Sita Istri Seorang PNS

Sita Istri Seorang PNS
Pisah rumah


__ADS_3

Nasib sial tidak hanya berhenti disitu saja, Saat membeli sayurpun Ibu-ibu masih mengunjingku.


"Katanya saudara, ternyata selingkuhan cuakk..." ucap Salah satu Ibu-ibu sambil tik tokan dia menyidirku di tempat tukang sayur


"Biar suami jauh, tapi ada yang selalu manghangatkan, cuakkk"


"Beginilah resiko ditinggal suami kerja jauh, tidak kuat menahan rindu, Cuakkk"


Tak henti-hentinya mereka menyidirku, aku putuskan untuk tidak lagi membeli sayur di tukang sayur lagi dari pada, kupingku panas.Beli di supermarket jauh lebih bersih dan bebas dari sindiran Ibu-ibu tidak penting itu.


Kesialan rupanya juga aku alami ketika sampai dikantor sekolah, teman-teman sesama guru selalu mengunjingku, seolah hidup mereka sudah benar saja.Yang lebih menyebalkan lagi, Bu Dian menyuruhku untuk meminta maaf pada Sita, nggak sudi aku minta maaf sama dia. Gara-gara dia, aku dipermalukan dihadapan semua orang. Bahkan dampaknya sampai sekarang aku masih jadi bahan gunjingan.


POV Desy End.


Hari ini Hendra mulai aktive lagi mengajar. Slentingan, gunjingan dan suara-suara sumbang masih ia dengarkan. Ia tak mempedulikan hal itu.Kepalanya terlalu penuh dengan masalahnya dengan Sita.


"Sudah sembuh pak?, Makanya jangan macam-macam sama Istri. Diamnya dia itu bahaya" ucap salah seorang teman Hendra.


"Hallah nggak apa-apa bu Watik, sakit sedikit besuk bisa diulang lagi, xiixixix"


Mereka terus saja mengunjing Hendra dan Sita. Bedanya Hendra tak pernah ambil pusing ucapan teman-temanya sedangkan Desy, mukanya selalu ditekuk bila bertemu rekan sesama guru.Setelah pulang dari mengajar Hendra langsung pulang, ia tak lagi mempedulikan Desy yang memanggilnya baginya urusan dengan Desy sudah selesai semenjak terbongkarnya huhungan gelap mereka.Kini fokusnya cuma untuk menagih hutang Rini dan Memperbaiki hubunganya dengan Sita. Siang itu Hendar mampir kerumah Rini, ia tak main-main dengan ucapanya, Kini Rini sudah menjual mobil yang seharusnya bukan haknya uang itu diserahkan pada Hendra.


"Mobilnya hanya laku dua ratus lima puluh juta, ini uangnya sudah aku transfer ke rekeningmu mas, jadi aku tidak punya hutang"


"Apa maksudmu tidak punya hutang?, bukanya kau pinjam tiga ratus juta, maka kamu juga harus mengembalikan tiga ratus juta juga" teriak Hendra.


"Tapi mobil itu hanya laku segitu, dulu aku membelinya tiga ratus juta memang" ucap Rini


"Pokoknya aku nggak mau tau, kamu harus kembalikan sisanya secepatnya kalau tidak aku tetap akan melaporkanmu ke polisi persetan dengan hubungan kekeluargaan kita" ancam Hendra.


"Hik..hiks..hiks, mas kok tega memerasku, aku ini adekmu loh mas"


"Memeras? Apa maksudmu?, kamu itu berhutang pada Mama mertuaku maka sepantasnya kau mengembalikanya tidak ada unsur peras memeras disini, tapi yang ada kau mau mengelapkan uang Mama" ucap Hendra penuh penekanan.

__ADS_1


"Kamu urusi utangmu atau aku serahkan pada Doni dan geng berandalanya yang menagihmu pilih mana kamu?"


Rini gemetar mendengar nama Doni.Ia ketakutan setangah mati.


"Baiklah Mas, nanti aku bicara pada suamiku dulu" ucap Rini pada akhirnya.


"Kenapa nggak dari kemarin-kemarin kamu lakukan ini. Kamu lihat aku hampir meregang nyawa karena ulahmu"


"Itu bukan salahku, Doni begitu karena kau ketauan selingkuh Mas, nggak ada hubunganya sama aku"


"Apa kamu bilang?, nggak ada hubunganya?, kamu pikir aku utang pada Desy itu untuk apa hah?" Hendra murka hampir memukul Adeknya.


Kemudian ia memutuskan untuk pulang, dari pada Khilaf dan menyakiti Rini.


Malam harinya Hendra mengajak Sita untuk berbicara.


"Sita, aku sudah mentransfer utangku padamu 120 juta masih kurang lima puluh juta ya" ucap Hendra


"Sit, aku mau bicara"


"Tak ada lagi yang harus kita bicarakan!, semua sudah jelas bahkan sangat gamblang" ketus Sita.


"Maaf"


"Ribuan kali kamu minta maaf, apa kamu nggak capek?, aku yang dengar aja capek, bisa-bisanya kamu diam-diam menduakanku dan bodohnya aku masih saja percaya padamu setelah semua kebohongan yang kau lakukan padaku" ucap Sita dengan tatapan nyalang tak ada lagi air mata. Kering sudah air matanya menangisi kisruh rumah tangganya.


"Dulu kau beralasan senam dan lain-lain bila ingin bertemu dengan jalangmu itu, entah dengan apa lagi kau membohongiku aku sampai tidak tau.Setiap kerumah dia kamu bilang kengen Ibu,menginap dirumah Ibu" ucap Sita lagi.


"Sita, tidak selamanya aku bilang kerumah Ibu itu aku kerumah Desy, ada kalanya aku beneran nginap dirumah Ibu"


"Diam!, jangan sebut-sebut nama ****** itu dihadapanku aku jijik"


"Glek" Hendra menelan ludah kasar.

__ADS_1


"Apa kurangnya aku?, hinaan cercaan selalu aku telan mentah-mentah aku abaikan semua, aku berjuang sendirian mati-matian aku cari uang untuk menutupi kebutuhan kita Bahkan untuk menutup utang keluargamu pada Mama"


"Maafkan aku!" Hendra bersimpuh.


"Aku tau sekarang, ini pasti soal pelayanan perempuan murahan itu. Diservice apa dengan gaya apa saja kamu sama ****** itu?, Hebat ya kamu dirumah kamu minta jatah ke aku, diluar rumah kamu masih nyari yang lain,cari fantasi baru?, Jangan-jangan selama ini kamu banding-bandingkan pelayananku dengan Dia. Kenapa Diam jawab HENDRA" teriak Sita tanpa mengunakan embel-embel mas lagi.


"Aku bingung harus menjelaskan dari mana Sit, semau terjadi begitu saja. Saat aku sudah janji padamu untuk meninggalkanya, aku sudah beneran meninggalkanya tapi dia menekanku dengan uang yang aku pinjam untuk menutupi utang Rini pada Mama"


"Tapi kamu menikmatinya kan, lihat chat kamu aja muak rasanya. Kamu lupa Doni itu seorang hecker, aku tau semua pesan yang kau kirim pada jalangmu tanpa menyentuh ponselmu" ucap Sita membuat Hendra bungkam.


"Tak kusangka sedangkal itu otakmu!, isinya hanya Se*******n"


"Aku tidak serendah itu Sit"


"Nyatanya apa Hend, kamu adalah laki-laki B******n"


Habis sudah kesabaran Sita.Malam ini ia menumpahkan semau rasa kekecewaanya pada Hendra.


"Mulai besuk, aku akan tinggal dengan Mama.Kunci rumah ini akan aku serahkan pada Rizal karena rumah ini sudah menjadi milik Rizal" ucap Sita.


"Keluar dari kamarku!, atau aku yang akan pergi malam ini, muak aku melihat mukamu" ucap Sita


Pagi hari Sita benar-benar membuktikan perkataanya ia mengemasi barang-barangnya dan bersiap hendak pergi.


"Sit, kamu beneran mau meninggalkan rumah ini?" pertanyaan bodoh keluar dari mulut Hendra.


"Kamu pikir aku bercanda, setalah kau buat aku remuk redam begini Hend" ujar Sita tak bisa menahan emosi.


Hendra hanya bisa menatap nanar kepergian Sita, ia sudah tidak bisa mencegahnya lagi.Ikut kerumah mertuanya sama saja dengan bunuh diri bila ketemu Doni.


Tbc


Jangan lupa like, comment dan favorite ya men temen

__ADS_1


__ADS_2