Sita Istri Seorang PNS

Sita Istri Seorang PNS
Adu bogem mentah


__ADS_3

Hendra sama sekali tidak tenang memikirkan nasib Adeknya dan keponakanya.Ia menyarankan kakaknya untuk bercerai saja dengan suaminya namun Rini kekeh ingin mempertahankan rumah tangganya.Ia geram dengan sikab Boni yang tidak tegas untuk menceraikan istrimudanya namun juga tidak melepaskan Rini.Hari ini Hendra berniat untuk mendatangi tempat kerja Boni untuk memberinya sedikit pelajaran, namun diurungkanya dia menunggu dirumah Adek Iparnya karena ia tau saat ini kakaknya sedang menginap dirumah Ibunya.Tak lama kemudian nampak mobil Boni memasuki pelataran rumahnya yang masih sepi hanya nampak Hendra di teras rumahnya.


"Sudah lama kamu Hend?" tanya Boni basa basi


"Baru saja" ucapnya dusta kenyataanya dia sudah dirumah Boni sejak satu jam yang lalu.


"Hebat kamu sekarang ya Bon, rumah sudah lengkap dengan isinya.Sekarang kondisi rumah juga sudah bagus punya mobil pula" sindir Hendra.Boni tak menanggapi perkataan kakak Iparnya mendadak ponsel Boni berbunyi ternyata Wina yang menghubunginya.Ia tak berani mengangkat pangilan dari Wina karena ada Hendra di sini.


"Kenapa nggak diangkat?" ejek Hendra.


"Itu bukan urusanmu!, mau apa kamu kesini sedangkan kau tau bahwa anak-anak dan Rini sedang berkunjung kerumah Ibu" tanya Boni tak lagi basa-basi pada Iparnya yang menurutnya terlalu ikut campur urusan rumah tangganya.


"Selama hal yang berubungan dengan Rini, semua menjadi urusanku.Sejak kecil kami menyayanginya dengan penuh kasih sayang setelah dewasa kau membawanya dan menyakitinya jelas kami tidak terima" ucap Hendra.


"Tutup mulutmu!, jangan sok suci kamu! semua orang juga tau siapa kamu, jadi disini kamu jangan merasa sok suci" telak ucapan Boni membungkam mulut Hendra sesaat.Mendengar ucapan Boni barusan membuat Hendra meradang ia langsung bangkit dan menghajar Boni membabi buta.


"Diam kamu, keparat aku bukan pengila selang****an sepertimu, aku begini karena ulah kalian. Ingat kamu dan Rini meminjam uang Mama mertuaku untuk kalian senang-senang imbasnya aku harus menutup utang kalian dengan terpaksa berselingkuh dengan Desy, Semua demi kamu keparaatttt" teriak Hendra.


"Tidak usah cari alasan!, kalau selingkuh ya selingkuh saja.satu lagi jangan samakan aku sama kamu aku tidak pernah selingkuh aku menikahinya"


"Bulshit, jangan kau kira kami lupa, bahkan semua orang juga tau kau menikahinya karena digrebek menjijikan"


"Apa bedanya dengan dirimu kita sama-sama pendosa, jangan sok suci"

__ADS_1


"Bugh..bugh...bugh" keduanya saling serang.


"Aku menikahi Desy setelah cerai dengan Sita, beda halnya dengan kamu, istri kamu masih hidup segar bugar kau menikah lagi, dasar baj***an!, bugh"


Keduanya saling serang dan saling maki, baku hantam keduanya semakin sengit, semua perabotan rumah Boni hancur berantakan karena ulah mereka.Tetangga yang mendengar keributan dirumah Boni langsung berhamburan datang dan memisahkan keduanya.


"Ini belum selesai, ingat aku akan mempengaruhi Rini agar meninggalkanmu, persetan dengan anak kalian biar dia ikut kami.Keluarga kami tidak sudi keturunan kelurga kami diasuh laki-laki bedebah sepertimu" ucap Hendra sambil mengusap ujung bibirnya yang robek karena perkelahianya.


Dengan langkah gontai Hendra meninggalkan rumah Boni, sebelum pulang ia menyempatkan diri ke apotik untuk membeli obat merah dan masker untuk menutupi luka lebam di mukanya.Sesampainya dirumah Ibunya sama sekali tidak curiga pada Hendra namun beda halnya dengan Rini, ia melihat gelagat aneh adeknya.Ia segera menyusul ke kamar Hendra.


"Arka, temani adek-adekmu main sebentar ya!.Mama mau ke kamar om Hendra sebentar kalian nggak usah ikut.Ada hal yang ingin Mama bicarakan sama Om Hendra, jangan bilang pada nenek ya! Kalian mengerti?"


"Mengerti Ma, jawab mereka kompak"


"Mukamu kenapa?, jangan bilang kamu habis betantem sama Mas Boni" tebak Rini pas sasaran. Sebisa mungkin Rini menahan isak tangisnya agar Ibunya tidak curiga.Hendra membuka maskernya, Rini tak dapat lagi menahan isak tangisnya.Prahara rumah tangganya nyatanya membuat saudaranya bisa sampai terluka seperti itu.Hendra mendekab tubuh adeknya.


"Aku nggak apa-apa jangan menangis!" ujarnya.


"Mas, maafkan aku hiks...hiks...hiks, harusnya kamu nggak usah berantem"


"Ini tidak seberapa dibanding apa yang ia lakukan kepadamu.Sudah jangan menangis, nanti Ibu lihat semakin sedih" ujar Hendra menasehati Rini.


Sementara itu setelah dikediaman Boni, tetangga masih ada disana membantu Boni, tak jarang mereka mengunjing Boni

__ADS_1


"Siapa itu tadi?"


"Sepertinya kakaknya Rini, lihat saja wajahnya miripi dengan Rini"


"Bener, mungkin kesini memang diniatkan untuk menghajar Boni.Lagian mana ada seorang kakak yang rela adeknya dimadu kayak Rini gitu, mana anaknya masih kecil-kecil lagi"


"Iya, si Rini juga nggak kelihatan, mungkin mingat kali ya nggak tahan di madu"


"Namanya juga laki-laki, baru bisa makan kenyang dikit aja udah bikin ulah sok-sokan poligami. Kaya ngerti aja prinsip poligami, kasian Rini dulu pas hidup mereka mlarat kabarnya Rini sampe nipu saudaranya, eh giliran sekarang udah makan enak dikit suaminya bikin ulah, bener-bener deh ah"


"Ibu-Ibu, Bapak-bapak jika sudah selasai urusanya kalian boleh bubar dari pada disini pada ghibah" ujar ketua RT


satu persatu orang-orang meninggalkan rumah Boni.Kini tinggalah ia seorang diri. Ia menatap sekeliling rumahnya yang berantakan akibat perkelahianya dengan Hendra, ia duduk menyandarkan tubuhnya yang remuk redam pada tembok di ruang tamu.Matanya memerah perlahan air mata membajiri pipinya teringat kata-kata Hendra yang akan mengasut Rini untuk berpisah denganya, ia tidak bisa membayangakan harus berpisah dengan anak-anaknya karena anak-anaknya pasti lebih memilih Ibunya.Jika ia memaksa untuk tinggal bersamanya belum tentu ketiga anaknya akan nyaman dengan orang baru, berbagai spekulasi berkeliaran di benaknya.Kerumah orang tuanya rasanya juga tidak mungkin, sejak kejadian di acara ulang tahun Arka kedua orang tua Boni kompak mendiamkan Boni.Mereka mengangap Boni telah melemparkan kotoran kemuka kedua orang tuanya.Masih teringat di benaknya saat ia meminta ampun pada kedua orang tuanya atas kesalahanya.


"Ma,Pa ampuni aku! Aku khilaf ma,Pa hiks..hikss...hiks" ucap Boni sambil bersujud di kedua kaki kedua orang tuaya saat itu.


"Setalah kamu melempar kotoran kepada kami, khilaf hanya itu yang kamu ucapkan? Tidakkah kau tau bagaimana malunya kami sebagai orang tuamu melohat vidio pengrebekanmu, mau ditaruh dimana muka kami.Tolong kasih tau kami!, bagaimana kami mengahadapi penghakiman masyarakat pada kami yang mempunyai anak sepertimu?" ucap Papanya Boni dengan kilatan amarah yang terpancar di matanya.


"Ampuni aku Pa, Ma! Tolong aku harus bagaimana?" isak Boni kala itu


Tbc


Jangan lupa men teman, komen,like, favoritenya di tunggu ya

__ADS_1


__ADS_2