
Kejadian kemarin membuat Sita cukup shock, biasanya banyak cogan yang membantu warung Mamanya, kebetulan pas kejadian itu mereka tidak datang karena kesibukanya masing-masing.Doni datamg terlambat bersama Rizal.Hari ini Sita ijin tidak masuk kerja, Doni juga masih stay dirumah takut kalau terjadi apa-apa.Rizal sepulang dari kantor pemda ia langsung ketempat Sita dukungan moril saat ini sedang dibutuhkan oleh Sita.
"Don, Sit, ada baiknya minggu-minggu ini warung jangan dibuka dulu, minggu depan baru operasional lagi, dan Sita tidak usah membantu di warung dulu" Rizal memberi saran.
"Iya, Nak Rizal benar. Ada baiknya kita libur dulu dan nanti setalah buka kembali biar Sita nggak usah bantu Mama, toh nanti Mama bisa nambah karyawan lagi jika memang dibutuhkan" ujar Mamanya Sita.
"Doni Setuju!" ucap Doni mantab
"Iya Sita ngikut aja" ujar Sita.
"Menjadi janda bukan keiginan Sita, Jujur Sita bingung bagaimana harus bersikab.Jika Sita tidak ramah, Sita akan dianggap angkuh, Jika Sita ramah Sita akan dicap ganjen, Sita bingung bagaimana harus bersikab" ujar Sita
"Sita kamu kan punya usaha sendiri, lebih baik fokuslah pada usahamu, biar usaha Mama biar Mama yang tangani sendiri, Mama nggak mau kejadian kemarin terulang, hati Mama sakit banget" ujar Mamanya Sita.
"Iya Ma, Makasih semuanya udah ada buat Sita" ucap Sita penuh haru.
Hari terus berlalu, Sita semakin disibukkan dengan usaha barunya.Omset penjualan Mamanya menurun semenjak Sita tidak lagi membantunya, namun Mamanya Sita tetap bersyukur, Kini Sita mempunyai pundi-pundi uang yang cukup dari hasil kerja kerasnya ia ingin membangun Kafe bekerja sama dengan Rizal.
"Ini lokasi yang akan kita gunakan untuk kafe kita, bagaimana? Apa kau setuju?" tanya Rizal
"Ini sangat strategis lokasinya aku suka, tapi ini pasti sewanya sangat mahal"
"Tenang saja, yang punya tempat ini temanku, untuk harga nanti bisa diatur, asalkan kau setuju dulu dengan tempatnya" ucap Rizal
"Tempat sebagus ini, mana mungkin aku menolaknya Zal" ucap Sita sambil terkagum-kagum.
Beberapa hari setelahnya, Sita dan Rizal sudah memulai usaha barunya di kafe yang mereka bangun berdua, kafe dibuat dengan nuasa alam.
"Hallo tante tantik" sapa Elena putri Erwin dengan pernikahan yang dulu, anak kecil itu sangat akrab dengan Sita, Sita sangat menyanyangi anak itu, bertaun-taun ia berumah tangga dengan Hendra belum punya keturunan membuat dia langsung jatuh cinta pada Elena semenjak pertama kali melihatnya waktu dibawa Erwin ke kantor.
__ADS_1
"Hai...pricesnya tante Sita, sini mau makan apa?" tanya Sita langsung memeluk gadis kecil itu
"Mau eskrim tante, tapi makanya ditemani sama tante" ucapnya manja.Gadis kecil itu sangat dekat dengan Sita, semenjak kecil ia kurang kasih sayang dari Mamanya karena dia sibuk dengan kegiatanya sendiri.
"Uluh...uluh manja sekali, tapi baiklah karena tante sayang sama Elena maka, tante akan temani Elena makan es krim"
"Hole..." Sorak Elena gembira, begitupun papanya senyumnya mengembang sempurna.Berbeda dengan Rizal ia tersenyum kecut melihat kedatangan Erwin dan anaknya, laki-laki yang menjadi saingannya itu selalu memanfaatkan anaknya untuk mendekati Sita.
"Hadeh...makin banyak aja saingan gue dapetin Sita, mending gua gabung aja sama mereka gue nggak rela Sita deket-deket Erwin" batin Rizal.
"Hai anak cantik, boleh nggak om gabung" sapa Rizal
Elena melirik sekilas Papanya dilihatnya muka Papanya masam, gadis kecil itu langsung faham kalau Papanya tidak suka kalau laki-laki itu gabung sama mereka.
"Nggak, nggak boleh, om cali meja lain aja dicini cuma buat aku, Papa dan tante cantik" ucap Elena.
Mendengar jawaban putrinya Erwin tersenyum penuh kemenangan, sementara itu Rizal tersenyum kecut, tapi ia tak menyerah begitu saja.
"Padahal om punya coklat loh, enaaakkk banget tante Elena aja suka banget" ucap Rizal ia tak putus asa.Mendengar coklat mata Elena langsung membulat dan gadis kecil itu langsung menganguk.
"Om boleh gabung, sini duduknya deket Papa nggak boleh deket tante Cantik, Karena tante cantik hanya punya Elena." ucapnya sambil bersedekap.
Jadilah mereka makan berempat, Rizal terus berharap Erwin segera pulang namun Erwin betah disana bahkan sampai kafe tutup.
"Win, anak loe dah ngantuk tuh!, bawa pulang sana!" ucap Rizal
"Elena nggak mau pulang, Elena maunya pulang sama tante cantik" ucap Elena.Rizal langsung mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ini kan sudah malam sayang, kalau tante Sita nganter kamu kasian tante cantiknya" ucap Rizal ia tak mau Sita berduaan dengan Erwin.
__ADS_1
"Tante maukan anter Elena pulang?, nanti bial tante diantal Papa pulang" ucap Elene sambil mengatupkan kedua tanganya didepan dada matanya berkaca-kaca sungguh itu membuat Sita tak tega menolaknya.
"Sialan Erwin gunain anaknya terus untuk mepet-mepet Sita" batin Rizal
"Iya, Sekarang aja tante anter Elena udah ngantuk begitu" ucap Sita lembut.
"Hole, diantal tante cantik" ucap Elena kegirangan.
"Aku kawal kamu!" ucap Rizal
"Nggak perlu Zal, nanti Sita biar aku antar pulang, lagian kafe masih rame gini, mending kamu stay disini" tolak Erwin.
"Kasian Elena, nanti kalau keriduran bangun nyari papanya nggak ada" ucap Rizal ngeles
"Ada suster dirumah kamu nggak usah khawatir, lagian dia kalau sudah bobok jarang kebangun" kilah Erwin yang tidak mau diikuti Rizal
"Jadi antar Elena nggak sih?, kok malah pada ribut" ucap Sita kesal.
Akhirnya malam itu Elena satu mobil dengan Erwin sementara Rizal tetep kekeh mengawal dari belakang.
Sementara itu ,Desy semakin meradang melihat Sita baik-baik saja, bahkan suaminya seringkali terang-terangan membandingkan dirinya dengan Sita, rasa iri melihat keberhasilan Sita menguasai hatinya.Semanjak menikah dengan Hendra hidupnya bagai dineraka, kini ia sudah pindah rumahnya yang dulu namun,Wiwik terus saja merongrongnya pertengkaran demi pertengaran menghiasi rumah tangganya. Hendra sampai saat ini juga belum kerja hari-harinya dihabiskan dengan ongkang-ongkang dan selalu meminta uang pada Desy jika tidak di beri maka ia akan menyakiti Desy.Hendra sering kelayapan jarang dirumah kalaupun dirumah pasti hanya untuk meminta uang.
"Mas, lebih baik kamu ceraikan aku saja!, sendiri lebih baik dari pada hidup denganmu kau hanya menjadi bebanku, kau pemalas hanya menghabiskan uangku saja, aku muak" ucap Desy yang tidak tahan dengan ulah Hendra.
"Apa kau bilang? Minta cerai, oh, no, no, tidak semudah itu ferguso, dulu kau yang ngebet mau aku nikahin, sekarang enak saja mintai cerai dariku, aku sudah hidup enak tanpa harus kerja ngapain aku harus nyerain kamu, meskipun aku tidak pernah mencintainmu setidaknya kau adalah ladang uangku" ucap Hendra dengan nada mengejek
"Kau memang biadab Hend, Ba******n" teriak Desy
"Hahahhaa...hahha, nikmati saja hidupmu bukankan ini impianmu, merusak rumah tanggaku bersama wanita yang aku cintai, maka nikmatilah karmamu"
__ADS_1
"Brengsek kau Hendra" maki Desy