Sita Istri Seorang PNS

Sita Istri Seorang PNS
Rencana bercerai


__ADS_3

Hari ini memutuskan untuk pulang kerumah Mamanya.Ia sebenarnya ragu, namun ia bingung harus kemana lagi selain pulang ke rumah Mamanya.Sampai disana Mamanya langsung menangis memeluk putri sulungnya. Ia baru saja mendengar kisah putrinya dari Doni.Selama ini mereka menyembunyikan dengan rapat kisah Sita yang menyedihkan.


"Kenapa nggak pernah cerita sama Mama, kamu nggak menganggap Mama ini Mama kamu lagi, hiks...hiks..hiks" tangis Mamanya Sita pecah


"Maafin Sita Ma, Sita nggak mau Mama sedih, Sita nggak mau Mama kepikiran" ucap Sita disela-sela tangisnya


"Justru Mama malah sedih banget menjadi orang terakir yang tau masalah kamu, Mama akan selalu dukung apapun keputusan kami"


"Maafin Sita Ma, jika keputusan yang Sita ambil nanti membuat Malu"


"Enggak Nak, Mama nggak akan malu, Mama justru sedih jika kau terluka dan bertahan hanya demi menjaga perasaan Mama, Percayalah Mama akan selalu dipihakmu Nak" ucap Mamanya Sita sambil mengelus pungung putri sulungnya.


"Makasih Ma" Sita semakin Sesengukan.


"Sudah, nggak usah nangis lagi.Tak ada gunanya menangisi laki-laki brengsek itu, Sekarang Apa rencanamu mbak?" ucap Doni.


"Aku ingin pisah dengan Mas Hendra Don, tolong bantu mbak" ucap Sita.


"Good idea, kenapa nggak dari dulu. Kapan Mbak mau mendaftarkan gugatan kepengadilan?"


"Secepatnya Don!"


"Serahkan semua padaku, mbak fokus kerja dan fokus memulihakan diri dulu.Jiwa mbak butuh refreshing, Kemarin aku dapat tiket ke bali untuk dua orang, mbak pakai buat jalan-jalan sana sama Mama"


"Kamu jalan-jalan sama Amel saja, Pasti Amel senang. Mama disini aja warung lagi rame sayang"


"Kenapa nggak bertiga aja Ma, aku punya uang kok, Kemarin Mas Hendra habis nyicil utang"


"Maafkan Mama ya, kamu sampai harus jual rumah"


"Mama nggak salah kok, Mama mau ya liburan bareng kita" ucap Sita penuh pengharapan.


Mamanya Sita mengeleng, ia tak ingin membebani putrinya, lebih baik ia dirumah saja.


Sementara itu Hendra kini kembali kerumah Ibunya, ia membawa koper besar, Hari ini dia ijin tidak mengajar karena pindahan.


"Hen, kok bawa koper? Kamu mau tinggal disini lagi?" tanya Ibunya.


"Iya bu, sementara Hendra mau tinggal dirumah Ibu dulu, sampai bisa membujuk Sita kembali."


"Ngapain kamu pertahanin perempuan kaya gitu?, lebih baik kamu nikahi aja Bu Desy. Udah jelas dia seorang PNS, nggak mandul lagi kaya istrimu"


"Cukup bu!, jangan hina-hina Sita lagi.Cukup sudah selama ini Ibu melukai hatinya"

__ADS_1


"Ibu heran sama kamu, apa yang kamu harapkan dari perempuan mandul seperti dia, lebih baik kamu teruskan saja sama Bu Desy yang sudah jelas pekerjaanya dan jelas ia mengandung anakmu"


"Da...darimana Ibu tau kalau Desy hamil?, bahkan Sita saja tidak tau" ucap Hendra.


"Nggak penting Ibu tau dari mana?, hang penting kamu punya keturunan dan Ibunya juga jelaa bobot, bibit dan bebetnya" cerocos Ibunya Hendra.


"Bu, tolong jangan bicara lagi soal Desy, kepalaku rasanya mau pecah. Dan stop bully Sita, walau bagaimanapun dia istri sahku" ucap Hendra.


"Aku minta uang buat beli bensin"Lanjutnya


"Kenapa minta sama Ibu?"


"Kan uangku aku kasih sama Ibu, selama ini bensin dan semuanya Sita yang tanggung"


"Ya memang harus begitu, dia kan istrimu"


"Masalahnya Hendra nggak pernah ngasih duit ke dia, dan sekarang dia lagi pulang kerumah Mamanya.Ibu mau aku digebukin lagi sama Doni"


"Memang susah ya, kalau punya adek Ipar preman, dikit-dikit pukul" cerocos Ibunya Hendra.


"Hendra akan melakukan hal yang sama, jika Rini diselingkuhi bu" ucap Hendra.


"Rini nggak mungkin diselingkuhi, suaminya Cinta mati, karena anak Ibu itu terlalu sempurna"


"Kamu nyumpahin adekmu!"


"Bukan, hanya saja semua kemungkinan bisa terjadi, ahh...sudahlah sekarang mana uang buat beli bensin, kalau nggak ada bensin besuk nggak bisa ngajar bagaimana? Bisa-bisa dipecat aku dan Ibu nggak bakal dapat jatah" ucap Hendra menakut-nakuti Ibunya.


"Ini, jangan dihabisin!. Buat beli bensin seminggu"


"Ini apa?, lima puluh ribu buat beli bensin satu minggu mana cukup bu, belum lagi beli rokok. Biasanya Sita ngasih lima puluh itu untuk sehari"


"Ya sudah, minta Sita sana!"


Hendra mendesah perlahan selama ini ia tak pernah memikirkan bensin, rokok dan kebutuhan lainya karena semua kebutuhan di tanggung oleh Sita.Sehari setelahnya Hendra memberanikan diri untuk datang kerumah mertuanya.


"Assalamualaikum?" ucap Hendra


"Ceklek, krett..." pintu dibuka nampak Amel dengan wajah masamnya.


"Mau ngapain lagi ke sini mas?, belum puas nyakitin mbak Sita?" Amel langsung menodongnya dengan serentetan omelan


"Mbak Sitanya ada Dek?" ucap Hendra yang tak ingin menangapi sikab ketus adek Iparnya.

__ADS_1


"Nggak ada!, Pergi sana" usir Amel.


"Siapa Sit yang datang?" terdengar suara Sita dari dalam.


"Bukan siapa-siapa mbak, nggak penting juga" ucap Amel menyauti Sita.


Tak lama kemudian nampak Sita datang.


"Ngapain lagi kamu kesini?, mau minta uang" Sinis Sita.


"Sayang, kamu kok ngomong gitu?"


"Amel kamu masuk, biar mbak yang hadapi manusia tak taudiri ini" ucap Sita geram.


"Sayang," ucap Hendra hendak meraih tangan Sita, namun dengan cepat Sita menepisnya.


"Jangan pernah ucapin kata-kata murahan itu, kata itu juga sering kamu ucapkan pada selingkuhanmu bukan?"


"Glek," Susah payah Hendra menelan ludahnya mendengar ucapan Sita.


"Sit, aku mau bicara tentang masalah kita"


"Kita?, mulai sekarang nggak ada istilah kita yang ada cuma kamu dan aku.Dan simpan semua pembelaan kamu nanti di pegadilan agama" ujar Sita.


"Ap..apa maksud kamu?"


"Hend, telingga kamu masih berfungsi dengan baik kan?" sarkas Sita


"Enggak, tak kan pernah ada perceraian diantara kita, aku takkan pernah menceraikanmu" ucap Hendra penuh dengan keseriusan


"Kamu pikir aku masih mau hidup bersama suami penghianat sepertimu, aku bahkan jijik melihatmu yang begitu murahnya obral sana sini" Ucap Sita.


"Sita, kita bisa bicarakan semua baik-baik, aku janji akan tinggalkan Sita.Kita perbaiki hubungan kita"


"Kamu pikir aku percaya dengan janjimu, asal kamu tau aku lebih percaya Naruto lahir di Sukabumi dari pada ocehan kamu yang nggak penting itu" sinis Sitta.


Hendra mendesah frustasi, kini ia tak tau lagi harus dengan apa ia meyakinkan Sita untuk kembali padanya. Tanpa di duga Hendra langsung bersujud dikaki Sita.


"Bangun kamu Hend!, kamu pikir aku akan simpati dengan kamu bersujud begini?, Niatku sudah bulat, sudah bagus aku hanya minta cerai tidak menuntutmu dan keluargamu atas pengelapan uang Mama"


Tbc


Jangan lupa tinggalkan jejak like comment dan favorite ya

__ADS_1


__ADS_2