Sita Istri Seorang PNS

Sita Istri Seorang PNS
H-3


__ADS_3

Doni langsung menhubungi Erwin dan memintanya untuk kerumahnya saat ini juga, padahal ia sedang ada meeting penting tapi Doni tidak peduli, ia tetap memaksa Erwin datang, Bocah kecil yang melempar petasan itu masih ditahan Doni dirumahnya.Erwin bergegas menuju rumah Sita rumah yang sebenarnya ia hindari karena ia tak ingin melihat pertunagan Sita dan Rizal, begitu sampai dirumah Sita ia dikagetkan dengan suasana rumah yang sangat kacau.Begitu sampai dikediaman Doni bukan sambutan ramah yang ia dapat melainkan tatapan horor dari semua orang termasuk Rizal dan Doni, namun beda halnya dengan Sita ia tetap ramah seperti biasanya hati Erwin semakin bingung.


"Ada apa ini sebenarnya?" batin Erwin.


"Silahkan duduk Mas!" ujar Sita ramah


Rizal langsung menatap Sita dengan tatapan horornya.


"Ada apa sih ini Sita?" tanya Erwin keheranan.


"Itu mas, cuma salah faham sedikit"


"Erwin apa benar, kamu yang menyuruh orang untuk melempar petasan ke rumah ini?" tanya Rizal to the point.


"Apa maksud kamu Zal?" sentak Erwin yang tidak terima tuduhannya yang tidak mendasar itu.


"Intinya iya atau enggak?" Sewot Doni.


"Sabar, biar Mas Erwin jelasin dulu.Aku yakin ini salah faham" ucap Sita.


"Belain aja terus, bukti sudah didepan mata" ucap Rizal yang kembali terpantik api cemburu.


"Bukan begitu Zal" sanggah Sita.


"Sudahlah, kenapa kalian malah bertengkar" ucap Doni.


Kemudian Doni membawa anak kecil yang melempar petasan tadi kerumahnya.


"Hei kamu ayo katakan!, seperti apa yang kau bicarakan tadi bahwa Om ini yang udah nyutuh kamu untuk melempar petasan dirumah ini" ucap Doni pada anak kecil tadi.


"Apa?, hei siapa kamu?" tanya Erwin kehernan pada anak kecil itu.


"Ayo katakan!" ujar Rizal tak sabar.


"Hmmm....bukan Om itu yang suruh"


"Aku bilang juga apa?, kalian menggangguku saja" ucap Erwin emosi

__ADS_1


"Hei anak kecil, tadi kau bilang sendiri kalau yang nyuruh kamu itu Om ini" ucap Doni yang tak sabar.


"Aku nggak bilang gitu Om" ucap anak itu.


"Apa maksud kamu?" bentak Doni.


"Adek, tadi kamu kan bilang yang nyuruh kamu itu namanya Om Erwin, yang ini bukan orangnya" tanya Sita lembut lalu anak itu mengeleng.


Semua yang ada disitu meminta maaf pada Erwin terutama Doni dan Rizal.


"Dek yang namanya Om Erwin itu kaya apa?"


"Orangnya tinggi, item sebenarnya ganteng tapi orangnya nggak keurus" ucap Anak itu polos.


Tak ada bayangan siapa yang menyuruh anak kecil itu, tinggal satu tersangka yaitu Hendra tapi, ciri-ciri hendra tidak seperti yang dikatakan anak itu karena mereka lama tidak bertemu Hendra, mereka tidak tau kalau fisik Hendra sudah banyak berubah hidupnya hanya dihabiskan untuk minum-minuman keras dan kelayapan tidak jelas.


Kesalah fahaman hari itu selesai juga, namun masih menyisakan PR bagi Doni tentang siapa sosok sebenarnya dalang keributan dirumahnya.Hari terus berlalu bulan berganti dengan begitu cepat, tak terasa hari ini sudah 3 hari menjelang hari pernikahan Sita dan Rizal yang akan digelar mewah di sebuah ballroom hotel, persiapan sudah matang, Mamanya Rizal paling antusias menyiapkan acara pernikahan putra semata wayangnya ini.


"Zal apa nggak sebaiknya kamu cuti dulu, tiga hari lagi kamu akan menikah"


"Enggak ma, biar mepet aja cutinya jadi nanti habis nikah liburnya biar lama" ujar Rizal dengan senyum terus terkembang dari bibirnya.


"Ini udah jaman Modern Ma, jadi nggak perlu pakai acara-acara kaya gitu" ucap Rizal


"Terserah kamulah, Mama cuma nyaranin aja"


"Iya, yang penting Mama selalu doakan Rizal ya Ma, biar acaranya lancar sampai hari H"


"Iya, pasti Mama kan doakan tanpa kamu minta"


"Mama, memang yang terbaik" ucap Rizal kemudian ia memeluk Mamanya dan berpamitan untuk bekerja.Sepanjang perjalanan Rizal terus tersenyum ia sudah tak sabar menatikan Sita menjadi miliknya.Sampai dikantor ia ditodong teman-temanya untuk makan-makan sebagai pelepasan statusnya yang sebentar lagi tidak lagi menjadi bujang.Malam hari akhirnya Rizal mengajak rekan sekantornya makan-makan di sebuah restouran yang bernuansa alam letaknya dipinggir kota.


Malam semakin larut, acara sudah selesau satu persatu orang mulai meninggalkan tempat itu.Rizal pulang palong terakir ditemani oleh sahabatnya Niko.Mereka berada dalam satu mobil Niko yang mengemudikan mobil.Tiba-tiba mobil itu berhenti.


"Kenapa Nik?" tanya Rizal


"Sepertinya aku menabrak seseoarang"

__ADS_1


"Apa?, bagaimana bisa?" Rizal memang tidak tau apa-apa karena ia ketiduran di mobil.


Keduanya lalu turun dari mobil, untuk melihat kondisi orang yang tertarak tadi.


"Bapak tidak apa-apa?" tanya Rizal khawatir.


"Bugh..." sebuah pukulan melesat di punggung Rizal.


"Akkkkk..." teriak Rizal.


Rizal dan Niko menoleh dibelakang mereka sudah banyak komplotan bertopeng dengan senjata tajam mengepung mereka.


"Siapa kalian?" tanya Rizal


"Nggak penting siapa kami, kalau kamu masih sayang sama nyawamu batalkan pernikahanmu" ucap salah seorang dari mereka yang bertopeng.


"Apa hakmu melarangku, jangan jadi pengecut buka topeng kalian!" bentak Rizal sambil meringis menahan sakit.


"Jangan banyak bacot!, lihatlah kondisimu sekarang tinggal menjetikan jariku saja maka kamu pulang hanya tinggal nama, hahahaha" ucap laki-laki bertopeng tadi.


"Nik, kamu alihkan perhatian mereka aku hubungi Doni dulu, kita hanya berdua bisa mati konyol" bisik Rizal.


Niko menganguk lalu ia menyerang kawanan laki-laki bertopeng itu membabi buta. Mau, tak mau perhatian mereka terpecah pada Niko, kesempatan ini ia gunakan untuk menghubungi Doni, Salah seorang kawanan bertopeng itu melihat Rizal memegang ponsel langsung merebutnya, lalu membanting ponsel mahal itu beruntung tadi Rizal sudah sempat share lock pada Doni sebelum berbicara apapun.Perkelahian tak dapat dihindari Rizal dan temanya makin terdesak, Keduanya babak belur dan hampir kehabisan tenaga, saat itu datang rombongan Doni beserta geng motornya, semua langsung kocar-kacir Doni dapat menangkap salah satu pelaku yang paling ia curigai, dengan kasar ia membuka topeng laki-laki itu.


"Sudah kuduga, pengecut ini pelakunya" maki Doni


"Hendra!" ucap Rizal kaget saat dibuka topeng ternyata laki-laki itu adalah Hendra


"Bugh.." Rizal langsung memukul Hendra dengan sisa tenaga yang ia punya.


Bukanya merasa kesakitan Hendra justru tertawa melihat Rizal yang sudah lemah malah memukulnya.


"Bugh..." Doni langsung menhajar brutal Wajah Hendra.


"Tertawalah sekarang, dua anak buahmu sudah tertangkap sebentar lagi polisi datang" ucap Doni yang membuat Nyali Hendra semakin menciut.Beberapa saar kemudian polisi datang dan langsung meringkus Hendra.


Tbc

__ADS_1


Jangan lupa,like, comment dan favorite ya guys ya


__ADS_2