
Hari ini Rini memutuskan untuk pulang kerumahnya, mau tidak mau dia harus pulang.Sehari cukup sudah, ia berada di rumah Ibunya.
"Bu, Rini dan anak-anak mau pulang dulu.Ibu baik-baik dirumah ya! Jangan marah-marah terus nanti darah tinggi Ibu kambuh"ucap Rini saat berpamitan pulang kerumah dimana ia harus menghadapi realita kehidupan.
"Apa nggak sebaiknya kamu gugat cerai saja suamimu, kamu minta harta gono gini yang banyak, kalau perlu keruk semua hartanya biar dia tidak bisa hidup enak dengan gundiknya"
"Hush...Ibu jangan ngomong begitu, walau bagaimanapun juga Mas Boni masih suami sah Rini Bu, tidak baik Rini meninggalkanya terlalu lama" ujar Rini.
"Kamu itu harusnya bisa ngaca dari Sita, janda itu bisa dapetin laki-laki kaya.Kamu contoh Sita, kamu gaet laki-laki kaya,biar nyahok si Hendra, Ibu jadi gedek sendiri" ucap Ibunya Sita.
"Bu, Mbak Sita orang baik dia berhak mendapatkan itu semua" ucap Rini tulus.
"Hmmm bener juga, Ibu jadi punya Ide.Apa Ibu, kerumah mertuanya Sita aja ya? Minta uang anggap aja Ibu udah kasih Sita kedia, sebagai kompensasinya dia harus kasih uang ke Ibu, kalau Hendra nggak cerai sama Sita, kan nggak mungkin si Henny punya menantu Sita, mana dia sayang banget sama Sita" ucap Wiwik
"Ibu jangan aneh-aneh deh, Ibu itu sudah tua kurang-kurangi hal kaya gitu, Ibu itu harusnya kembaliin uang yang Ibu pinjam dari Tante Henny bukan malah minta uang lagi, gimana konsepnya?"
"Balikin uang?, jangan harap apa yang sudah masuk ke sini nggak bisa keluar lagi"
"Ingat umur bu, ingat dosa juga karma, Ibu lihat keadaan Rini sekarang seperti ini.Mungkin ini karma dari apa yang udah Rini lakuin sama Mbak Sita.Ibuk jangan bikin ulah lagi dengan mengusik mbak Sita, cukup sudah kita menyakitinya selama ini, jadi stop untuk bullying ataupun merecoki hidup Mbak Sita, sekarang Rini pamit dulu bu.Assalamualaikum"
__ADS_1
"Waalaikum salam, hati-hati dijalan kabari kalau sudah sampai rumah"
Rini mengangguk patuh,mau tak mau ia harus berhadapan kembali dengan realita hidup yang sedang tidak berpihak padanya.Waktu serasa lambat berputar saat ia sampai dikediamanya ia tak mendapati suaminya di sana, Rini sangat yakin bahwa saat ini suaminya sedang berada dirumah madunya.Rasa sesak kembali menghipit dada Rini meskipun ia tau suaminya mendua tetap saja, ada rasa yang tak dapat ia gambarkan ketika suaminya sedang bersama madunya.
"Bismillah....semangat Rini demi anak-anakmu" batin Rini seraya mengusap dadanya sendiri menguatkan dirinya sendiri, tak ada lagi tempat ia bersandar.Orang yang seharusnya jadi sandara untuknya kini bahunya telah terbagi dengan wanita lain, suka tidak suka mau tidak mau Rini harus bisa melewati semua ini.Saat ia sudah bisa menguasai dirinya mendadak ia mendapatkan pesan dari madunya.
[Selamat sore kakak madu, saat kamu pulang pasti kamu nyari suami kita ya kan?, tenang kakak madu.Dia disini bersamamu aku akan mengurusnya dengan baik, kamu tidak usah menghawatirkannya dia baik-baik saja hanya saja dia sedikit kelelahan setelah menutaskan rindunya padaku]
Dada Rini kembali bergemuruh membaca pesan dari madunya, namun ia berusaha tenang tak ingin terpancing,kalau dia terpancing pasti madunya akan senang.Ia sama sekali tak membalas pesan dari madunya.Beberapa saat setelahnya Rini kembali menerima sebuah pesan disertai foto suaminya yang sedang telanjang dada tertidur dengan begitu pulasnya.
[Lihatlah suami kita, dia sangat kelelahan.Karena tadi ia sangat buas seperti singa kelaparan] tulis pesan Wina.
"Ok, kalau aku tidak membalasnya pasti dia akan besar kepala" batin Rini kemudian ia membalas pesan pada madunya.
[Makasih ya!, itu memang tugasmu. Dimana-mana pelakor hanya mengandalkan ranjang, karena sampai kapanpun kamu tidak akan mendapatkan pengakuan.Ibarat kata, kau hanya dibutuhkan untuk urusan ranjang] balas pesan Rini pada Wina madunya.
Wina dibuat meradang oleh pesan yang dikirim Rini barusan niat hati ingin menjatuhkan mental Rini justru Rini membuatnya jatuh terjun bebas.
"Ok, sekarang fokusku hanya anak-anaknya secepatnya aku kan menyelesaikam kursusku.Bila nanti suatu saat Mas Boni membuangku demi ****** itu aku sudah ada pegangan.Besuk aku akan kerumah Mbak Sita untuk memohon ampun padanya.Bagaimanapun dosaku sangat banyak padanya" batin Rini mencoba abai dengan segala pesan yang terus di kirim oleh madunya untuk memanasinya.
__ADS_1
Keesokan harinya sehabis mengantar anak-anaknya sekolah ia sengaja tidak kursus menjahit satu hari niatnya hanya ingin kerumah Sita dan meminta maaf padanya.Sebenarnya ia sangat takut untuk datang kerumah Sita mengingat ia sangat jahat pada Kakak madunya.Dilihatnya rumah megah yang menjulang tinggi di depannya saat ini,ada setitik keraguan untuk memasukinya namun ia memberanikan diri untuk menemui mantan kakak Iparnya, ia tak sanggup menahan rasa bersalah yang terus menerus menghantuinya.Penjaga rumah Sita mengatakan kalau Sita menginap dirumah mertuanya mau tak mau Rini harus putar arah kerumah mertua Sita, sampai dirumah mertua Sita Ia harus meminta ijin pada security terlebih dahulu sebelum masuk rumah.Awalnya ia tidak diijinkan masuk karena takut kejadian kemarin saar Hendra datang membuat keributan terulang lagi.
"Mama biarkan Sita menemui dia Ma, Sita yakin dia nggak akan macam-macam toh disini juga ada penjaga, dia hanya seorang wanita Ma tak mungkin membuat ulah disini" ucap Sita untuk meyakinkan mertuanya agar bisa menemui Rini.Ia yakin pasti ada sesuatu yang penting hingga mantan adek Iparnya itu datang kekediaman mertuanya seorang diri.
"Mama khawatir sama kamu sayang, Ok lah kalau kamu tetap ngotot ingin menemuinya Mama akan temani kamu" ucap Mama Henny.Sita tersenyum senang.Mama Henny langsung mengandeng tangan Sita, ia tak mau kecolongan lagi.Sampai diruang tamu ia melihat Rini tengah duduk dengan gelisah, dipandanginya mantan adek Iparnya itu.Tubuhnya kurus,matanya sayu.
"Assalamualaikum mbak Sita" sapa Rini begitu melihat Sita keluar dengan mertuanya.Sita tersenyum dan menghampiri mantan Iparnya.Namun Rini langsung duduk bersimpuh didepan Sita.
"Waalaikum salam Rin"
"Mbak.....maafin Rini, selama ini Rini jahat sama mbak Sita, hiks..hiks..hiks" ucap Rini sambil beruarai air mata, Sita agak bingung dengan sikab Rini bertaun-taun menjadi kakak Ipar Rini ia belum pernah melihat Rini seperti ini.
"Bangun Rin!, jangan begini"
"Enggak mbak, Rini nggak akan bangun sebelum mbak Sita memaafkanku" ucap Rini sesengukan.
Mertua Sita masih mencerna apa yang terjadi didepan matanya.
Tbc
__ADS_1
Jangan lupa like, comment dan fav ya guys ya...kalian semangatku....like yang banyak biar author semangat....ramein dengan coment....