
Sita berpamitan ke toilet sebentar kesempatan itu digunakan sebaik mungkin oleh Desy untuk mendekati Hendra, dan menanyakan apa alasanya membatalkan janji, meskipun Hendra sudah memberi tau lewat pesan singkat, namun Desy belum puas kalau belum dengar sendiri alasan dari mulut Hendra.
"Des, tolong jangan dekat-dekat!, Sita ada disini bahaya" bisik Hendra
"Lagian kamu, aku udah menyiapkan semuanya tapi kamu seenaknya membatalkan janji kamu kira aku nggak kesal apa?" sewot Desy sambil berbisik.
Sementara itu Sita yang keluar dari toilet langsung mendengar kasak kusk orang membicarakan suaminya, ia sengaja menguping karena penasaran.
"Istrinya Pak Hendra cantik banget yah, nggak kalah sama Bu Desy meskipun Bu Desy menor. kalau Bu Sita itu cantiknya gimana gitu, kek natural gitu" ujar salah seorang teman Hendra.Sita terus menguping.
"Namanya juga laki-laki, dirumah sudah ada yang cantik, masih aja nyari perempuan lain"
"Deg" hati Sita bagai diremas mendengar penuturan teman Hendra meskipun ia sudah tau Hendra selingkuh, tetap saja dia sakit sekali mendengar Hendra beneran selingkuh. Dengan gemetar ia merekam pembicaraan teman-teman Hendra.
"Tiap pagi aja, mereka berangkat barengloh, sepeda motor bu Desy itu dititipin di parkiran agak jauhan dikit dari sekolah, ya buat seolah-olah mereka jalan sendiri-sendiri. Padahal aku pernah lihat sendiri awalnya mereka boncengan, eh sampai diujung gang Bu Desy turun ambil motor. Tiap pulang sekolah juga gitu, Pak Hendra duluan nunggu disana terus bu Desy nyusul, dikira nggak ada yang tau kali ya"
"Padahal kalau dilihat-lihat cantikan istrinya kemana-mana"
"Jaman sekarang, pelakor itu nggak perlu cantik, cukup nggak tau diri aja!" ucap yang lainya diiringi gelak tawa mereka.
Sedangkan Sita yang sudah mendengar bahkan merekam pembicaraan teman-temanya Hendra sekuat tenaga menahan tangisnya agar tidak tumpah.
"Aku tidak boleh, menangis, aku tidak boleh lemah" batin Sita menyemangati diri sendiri yang hampir ambruk. Dengan perlahan ia menuju ke tempat semula, ia melihat Desy masih menempel pada suaminya.
"Bahkan, ada aku saja kalian begini.Dulu aku menganggap kedekatan kalian hanya sekedar teman, tapi nyatanya kalian tega menusukku dari belakang" batin Sita meradang
Ia berjalan dengan tenang menghampiri suaminya dan Desy.
"Gimana bu Desy, makananya enak?" tanya Sita tiba-tiba, membuat Sita dan Hendra kaget pasalnya mereka tidak tau Sita sudah ada dibelakang mereka.
"Hmmm...Dek Sita, apa kabar?" ucap Desy kikuk.
__ADS_1
"Baik bu, padahal aku tiba disini sudah dari tadi loh?, nggak terlihat ya?, apa hanya mas Hendra yang terlihat ya?" ucap Sita monohok.Ia tak lagi memanggil Desy dengan sebutan Mbak
"Bu...bukan begitu, tadi kamu ketoilet jadi aku nggak lihat"
"Oh, kirain karena lagu asyik sampai-sampai nggak tau kalau ada aku" Sindir Sita.
Desy merasa sikab Sita agak beda dari biasanya. Ia langsung jiper dibuatnya.
"Mas, aku mau pulang, kalau kamu masih mau disini aku akan minta Doni buat jemput aku" ucap Sita
Mendengar nama Doni disebut membuat nyali Hendra menciut bisa dipastikan adek Iparnya itu akan meradang bila melihatnya disini dan malah meminta orang lain untuk menjemputnya.Mau tidak mau ia harus mengantar pulang masalah Desy, ia bisa pikirkan belakangan.Sepanjang perjalanan Sita hanya membisu begitupun dengan Hendra, ia tidak menyadari bahwa istrinya sudah menyimpan bara dalam dadanya.
"Brak" Sita membuka pintu dengan keras
"Sita!, apa-apaan kamu. Dari tadi aku sudah berada sabar menghadapimu" ucap Hendra meninggi
"Ok, sekarang jelaskan hubunganmu dengan Desy sedetail-detailnya!"
"Aa...apa maksud kamu?"
"Apa maksudku?, Ok dengarkan ini, setalah itu masih kamu mengelak"
Sita memutar rekaman pembicaraan teman Hendra yang mengunjing kedekatanya dengan Desy.Mendengar rekaman itu, jakun Hendra naik turun, ia berusaha menetralkan detak jantungnya yang serasa mau melompat.
"Ayo, apalagi yang mau kamu tutupi!" ujar Sita.
"Sita, ini tidak seperti yang kau kira"
"Lantas seperti apa?, sejauh mana hubunganmu dengan dia?" ucap Sita yang tak mampu membendung derasnya air mata yang mengenang dipelupuk matanya.Hendra bangkit dan duduk bersimpuh di hadapan Sita.
"Sita, aku mohon ampun padamu"
__ADS_1
"Ampunan seperti apa yang kamu maksud?" ucap Sita dengan gemetar menahan sesak didadanya.
"Sita, aku mohon dengarkan aku dulu. Ini tidak seperti yang kau kira, selama ini aku pusing dan putus asa kau dan Ibu tak pernah akur, sementara aku berdiri di tengah kalian.Bisa kau bayangkan bagaimana posisiku saat itu"
"Apakah alasan selingkuhmu itu bisa dibenarkan menurutmu?" Sita meraba dadanya yang semakin sesak mendengar pengakuan suaminya.
"Sita, aku hanya butuh temen curhat tidak lebih dari itu.Aku terlalu pusing dengan masalahmu dengan Ibu" ucap Hendra membela diri.
"Temen curhat?, ada aku istrimu bagaimana mungkin kau lebih suka curhat dengan perempuan lain, sampai-sampai kau membohongiku setiap pagi, kau bilang ikut senam atau apalah.kau pikir aku tidak tau kalau kau tidak pernah ikut senam yang hanya diadakan seminggu sekali"
"Glek" lagi-lagi Hendra menelan ludah kasar, ternyata selama ini Sita tau dia membohonginya.Kenapa ia begitu terlena hingga ia tidak memikirkan segala kemungkinan terjadi, cepat atau lambat hal seperti ini pasti akan terjadi.
"Sita, aku antar jemput Desy hanya sebagai bentuk terima kasihku karena dia sudah mau mendengarkan keluh kesahku selama ini.Aku tak tau kemana harus berbagi" ucap Hendra menenangkan Sita yang sudah meradang.
"Masih adakakah, hal lain yang kau sembunyikan. katakan sebelum aku tau dengan sendirinya"
Hendra benar-benar bingung apa yang harus dia katakan pada Sita.Bak makan buah simalakama bicara salah tidak bicara juga salah.
"Sita percayalah, aku hanya mencintaimu tak ada wanita lain selain dirimu dihatiku" ucap Hendra.
"Sekarang aku tanya, dari mana uang seratus tiga puluh juta yang kau gunakan untuk membayar utang Rini? Jangan bilang ini dari Ibu atau Rini.Kemarin Rini sudah sumpah serapah bahwa dia tidak akan membayar uang itu?"
Lagi-lagi Hendra dibuat bungkam oleh pertanyaan Sita.
"Tidak bisa jawabkan?, Dimana hatimu Mas, disaat aku butuh bahu untuk bersandar dikala aku terus-terusan dirongrong oleh Ibu dan adekmu, Kamu malah sibuk diluaran sana mencari kenayamanan dan ketenangan entah seperti apa kenyamanan yang kau dapat diluar sana" Sinis Sita.
"Sita, aku benar-benar tidak selingkuh. Ok kamu bisa tuduh aku selingkuh kalau kau punya bukti. Kau hanya mendengar dari orang-orang tentangku dan Desy, mereka hanya memfitnah kami.bahkan aku sudab berterus terang tentang kedekatanku dengan Desy hanya sebatas temen curhat, Ok kalau kau keberatan mulai sekarang juga aku akan jaga jarak dengan Desy" ucap Hendra.
Tbc
Jangan lupa like, comment dan favorite ya men temen
__ADS_1