Sita Istri Seorang PNS

Sita Istri Seorang PNS
Rencana promil


__ADS_3

Pagi harinya Sita tidak masuk kantor, ia mendatangi kantor polisi guna dimintai keterangan lebih lanjut. Sebenarnya Sita tidak mau kejadian ini menjadi panjang ia sudah memaafkan Istri Erwin, namun Doni bersikeras tidak akan memaafkan Istri Erwin. Ia takut kalau istri Erwin dibiarkan bebas maka dia akan balas dendam dan bertindak fatal kembali.Erwin secara pribadi meminta maaf pada Sita dan keluarganya.


"Pak Erwin, tidak perlu meminta maaf pada kami.Justru kamilah yang mengucapkan terimakasih atas bantuan anda selama ini" ucap Doni mewakili keluarganya.


Setelah dari Kantor polisi, Doni mengantar Sita pulang, meskipun sudah ada Hendra tetap saja ia khawatir dengan kakaknya.Sebelum Doni pulang ia mendekati Hendra dan berbicara pelan agar Sita tidak mendengarnya.


"Mas Hendra, kamu masih dalam masa uji coba. Bila suatu saat nanti aku tau kau dengan sengaja menyakiti Kakakku


.Maka kau akan berhadapan denganku, Jujur aku belum sepenuhnya percaya padamu. Kalau bukan karena mbak Sita, Sudah jadi perkedel kamu.Aku tau semua kebusukanmu, biarlah Mbak Sita tau dengan sendirinya suatu saat nanti.Kamu jangan senang dulu"


Doni langsung beranjak pergi begitu saja setelah mengancam Hendra


Jakun Hendra naik turun mendengar ancaman Doni.Ia tau Doni tak pernah main-main dengan kata-katanya.


"Doni mana mas?" Tanya Sita yang mencari keberadaan Doni


"Sudah pulang dia"


"Tadi aku lihat dia bisik-bisik ngomong apa dia mas?" tanya Sita.


"Emm...itu, aku suruh jaga kamu aja.Dia takut kejadian ini terulang lagi"


"Oh, Kirain ngomong apa. Kayaknya serius banget" ucap Sita.


"Sudahlah kita masuk saja!," ucap Hendra.


"Mas, aku mau bicara sebentar" ucap Sita.


"Mas, setelah aku pikir-pikir aku akan memaafkanmu.Tapi aku mohon jangan pernah diulang lagi, jagalah kepercayaanku aku takkan memberimu kesempatan kedua setelah ini" ucap Sita setelah menimbang dari berbagai aspek, terutama untuk kesehatan Mamanya.Ia memutuskan untuk memaafkan Hendra.


"Makasih Yang, kamu kasih aku kesempatan kedua.Aku janji akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya" ucap Hendra


Setelah keduanya sepakat untuk membenahi rumah tangga mereka, kini Hendra juga sudah tidak lagi antar jemput Desy.Tanpa sepengetahuan Hendra Sita selalu memantau Hendra.Kini ia bernafas lega karena suaminya sudah beneran bertaubat.Hari terus berlalu, hubungan Sita dan Hendra semakin harmonis.

__ADS_1


"Mas, aku mau ikut program promil agar tidak dicap mandul oleh Ibu"


"Ok, nggak masalah apapun aku dukung itu.Tapi untuk biaya kamu tau sendiri aku nggak bisa bantu" ujar Hendra.


"Soal biaya aku akan pikirkan sendiri caranya, cuma masalahnya kita harus sama-sama cek kondisi kesuburan kita sebelum program promil"


"Itu nggak penting!, aku jelas subur keluargaku dari keluarga subur semua jadi nggak mungkin aku nggak subur" ucap Hendra pongah


"Apa salahnya, kita sama-sama periksa" ucap Sita


"Kamu dulu aja yang periksa, kan kamu yang mau mengandung" Hendra kekeh tidak mau periksa.Mau tidak mau Sita sendiri yang memeriksakan kesuburanya, Hari ini ia akan menerima hasil cek kesuburanya.Sepanjang malam ia tidak bisa tidur ia terus kepikiran.


Dengan gemetar Sita membuka hasil test tersebut.


"Bismillah, Ya Allah kenapa aku gugup sekali, bagaimana kalau ternyata aku memang tidak subur?" berbagai spekulasi berkeliaran di otak Sita.


"Tapi aku penasaran isinya, tapi bagaimana kalau ternyata aku tidak subur dan Mas Hendra kawin lagi, tidak, tidak aku tidak mau dimadu" batin Sita.


Sita menguatkan diri membuka amplop hasil lab test kesuburan dirinya.


Gematar tangan Sita membuka amplop itu, lalu ia membuka lipatan kertasnya.Dadanya berdegub kencang.Ia menutup matanya menghela nafas, meraup udara sebanyak-banyaknya lalu membuangnya perlahan.


"Bismillah" guman Sita ia membuka matanya.Matanya langsung berbinar melihat hasil test kesuburanya ternyata ia dinyatakan subur dan tak ada masalah apapun dalam rahimnya.


"Alhamdulillah Ya Allah" ucap Sita. Berkali-kali ia mengucap syukur.Sesampainya dirumah ia langsung memberitau Hendra tentang kabar gembira tersebut.


Hendra hanya menangapi sekenanya saja berita yang disampaikan istrinya.


"Mas, kok kelihatanya biasa aja denger berita ini?" sewot Sita


"Terus aku harus gimana, koprol sambil guling-guling gitu?" ucap Hendra


"Ya nggak gitu juga kale, mas" ucap Sita cemberut.

__ADS_1


"Mas, kemarin aku sempet konsul juga sama dokternya untuk soal promil itu, tapi kata dokternya mas juga harus cek kesuburan juga gitu" ungkap Sita.


"Ribet amat, promil ya promil aja!, ngapain aku pake acara di test segala, toh yang mau hamil kan kamu!" ucap Hendra.


"Namanya juga prosedur, ayolah mas demi harapan kita punya anak. Apa kamu nggak ingin mengendong anak seperti pasangan lain" bujuk Sita.


"Sita, punya anak itu rejeki. Kalau belum dikasih namanya juga belum rejeki" ujar Hendra.


"Tapi, ihtiar itu juga perlu mas.Jangan hanya pasrah pada nasib aja.Kita sebagai manusia juga wajib berihtiar" ucap Sita.


"Males, aku nggak mau pake acara kek gitu, sudah dipastikan aku subur, kamu meragukanku?" bentak Hendra


"Bukan begitu Mas, aduh gimana sih ini kok malah salah faham" ucap Sita.


Setelah pembicaraan hari itu Sita tak mengungkit lagi soal rencana test kesuburan lagi.Ia sudah pasrah dengan keputusan Hendra.Pagi ini mertua Sita berkunjung kekediaman Sita.


"Sita, sampai kapan kamu hidup hanya berdua sama Hendra.Nggak malu kamu nikah sudah tiga tahun nggak hamil-hamil"


"Ibu, Sita juga tidak menunda hamil bu" ucap Sita mencoba bersabar.


"Nyatanya kamu juga nggak hamil-hamil, kamu ini fix mandul.Heran aku sama Hendra punya istri kaya begini masih dipertahankan"


"Ibu, saya tidak seburuk yang Ibu katakan. Saya sudah cek dan hasilnya tidak ada masalah dengan kesuburan saya, Mas Hendra saja yang tidak mau cek jadi kami nggak bisa promil"


"Kamu menuduh Hendra yang mandul begitu?, Denger ya Sita, keturunanku tidak ada yang mandul semuanya subur, lihatlah Rini anaknya sudah tiga. Emang dasar kamu aja yang mandul" ucap Ibunya Hendra memekakan telinga.


Sita hanya diam dia tak menyahuti perkataan mertuanya, jika ia membantah satu kata, maka mertuanya akan menghujaninya dengan rentetan sumpah serapah dan makian.Diam adalah pilihan yang paling tepat untuk Sita kali ini.


Setelah puas mencak-mencak Ibunya Hendra pamit pulang dengan membawa apa saja yang ingin ia bawa pulang.


"Sabar!, Ya Allah kuatkanlah diriku" guman Sita pelan.


Hari ini Hendra pulang malam, setelah sekian lama ia tak pulang malam kini kebiasaan itu kambuh lagi.Dengan mengendap-endap Hendra membuka pintu kamarnya dilihatnya Sita tengah tertidur pulas.

__ADS_1


Tbc


Jangan lupa like, comment dan favorite ya men temen


__ADS_2