
"Kamu itu tau nggak sih Mas, makin kesini makin nggak jelas.Kamu sering marah-marah tanpa sebab,kamu sering cemburu berlebihan" runtuk Sita.
"Gimana aku nggak cemburu, kalau istri aku lebih membela mantanya dari pada suaminya sendiri" ucap Rizal kesal.
"Mas, yang aku lakukan tadi itu bukanya membela Mas Hendra, tapi aku membelamu" ucap Sita geram
"Membelaku gimana?, jelas-jelas kamu menghalangiku waktu aku mau hajar dia.Takut banget kayaknya kamu kalau dia terluka" Sindir Rizal
"Mas, bisa nggak sih kamu ngertiin posisiku.Aku khawatir mas, aku nggak mau kamu masuk penjara gara-gara kamu melakukan penyerangan kerumah orang.Ngerti nggak sih" ucap Sita seketika ia menjadi emosi sendiri dengan kelakuan suaminya yang mirip bocah akhir-akhir ini.
Keduanya saling diam hingga dikediaman mereka.Rizal memutuskan untuk tidur diruang tamu.Sita benar-benar tak habis pikir dengan suaminya semenjak ia hamil kelakuan suaminya bener-benar membuat kepalanya seperti mau meledak.Selama dua hari Rizal mendiamkan Sita, ia seolah mati gaya sendiri karena harus berjauhan dengan istrinya.Pagi hari ketika hendak berangkat kerja Rizal mencuri ciuman pada Sita pada saat istrinya sedang tidur.
"Dasar bucin tak tertolong,masih aja gede gengsinya" batin Sita.Sebenarnya ia sudah bangun namun, ia pura-pura tidur untuk menghindari cekcok dengan suaminya.
"Mimpi indah sayang, aku kerja dulu." ucap Rizal sembari meninggalkan Sita.
Sita lekas bangun dari tidurnya,karena ponselnya berdering sejak tadi.Ia tersenyum karena berharap Rizalah yang menghubunginya,untuk meminta maaf padanya namun alangkah terkejutnya ia ketika membuka ponselnya ada puluhan pangilan tak terjawab dari Hendra.
"Ngapain sih, ni orang pagi-pagi bikin gue bad mood aja.Padahal hati gue udah seneng banget berharap mas Rizal yang menghubungi eh malah cecunguk ini. Mau apa lagi sih dia" Sita ngedumel.
Di lain pihak Hendra tak putus asa menghubungi Sita, ia tak peduli sekalipun Sita sudah menikah dan sedang hamil baginya ia tetap akan memperjuangkan cintanya.Walau aral melintang ia tak akan mundur sedikitpun,Apalagi kini Ibunya mendukungnya walaupun ada niat jahat dari Ibunya mendukung Hendra dengan Sita, ia bermaksud mengeruk harta kaluarga Mama Henny.
Hendra sudah mengklain bahwa Sita adalah miliknya seumur hidup, ia sangat yakin bahwa wanita itu sampai saat ini masih mencintainya, apalagi dia tidak akan mengulangi kesalahanya lagi.
Ia mengirim pesan pada Sita.
__ADS_1
[Temui aku di depan gerbang rumahmu, aku tau engakau di dalam atau bila tak mau turun, kau bicaralah pada penjaga sialan suamimu ini untuk mengijinkan aku masuk]
"Bener-bener gila mas Hendra ini, kalau aku menemuinya pasti Mas Rizal semakin marah, tapi kalau aku tidak menemuinya dia akan terus-terusan menggangguku" batin Sita. Kemudian ia mengirim pesan lagi pada Hendra untuk menyuruhnya pergi.
[Mas, tolong pergilah dari tempat ini, aku tak ingin ada keributan lagi]
[Kamu sepertinya takut banget kalau suami bangsatmu itu melukaiku, terima kasih sayang aku tau kau masih mencintaiku]
"Ihh...ini manusia apa bukan sih" gerutu Sita
[Mas Hendra, kita sudah tidak hubungan apa-apa lagi, aku mohon jangan gangu kehidupanku lagi]
[Oh aku tau Sita, kamu bicara begini karena kamu takut pada suamimu atau mungkin saat ini dia menekanmu.Tenang aku datang kesini untuk membebaskanku dan membawamu jauh dari rumah terkutuk ini]
[Mas, kamu ngerti bahasa manusia nggak sih!, pergi dari rumahku sekarang juga!]
Sita segera menghubungi penjaga rumahnya agar mengusir Hendra dari kediamanya.Hendra benar-benar tidak menyangka kalau Sita mengusirnya.Hendra tidak terima ia berteriak sekencang-kencangnya.
"Sita!, kamu nggak bisa giniin aku.Aku tau kamu masih mencintaiku.Aku janji akan melamar jadi PNS lagi nanti semua gajiku akan aku berika padamu" Hendra terus berteriak.
"Hei...orang gila, segera pergi jangan ganggu istri orang" Hardik penjaga rumah Sita sambik menyeret Hendra keluar.Dari segi postur tubuh saja Hendra kalah jauh dari penjaga rumah Sita sehingga dengan mudah penjaga rumah Sita menyeret Hendra keluar.Dari balik balkon rumahnya Sita mengintip mantan suaminya.
"Maafkan aku Mas, aku tidak bermaksud kasar padamu.Aku harap kamu mengerti posisi kita sekarang sudah beda.Diantara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi" guman Sita lirih.
Sementara itu, Hendra masih berusaha memberontak dari cengkaraman penjaga rumah Sita.
__ADS_1
"Pulanglah, mungkin Bu Sita dulu mencintaimu tapi lihatlah kondisinya sekarang berbeda lihatlah dirimu, kalau kau tidak pinya kaca dirumah, pinjam ke tetangga.Agar kau tau siapa dirimu, untuk makan saja sepertinya kau kesusahan belagak mau merebut istri boss kami.Kalau boss kami ia jadi PNS hanya untuk mengabdi pada masyarakat saja, tidak jadi PNS hartanya tidak akan habis tujuh turunan lah kamu? Sekarang bisa makan belum tentu esuk kamu bisa makan lagi" Panjang kali lebar penjaga rumah itu menasehati Hendra.
"Sita....Apakah kau meninggalkanku karena dia lebih kaya, hiks...hikss...hiks" Hendra mulai playing fictim
Dengan berjalan terseok-seok ia menghampiri motot bututnya.Ia merasa dunia tak adil padanya.Wanita yang sangat ia cintai kini jadi milik orang.
"Sita aku tidak menyangka secepat itu kamu melupakanku, kamu tau bahkan sampai detik ini aku tidak bisa melupakanmu" guman Hendra.Ia tak menyadari kesalahanya.Ialah yang meninggalkan Sita bukan Sita yang meninggalkanya.
Langkahnya terasa berat tumitnya serasa lemas, tak ada gairah hidup sama sekali.Kemudian ia mengendarai motor buntutnya tak tentu arah.Kepalanya sungguh pusing dengan semua ini.Alam seakan mendukung suasana hati Hendra,langit tiba-tiba mendung dan hujan gerimis menghatam tubuhnya ia tak lagi mempedulikan lagi dirinya yang diguyur hujan semakin deras, pandanganya menerawang jauh.Klakson dari arah belakang mengagetkan lamunanya.
"Woi...mau cari mati apa?, mengendari motor kaya gitu" bentak orang yang ada dibelakang Hendra.
"Maaf.." hanya itu ucapan Hendra.
"Kalau elu bosen hidup, mendingan ke jembatan sono, terjun biar mati sekalian kalau mau mati nggak usah ngajak-ajak teman"Teriak yang lainya
"Bunuh diri?, ahhh...sepertinya itu ide yang bagus, buat apa aku hidup penyemangat hidupku sudah hilang buat apa aku hidup, mendingan aku mati saja.Hidup istri sudah menikah lagi utang dimana-mana, cari kerja juga susah lebih baik aku ikuti saran orang tadi buat bunuh diri" batin Hendra.
Kemudian ia fokus menyetir sepeda motornya menuju jembatan yang sepi ia tak ingin ada yang tau kalau ia mati,walau bagaimanapun juga ia tak mau Ibunya sedih.
"Sita selamat tinggal, Ibu maafkan anakmu" teriak Hendra lalu, ia melaju dengan kecepatan kencang.Motornya sengaja ia tabarakkan di pembatas jurang lalu ia terjun kebawah.
Tbc
Jangan lupa like, comment da favorite ya men temen
__ADS_1