
Drama ngidam kehamilan Sita belum berakhir, kini Rizal sudah tidak ngidam lagi, namun giliran Sita yang ngidam hal ini membuat Rizal pusing tujuh keliling, Sita jarang mau dideketi selalu saja muntah bila didekat Rizal, kini Rizal bagaimana perasaan Sita saat dirinya ngidam.
Sementara itu dikediamnya, Desy terus berpikir bagaimana caranya bisa lepas dari Hendra dan keluarga benalunya.Sementara akses ketemu anaknya semakin dibatasi oleh Yoga ia merasa semakin tertekan.
"Aku akan menjual rumah dan mobil ini tanpa sepengetahuan Mas Hendra, enak aja selama ini ia hanya numpang disini bersama Ibunya aku yang harus banting tulang untuk makan mereka, apalagi nenek lampir itu makin hari makin mengila" guman Desy
Desy sudah mantab menjual rumah beserta isinya beserta mobil, sementara ia sendiri sudah mendaftarkan diri menjadi TKW.Hal ini sangat mudah baginya karena secara hukum statusnya kini janda beranak satu dan anaknya ikut mantan suaminya, sementara pernikahanya dengan Hendra hanya pernikahan siri.Hari ini Sita pagi-pagi berangkat ke penampungan ia meninggalkan sepucuk surat untuk Hendra, karena Hendra sedang menginap dirumah Ibunya.
Pagi harinya Hendra pulang kekediaman Desy namum sayang ia tak menemukan Desy dirumahnya.
"Kemana lagi itu orang?, suami pulang bukanya disambut malah ngeloyor pagi-pagi" gerutu Hendra. Ia kedapur untuk mengambil makanan karena perutnya sudah mulai keroncongan, namun lagi-lagi ia harus menelan kekecewaan karena tak ada makanan apapun.
"Sial!, kemana sih itu orang? Makanan nggak ada sama sekali" guman Hendra kemudian ia menuju ke kulkas barangkali ada makanan yang bisa ia makan.Matanya mengeryit melihat sebuah kertas diatas kulkas.Karena penasaran ia membuka kertas yang isinya ternyata sebuah surat dari Desy
To : Mas Hendra
"Surat ini buat aku" batin Hendra kemudian ia membuka dan membaca surat itu.
Selamat pagi Mas Hendra, aku tau pagi ini kamu pasti pulang.Kamu pasti nyari aku ya?, Maaf aku pergi tanpa pamit kamu, saat kamu membaca surat ini mungkin aku sudah ada dipenampungan.Aku memutuskan untuk menjadi TKW untuk memenuhi kebutuhan hidup kita, aku juga ingin agar aku tidak terus teringat dengan Rendra anakku, jaga dirimu baik-baik jangan cari aku.
"Oh...rupanya perempuan bodoh itu keluar Negri jadi TKW, baguslah aku tinggal nunggu transferan.Kalau dia sudah kerja disana aku tinggal menikamati hasilnya akan aku berikan uangnya pada Sita agar dia mau kembalu padaku, dan kau Desy tak usah kembali ke Negara ini, cukup uangmu saja yang pulang" guman Hendra sambil menyeringai.
Hari terus berlalu tiga bulan sudah Desy tak ada kabar sama sekali, Hendra mulai panik keuangan juga mulai menipis, hari ini ia berniat menjual mobil Desy, ia mengobrak-abrik lemari namun tak menemukan BPKB mobil Desy.
"Dimana Desy menyimpan BPKB, keadaan mendesak begini, masak gue harus jual kulkas" ucap Hendra frustasi.
"Tok...tok...tok, Assalamualaikum"
"Siapa juga, ini pagi-pagi sudah bertandang kerumah" guman Hendra jengkel.
__ADS_1
"Selamat siang!, apa benar ini kediaman Ibu Desy"
"Iya benar, saya suaminya.Ada apa ya?" tanya Hendra agak cemas pasalnya sudah tiga bulan Desy tak memberi kabar apapun padanya.
"Jadi begini pak, kedatangan saya kesini karena ingin mengambil mobil yang milik boss kami"
"Mobil?, mobil apa?" tanya Hendra binhung.
"Oh, Sepertinya mobil itu pak.Ini sesuai dengan BPKBnya" ucap Orang itu.
"Tapi mohon maaf sebelumnya kami tidak pernah menjual mobil itu, saya memang berniat menjualnya tapi belum ketemu pembeli tapi jika anda berminat silahkan dipinang" ucap Hendra dengan begitu percaya diri.
"Begini pak, mobil ini sudah dibeli oleh boss kami tiga bulan yang lalu, BPKB juga ada pada kami jadi kami tinggal mengambilnya, yang menjual atas nama Ibu Desy sesuai dengan BPKB pak"
"Tidak, enggak joleh kalian nggak boleh bawa mobil itu kalau tidak ada pembayaran"
"Kalau kalian memaksa, saya akan teriak biar kalian dimasa" ancam Hendra.
"Silahkan pak!, kalau Bapak tidak ingin malu sendiri"
"Tolong...tolong..., ada rampok" teriak Hendra.Seketika warga berdatangan ke rumah Hendra.
"Ada apa pak Hendra?" tanya salah seorang warga
"Mereka mau merampok, mereka mau mengambil mobil saya" ucap Hendra
Warga seketika marah dan menyerang orang-orang yang ada di rumah Hendra, salah seorang menghubungi polisi, yak berselang lama polisi datang.
"Ada apa ini? jangan main hakim sendiri!" ucap polisi.
__ADS_1
"Kalian semua ikut kekantor!" peritah salah seorang polisi. Kemudian mereka ke kantor polisi untuk dimintai keterangan, berdasarkan bukti yang ada mobil itu memang kepunyaan boss para debt collector itu.Semua warga menjadi emosi pada Hendra, setelah mengetahui kenyataan yang ada.
"Dasar tukang onar, bisa nggak sekali aja nggak bikin onar dikampung kita" Umpat mereka setelah kembali dari kantor polisi.
"Hari ini aku bener-bener sial, kenapa juga si tolol Desy itu nggak kasih tau aku kalau mau jual mobil.Kalau aku tau paling tidak aku bisa menikmati sebagian uangnya, hidup lagi capek-capeknya gini masalah datang silih berganti, bener-bener menyebalkan" umpat Hendra.
Tak kurang akal ia menjual satu persatu isi perabotan rumah Desy untuk bertahan hidup, sampai saat ini Hendra belum bekerja kembali.Ibunya juga masih merongrong dia.Beberapa hari setelahnya rumah Desy kembali didatangi dept collector, kali ini mereka datang dengan sikab yang kasar beda dengan sebelumnya mungkin mereka sudah mendengar keributan sebelumnya.
"Hendra! Keluar kau!" teriak preman
Para tetangga langsung kepo mengintip dari balik pagar, tapi mereka tak ada niat sama sekali membantu Hendra, karena takut kejadian serupa beberapa waktu yang lalu terulang lagi.
"Mau apa kalian kesini?, kalau nagih utang kalian salah alamat. Aku tak pernah berutang pada kalian" ucap Hendra.
"Banyak concing, keluar kau dari rumah ini, tapi sebelum itu biar anak buahku memeriksa kelengkapan rumah ini" ucap kepala preman itu.Hendra sedikit bingung kenapa dia harus keluar, tapi karena takut ia pasrah saja.Beberapa saat kemudian para debt collector itu keluar dan memberi laporan.
"Boss, banyak perabotan yang sudah tidak ada.Mungkin pecundang ini yang menjualnya" ucap salah satu pria berbadan kekar itu.
"Segera kunci rumah ini, dan kau ikut ke kantor kami pertanggung jawabkan dengan apa yang sudah kamu curi"
"Saya tidak pernah mencuri apapun, dan kalian kenapa bisa punya duplikat rumahku?" tanya Hendra gemetar.
"Rumahmu kamu bilang, buka matamu! Lihat ini bukti penjualan rumah ini disitu ada perjanjian jual beli dan akta rumah ini.Jadi sampai disini kamu pahamkan siapa sebenarnya pencuri itu?"
Wajah Hendra langsung memucat melihat kenyataan yang ada didepan matanya, lagi-lagi Desy menjual asetnya tanpa sepengetahuan dirinya.
Tbc
Jangan lupa like, comment dan favorite ya men temen
__ADS_1