
Rini terus mengerang kesakitan, Boni yang panik langsung memanggil dokter, dilakukan lagi serangkaian pemeriksaan hasilnya tidak ditemukan satupun penyakit ditubuh Rini.Seminggu sudah Rini dirawat dirumah sakit namun tak ada perubahan, akhirnya Boni membawa Rini pulang, atas saran dari Sita. Boni memanggil seorang ustad untuk merukiyah Rini.
"Panas...panas, ampun-ampun jangan sakiti aku" teriak Rini pada saat seorang ustadz mulai meruqiyahnya.
"Siapa kamu, dan siapa yang menyuruhmu?" tanya ustadz
"Ampun ustadz....sakit....panas...panas!,"teriak Rini, namun sang ustadz tidak mempedulikan ia terus saja membaca doa-doa.Tak lama kemudian Rini jatuh pingsan.
"Istri saya kenapa pak?" tanya Boni cemas
"Istri Mas, terkena santet saya masih berusaha mengeluarkan.Sebagian sudah bisa saya atasi namun ini harus dilakukan beberapa kali.Saya sarankan Mas bantu doa buat istrinya,kalau istrinya lagi nyaman nggak kena serangan begini ajak dia banyak-banyak berdzikir," nasehat sang ustadz.
Boni mengangguk patuh, ditatapnya wajah istrinya yang sayu,terlihat sekali istrinya merasakan kesakitan yang luar biasa.
"Mas, apakah selama ini istri mas punya musuh?,"
"Setahu saya istri saya tidak pernah mempunyai musuh, saya juga heran kenapa istri saya bisa kena santet,"
"Namanya juga manusia Mas, kita nggak tau dalam hati seseorang.Apa yang mereka pikirkan tentang kita.Nabi saja tidak pernah luput tatapan kebecian dari orang-orang yang membencinya bahkahn dia juga tidak selama dari fitnah dari orang-orang yang membencinya, apalagi kita hanya manusia biasa yang tak pernah luput dari dosa," ujar sang ustadz
Beberapa saat kemudian sang ustadz meninggalkan kediaman Boni, semenjak Rini sakit Boni menghabiskan waktu lebih banyak dirumah Rini, hal ini mrmbuat Wina murka.Seminggu semenjak kejadian itu Wina nekat mendatangi rumah Rini untuk melabrak madunya.
"Mbak Rini!, keluar kamu!," teriak Wina.
Dari dalam rumah Rini mendengar keributan diluar, ia hendak berangkat menemui calon konsumenya dan juga bertemu Sita untuk laporan penjualannya.Tapi suara cempreng Wina benar-benar merusak moodnya.
"Mau apalagi sih perempuan itu?," guman Rini.sambil bergegas keluar untuk membuka pintu, sebenarnya ia malas meladeni adek madunya itu, namun pintu keluar hanya satu tak mungkin ia terus-terusan dalam rumah.
Ceklek
__ADS_1
Pintu dimuka, nampak muka merah padam Wina menyambut Rini.
"Ada apa lagi?, suka sekali bikin ribut,"
"Ada apa, ada apa?, mbak itu yang ada apa, jangan jadikan alasan sakit untuk menahan Mas Boni supaya tetap disini, ingat aku istrinya juga.Uang nafkah sudah kamu kuasai , sekarang orangnya kamu kuasai juga, dasar serakah!"
"Sudah bicaranya?, aku tak ada waktu untuk meladenimu aku harus segera pergi cari uang.Jangan samakan aku dengan dirimu yang bisanya hanya ongkang-ongkang dirumah"Hardik Rini yang kesal dengan ulah Wina
"Dasar wanita serakah!, nggak tau diri.Kalau Mas Boni mau kamu kekepin sendiri.Setidaknya kasih aku uang jangan semuanya kamu nikmati sendiri.Ingat Karma, oh ya aku lupa kamu sudah mendapat karmamu sekarang ya?, gimana rasanya enak?" ejek Rini
"Darimana kamu tau, kalau aku sering kesakitan belakangan ini?," tanya Rini penuh selidik.Membuat Wina sedikit gelagapan namun dengan cepat Wina menguasai keadaan.
"Ya dari suami kita tercintalah....selama ini ia mengeluh terus padaku, terpaksa menemani perempuan penyakitan sepertimu," ucap Wina sengaja menjatuhkan mental Rini
Rini tak mengubris ucapan Wina, ingin rasanya menyerah dengan pernikahanya ini dengan segala drama yang ia lakoni saat ini,tapi bagaimana dengan anak-anaknya, Rini sangat menyayangi anak-anaknya ia tak ingin anaknya kehilangan sosok ayah, melihat Arka si sulung yang sering murung membuat ia semakin sedih dan bertekat mepertahankan rumah tangganya.
Tanpa mempedulikan Wina yang terus mereog didepan rumahnya ia langsung tancap gas, percuma meladeni Wina yang ada dia semakin sakit kepala.Sampai dikafe Sita ia langsung membicarakan tentang laporan penjualan.Sita sangat prihatin dengan rumah tangga Rini, namun dia tak bisa berbuat apa-apa semua keputusan ada ditangan Rini.Mendengar Rini mencabut gugatan perceraianya Sita adalah orang yang paling kecewa mendengarnya.
"Kamu kucel banget, ada apa lagi Rin?,"
"Biasa tadi nenek lampir itu nyaperin kerumah dan mereog disana,"
"Hemmm...nggak ada cape-capenya yah itu anak, kalau aku jadi kamu udah aku kasih ke dia suami tak berguna macam suamimu, malah bersyukur bisa lepas dari laki-laki seperti itu", ucap Sita dengan nada jengkel
"Sudah ah...jangan bahas itu lagi mbak, moodku tambah buruk ingat nenek sihir itu,"
"Selama kamu masih bersama dengan suamimu tercinta itu, maka selamanya kamu akan berhadapan dengan mbak kunti itu," runtuk Sita ia gemas sendiri lihat Rini yang nggak bisa ninggalin laki-laki macam Boni.
Rini tersenyum kecut menangapi ucapan Sita, mudah baginya meninggalkan Boni tapi kembali lagi pada anak-anaknya apakah mereka bisa menerima perpisahan kedua orang tuanya terutama si kembar, mungkin kalau Arka akan sedikit mengerti dengan keadaan.teringat dengan pertanyaan Sila beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
"Ma, apakah nanti Mama dan Papa akan berpisah?" tanya Sila polos
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?,"
"Kata Ersa, kalau Mama dan Papanya pisah itu nggak enak Ma, nanti kita jadi jarang ketemu Papa dan lama kelamaan Papa melupakan kita kerena keluarga barunya" ucap Sila.Rini trenyuh mendengar ucapan anak bungsunya.Dadanya semakin sesak.
"Rin,....tuh kan begong lagi,gimana aku nggak protes sama kamu, selama kamu masih bersama suami tercintamu itu kamu lebih sering murung dan melamun" ucap Sita membuyarkan lamunan Rini
"Maaf mba, sampai dimana kita tadi?,"
"Sampai di hati suamimu tercinta," ucap Sita sewot.
Rini menyengir ada rasa tak enak pada Sita, yang dulu ia sakiti tapi kini selalu mendukung dia.Meskipun tak ada hubungan apa-apa lagi tapi keduanya malah kelihatan kompak dan saling mendukung.
Sementara itu Wina, setelah pulang dari kediaman Rini, ia langsung ketempat dukun dimana ia meminta dukun itu untuk menyantet Rini.Ia ingin menyakiti Rini lebih parah lagi.
"Gimana sih mbah, saya kan sudah bayar mahal, kenapa dia baik-baik aja sampai sekarang?," protes Wina
"Ada seorang yang berilmu tinggi melindungi dia," ucap Dukun tersebut.
"Pokoknya aku nggak mau tau bagaimana caranya, buat mbak Rini sakit parah kirim penyakit yang menjijikan hingga suamiku ilfeel dan meninggalkan dia.Biar tau rasa perempuan sombong itu, kian hari makin cantik aja" ucap Wina berapi-api
"Ini resikonya sangat besar, karena resikonya besar maka biaya yang harus kamu keluarkan juga harus besar," ucap Dukun tersebut
"Aku tidak peduli berapapun bayaranya, yang penting kirim penyakit yang menjijikan pada dia, dengan begitu suamiku akan dengan suka rela meninggalkanya" ucap Wina lagi
Tbc
Hai....pembacaku yang masih setia ....baca tulisan otor yang receh ini, makasih udah bertahan sampai sejauh ini. Dan tetap setia menunggu kisah ini lope...lope sekebon buat kalian semua
__ADS_1