Wina, tak ingin menjadi tontonan seperti yang sudah-sudah ia segera menghampiri istrinya dan membawanya keluar.
"Lepas, lapaskan Mas!. Aku mau kasih pelajaran pada perempuan serakah itu"
Boni tak menghiraukan ucapan Wina ia langsung membawa istri mudanya masuk dalam mobil dan mengantarnya pulang, ia lupa dengan keberadaan anak dan istrinya yang lain yang masih di mall itu.
"Selalu saja begini," batin Rini
Ia menatap anak-anaknya yang girang bermain, dengan sabar ia menunggu anak-anaknya.
"Papa mana Ma?" tanya si sulung
"Papa lagi ada urusan sayang, gimana udah cape? mau langsung pulang atau makan dulu?"
__ADS_1
Seketika wajah Arka si sulung langsung terlihat muram, ia sudah bisa menebak kalau Papanya meninggalkan mereka lagu demi istri mudanya.
"Mau langsung pulang aja Ma, bobok" ucap anak itu tak semangat
"Kenapa kamu tampaknya murung begitu sayang?,ada masalah?"
Putra sulungnya hanya mengeleng perlahan.Setelah sampai dirumah dan adek-adeknya sudah tidur. Arka mengajak bicara Mamanya.
"Mama, Arka tak akan memaksa Mama lagi untuk bersama Papa.Toh selama ini Papa juga tak pernah ada buat kita.Dan selama itu pula kita baik-baik saja"
Air mat Rini langsung membajiri pipinya.Ia tak menyangka anaknya akan berkata seperti ini.Pedih itulah yang Rini rasakan saat ini.Anaknya didewasakan oleh keadaan.Rini memeluk putra sulungnya.
"Mama nggak boleh nangis lagi, Arka nggak suka Mama nangis.Mama harus bahagia, meskipun tanpa Papa"
"Deg..." Hati Rini berdesir hebat ia tak menyangka,p kelimat itu akan keluar dari mulut anak sekecil Arka.
"Mama nggak apa-apa sayang, bagi Mama kebahagiaan kalian adalah prioritas Mama saat ini" ujar Rini menahan segala rasa getir di dalam hatinya.
"Mama jangan nangis lagi.Jika tanpa Papa Mama lebih bahagia kenapa tidak"
"Mas, aku mau bicara"
"Perasaan dari tadi pagi kamu mau ngajak bicara, tapi tidak bicara-bicara.Kamu kangen ya sama aku" goda Boni.Sambil mendekat dan ingin meraup bibir Rini, namun Rini segera menepisnya.
"Tolong duduk dengan tenang jangan bikin rusuh,aku mau bicara serius" ucap Rini dengan mimik wajah yang serius.Boni langsung menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa.
"Ada apa?" tanya Boni makin penasaran
"Mari kita bercerai"
"Juederrr....." bagai disambar petir disiang bolong saat Boni mendengar ucapan istrinya barusa
Tak ada hujan, tak ada petir tiba-tiba Rini meminta cerai, padahal selama ini Rini baik-baik saja.Bahkan dikala ia lebih mementingkan istri mudanya Rini tak memprotesnya.
"Rin, jangan bercanda!, ini sama sekali nggak lucu"
__ADS_1
"Aku nggak bercanda Mas, semua sudah aku pikirkan matang-matang" ucap Rini mantab tanpa keraguan sedikitpun
Boni nampak menyugar rambutnya, lalu memijit pelipisnya sendiri.Niatnya pulang kerumah Rini untuk mendapatkan ketenangan namun, ia malah mendapat kejutan yang luar biasa.
"Apakah Hendra yang mempengaruhimu?"
"Ini tidak ada hubunganya dengan Mas Hendra, ini murni keinginanku sendiri.Mari berdamai dengan keadaan Mas,kau bisa melanjutkan hidupmu dengan istri barumu dan aku akan melanjutkan hidupku dengan anak-anak"
"Tidak...sampai kapanpun aku tak akan menceraikanmu, aku tak mau berpisah denganmu dan anak-anak.Tolong pikirkan kembali nasib anak-anak" Doni berusaha mempertahankan rumah tangganya.
"Soal anak-anak kamu jangan khawatir, aku tak akan membatasimu untuk bertemu dengan mereka.Itupun kalau kamu mau menemui mereka"
"Apa maksud kamu Rin!"
"Semuanya sudah jelas Mas, apa yang aku inginkan darimu yaitu satu kita jalani hidup masing-masing"
"Tidak...itu tidak akan pernah terjadi, sampai kapanpun aku tak akan menceraikanmu"
"Baiklah kalau begitu biar pengadilan yang memutuskan" ujar Rini.
"Rini kenapa kau keras kepala sekali, mau kau kasih makan apa anak-anakku hah? Kau pikir kau bisa menghidupinya.Kalau kau tetap ngotot cerai maka anak-anak akan ikut denganku"ancam Boni.
Bukanya takut mendengar ancaman Bonu Rini justri tersenyum penuh arti lalu menatap Boni.
"Ikut dengan Mas Boni, Mas yakin istri mudamu mau menerima anak-anakku,mereka bertiga loh.Belum lagi Mama dan Papa, aku yakin mereka tidak akan membiarkan cucu mereka tinggal dengan wanita seperti Wina"
Secepat kikat Rini bisa membalikan keadaan. kini Boni yang kelimpungan, niatnya hanya mengancam mengunakan anak-anak untuk menekan Rini, agar tidak nekat minta cerai malah ditantang balik oleh istrinya.Boni memejamkan mata.
"Kau tak akan pernah menang, karena selama ini aku tak pernah lalai menafkahimu, aku juga tidak pernah KDRT jadi kamu jangan bodoh, buang-buang waktumu"
"Kita lihat saja nanti Mas, siapa yang akan menang dipengadilan.Jangan lupa aku punya banyak bukti perselingkuhanmu"
"Rini!" bentak Boni
Tbc
__ADS_1
Jangan lupa like, comment dan favorite ya men temen