
Sehari setelah acara Arisan sosialita Sita dan Rizal pulang kerumah mereka.Pagi hari seperti biasa kediaman Rizal disibukkan dengan acara drama ngidam Rizal.
"Hoek...hoek...hoek" Rizal terus memuntahkan semua isi perutnya.Sita nampak khawatir dan cemas.
"Mas, buka pintunya" ucap Sita dari luar kamar yang mencemaskan keadaan suaminya.
"Ceklek, kreeet" pintu kamar mandi dibuka nampak Rizal keluar kamar mandi dengan wajah pucatnya.
"Mulutku terasa pait banget, badanku lemes" keluh Rizal.Kepala Rizal rasanya berputar-putar, matanya berkunang-kunang.
"Mas duduk dulu, aku buatkan teh hangat" ucap Sita kemudian ia keluar kamar dengan membawa secangkir teh hangat untuk suaminya.
"Mas dinimun ya, mumpung masih hangat" ucap Sita.Rizal menganguk lemah lalu ia mulai menyesap teh itu.Sita beranjak dari duduknya mengambil kayu putih dioleskanya di leher suaminya dengan telaten.
"Apaan sih ini, bau banget aku nggak suka"
"Mas, kamu lagi nggak enak badan minyak kayu putih ini, bisa menghangatkan badanmu"
"Hangat apaan? Yang ada aku tambah neg, mau muntah baunya kaya tikus got gitu, buang jauh-jauh sana!" ucap Rizal sambil memecet hidungnya.
"Ampun deh, Mas Rizal semenjak ngidam bener-bener berubah moodnya naik turun, aku jadi kesel sendiri harusnya aku yang hamil dimanja-manja ini malah tiap hari ngurusin kamu, belum lagi cerewetnya kaya emak-emak berdaster yang ghibah di tukang sayur" batin Sita kesal.
"Kenapa kamu diam aja Sita?, pijat atau apa kek, nggak peka banget!"
"Aku bingung mau ngapain Mas, karena semua serba salah dimatamu" ucap Sita sendu.
Mendadak Rizal merasa kasihan pada Sita, ia lalu memeluk Sita dan meminta maaf.
"Maafkan aku sayang, hoek...hoek...hoek" Rizal kembali muntah saat mencium aroma tubuh Sita.Perempuan muda itu tak tau harus berbuat apa untuk membantu suaminya.Rizal keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat pasi. Sita tak berani mendekat.
"Mas, andai bisa ditukar lebih baik aku yang ngidam saja.Aku juga capek kamu salahin terus" ucap Sita malah menangis lalu keluar kamar.Rizal merasa bersalah pada Sita kalau dia keluar dan membujuk Sita pasti ia akan berdekatan dengan Sita dan ia akan kembali mual.
Sita menangis diluar kamar, rumah tangga yang baru dijalaninya beberapa bulan yang awalnya selalu manis dan romantis kini mendadak berubah seratus delapan puluh derajat.Wanita cantik ini mengintip dari balik pintu, ia takut kalau mendekat suaminya bakal muntah lagi
__ADS_1
"Sita, kemari! Kenapa kamu disitu?" tanya Rizal
"Aku takut kamu mual lagi dan marah-marah lagi, andai aku bisa memilih lebih baik aku yang ngidam saja.Kamu yang ngidam aku ikut menderita" ucap Sita mendadak ia menjadi sensitif padahal biasanya ia sudah kebal dengan sikab Rizal yang belakangan ini aneh menurut dia.
"Aku juga nggak kepingin begini sayang, tapi aku juga nggak tau akhir-akhir ini jadi begini"
"Aku kadang nggak percaya diri Mas, nggak mandi karena nurutin kamu.Kalau ke tukang sayur nunggu sepi dulu, karena aku nggak PEDE" ucap Sita sedih.
Hari ini Rizal berusaha berdamai dengan dirinya sendiri walaupun rasanya ingin muntah bila di dekat Sita. Sekuat tenaga ia menahanya agar Sita tidak tersinggung, hari ini ia mengijinkan Sita mandi seperti biasanya.Setiap kali hendak muntah Rizal beralasan supaya Sita tidak tersinggung.Pagi mulai menyapa kediaman Rizal dan Sita mentari sangat cerah hari ini secerah wajah Rizal, pagi ini ia sangat senang, bagaimana tidak senang pagi ini ia bangun dalam keadaan segar bugar tak ada drama muntah-muntah lagi.Ia juga penasaran dengan kondisinya saat ini.
"Ceklek" nampak pintu kamar mandi dibuka Sita baru selesai mandi.Ia agak ragu mendekati suaminya takut suaminya muntah-muntah lagi.Aroma sabun menguar keindra penciuman Rizal,anehnya dia tak lagi muntah-muntah.
"Sayang kamu seger banget, mana wangi lagi" ucap Rizal sambil mendusel-dusel pada Sita.
"Kamu nggak mual lagi, deket-deket aku setelah mandi, padahal rencananya aku langsung mau kabur kerumah Mama, makanan sudah aku siapkan"
"Kenapa harus kabur?"
"Takut kamu muntah-muntah dan marah-marah seperti biasanya" ujar Sita.
"Mas, kamu bau banget" ucap Sita langsung berlari ke kamar mandi dan langsung muntah-muntah disana.
"Sayang maafin aku, kamu nggak kuat ya bau jigong aku? Padahal biasanya kamu nggak gitu" teriak Rizal dari luar.
"Hoek...hoek...hoek" Sita memuntahkan cairan bening yang terasa asam dimulutnya.Kemudian ia keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat pasi.
"Sayang, maafin aku" ucap Rizal mendekat.
"Mas, kamu mandi dulu bau banget" ucap Sita sambil mendorong tubuh Rizal.
Laki-laki ini mengeryit heran, tapi tanpa pikir panjang ia langsung bergegas ke kamar mandi dan segara mandi agar bisa memeluk istrinya kembali.
"Ceklek" pintu kamar mandi dibuka.
__ADS_1
"Sayang, aku sudah nggak bau lagi" Rizal mendekati Sita yang masih duduk lemas di tepi ranjang.Kemudia ia mendekati istrinya.
"Masih mual" tanya Rizal semakin mendekat.
"Hoek...hoek...hoek" Sita langsung berlalari ke kamar mandi.Rizal langsung mengendus-endus tubuhnya sendiri.
"Wangi nggak bau, tapi kenapa dia muntah?" guman Rizal heran.
Sejurus kemudian Sita keluar dari kamar mandi, wajahnya bertambah pucat.
"Sayang kamu kenapa?, kita ke dokter ya aku ijin dulu ke Dinas untuk masuk siang" ucap Rizal khawatir.
"Stop jangan mendekat!, kamu bau banget" ucap Sita.
"Sayang aku wangi loh, habis mandi malah pakai sabun dua kali" ucap Rizal kembali mengendus-endus tubuhnya kembali.
"Wangi apaan?, kamu itu habis mandi apa habis nyegur ke got sih?, bau banget" omel Sita.
Rizal heran dengan tingkah istrinya pagi ini.
"Tolong ambilkan kayu putih di meja deket TV, tapi nanti kamu jangan mendekat lemparkan saja" perintah Sita.Rizal langsung mengambilkan kayu putih seperti yang diminya istrinya lalu melempar seperti keinginan istrinya.
"Hoek...hoek...hoek" Sita kembali muntah.
"Mas, kamu ambil minyak kayu putih kamu isi air comberan apa gimana sih, bau banget" protes Sita.
Rizal semakin bingung dengan sikab Sita , ia menghubungi Mamanya karena tak tau apa yang harus dilakukan, Sita terus-terusan uring-uringan tak lama kemudian Mama Henny datang.
"Sayang kamu kenapa?, kita ke dokter ya!" bujuk Mama Henny yang tidak tega melihat kondisi menantu kesayanganya.
"Ntar juga baikan Ma, Sita cuma butuh istirahat aja.Tapi minta tolong suruh Mas Rizal pergi, entah mengapa kalau lihat Mas Rizal bawaanya sebel kalau ia mendekat Sita malah muntah" ungkap Sita.
Tbc
__ADS_1
Jangan lupa like, comment dan favorite ya men temen